Wanita Satu Malam

Wanita Satu Malam
Di Buntuti


__ADS_3

sepanjang perjalanan menuju bandung mereka asik bercengkrama kadang tertawa terbahak-bahak hingga tak terasa Mereka pun sudah sampai di Bandung.


Sebuah mobil juga tampak mengiringi mobil Vena pelan, tentu saja dalamnya adalah teman teman dari pasangan Teman teman Vena juga.


Di mana Villa Lu Ven?"tanya sahabat Vena.


"Di sana, aku sengaja mengambil daerah agak ke dalam, biar kita bisa leluasa menikmati liburan kita," ucapnya.


2 mobil mewah itu pun akhirnya sampai di sebuah Villa yang tampak masih sepi dan hanya ada beberapa buah bangunan di area tersebut.


"Hai... kalian bawa empat cowok? ngapain?" bisik Vena pelan.


Dia kaget saat melihat 4 laki-laki tampan turun dari mobil mewah di sebelahnya.


"Ya iyalah 4 cowok, kita kan berempat Ven," ucap Sahabat Vena.


"Eh gi*la Lu, tapi kan aku sudah punya suami!? Masa iya Kalian juga bawakan cowok buat aku?" ucap Vena lagi sedikit kesal.


"Tak apalah... biar nemenin kamu ngobrol," ucap sahabatnya lagi.


"Ya udahlah, Ayo kita masuk!"


Akhirnya Vena pun masuk ke villanya, dan keempat cowok itu pun mengikuti.


"Eh kalian... bawa tuh barang-barang yang ada di bagasi!" titah Vena pada keempat lelaki itu.


Sebenarnya Vena tidak tahu apa isi bagasi, karena teman-temannya lah tadi yang membawa sesuka mereka, karena Vena tidak turun dari mobil saat mampir menjemput teman-temannya. Akhirnya beberapa buah wadah pun dibawa oleh keempat lelaki itu.


"Hah... memangnya Kalian bawa apaan? kok banyak sekali?" kaget Vena saat melihat keempat lelaki itu membawa berbagai macam kresek yang penuh dengan bahan-bahan di dalamnya.


"Sudahlah, Ayo kita masuk dulu, kita 'kan mau bermalam di sini?" ucap sahabat Vena.


"Bermalam? tidak ah, aku tidak diizinkan untuk bermalam di sini oleh Aufan," ucap Vena.


"Gimana sih kamu? masa kita ke sini jauh-jauh tidak menginap sih," sahut yang lain.


Akhirnya semua barang itu pun dibawa masuk ke dalam villa dan diletakkan di ruang tamu.


"Ayo kita geser saja kursi-kursi ini! biar kita pesta di sini saja," ucap sahabat Vena.

__ADS_1


Akhirnya sofa yang sudah ada di situ pun digeser, diletakkan ke dapur. Mereka pun membuka makanan yang sudah dibawa oleh sahabatnya.


"Lho? kok ini minuman sih? emangnya siapa yang mau minum?" tanya Vena heran.


"Ya kitalah yang minum, masak hantu sih?" ucap sahabatnya.


"Iya Ven, Lu kenapa sih Ven, dulu kan kita emang suka beginian?" Cecer sahabat yang lain.


"Itu dulu, aku takut, bagaimana kalau Aufan tahu?" ucap Vena lagi merasa was was.


"Bagaimana Aufan tahu? Dia kan tidak ikut?"


"Iya siapa tahu saja kan? dia menyusul ke sini, bagaimana kalau beneran menyusul?" tanya Vena.


"Tidak mungkinlah menyusul! mana mungkin dia mau ke sini sendirian, kalau dia mau ikut, dia kan bisa ikut dari tadi," ucap sahabatnya.


"Baiklah," ucap Vena dengan nada lelah.


Mereka pun duduk santai dan menikmati minum-minum mereka, Mereka terlihat sangat senang, bahkan mereka pun lupa, sudah meneguk banyak minuman itu, bahkan kini mereka mulai mabuk.


Sementara dari kejauhan, tampak 2 orang lelaki menatap ke arah Villa Aufan dengan sangat geramnya. Bahkan satu lelaki itu terdengar menggesekkan kedua baris gigi nya, hingga menimbulkan suara karena sangat geram.


"Aman...sebenarnya Aufan dapat dari mana sih wanita seperti itu? Aku tidak menyangka, kalau Vena ternyata sangat licik, Aku saja tidak pernah mencium gelagat anehnya semenjak dia pacaran dengan Aufan, mungkin karena aku jarang di rumah kali ya," ucap Irlangga, yang saat ini sedang berdiri di samping mobil menatap Villa Aufan dari jarak yang sangat jauh.


"Baiklah, aku akan mencari identitas wanita itu, aku harus tahu sebenarnya siapa dia? dan siapakah keluarganya yang sebenarnya? Kenapa Aufan sangat mencintainya? begitu juga istriku, sepertinya Istriku juga menyukai Vena."


Irlangga menatap jauh ke arah Villa tersebut, dengan wajah yang sangat sulit di gambarkan, wajah penuh amarah.


"Selama pacaran, Vena sering datang ke rumah dan bahkan kata bibi, Vena sering menginap di kamar Aufan, namun aku tidak bisa mencegahnya, karena aku tidak punya alasan untuk itu," ucap Irlangga lagi, sambil menghela nafas dalam.


"Sudah lama, Pak Bos, mereka memang bebas saat berpacaran, tidak ada jarak layaknya suami istri, Pak Bos, sebenarnya Saya juga risih, tapi saya takut sama Bos Aufan, jadi saya memilih diam saja," ucap Aman.


"Baiklah... sekarang Aku ingin kau menyelidiki di mana sebenarnya keluarga Vena berada, mungkin nanti aku bisa menyuruh Bibi untuk melihat KTP dan melihat alamat di ktp-nya," ucap Irlangga.


"Ya Bos. Siap," Balas Aman.


"Sekarang, ayo kita pulang! kita sudah tahu mereka ada di sini. Bahkan mereka membawa cowo dan tentu saja aku tidak bisa lagi berpikir, aku sudah bisa menebaknya, tentu saja aku berpikir, mereka akan melakukan hubungan terlarang," ucap Pak Irlangga lagi.


"Ya apa Bos," sahut Aman.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pun masuk ke dalam mobil dan meninggalkan villa itu. Sementara Vena dan sahabat-sahabatnya, kimi tampak tertawa terbahak-bahak, sesekali mereka meneguk minumannya dan memakan cemilan yang berantakan di ruang tamu tersebut.


Lama-kelamaan, satu persatu teman Vena pun tampaknya mengambil tempat masing-masing, dengan meninggalkan ruang tamu. Tinggallah Vena dengan seorang lelaki yang tidak kalah tampan dengan Aufan.


Mereka pun saling tatap menatap, tiba-tiba lelaki itu mendekati Vena dan duduk di samping Vena, mereka berdua sama-sama mabuk, tidak tahu lagi apa yang akan terjadi, namun, ketika mereka berdua sudah terlena dan sangat mabuk, mereka tidak bisa lagi mengendalikan diri, kini mereka semakin mendekat dan akhirnya, sesuatu buruk pun terjadi, mereka berempat sudah tenggelam dalam kenikmatan dunia sesaat.


***


Di kediaman Irlangga, 3 hari setelah kejadian Vena menginap di villanya. Tampaklah Maura duduk di dapur sendirian, dia pun sambil menyemil beberapa buah yang sudah disediakan bibi, tiba-tiba...


"Hai! dasar wanita mur**ahan, enak sekali kau santai-santai di sini! emangnya kau itu Nyonya Besar! itu buah ku, kenapa di makan? kenapa kau ambil heh!" ketus Vena saat melihat Maura memakan buahan yang ada di atas meja.


"Oh maaf, Ini punyamu? Aku tidak tahu. Soalnya Bibi yang mengambilkan dari lemari es," ucap Maura merasa bersalah.


"Iya Nona, aku yang mengambilkannya untuk Maura, kelihatannya Nona Maura ingin rujak, jadi aku bikinkan," ucap Bibi.


"Kau itu sekarang berpihak padanya ya? dia itu hanya istri kedua, istri sahnya itu ya aku! kenapa Bibi membelanya?" ketus Vena sangat kesal.


"Bukan begitu Nyonya Muda, tapi Nona Maura 'kan sedang hamil, Dia sedang mengidam, tadi dia mau mencari buah keluar sendiri, lalu aku bilang di kulkas masih ada buah, itu salahku Nyonya Muda," ucap Bibi terus membela Maura.


"Enak saja mengambil buah ku! sini-sini!"


Vena pun mengambil semua buah itu dan membawanya pergi ke kamar atas.


"Kenapa kau tampak jengkel?" tanya Aufan.


"Istri muda mu tuh, bikin aku kesal, masa buah ku di makan?" ucapnya.


"Maura memakan buah mu?" tanya Aufan.


"Iya, malah Bibi belain lagi hiks hiks, aku merasa tersisih di sini," tangis pura pura Vena membuat hati Aufan terbakar.


"Kurang ajar," ucap Aufan.


Dia pun berdiri. Dan berjalan keluar kamar.


"Mau ke mana?" panggil Vena.


"Aku akan memberinya pelajaran," ucap Vena.

__ADS_1


Vena pun tersenyum puas, melihat kemenangan di depan mata.


Bersambung...


__ADS_2