Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 50. Kekhawatiran ratu


__ADS_3

Xi Mei dan Ryu kini sudah berhasil keluar dari dalam istana, mereka tengah memantau situasi di luar sana untuk memastikan apakah aman bagi mereka atau tidak.


Selain itu, Ryu juga berusaha membebaskan ninja-ninja yang menjadi pengikutnya tadi karena ia sudah terlanjur berjanji pada mereka. Ya tentu pantang bagi Ryu untuk mengingkari janjinya.


"Paman, untuk apa kita sembunyi? Aku bisa lawan mereka semua kok!" ucap Xi Mei.


"Hey! Mulai deh sombongnya, padahal tadi kamu ketakutan gitu pas paman baru datang. Lebih bagus kamu yang tadi tau!" ucap Ryu.


"Hehe, kan sekarang mah udah ada busur ini di tanganku. Jadi, aku gak takut apapun lagi selama ada busur ini." ucap Xi Mei tersenyum.


"Ah kamu ini!" ujar Ryu mencolek pipi Xi Mei.


"Terus, kita harus ngapain paman? Aku gak tahan nih sama sakit di kakiku, bagian tubuhku yang lain juga masih rada nyeri." ucap Xi Mei.


"Kamu tahan sebentar ya cantik! Paman sedang memantau situasi lebih dulu, baru nanti kita serang mereka bersama-sama." pinta Ryu.


"Iya deh paman, jangan lama-lama ya!" ucap Xi Mei.


Ryu mengangguk pelan sambil mengusap puncak kepala Xi Mei, lalu bangkit dan berusaha mencari dimana ninja-ninja tadi.


"Gimana paman?" tanya Xi Mei penasaran.


"Ah itu dia mereka, kita harus coba selamatkan mereka dari para prajurit itu!" jawab Ryu.


"Mereka siapa paman?" tanya Xi Mei heran.


"Ninja-ninja yang tadi membantu paman untuk menyusup kemari, kita tidak bisa biarkan mereka tertangkap begitu saja." jawab Ryu.


"Ninja? Apa maksud paman pria dengan topeng hitam di wajahnya?" tanya Xi Mei.


"Iya sayang, mereka yang sudah menculik kamu semalam dan mengambil busur kamu." jawab Ryu.


"Ish, kenapa kita harus bebasin mereka? Aku gak mau ah bantuin orang yang udah jahatin aku!" ucap Xi Mei.


"Jangan begitu Xi Mei! Biar gimanapun, mereka kan udah bantu paman untuk tolong kamu. Jadi, kita juga harus bantu mereka sekarang!" ujar Ryu.


"Huft, yaudah deh aku mau. Tapi, gimana caranya paman?" tanya Xi Mei bingung.


"Kamu gunakan busur kamu itu untuk memanah para prajurit disana! Setelah mereka semua tumbang, baru kita maju dan bawa ninja-ninja itu pergi dari sini." jawab Ryu.


"Baik paman!" ucap Xi Mei mengerti.


Xi Mei pun mulai menarik busurnya dan mengarahkan kepada gerombolan prajurit yang sedang menyerang ninja-ninja disana.


"Fokus Xi Mei!" perintah Ryu.


"Iya paman," ucap Xi Mei mengangguk pelan.


Slaasshh...


Xi Mei mulai meluncurkan anak panahnya ke langit dan seketika panah tersebut mencuat menjadi belasan sesuai yang diinginkan Xi Mei.


Lalu, panah-panah itu mendarat tepat di dada para prajurit hingga mereka semua terkapar tak berdaya dan membuat ketiga ninja itu kebingungan.


"Paman, aku berhasil!" ucap Xi Mei senang.


"Iya sayang, kamu memang hebat! Ayo kita kesana sekarang!" ucap Ryu.


"Iya paman," ucap Xi Mei mengangguk setuju.


Mereka berdua pun maju ke depan menghampiri tiga ninja yang masih kebingungan itu.


"Hey kalian bertiga!" teriak Ryu.


"Hah?" ketiga ninja tersebut langsung menoleh ke asal suara dan terkejut melihat kehadiran Ryu disana bersama gadis yang mereka culik sebelumnya.


"Tuan Ryu? Anda sudah kembali? Dan anda berhasil menyelamatkan keponakan anda?" tanya ninja itu.


"Tentu saja, ini semua berkat bantuan kalian juga. Kalian tidak kenapa-napa kan?" ucap Ryu.


"Iya tuan, kami baik-baik saja. Kami ikut senang karena keponakan anda berhasil diselamatkan!" ucap ninja itu tersenyum.


"Baguslah, lalu dimana prajurit tadi?" tanya Ryu.


"Eee mereka barusan terkena panah misterius dari langit tuan, kami tidak tahu siapa pelakunya." jawab ninja itu.


"Apa?" Ryu terkejut dan menoleh ke arah Xi Mei.


"Kenapa paman?" tanya Xi Mei bingung.


"Kamu kan yang memanah tadi? Mengapa kamu ikut memanah prajurit yang berada di pihak kita?" ucap Ryu agak kesal.


"Eee mana aku tahu paman, paman kan tidak bilang kalau ada prajurit mereka yang berada di pihak kita." ucap Xi Mei cemberut.


"Iya juga ya, maaf deh karena paman udah bentak kamu tadi!" ucap Ryu menyesal dan mengusap rambut mulus gadis itu.


"Gapapa paman, aku juga minta maaf karena gak tanya dulu ke paman tadi." kata Xi Mei.


"Yasudah, biarkan saja mereka terkena panah kamu. Sekarang sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebelum raja Ling sadar kalau kamu tidak ada di kamar!" ucap Ryu.

__ADS_1


"Benar itu, kita harus keluar dari tempat ini! Kalau raja Ling tahu, yang ada kita bisa dihajar habis-habisan!" ucap ninja itu.


Disaat mereka hendak pergi, tiba-tiba saja raja Ling muncul dan menahan mereka untuk tidak pergi dari sana.


"BERHENTI!" teriak raja Ling cukup keras.


Sontak Ryu, Xi Mei serta ninja-ninja itu menoleh secara bersamaan ke asal suara.


Mereka menganga lebar melihat raja Ling beserta pasukannya tengah berdiri menatap kesana.


"Raja Ling?" ucap Xi Mei terkejut.


"Gawat tuan! Kita bisa dihabisi oleh mereka, jumlah mereka banyak banget." ucap ninja itu ketakutan.


"Tenang saja, jangan panik! Kita punya Xi Mei, dia pasti bisa melawan mereka!" ucap Ryu.


"Hah? Kenapa aku, paman?" tanya Xi Mei kaget.


"Loh, benar kan? Bukannya kamu itu ahli memanah dan bisa menghadapi siapapun, termasuk raja Ling?" ucap Ryu sambil tersenyum.


"Eee iya sih, kita coba aja dulu deh nanti." ucap Xi Mei tampak ragu-ragu.


Kini raja Ling sudah berada di dekat mereka, ia menatap satu persatu wajah dari pasukan Ryu dengan penuh amarah.


"Kurang ajar! Ternyata kamu yang sudah menyusup ke istanaku dan menculik calon istriku. Serahkan Xi Mei kepadaku, atau kamu akan kubunuh sekarang juga!" ucap raja Ling.


"Hah? Calon istri? Apa maksudmu?" tanya Ryu.


"Ya, Xi Mei adalah calon istriku. Aku akan menikah dengan dia sebentar lagi, jadi kamu tidak bisa membawa dia dariku!" jawab raja Ling.


"Itu bohong, aku tidak pernah mau menikah dengan raja sepertimu! Lagipun, aku lebih suka bersama pamanku dibanding kamu!" bentak Xi Mei.


"Kau dengar itu raja bodoh? Xi Mei lebih suka bersamaku, bukan kamu!" ujar Ryu.


"Hahaha, aku tak perduli. Apapun itu, Xi Mei harus menjadi istriku!" tegas raja Ling.


"Dan aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh keponakan ku, camkan itu!" bentak Ryu.


"Sudahlah paman, kita tidak usah banyak bicara lagi! Aku sudah tidak sabar ingin segera menghabisi raja bodoh ini!" geram Xi Mei.


"Waw! Kamu kenapa bilang begitu, sayangku? Gak sopan tau bicara seperti itu ke calon suami kamu sendiri," ucap raja Ling tersenyum.


"Jangan sok lembut kamu! Ayo lawan aku dan jangan banyak bicara!" ujar Xi Mei.


"Aku tidak mungkin menyerangmu, sayangku. Aku ini mencintaimu, dan kita juga tidak seharusnya bertarung." kata raja Ling.


Xi Mei langsung bergerak maju dan hendak menyerang raja Ling, namun luka di kakinya membuat ia tidak jadi melakukan itu.


"Akh! Sshh.." rintih Xi Mei menahan sakit.


"Hey hey, kamu jangan terlalu emosi sayang! Ingat, kaki kamu itu masih sakit!" ujar Ryu.


"Iya paman, akh sakit banget!" ucap Xi Mei.


"Yaudah, kamu istirahat aja! Biar paman dan ninja-ninja ini yang hadapi mereka. Kamu jangan banyak gerak dulu ya sayang!" ucap Ryu.


"Xi Mei, kamu baik-baik aja kan? Perlu aku bawa kamu ke ruang pengobatan lagi?" ucap Ling.


"Gausah sok perduli deh kamu! Paman, ayo paman habisi dia sekarang juga dan jangan kasih kesempatan untuk dia!" ucap Xi Mei kesal.


"Iya iya, serahkan saja itu ke paman. Sekarang kamu istirahat ya sayang!" ucap Ryu.


Xi Mei mengangguk setuju, Ryu menuntunnya untuk beristirahat di belakang agar gadis itu tidak semakin kesakitan akibat terlalu sering bergerak dan emosi.


Setelahnya, Ryu pun kembali menemui raja Ling seraya pasukannya disana dan bersiap untuk melawan mereka semua.


"Ayo raja Ling, kita buktikan siapa yang terhebat diantara kita!" tantang Ryu.


"Hahaha, baiklah. Tapi, kalau aku berhasil mengalahkan mu serahkan Xi Mei kepadaku dan beri aku izin untuk menikahinya!" ucap Ling.


"Kita lihat saja nanti," ucap Ryu santai.


"SERAANGGG!!!" teriak Ryu.


Ryu beserta tiga ninja pasukannya pun maju menyerang raja Ling bersama prajurit-prajuritnya yang tentunya berjumlah sangat banyak.


Sementara Xi Mei hanya menyaksikan dari jauh pertempuran itu, ia khawatir pamannya tidak akan mampu menghadapi raja Ling.




Ratu Lien bangun dari tidurnya, ia bangkit dan terduduk sejenak di atas tempat tidur dengan nafas terengah-engah akibat mimpi buruk yang baru saja dialaminya.


Ratu Lien bermimpi kalau putrinya yakni Xiu sedang mengalami musibah saat ini, ia pun tampak panik saat ini dan terus memikirkan kondisi putrinya yang ia sendiri tidak tahu bagaimana.


"Hah hah hah! Ada apa ini? Kenapa aku tiba-tiba bermimpi tentang Xiu?" ujarnya cemas.


"Aku harus temui Mungyi! Dia mungkin saja bisa membantuku bertemu dengan Xiu," sambungnya.

__ADS_1


Ratu Lien pun memutuskan untuk pergi dari kamarnya mencari keberadaan Mungyi di sekeliling istana, namun ia malah berpapasan dengan An Ming yang baru saja selesai berlatih.


"Mommy!" teriak An Ming sembari berlari ke arah ratu Lien.


"Eh sayang, kenapa nak?" ucap ratu Lien.


"Mommy mau kemana? Mommy pasti baru bangun tidur ya, kelihatan tuh matanya masih belekan begitu." ujar An Ming terkekeh kecil.


"Ih kamu ini paling bisa kalo soal ledekin mommy! Iya nih sayang, mommy emang baru bangun tidur. Sekarang mommy lagi cari paman Mungyi, kamu lihat gak sayang?" ucap ratu Lien.


"Ohh, lihat kok mom. Tadi paman Mungyi lagi kasih makan kuda di belakang," jawab An Ming.


"Bagus deh! Terus, kalau Daddy kamu lihat gak ada dimana?" tanya ratu Lien.


"Eee kalau Daddy sih aku gak lihat, mom. Mungkin aja Daddy lagi di kamarnya, atau malah di ruang tengah." jawab An Ming.


"Yasudah, sekarang kamu bersihin tubuh dulu ya! Habis itu kan kita makan malam bersama, cepat ya sayang!" pinta ratu Lien.


"Baik mom!" ucap An Ming menurut.


An Ming pun pergi meninggalkan ratu Lien disana sendirian, sedangkan sang ratu juga ikut melangkah dari sana untuk menemui Mungyi di tempat penyimpanan kuda.


Akan tetapi, lagi-lagi langkahnya terhenti lantaran ratu Lien bertemu dengan dayang-dayang istana alias pelayan khususnya saat hendak keluar dari istana.


"Ratu, ratu hendak pergi kemana? Sebaiknya ratu jangan pergi sendirian!" ucap pelayan itu.


"Oh ayolah, aku hanya ingin pergi menemui Mungyi. Kalian tidak perlu mencemaskan ku!" ucap ratu Lien agak kesal.


"Maafkan kami ratu! Kami hanya menjalankan perintah dari yang mulia raja Xavier, karena kami juga tidak mau kecolongan lagi!" ucap pelayan itu.


"Yasudah, kalau begitu kalian bisa ikut denganku sekarang. Tapi ingat, jangan laporkan ini kepada suamiku ya!" ucap ratu Lien.


"Eee baik ratu!" ucap mereka bersamaan.


Lalu, ratu Lien pun terpaksa pergi menemui Mungyi ditemani oleh tiga orang pelayannya itu.


"Huh sungguh menyebalkan!" batin ratu Lien.


Mereka akhirnya tiba di tempat penangkaran kuda istana, terlihat Mungyi baru selesai memberi makan kuda-kuda itu dan hendak pergi.


Namun, ratu Lien segera mencegahnya dan dengan cepat menghampiri pria itu agar dia tidak pergi lebih dulu.


"Tunggu Mungyi!" teriak ratu Lien.


"Eh ratu, salam hormat!" ucap Mungyi.


"Iya Mungyi, aku ingin bicara denganmu." kata ratu Lien.


"Eee bicara soal apa ratu?" tanya Mungyi.


Ratu Lien menoleh ke belakang, menatap tiga orang pelayannya itu dan meminta mereka menjauh sejenak dari sana.


"Kalian pergilah, aku ingin bicara empat mata dengan Mungyi!" ujar ratu Lien.


"Tapi ratu—"


"Sebentar saja," potong ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap pelayan itu menurut.


Akhirnya ketiga pelayan itu pun pergi menjauh sesuai perintah dari ratu Lien.


Sementara ratu Lien kini mengajak Mungyi berbicara sambil duduk di tempat dekat sana.


"Ratu, sebenarnya apa yang ratu ingin bicarakan dengan saya? Apa ini penting?" tanya Mungyi.


"Tentu saja Mungyi, kau kira untuk apa aku menemui kamu disini jika tidak ada urusan yang penting? Aku benar-benar cemas dengan putriku, Xiu. Aku tadi bermimpi kalau dia sedang tidak baik-baik saja, aku khawatir itu menjadi kenyataan Mungyi!" jelas ratu Lien.


"Ratu tenang saja! Sekarang ini tuan putri Xiu sedang bersama guru Ryu, dia adalah guru beladiri terbaik di desa Fuxiu dan saya yakin tuan putri pasti baik-baik saja bersamanya." ucap Mungyi.


"Aku tetap tidak bisa tenang dan berdiam diri begitu saja Mungyi. Aku harus pastikan sendiri bahwa dia memang baik-baik saja! Kau bisa kan antarkan aku ke rumah Luan? Aku ingin bicara dengannya," ucap ratu Lien.


"Eee maaf ratu! Bukannya saya hendak menolak, tapi saya tidak bisa mengantarkan ratu pergi tanpa seizin raja Xavier." ucap Mungyi.


"Ah sudahlah Mungyi, kau tidak perlu cemas akan itu! Aku sudah mendapat izin dari suamiku, jadi ayo kita pergi sekarang karena aku sudah cemas dengan putriku!" ucap ratu Lien.


"Ta-tapi ratu..."


"Ayolah Mungyi! Apa kau tidak kasihan padaku? Aku ini hanya ingin bertemu dengan putriku, aku khawatir padanya!" potong ratu Lien.


Mungyi terdiam sejenak sebelum akhirnya mengambil keputusan untuk mengikuti kemauan ratu Lien.


"Baiklah ratu, aku bersedia mengantarmu." ucap Mungyi.


Ratu Lien pun tampak senang mendengarnya, ia mengusap wajahnya dan ingin segera pergi menuju desa Fuxiu untuk menemui Luan.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2