Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 96. Kembali ke masa lalu


__ADS_3

An Ming semakin mendekati wanita itu dan meraih satu tangannya, ia memberanikan diri menggenggamnya kemudian mengecupnya.


Cup!


"Hah? Kenapa pangeran cium tangan aku?" tanya Feng Lian terkejut tapi tak berontak.


"Karena aku suka," jawab An Ming sambil tersenyum.


Wanita itu hanya membalas senyum sang pangeran dan membiarkan An Ming kembali menciumi tangannya yang lembut itu.


"Kamu sering datang kesini, Lian?" tanya An Ming tanpa melepas genggaman tangannya.


"Ya pangeran, sehabis dari kebun pasti aku selalu kesini dulu untuk membersihkan wajahku." jawab Feng Lian.


"Oh begitu, pantas saja kamu terlihat bersinar dan cerah. Ternyata kamu rajin cuci muka di air ini," ucap An Ming memuji Feng Lian.


"Ah pangeran bisa aja!" ucap Feng Lian malu-malu.


"Kamu jangan panggil aku pangeran! Panggil saja aku An Ming, okay?!" pinta An Ming.


"Baik An Ming!" ucap Feng Lian menurut.


An Ming merasa gemas dengan tingkah wanita itu, ia pun mencubit wajahnya dan sesekali mengusap rambutnya yang halus.


Feng Lian terdiam saja menikmati sentuhan lembut dari An Ming, sesekali juga ia memejamkan mata dan tersenyum.


"Pangeran!!" suara teriakan itu membuat An Ming terkejut dan reflek menjauh dari Feng Lian.


"Paman? Guru?" ucap An Ming seraya mendongakkan kepalanya ke arah Zheng serta guru Yao.


"Pangeran, siapa wanita itu? Kenapa pangeran malah duduk disini aja?" tanya Zheng.


"Ah paman terlalu banyak pertanyaan! Dia ini teman aku, jadi paman gak perlu tahu siapa dia!" jawab An Ming sembari merangkul pundak Feng Lian dan membuat gadis itu terkejut.


Tak hanya Feng Lian, tapi Zheng serta guru Yao juga terkejut dengan tindakan An Ming.


"Benarkah pangeran? Memang pangeran sudah mengenal wanita ini?" tanya guru Yao.


"Tentu saja, kan aku sudah bilang kalau Feng Lian ini adalah temanku. Sudahlah, paman dan guru sebaiknya lanjut berenang saja! Jangan ganggu kami!" ucap An Ming tampak tak suka.


"Ba-baiklah pangeran! Tapi, apa pangeran tidak mau pulang? Ini sudah terlalu siang loh, pangeran gak takut dicariin ratu?" ujar Zheng.


"Mommy gak bakal nyariin aku, kan aku udah izin sama mommy buat pergi. Jadi, sekarang aku masih mau ngobrol sama Feng Lian dulu paman." ucap An Ming.


"Feng Lian?" tanya Zheng terkejut.


"Ya, itu nama gadis cantik di sebelahku ini. Pasti paman kaget kan karena namanya secantik orangnya?" ujar An Ming.


"I-i-iya pangeran, kalau gitu paman sama guru Yao permisi dulu!" ucap Zheng gugup.


An Ming mengangguk saja, kemudian mengeratkan rangkulannya kepada Feng Lian sambil mengusap rambutnya.


Sementara Zheng dan guru Yao sudah pergi kembali ke sungai sesuai perintah An Ming, namun mereka masih tak percaya dengan apa yang dilihat mereka tadi.


"Guru, ternyata pangeran An Ming itu sosok pria yang suka menggoda wanita ya? Saya gak nyangka, padahal dia masih kecil." ujar Zheng.


"Iya Zheng, pangeran memang begitu. Dulu saja pangeran sempat menggoda putri Xiu yang masih menyamar sebagai Xi Mei," ucap guru Yao.


"Hahaha, pangeran memang ada-ada saja.." Zheng tertawa lebar seraya menggelengkan kepalanya.


An Ming dan Feng Lian masih terus asyik berbincang di pinggir sungai itu sembari sesekali bermain dengan air.


An Ming secara sengaja menyipratkan air sungai itu ke wajah Feng Lian berkali-kali hingga membuat wajah gadis itu basah.


"Ih pangeran iseng banget deh!" cibir Feng Lian.


"Ahaha, gapapa dong Lian. Daripada gabut cuma ngobrol ya kan?" ujar An Ming.


"Feng Lian!" tiba-tiba suara teriakan seorang pria membuyarkan momen romantis mereka.


"Hah? Ayah??" Feng Lian terkejut dan reflek berdiri menghadap ke arah pria itu.




Raja Ling serta pasukannya telah berhasil membawa Xiu pergi dari hadapan Wein Lao dan juga ayahnya.


Mereka kini hendak kembali menuju istana Sidhagat untuk menghukum Xiu.


Namun, Xiu masih terus mencoba berontak dari pegangan prajurit-prajurit itu walau tubuhnya juga terasa sangat sakit.


"Ih lepasin, jangan bawa aku!!" ujar Xiu.


"Udah, kamu diam aja Xiu! Masih mending aku tidak membunuh kamu saat ini juga, jadi seharusnya kamu berterimakasih padaku!" ucap raja Ling.


"Akh dasar raja sialan! Kamu itu gak berhak bawa aku pergi paksa kayak gini, aku bukan pembunuh seperti yang kamu katakan!" ucap Xiu.


"Mau sampai kapanpun kamu mengelak, aku tetap tidak akan percaya dengan kata-kata kamu itu Xiu!" ucap raja Ling.


"Kamu benar-benar keras kepala! Aku yakin kamu akan menyesal nantinya!" geram Xiu.


"Terserah apa katamu saja Xiu! Aku sudah tidak mau lagi mendengar ucapan kamu yang selalu saja mengelak dari kenyataan itu! Kamu sekarang harus mati di tanganku, tanpa terkecuali!" ucap raja Ling.


Xiu menggeleng dan terus meronta-ronta dari cengkraman para prajurit itu.

__ADS_1


"Heh diam!" bentak Reiner si panglima.


"Aku gak mau ikut sama kalian, aku bukan pembunuh, lepasin aku!" ucap Xiu.


Bughh...


Reiner yang kesal akhirnya memukul perut Xiu dengan keras dan membuat mengaduh kesakitan.


"Awhh aduh sakit!" rintih Xiu.


"Makanya diam, jangan melawan!" tegas Reiner.


"Sudahlah, kita harus cepat bawa dia ke istana sebelum senja tiba! Aku tidak mau berlama-lama disini, karena putri Xiu harus mendapat balasan atas apa yang dia lakukan terhadap ayahku dulu!" ucap raja Ling.


"Kamu tuli atau apa sih raja Ling? Sudah kubilang berulang kali, bukan aku pembunuhnya!" ucap Xiu.


"Diamlah kamu Xiu! Disini kamu tidak berhak bicara, apalagi menentang ku!" ujar raja Ling.


Tiba-tiba saja seseorang muncul dan terbang di atas kepala mereka, orang itu turun kemudian mencegat jalan sang raja dari depan.


"Lao Lao, mau apa lagi kau?" tanya raja Ling.


Pria yang tak lain ialah Wein Lao pun berbalik menatap wajah raja Ling, ia juga memandang kasihan ke arah putri Xiu yang tengah kesakitan itu.


"Tentu saja aku ingin membebaskan istriku darimu! Aku tidak mungkin membiarkan wanita cantik yang tidak bersalah itu menjadi korban dari kesalahpahaman antara kita!" jawab Wein Lao.


"Cih! Disini tidak ada kesalahpahaman apapun! Xiu memang pembunuh ayahku, kalian berdua tidak bisa mengelak lagi!" tegas raja Ling.


"Ya, kamu akan terus berkata seperti itu jika aku atau Xiu tak dapat menunjukkan buktinya. Maka dari itu, aku datang kemari untuk memberikan bukti itu kepadamu raja Ling." ucap Wein Lao.


"Hah? Bukti apa yang kau maksud? Jangan pernah mengadali ku, Lao!" ujar raja Ling.


"Tentu tidak yang mulia, aku tahu kamu adalah orang yang baik. Hanya saja kejadian yang menimpa ayahmu itu membuatmu menjadi seorang yang pendendam, untuk itu aku mau meluruskan semuanya saat ini." jelas Wein Lao.


"Yasudah, cepatlah kamu beritahu bukti apa yang kamu punya itu!" pinta raja Ling.


Wein Lao tersenyum tipis, kemudian menggunakan cincin di jari tengahnya untuk membuka sebuah portal menuju masa lalu.


"Masuklah yang mulia!" ucap Wein Lao.


"Apa itu?" tanya raja Ling heran.


"Nanti kau juga akan tau," jawab Wein Lao.


Akhirnya raja Ling melangkahkan kakinya memasuki portal waktu itu, disusul oleh Wein Lao dan juga putri Xiu.




Raja Ling terlihat kebingungan, ia terus celingak-celinguk menatap ke sekeliling untuk mencari ada apa disana.


"Dimana ini? Kenapa kamu bawa saya kesini?" tanya raja Ling terheran-heran.


"Tenanglah raja Ling! Ini adalah masa lalu, masa dimana yang mulia Li Qin terbunuh kalau itu. Aku membawa kau kesini, karena aku ingin memberitahu padamu kejadian yang sebenarnya, supaya kamu berhenti menuduh istriku sebagai pembunuh ayahmu itu!" jelas Wein Lao.


"Aku tidak menuduh, memang itu nyatanya. Aku menemukan lencana milik putri Xiu saat itu, jadi kalian tidak bisa mengelak lagi dari semuanya!" ucap raja Ling.


"Baiklah, kalau begitu kita coba lihat saja kesana! Itu ayahmu bukan?" ucap Wein Lao seraya menunjuk ke arah depan.


Raja Ling langsung mengalihkan pandangan ke arah yang ditunjuk Wein Lao, matanya melotot disertai kesedihan saat melihat ayahnya tengah duduk di atas kuda.


"Ayah..??" ucapnya lirih.


Seketika itu juga air mata mengalir membasahi wajah raja Ling, kerinduannya pada sang ayah amat terasa saat ini.


"Disini ayahmu hendak pergi memenuhi undangan dari istana Tartar, tapi dia tidak tahu kalau di sekitarnya sudah ada yang mengintai dan bersiap menyerangnya." ucap Wein Lao.


"Apa maksudmu? Siapa yang mengintai ayahku? Pasti kamu kan Xiu?!" tanya raja Ling.


"Sembarangan kalo ngomong! Jangan asal tuduh ya!" elak Xiu.


"Sudah sudah, kita lihat saja ke depan!" ucap Wein Lao menengahi.


Akhirnya mereka bertiga sama-sama menatap ke depan untuk menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya pada raja Li Qin disana.


Tampak Li Qin menghentikan kudanya saat menyadari ada seseorang yang terbang melewati kepalanya kesana-kemari.


"Sial! Siapa itu?" ujar Li Qin.


"Yang mulia, sepertinya kita dalam bahaya!" ucap Reiner sang panglima.


"Benar! Tetap waspada semua!" titah Li Qin.


Slaasshh...


Tiba-tiba saja sebuah panah melesat cepat dan menusuk tepat ke bahu Li Qin.


"Akh!" Li Qin memekik kesakitan.


"Yang mulia!" teriak Reiner panik. "Semuanya berjaga-jaga! Jangan sampai ada serangan susulan dari orang itu!" perintah Reiner.


"Baik panglima!" seluruh prajurit langsung bersiap siaga menjaga raja Li Qin.


Sementara Reiner menghampiri rajanya yang terluka itu, tampaknya juga terdapat obat bius di panah tersebut yang membuat Li Qin mulai kehilangan kesadaran.

__ADS_1


"Yang mulia tidak apa-apa?" tanya Reiner.


"Akh! Tubuhku rasanya lemas sekali, sepertinya ada obat bius di panah ini!" jawab Li Qin.


"Kalau begitu, panahnya harus cepat dicabut yang mulia." usul Reiner.


"Ya, bantu aku!" pinta Li Qin.


Plop


Reiner berhasil mencabut panah itu dari bahu sang raja, tapi rasanya obat bius itu telah mengalir ke seluruh tubuhnya.


"Bagaimana yang mulia?" tanya Reiner.


"Tubuhku masih lemas," jawab Li Qin.


"Hahaha hahaha.." suara tawa wanita menggema di sekitar mereka.


Para prajurit kompak mendongakkan kepala mereka, tapi tanpa sadar puluhan anak panah mulai menghujam tubuh mereka hingga tewas.


Slaasshh slaasshh...


Satu persatu prajurit tumbang, menyisakan Li Qin bersama sang panglima.


"Sial! Kita terjebak yang mulia!" ujar Reiner.


Lalu, sang wanita bertopeng hitam muncul di hadapan mereka dan kembali tertawa puas.


"Hahaha, kamu akan mati Li Qin!" ujarnya.




Gusion bersama prajurit Quangzi masih mencari putri Xiu dan Wein Lao di sekitar hutan itu.


Mereka tanpa sengaja bertemu dengan Reiner yang sedang berkumpul di depan sana.


Gusion merasa curiga lantaran pasukan Sidhagat tak biasanya ada di hutan Quangzi.


"Tunggu!" ucap Gusion menghentikan langkahnya.


"Ada apa panglima?" tanya seorang prajurit.


"Kita hampiri mereka, mungkin saja mereka tahu dimana putri Xiu dan pangeran Lao berada." jawab Gusion sambil menunjuk ke arah pasukan Sidhagat.


"Baik panglima!" ucap prajurit itu menurut.


Mereka semua pun menghampiri pasukan Sidhagat yang sedang berkumpul di depan sana.


"Hey kalian!" panggil Gusion.


"Hahaha, pasukan Quangzi? Mau apa kalian kesini?" tanya Reiner.


"Aku yakin kamu pasti tau dimana putri Xiu dan pangeran Lao! Katakan pada kami sekarang, dimana mereka!" ujar Gusion.


"Kalau kami tidak mau kasih tahu dimana mereka, kalian mau apa?" ucap Reiner.


"Sudah pasti kami akan menyerang kalian dan memaksa kalian untuk memberitahu dimana mereka!" jawab Gusion.


"Hahaha, kami tidak takut!" tantang Reiner.


"Kurang ajar! Serang mereka!" perintah Gusion.


"Hiyaaa.." mereka semua maju dan saling serang satu sama lain.


Disaat pertarungan itu tengah berlangsung, tiba-tiba seorang wanita muncul dan berteriak ke arah mereka.


"BERHENTIII...!!" suara teriakan itu membuat mereka semua menghentikan pertarungan dan menoleh ke asal suara tersebut.


"Kalian hentikan pertarungan itu! Mengapa kalian tidak berpikir maju? Kalian itu cuma diperbudak oleh seorang raja dan ratu yang haus kekuasaan, kalian diperalat oleh orang-orang itu. Seharusnya kalian jangan mau begini terus, kalian harus bisa merubah pola pikir kalian!" ucap wanita itu.


"Siapa kau dan apa maksudmu bicara seperti itu? Semua orang disini memang harus tunduk dengan raja di wilayah masing-masing, apa kamu bukan orang sini ha?" tanya Gusion.


"Aku lahir disini, tetapi aku tak menyukai kebijakan seperti itu. Aku menginginkan negara kita berubah menjadi negara maju, tinggalkan semua kebijakan tidak jelas ini! Aku yakin kalian juga lelah kan terus-menerus diperbudak?" jawab wanita itu.


"Kamu jangan bicara yang tidak jelas! Kalau kamu tidak suka aturan disini, sebaiknya kamu pergi saja dari sini!" bentak Reiner.


"Hahaha, mengapa aku harus pergi? Aku sudah bertekad untuk menyatukan semua kerajaan di negeri ini, supaya tidak ada lagi korban jiwa yang berjatuhan." ucap wanita itu.


"Siapa sebenarnya kamu??" tanya Gusion.


"Aku Fey Chu, murid guru Tan. Aku yang akan membantu hidup kalian supaya lebih maju!" jawab wanita bernama Fey itu.


"Cih! Kau bantu saja dirimu sendiri! Ayo kita serang wanita itu!" bentak Gusion.


Fey tersenyum saja, lalu menarik pedangnya keluar bersiap menghadapi serangan dari pasukan Quangzi dan Sidhagat.


"Hiyaaa..." pertarungan pun kembali terjadi, seorang wanita cantik dikeroyok oleh cukup banyak prajurit dua istana itu.


Tapi siapa sangka, Fey Chu justru mampu melawan serangan-serangan mereka semua.


Bruuukkk...


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2