
"Kau? Bukannya kamu yang waktu itu pernah menemui ku dan Lao di hutan?" ujar Xiu.
"Eee..." Fey Chu langsung menunduk bingung.
"Maaf tuan putri! Tapi, apa tuan putri sebelumnya sudah pernah bertemu dengan Fey?" potong Chen.
"Ya Chen, aku tahu betul siapa wanita ini. Dia yang sudah mengancam ku dan suamiku waktu itu, bagaimana bisa kamu malah berteman dengan dia?!" jelas Xiu.
"Mengancam?" Chen tampak kaget dan tak percaya jika Fey melakukan itu pada Xiu.
"Benar Chen! Kamu tanyakan saja pada dia jika kamu tidak percaya!" jawab Xiu.
"Apa benar begitu Fey?" tanya Chen pada Fey.
"Eee iya Chen.." Fey menjawab dengan pelan dan menunduk.
"Mengapa kamu melakukan itu, Fey? Ancaman apa yang kamu katakan pada putri Xiu? Apa kamu tidak tahu jika dia tuan putri Quangzi?" tanya Chen lagi.
"Aku hanya bercanda, aku tidak benar-benar mengancam tuan putri Xiu," jawab Fey berbohong.
"Bohong! Kamu tidak usah mengelak atau berbohong di hadapan Chen! Mengaku saja dan katakan yang sejujurnya!" bentak Xiu.
"Kamu ini kenapa tuan putri? Takut ya dengan ancaman aku waktu itu?" tanya Fey mengejek.
"Sial! Jangan pikir aku takut denganmu wanita aneh! Aku hanya tidak suka jika wanita sepertimu berteman dengan Chen, dia itu saudaraku dan kamu bukan orang baik!" kesal Xiu.
"Kamu salah paham tuan putri, aku tidak seperti yang kamu kira. Aku ini baik dan justru kamu yang jahat!" ucap Fey Chu.
"Kurang ajar!" Xiu menggeram kesal dan hendak menyerang Fey, tetapi dicegah oleh Chen.
"Sabar tuan putri! Aku mohon jangan berkelahi disini!" cegah Chen.
"Lihat kan? Kamu yang jahat tuan putri, bukan aku," kekeh Fey.
Xiu mengepalkan kedua tangannya, sungguh dia amat diliputi emosi dan ingin sekali menghabisi Fey Chu saat ini juga jika tidak ada Chen.
"Kumohon tuan putri, tenanglah!" bujuk Chen.
"Iya Chen, maaf kalau aku hampir membuat keributan di depan rumahmu! Aku hanya tidak suka melihat wanita ini, mengapa kau malah mengajak dia kesini?!" ujar Xiu emosi.
"Aku benar-benar tidak tahu jika Fey pernah mengancam dirimu, tuan putri. Kami berdua juga baru bertemu kemarin, saat itu Fey sedang dihadang oleh rombongan perampok. Aku menolongnya, lalu kami berkenalan dan aku mengajaknya untuk tinggal disini bersamaku," jelas Chen.
Xiu kembali melirik Fey dengan sinis, gadis itu hanya membalas dengan senyum smirk nya.
"Kalau begitu, sekarang kamu usir dia dan jangan pernah ajak dia untuk tinggal disini lagi!" perintah Xiu pada Chen.
"Loh, tidak bisa begitu dong tuan putri. Itu sama saja kamu membuatku kehilangan tempat tinggal, itu tindakan jahat loh," protes Fey Chu.
"Diam kamu! Aku tahu kamu bukan perempuan baik-baik, jadi aku tidak akan membiarkan kamu mendekati saudaraku!" bentak Xiu.
"Sabar tuan putri, tenanglah!" pinta Chen.
Xiu mendengus kesal dengan tatapan mata terus mengarah ke sosok Fey Chu, sedangkan Chen tampak sangat bingung saat ini.
"Tuan putri, mari duduk dulu!" ucap Chen.
"Tidak, aku pergi saja dari sini," tolak Xiu
"Mengapa begitu tuan putri?" tanya Chen heran.
Disaat Xiu hendak pergi, dia justru dikejutkan dengan kedatangan seorang pria disana.
"Xiu tunggu!" panggil si pria.
•
•
"Pangeran hentikan!" suara teriakan sang wanita membuat An Ming terkejut dan mengurungkan niatnya.
"Lian?" ucap An Ming begitu melihat gadisnya ada di hadapannya kini.
"Pangeran, tolong jangan teruskan ini! Aku tidak mau Tachi terbunuh," pinta Feng Lian.
"Ya, aku akan menurut denganmu. Tapi, kamu ikutlah denganku sekarang!" ujar An Ming.
"Kemana pangeran?" tanya Feng Lian bingung.
"Kita akan ke istana, aku ingin mengenalkan mu pada ibuku, ratu Lien." Feng Lian terkejut mendengar penjelasan An Ming itu.
"Apa??" ucap Feng Lian disertai mulut menganga.
"Iya Lian, kenapa kamu terdengar kaget begitu? Apa kamu tidak mau menemui ibuku di istana?" tanya An Ming.
"Bukan begitu pangeran, aku hanya belum siap jika harus bertemu ratu sekarang," jawab Feng Lian.
"Kamu tidak perlu khawatir! Aku janji akan membantumu untuk siap bertemu ibuku nanti!" ucap An Ming meyakinkan gadisnya.
"Tapi pangeran, aku—"
"Ayolah Lian! Kalau kamu emang cinta sama aku, kamu harusnya mau aku ajak ke istana sekarang menemui ibuku!" potong An Ming.
"Aku mengerti maksudmu pangeran, baiklah aku akan menuruti kemauan kamu! Tapi, tolong biarkan aku pulang dulu dan bersiap-siap sebelum berangkat ke istana!" pinta Feng Lian.
"Tentu saja, mari aku temani kamu pulang!" ucap An Ming menggandeng tangan Feng Lian.
Gadis itu mengangguk kecil, lalu mereka pun melangkah bersamaan menuju rumah Feng Lian.
"Tunggu!"
Langkah An Ming dan Feng Lian terhenti saat Tachi kembali berteriak menahan mereka.
"Mau apa lagi kau sialan?!" umpat An Ming.
"Aku belum kalah pangeran, aku akan menghabisi mu kali ini dan membawa Lian pergi dari sini!" ucap Tachi yang terlihat lemas.
"Hahaha, kasihanilah tubuhmu Tachi bodoh! Apa kau tidak lihat jika sekarang dirimu benar-benar payah?!" ledek An Ming.
__ADS_1
"Kurang ajar! Rasakan ini!!" geram Tachi, perlahan dia maju mendekati sang pangeran.
"Tahan Tachi, hentikan!" teriak Feng Lian cukup keras membuat langkah Tachi terhenti.
Tachi melirik ke arah Feng Lian, begitu juga dengan An Ming. Mereka sama-sama heran karena Feng Lian terlihat sangat emosi.
"Jika kalian terus bertengkar, aku akan pergi dari sini dan tidak mau menemui kalian berdua lagi!" ancam Feng Lian.
"Hey! Apa yang kamu bicarakan itu Lian? Mengapa kamu bicara begitu? Kamu akan menikah denganku, jangan harap kamu bisa pergi begitu saja dariku!" ucap An Ming.
"Aku mengerti pangeran, maka dari itu berhentilah bertarung!" pinta Feng Lian.
"Bukan aku yang memulainya, tapi dia!" ucap An Ming menunjuk ke arah Tachi.
"Sial!" umpat Tachi pelan.
"Lian!!" suara teriakan seorang pria itu membuyarkan obrolan mereka.
•
•
Bruuukkk...
"Akh awhh sshh!!" kedua pria itu terkejut bukan main mendengar rintihan seorang wanita dari arah tak jauh.
"Hah? Itu suara siapa ya?" ujar Wein Lao.
"Kita cek saja kesana! Siapa tahu ada yang membutuhkan bantuan," ucap In Lao.
"Iya ayah," Wein Lao mengangguk setuju.
Sepasang ayah dan anak itu langsung bergerak cepat menuju asal suara, mereka amat penasaran siapa yang berteriak barusan.
"Ayah, ternyata itu suara Xiao Tien. Sepertinya dia terjatuh lagi," ucap Wein Lao.
"Iya, perempuan itu memang menyusahkan!" ujar In Lao.
"Aku akan menolongnya ayah, aku tidak tega melihat dia kesulitan begitu," ucap Wein Lao.
"Tahan Lao!" In Lao menahan putranya yang hendak menghampiri Xiao Tien.
"Kenapa ayah?" tanya Wein Lao heran.
"Temui istrimu di desa Fuxiu, dia harus segera kamu hibur! Biar ayah yang mengurus gadis disana itu, supaya putri Xiu tidak semakin marah padamu," jelas In Lao.
"Baiklah ayah! Tapi, apa ayah bisa membantu Xiao Tien?" ucap Wein Lao ragu.
"Jangan meragukan ayah! Sudah, cepat sana kamu susul putri Xiu!" ujar In Lao.
"Ba-baik ayah!" ucap Wein Lao gugup.
Wein Lao pun pergi menyusul Xiu, sedangkan In Lao maju mendekati Xiao Tien.
"Aku akan membantumu," ucap In Lao.
"Raja Lao?" Xiao menatap tak percaya, seketika luka di kakinya terasa hilang begitu saja.
"Kenapa? Ayo cepat saya bantu! Wein Lao gak bisa bantu kamu karena dia harus susul istrinya, jadi saya aja yang tolongin kamu ya," ucap In Lao.
"I-i-iya yang mulia, terimakasih!" ucap Xiao Tien.
Akhirnya gadis itu meraih tangan In Lao dan dengan bantuan sang raja serigala itu, kini Xiao berhasil berdiri seperti biasa.
"Awhh sshh!!" Xiao merintih menahan sakit di kakinya.
"Kaki kamu masih sakit?" tanya In Lao.
"Iya raja," jawab Xiao dengan wajah menunduk.
"Biar saya sembuhkan luka kamu, tapi kamu harus tahan sedikit ya!" ucap In Lao.
"Eee ta-tapi raja—"
"Tenang saja! Saya bisa sembuhkan kamu kok, percaya sama saya!" potong In Lao.
"Ba-baik raja Lao!" ucap Xiao Tien gugup.
"Tahan ya!" pinta In Lao.
Xiao Tien mengangguk kecil, lalu In Lao pun melepas rangkulannya dan bersiap menyembuhkan luka gadis itu menggunakan ilmu khas serigala.
"Ilmu ini sudah turun temurun dari leluhur ku, sudah dipastikan ini baik untukmu!" ucap In Lao.
Slaasshh...
"Kurang ajar! Apa itu?!" geram In Lao.
•
•
Slaasshh...
Tiba-tiba saja, sebuah anak panah melesat ke dekat mereka dan hampir mengenai raja Ling.
"Siapa itu?!" ujar raja Ling kesal.
"Hahaha, hey raja lemah!"
Suara tawa dan hinaan itu terdengar di telinga mereka, raja Ling benar-benar dibuat kesal dengan perkataan tersebut.
"Siapa kau? Tunjukkan wajahmu dasar pengecut!" bentak raja Ling.
Tak lama, seseorang muncul dan berdiri tepat di hadapan raja Ling. Dia tersenyum lebar dengan sorot mata tajam ke arah sang raja.
"Buka topeng mu! Jangan jadi pengecut!" pinta raja Ling emosi.
__ADS_1
"Hahaha, belum saatnya kamu tau siapa diriku raja lemah! Sekarang matilah kau di tanganku!" ucap orang itu.
Tanpa basa-basi lagi, orang itu langsung maju menyerang raja Ling secara brutal.
Beruntung raja Ling dalam posisi siap sehingga dia dapat menghindari serangan orang itu.
Akai yang ada disana hendak ikut membantu sang raja, tetapi ditahan olehnya.
"Tahan Akai! Aku bisa mengatasi makhluk sialan ini sendiri, kamu mundur saja bersama para prajurit yang terluka!" titah raja Ling.
"Ba-baik yang mulia!" ucap Akai patuh.
Perlahan Akai memundurkan langkahnya, jujur dia ragu meninggalkan raja Ling disana karena dia khawatir terjadi sesuatu pada sang raja.
"Kamu terlalu percaya diri, bersiaplah menerima kematian mu raja bodoh!" ucap orang itu.
"Di dalam mimpimu," balas raja Ling.
Pertarungan itu kembali terjadi dengan sengit.
Raja Ling terus-menerus melayangkan serangan, namun tiba-tiba satu pukulan terkena tepat di tubuhnya dan membuat raja Ling terdorong ke belakang.
"Yang mulia!" teriak Akai yang langsung mendekati raja Ling untuk menolongnya.
"Tahan Akai! Aku tidak apa-apa, aku masih bisa hadapi orang itu!" ujar raja Ling.
"Hahaha, kau payah raja Ling! Segitu saja kemampuan seorang raja, ha?" ledek orang itu.
"Kurang ajar! Berani sekali kau menghinaku, rasakan sendiri akibatnya!" geram raja Ling.
Raja Ling kembali menyerang ke arah orang itu secara membabi buta, dia amat emosi setelah dihina oleh orang tersebut.
Sreekkk...
Dengan satu tarikan, raja Ling berhasil melepas topeng yang dikenakan orang itu.
Sontak pria bertopeng tersebut langsung cepat-cepat membuang muka, menghindari bertatapan langsung dengan raja Ling.
"Hey, tunjukkan wajahmu sialan! Jangan jadi pengecut seperti itu!" ujar raja Ling.
"Sial! Aku tidak boleh ketahuan sekarang, aku harus kabur!" batin pria bertopeng itu.
"Woi!!" raja Ling berteriak dan hendak menghampiri pria bertopeng di depannya.
Ctaaashh...
Mereka terkejut saat si pria bertopeng melempar sesuatu yang menyebabkan munculnya asap.
"Uhuk uhuk, dasar pengecut!" umpat raja Ling.
"Raja, menjauh raja jangan dekati asap itu!" ujar Akai menarik tubuh raja Ling.
•
•
"Tapi pangeran, aku—"
"Ayolah Lian! Kalau kamu emang cinta sama aku, kamu harusnya mau aku ajak ke istana sekarang menemui ibuku!" potong An Ming.
"Aku mengerti maksudmu pangeran, baiklah aku akan menuruti kemauan kamu! Tapi, tolong biarkan aku pulang dulu dan bersiap-siap sebelum berangkat ke istana!" pinta Feng Lian.
"Tentu saja, mari aku temani kamu pulang!" ucap An Ming menggandeng tangan Feng Lian.
Gadis itu mengangguk kecil, lalu mereka pun melangkah bersamaan menuju rumah Feng Lian.
"Tunggu!"
Langkah An Ming dan Feng Lian terhenti saat Tachi kembali berteriak menahan mereka.
"Mau apa lagi kau sialan?!" umpat An Ming.
"Aku belum kalah pangeran, aku akan menghabisi mu kali ini dan membawa Lian pergi dari sini!" ucap Tachi yang terlihat lemas.
"Hahaha, kasihanilah tubuhmu Tachi bodoh! Apa kau tidak lihat jika sekarang dirimu benar-benar payah?!" ledek An Ming.
"Kurang ajar! Rasakan ini!!" geram Tachi, perlahan dia maju mendekati sang pangeran.
"Tahan Tachi, hentikan!" teriak Feng Lian cukup keras membuat langkah Tachi terhenti.
Tachi melirik ke arah Feng Lian, begitu juga dengan An Ming. Mereka sama-sama heran karena Feng Lian terlihat sangat emosi.
"Jika kalian terus bertengkar, aku akan pergi dari sini dan tidak mau menemui kalian berdua lagi!" ancam Feng Lian.
"Hey! Apa yang kamu bicarakan itu Lian? Mengapa kamu bicara begitu? Kamu akan menikah denganku, jangan harap kamu bisa pergi begitu saja dariku!" ucap An Ming.
"Aku mengerti pangeran, maka dari itu berhentilah bertarung!" pinta Feng Lian.
"Bukan aku yang memulainya, tapi dia!" ucap An Ming menunjuk ke arah Tachi.
"Sial!" umpat Tachi pelan.
"Lian!!" suara teriakan seorang pria itu membuyarkan obrolan mereka.
Tampak Shi Yuqi alias sang ayah dari Feng Lian muncul disana, pria itu menatap wajah putrinya serta An Ming dengan nafas tersengal-sengal.
"Lian, mengapa kamu pergi begitu saja?" tanya Shi Yuqi pada putrinya.
"Ayah, maafkan aku! Aku tadi melihat pangeran An Ming sedang bertengkar dengan Tachi disini, maka dari itu aku datang membantunya. Sekali lagi aku minta maaf ayah!" jelas Feng Lian.
"Tidak apa-apa, sekarang ayo kamu pulang! Ajak saja pangeran An Ming!" ucap Shi Yuqi.
"Baik ayah!"
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1