Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

Vena dan Aman sudah berada di sebuah taman rumah sakit, Aman yang tidak tahu maksud Vena memanggilnya duduk menunggu pembuka pembicaraan Vena.


"Aman... apa kau tahu wanita yang bernama Maura, yang sering dipanggil Aufan tadi?" tanya Vena.


"Maura? memang Bos sering menyebut nama itu ya?" tanya Aman pira pura bego.


"Iya, mungkin kau tahu sesuatu, kau 'kan sering bersamanya? Ayo jawab!" desak Vena.


"Maaf Nona... Tapi aku tidak tahu siapa itu Maura, mungkin saja dia Teman sekantornya atau teman sekolahnya, aku juga tidak tahu Nona," ucap Aman.


"Kamu jangan bohong, sepertinya matamu merahasiakan sesuatu tentang nama itu," ucap Vena.


"Bener Nona, Aku tidak tahu, aku kan tidak selalu bersama dia, aku juga punya anak dan istri, jadi aku kadang-kadang tidak selalu mengikuti Bos," ucap Aman lagi.


"Baiklah, tapi kalau kau tahu sesuatu, tolong katakan padaku ya!" Pinta Vena.


"Baik Nona," ucap Aman merasa lega.


Vena pun kembali masuk ke dalam ruangan.


"Vena... kau di sini?" Sapa Aufan.


Ternyata Aufan sudah terbangun dari tidurnya.


"Aufan... Bagaimana perasaanmu?" tanya Vena sambil membelai pipi suaminya itu.


"Aku merasa sangat gerah, tubuhku terasa terbakar," ucap Aufan.


"Kau Harus banyak minum, ini minum lah! apa kau ingin makan sesuatu?" tanya Vena.


"Tidak, aku hanya ingin istirahat, Aman ke mana?" tanya Aufan.


"Ada di luar, mau ku panggilkan?" ucapnya.


"Oh tidak usah, tolong ambilkan hp-ku saja, di mana hp-ku?" ucapnya.


"Oh HP? ini tadi Mama menyerahkan padaku, Sekarang Mama lagi cari makan, di luar."


"Terima kasih ," Aufan pun mengambil hp-nya dan mengirim pesan untuk Aman isinya.


"Aman, Tolong kau cari Maura sampai ketemu, aku harus memastikan sesuatu," ucapnya.


"Memastikan apa bos?" tanya Aman.

__ADS_1


"Pokoknya aku harus bertemu Maura, aku harus memastikan sesuatu, Cepatlah! Jangan banyak bertanya!" balas Aufan kesal.


Aufan pun kembali menutup hp-nya,


"Sedang chat dengan siapa?" Tanya Vena.


"Sedang chat sama Aman. Aku minta Dia membelikan sesuatu untukku, karena aku sangat ingin makanan itu," ucap Aufan berbohong.


Vena pun Tak lagi bertanya. Kemudian Dia mendekati Aufan dan menggenggam tangan suaminya.


"Kita liburan ke Luar Negeri ya? Kalau kamu sudah sembuh!" ajak Vena.


"Baiklah Sayang, kamu boleh pilih tempat yang kamu mau," ucap Aufan sambil mencium tangan Vena.


"Bener, aku yang pilih?" tanya Vena riang.


"Iya... Kamu yang pilih, sebagai ganti karena aku telah meninggalkanmu tadi malam," ucap Aufan.


"Oke, aku mau kita ke jepang, saat musim semi," ucap Vena.


"Oke, setuju, kau siapkan saja semuanya minggu depan, aku pasti sidah pulih, biar perusahaan aku titipkan sama Pa Ling," ucap Aufan.


"Terima kasih sayang," ucap Vena manja.


Seminggu telah berlalu. Tampak pagi ini Maura sedang asyik menyiram bunganya di halaman toko. Dia tampak berseri, kehamilan yang sudah menjalani 4 bulan ini semakin berat Dia rasakan.


"Huak...huak..."


Ketika mualnya datang, Dia pun berlari ke belakang toko untuk membuang semua isi perutnya, yang telah dia makan pagi tadi, seketika tubuhnya lemas dan terduduk di atas tanah tanpa beralas.


"Maura, kau kenapa? Apakah kau sakit? " tanya Mira sahabatnya.


"Aku sangat mual, mungkin kehamilanku yang menginjak ke 4 bulan ini, aku semakin merasa lelah. Setiap pagi aku juga sering mual dan muntah lendir hijau," ucap Maura.


"Apa ingin ku bawa ke dokter praktek, biar kamu periksa dan meminta obat," ajak Mira.


"Tidak usah Mbak Mira, aku masih punya obat kok di lemari, " ucap Maura.


"Tapi mungkin obatmu itu sudah tidak cocok dengan kehamilan mu sekarang. Bukankah itu obat 2 bulan kemarin? bulan tadi 'kan kamu lupa periksa? " ucap Mira.


"Tidak apa-apa kok, mungkin ini sudah kebiasaan orang hamil, kalau di usia ke 4 bulan, akan Sering mual di pagi hari, aku juga sudah mencari di Google, emang ini kebiasaan ibu hamil," ucapnya.


"Maura... Apakah kamu tidak ingin menghubungi ayah biologis dari anak yang kau kandung ini? mungkin kau akan tenang kalau dekat dengan ayahnya, saat sedang mengidam seperti ini," ucap Mira.

__ADS_1


"Mbak... Dia sudah menikah kemarin, dan aku tidak mungkin menemuinya lagi, biarlah semua ini aku tanggung sendiri, mungkin suatu saat nanti kalau anakku sudah besar, aku akan memberitahunya," ucap Maura.


"Tapi Ayahnya 'kan juga harus tahu keadaan anaknya? Mungkin saja 'kan dia tidak jadi menikah dengan wanita itu?" ucapnya lagi.


"Mana Mungkin mbak, kemarin aku sudah ngantarkan bunga dari perusahaan Bangji ke gedung pernikahan Dia, dan sangat jelas di sana ada nama Aufan dan Vena juga. Saat aku masuk ke sana, aku bertatapan langsung dengan Aufannya sendiri dari jarak yang jauh," ucap Maura.


"Apakah Aufan melihatmu, saat Kau ada di sana?" tanya Mira.


"Tidak. Saat aku melihatnya, aku langsung mundur dan aku berbalik kemudian pulang," ucap Maura.


"Kenapa kau tidak menemuinya? Bukankah itu kesempatanmu untuk bertemu dia, sebelum dia menikah?" Tanya Mira.


"Mbak... hubungan kami ini di luar dugaan, dan sangat sulit aku Jelaskan pada Mbak, mungkin ini adalah aibku seumur hidup Mbak. Aku tidak ingin menyusahkan orang lain lagi, biarlah aku akan merawat anakku ini sendiri, setelah aku punya banyak modal, mungkin aku akan mendirikan usaha sendiri, usaha kecil-kecilan," ucap Maura.


Tak terasa air matanya pun menetes di sudut matanya. Perasaan sedih kesal dan juga benci dengan kelakuannya yang telah lalu, membuat dirinya menangis meratapi dosa yang telah dia lakukan sebelum ini.


"Maura... Maafkan aku, kalau aku lancang menyarankan ini, tapi itu terserah kau, tapi menurutku... kau harus memberitahukannya, bahwa anak ini adalah anaknya. Bagaimana mungkin kamu rahasiakan semua ini darinya," ucap Mira.


"Aku sudah memikirkannya Mbak, aku tidak ingin merusak rumah tangganya. Aku tidak ingin dicap sebagai pelakor. Dia sudah menikah dan sebelum aku Adapun, mungkin wanita itu adalah wanitanya terdahulu, jadi lebih baik aku menyerah. Aku ini hanya wanita malam Mbak," ucap Maura keceplosan.


"Apa maksudmu? wanita malam? aku nggak ngerti. Bagaimana sih maksudnya?" tanya Mira penasaran.


"Mbak... Bolehkah aku meminta satu hal?" tanya Maura.


"Boleh, Emang apa yang ingin kau pinta dariku? kalau aku bisa membantu, aku akan membantumu," ucap Mira.


"Mbak... tolong jaga rahasia ini, yang tahu saat ini rahasiaku hanya Mbak dengan Tuan Ibrahim, tolong jaga rahasia Ini baik-baik Mbak, aku percaya pada Mbak Mira," ucap Maura.


"Penting banget ya? sampai kamu minta seperti itu," ucap Mira.


"Ya, sangat penting Mbak, karena ini adalah hidupku dan kemudian masa depan anakku," ucapnya.


"Oke, Aku janji, aku akan merahasiakannya dari siapapun," ucap Mira.


"Sebenarnya... dulu... Aku adalah gadis biasa, aku bekerja di suatu cafe, yang ada di sebuah kota, namun aku dijebak dan aku dijual oleh teman akrab ku sendiri, sehingga aku tercebur ke lobang dosa yang tidak mungkin aku kembali lagi seperti semula," ucapnya.


"Maksudnya? kamu...?"


Mira menggantungkan kalimatnya, karena tidak sanggup untuk mengatakannya.


"Ya, Aku adalah wanita satu malam, namun... aku hanya melayani satu orang hingga saat ini, yaitu ayah dari bayiku, karena dari awal dialah pembeli ku, membeli keperawanan ku dari sahabatku tersebut," ucap Maura.


Mira termangu dia kaget sok mulutnya pun terbuka lebar tak percaya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2