Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 100. Calon istri


__ADS_3

"Oh gitu ya? Jadi, kamu emang gak mau gendong aku dan gak ikhlas? Dasar nyebelin kamu!" ucap Xiu kecewa.


"Gak gitu sayang, tadi kan—"


"Udah ah!" Xiu memotong ucapan Wein Lao dan pergi begitu saja dari sana.


"Hey, tunggu sayangku cintaku!" teriak Wein Lao.


Wein Lao bergerak mengejar Xiu dan berhasil mencekal lengan wanita itu, sehingga akhirnya Xiu terpaksa menghentikan langkahnya.


"Apaan sih Lao? Ngapain kamu tahan aku? Aku mau cari Reiner sendiri!" ucap Xiu.


"Jangan ngambek dong sayang! Aku gendong lagi ya supaya kamu gak capek?" ujar Wein Lao.


"Gausah, nanti kamu pegel dan malah nyalahin aku!" cibir Xiu.


"Enggak kok sayang, yang tadi aku ngaku aku salah. Aku minta maaf ya sama kamu! Sekarang kita cari Reiner bareng-bareng, okay?!" bujuk Wein Lao sambil tersenyum.


"Huft, beneran nih kamu mau bantu aku buat cari Reiner?" tanya Xiu.


Wein Lao hanya tersenyum, lalu menggendong tubuh wanita itu secara mendadak.


"Iya sayang, aku akan bantu kamu!" ucapnya.


"Ih kamu mah!" ujar Xiu.


Disaat mereka hendak melangkah lagi, tiba-tiba saja seorang wanita muncul menghadang mereka di depan sana.


"Hah? Siapa itu sayang??" tanya Xiu terkejut.


"Aku juga gak tahu, tapi kamu tenang aja ya jangan panik!" ucap Wein Lao.


Wein Lao menurunkan tubuh istrinya dan beralih menatap seorang wanita di depan itu dengan wajah penasaran.


"Hey! Kamu siapa? Kenapa kamu berdiri disana dan menghalangi kita?" tanya Wein Lao lantang.


Wanita itu terdiam saja, tak menjawab pertanyaan dari Wein Lao dan tetap berdiri di depan sana sambil terus menatap ke arah mereka.


"Sayang, dia kenapa sih?" tanya Xiu pada suaminya.


"Gak tahu, mungkin aja dia kelainan. Kita pergi aja lewat jalan lain!" jawab Wein Lao.


"Oke!" Xiu mengangguk setuju.


"Tunggu!" wanita di depan sana tiba-tiba berteriak menahan mereka.


"Apa? Kamu mau apa ha?" tanya Wein Lao.


Wanita itu kini melangkah mendekat ke arah Xiu serta Wein Lao dengan tatapan tajamnya.


Sontak Xiu langsung memegangi lengan suaminya karena takut melihat sorot mata wanita itu.


"Kalian orang Quangzi bukan?" tanya wanita itu.


"Ya, kami dari Quangzi. Lantas kamu mau apa mencegat kami seperti ini? Ada urusan apa dengan kami?" ujar Wein Lao.


"Aku hanya ingin memperingati kalian bahwa aku tidak mau kerajaan Quangzi terus berdiri seperti ini," ucap wanita itu.


"Mengapa begitu? Kamu ini memangnya siapa?" tanya Wein Lao tak mengerti.


"Nanti kalian juga akan mengetahui siapa aku," ucap wanita itu.


"Jangan jadi sok misterius begitu! Cepat katakan siapa kamu dan kenapa kamu tidak suka dengan Quangzi!" pinta Wein Lao.


"Sekarang belum saatnya aku jelaskan itu, yang pasti kalian semua hati-hati saja karena aku sebentar lagi akan meruntuhkan seluruh istana di negeri ini termasuk Quangzi!" ucap wanita itu.


"Terserah apa katamu wanita aneh! Kami tidak punya banyak waktu meladeni orang kurang waras sepertimu, ayo Xiu kita pergi!" ucap Wein Lao.


"Iya," ucap Xiu singkat.


Wein Lao langsung menggandeng tangan Xiu dan membawa istrinya itu pergi dari sana.


Sementara wanita tadi tampak tersenyum tipis sembari menatap punggung Wein Lao dan Xiu.




"Ini semua salah kamu! Kenapa kamu gak awasin pergerakan putri Xiu? Aku yakin dia pasti lakuin sesuatu sama raja Ling!" ucap Emy.


"Mungkin iya, soalnya raja Ling jadi percaya banget sama Xiu dan malah nuduh aku!" ujar Reiner.


"Haish, yasudah kamu istirahat aja dulu! Aku buatin ramuan herbal ya buat kamu? Supaya luka di tubuh kamu bisa cepat sembuh, terus kita bisa langsung pergi dari sini." ucap Emy.


"Boleh tuh, jangan lama-lama ya sayang!" ucap Reiner sambil tersenyum.


Emy mengangguk pelan, kemudian masuk ke dalam tempat tersebut untuk membuat ramuan penyembuh luka.


Sementara Reiner tetap menunggu di depan sana sambil terus mengusap dadanya yang terasa sesak.


"Huh sakitnya!" keluh Reiner.


"Hey panglima Sidhagat!" Reiner amat kaget mendengar suara tersebut, tiba-tiba saja Alice beserta gerombolan iblisnya sudah berada di tempatnya.


"A-apa yang kamu lakukan disini? Bagaimana kamu tahu tempat ini?" tanya Reiner gugup.


"Aku ini ratu iblis, aku bisa dengan mudah melacak keberadaan seseorang yang aku ingin cari tahu. Kamu tidak usah banyak tanya, karena aku kesini ingin mengajakmu bekerjasama." ucap Alice.

__ADS_1


"Kerjasama??" tanya Reiner terkejut.


"Ya, kerjasama." jawab Alice sambil tersenyum.


"Kerjasama apa yang kau maksud?" tanya Reiner.


"Aku bisa membantumu lepas dari kejaran raja Ling, sehingga kamu dan istrimu tidak perlu panik memikirkan kematian kalian." jelas Alice.


"Hah? Benarkah? Bagaimana caranya??" tanya Reiner penuh harap.


"Itu mudah saja bagiku, aku bisa amankan kalian berdua ke tempatku. Aku jamin raja Ling atau putri Xiu sekalipun, tidak akan bisa menemukan keberadaan kalian!" jawab Alice.


"Wah itu sangat bagus! Baiklah, aku mau menerima bantuan darimu!" ucap Reiner.


"Ini semua tidak gratis, kamu juga harus melakukan sesuatu untukku!" ucap Alice.


"Sesuatu apa?" tanya Reiner penasaran.


Disaat Alice hendak bicara, tiba-tiba Emy sudah muncul membawakan ramuan herbal untuk menyembuhkan luka suaminya.


"Reiner, ini ram—" ucapan Emy terhenti saat ia melihat sosok Alice disana.


"Apa-apaan ini? Siapa kalian dan mau apa datang ke tempat kami?" tanya Emy penuh emosi.


"Sabar dulu istriku! Mereka ini dari pasukan iblis yang siap membantu kita untuk lepas dari kejaran raja Ling, kamu tidak perlu takut!" ucap Reiner.


"Apa? Jadi, kamu meminta bantuan iblis?" tanya Emy terkejut.


"Tidak ada pilihan lain sayang, cuma ini yang bisa kita lakukan untuk lepas dari kejaran raja Ling." jawab Reiner.


"Kau tak perlu khawatir, aku pastikan kalian akan aman bersamaku!" ucap Alice.


"Reiner, ayo kita bicara berdua di dalam!" pinta Emy yang langsung menarik suaminya masuk ke tempat itu.




"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bawa aku secara paksa begini? Apa kamu lupa kalau aku sedang sakit, ha?" tegur Reiner.


"Maafkan aku! Aku hanya tidak mau kamu bekerjasama dengan mereka, ini bisa membahayakan kita!" ucap Emy.


"Kenapa begitu? Mereka akan membantu kita, kita pasti akan aman bersama mereka!" ujar Reiner.


"Itu awalnya saja, tapi di akhir nanti mereka pasti meminta upah dari kita atas semua bantuan yang mereka berikan pada kita. Dan asal kau tahu, sekali kita bekerjasama dengan iblis, maka kita tidak akan bisa keluar dari mereka." ucap Emy.


Reiner terdiam sembari menundukkan kepalanya, ia juga ragu untuk bekerjasama dengan Alice karena perkataan istrinya tadi memang benar adanya.


"Aku tak punya pilihan lain, cuma ini satu-satunya cara supaya kita bisa selamat!" ucap Reiner.


"Mengapa? Apa kamu mau terus-menerus dikejar rasa takut oleh ancaman raja Ling?" ujar Reiner.


"Aku lebih baik mati, daripada harus terjebak di dalam dunia iblis!" ucap Emy tegas.


"Lalu, apa kamu mau menyerahkan diri pada raja Ling?" tanya Reiner.


Kini giliran Emy yang terdiam, memang tak mungkin jika dirinya menyerahkan diri, karena ia masih belum siap untuk mati saat ini.


"Tidak mau kan? Yasudah, kamu sebaiknya ikuti saja kata-kata aku!" ucap Reiner.


"Tapi Rein, akibatnya fatal banget loh kalau kita kerjasama dengan iblis! Gimana kalau kita gak bisa lepas dari jeratan mereka nantinya? Aku takut banget Reiner!" ucap Emy.


"Tenanglah istriku! Kita memang akan kerjasama dengan mereka, tapi kita tidak mungkin terjebak selamanya di jeratan mereka! Aku pastikan kita pasti bisa keluar!" ucap Reiner.


"Kamu yakin?" tanya Emy ragu.


"Iya sayang, kamu percaya aja sama aku! Ini semua demi kebaikan kita, cuma mereka yang bisa tolongin kita!" jawab Reiner.


"Baiklah, aku turuti semua perkataan kamu suamiku!" ucap Emy.


"Bagus! Kalau begitu kita keluar sekarang dan temui mereka! Kita bilang jika kita bersedia untuk bekerjasama dengan mereka!" ucap Reiner.


Emy mengangguk dengan sedikit ragu, lalu tangannya meraih tangan sang suami dan melangkah keluar menemui Alice serta pasukannya kembali.


"Bagaimana? Apa kalian sudah berunding dan menemukan jawabannya?" tanya Alice.


"Ya, kami sudah berunding." jawab Reiner.


"Lalu, apa jawaban kalian?" tanya Alice lagi.


Reiner melirik istrinya sekilas, kemudian menjawab pertanyaan Alice.


"Kami bersedia bekerjasama dengan kalian," jawab Reiner dengan mantap.


"Itu pilihan yang bagus!" ucap Alice.


"Tentu saja, jadi kami berdua bisa selamat kan dari kejaran raja Ling?" tanya Reiner.


"Iya, itu benar!" jawab Alice.




An Ming bersama Zheng serta guru Yao kini dalam perjalanan pulang menuju istana.


Tampak pangeran kecil itu terus tersenyum lebar membayangkan wajah gadis yang ia temui sebelumnya.

__ADS_1


Entah mengapa sepertinya An Ming sangat tertarik dengan gadisnya, sehingga ia sulit sekali melupakan wajah gadis itu.


"Pangeran, kenapa pangeran senyum-senyum gitu? Ada masalah?" tanya Zheng pada An Ming.


"Ah tidak paman, tidak ada apa-apa. Aku cuma masih belum bisa lupain wajah Lian, dia terlalu cantik untuk dilupakan. Aku rasanya ingin terus bersama dia sepanjang waktu," jawab An Ming.


"Ohh, pangeran lagi jatuh cinta ya?" goda Zheng.


"Mungkin begitu paman, daritadi wajah Lian selalu terbayang di pikiran aku. Kalau aja ayahnya kasih izin tadi, pasti aku udah bawa dia ke istana dan ajak dia tinggal sama aku di istana." ucap An Ming.


"Jangan begitu lah pangeran! Kan pangeran harus minta izin juga sama ratu Lien, kalau gak diizinin nanti pangeran dimarahin loh!" ujar guru Yao.


"Iya guru, aku juga ngerti. Makanya nanti di istana, aku mau bicara sama mommy kalau aku pengen bawa Lian ke istana." kata An Ming.


"Emangnya kalau Lian dibawa ke istana, dia mau disuruh tidur dimana pangeran? Kan semua kamar sudah penuh," tanya guru Yao.


"Di kamarku lah guru," jawab An Ming.


"Hah??" Zheng dan guru Yao kompak terkejut.


Tak lama kemudian, mereka tanpa sengaja berpapasan dengan Xiu serta Wein Lao yang kebetulan juga hendak kembali ke istana.


"An Ming?" ucap Xiu sambil tersenyum.


"Eh kakak, kak Lao. Kalian kenapa ada disini?" tanya An Ming pada mereka.


"Iya, kita tadi abis jalan-jalan. Kamu sendiri kenapa malah masih disini?" jawab Xiu.


"Aku abis kenalan sama seseorang kak, dia cantik dan baik banget!" ucap An Ming.


"Hah? Siapa?" tanya Xiu penasaran.


"Namanya Feng Lian, dia gadis desa yang sebentar lagi bakal jadi keluarga kita." jawab An Ming.


"Keluarga kita? Maksud kamu gimana?" tanya Xiu.


"Iya kak, Feng Lian kan nanti bakal aku nikahin. Jadi, otomatis dia termasuk bagian keluarga kita dong." jelas An Ming.


"Apa? Kamu serius bicara begitu, An Ming? Memangnya kamu udah siap buat nikah? Terus, kamu yakin mau nikahin gadis itu?" tanya Xiu.


"Yakin dong kak, pake banget malah! Aku ngerasa cocok sama Feng Lian, soalnya dia cantik terus baik banget, walau dia cuma dari keluarga sederhana." jawab An Ming sambil tersenyum.


"Yaudah, suka-suka kamu aja deh. Nanti kamu bicara aja sama mommy ya!" ucap Xiu.


"Oke kak!" ucap An Ming singkat.




Sesampainya di istana, Xiu serta An Ming langsung menemui ratu Lien yang memang sudah menunggu mereka sedari tadi.


Sementara Wein Lao tetap di luar berbincang dengan Zheng dan juga Lu Ching Yao mengenai wanita yang ingin dinikahi An Ming.


"Mommy!" panggil An Ming sambil tersenyum.


"Ah An Ming, Xiu! Kalian ini darimana aja sih? Mommy khawatir tau!" ujar ratu Lien.


"Maaf mom! Aku tadi ada urusan sebentar, tapi emangnya panglima Gusion gak bilang sama mommy kalau aku dan Lao udah mau pulang?" ucap Xiu.


"Bilang kok sayang, tapi tetap aja mommy khawatir karena kamu gak bilang-bilang!" ucap ratu Lien.


"Iya mom, maafin aku ya!" ucap Xiu.


"Gapapa, emangnya kamu abis ngurusin apa sih sayang? Perasaan lama banget pergi keluarnya," tanya ratu Lien penasaran.


"Eee iya gini mom, jadi tadi tuh aku ketemu sama raja Ling dan selesaiin urusan aku sama dia. Sekarang gak ada kesalahpahaman lagi deh antara aku dan dia," jelas Xiu.


"Oh ya? Berarti raja Ling sudah tau kalau kamu bukan pembunuh ayahnya?" tanya ratu Lien.


"Benar mom! Aku senang banget, sekarang aku sama raja Ling udah baikan! Jadinya aku gak punya musuh lagi deh mom," jawab Xiu.


"Baguslah sayang!" ucap ratu Lien.


Mereka berpelukan sejenak disana sambil saling tersenyum dan mengusap satu sama lain.


Sementara An Ming berdiam di tempatnya dan terus memandangi wajah ibu serta kakaknya.


"Oh ya, An Ming juga mau bicara loh sama mommy." ucap Xiu yang kini telah melepas pelukannya.


"Hah? Bicara?" ratu Lien terkejut dan beralih menatap putranya. "Kamu mau bicara apa sama mommy, sayang?" tanyanya pada An Ming.


"Begini mom, aku pengen minta izin sama mommy kalau aku mau bawa calon istri aku ke istana buat ketemu sama mommy dan tinggal disini." jelas An Ming.


"Hah? Apa?? Calon istri kamu? Maksudnya gimana?" tanya ratu Lien terkejut bukan main.


An Ming senyum-senyum saja menatap wajah ibunya, ia sudah tidak sabar ingin segera membawa Feng Lian ke istana dan bertemu dengan ibunya disana.


"An Ming, kamu jelasin ke mommy sekarang! Siapa calon istri kamu yang kamu maksud itu?" tanya ratu Lien penasaran.


"Iya mom, dia itu..."


"Permisi ratu!" ucapan An Ming terjeda saat Gusion tiba-tiba muncul dengan wajah panik.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2