
Xiu tersenyum tipis, lalu duduk di kursi yang ada disana sembari menunggu An Ming selesai menemui ayahnya.
"Lao, kamu kenapa berdiri aja? Ayo sini duduk samping aku!" ucap Xiu.
"Gapapa putri, aku berdiri saja. Aku tidak tahan kalau harus duduk di samping mu," ucap Wein Lao.
"Apa maksudnya?" tanya Xiu.
"Kamu begitu cantik putri, aku khawatir tidak bisa menahan rasa inginku untuk menikahi kamu sekarang ini. Kan gak mungkin kita langsung menikah tanpa persiapan," jawab Wein Lao.
"Haish, kamu ada-ada saja! Udah sini duduk, gak akan ada masalah kok!" pinta Xiu.
"Baik putri!" ucap Wein Lao menurut.
Perlahan Wein Lao mulai terduduk di samping putri Xiu, namun dengan tubuh gemetar.
Xiu tersenyum mengetahui itu, ia sengaja menggeser posisi duduknya dan menatap Wein Lao dari jarak dekat.
"Kamu lucu deh!" ucap Xiu sambil mencubit pipi Wein Lao.
Pria itu tersenyum senang, ikut memajukan wajahnya dan bersiap mencium Xiu yang juga sudah memejamkan mata.
"Tuan putri!!"
Ya teriakan itu membuyarkan momen romantis mereka, sehingga Xiu dan Wein Lao tidak jadi berciuman.
Saat menoleh, Xiu mendapati sosok Zheng tengah melangkah ke dekatnya dan pria itulah yang memang memanggilnya tadi.
"Zheng? Ada apa?" tanya Xiu bingung.
"Tidak ada, tuan putri. Aku hanya ingin memberitahu bahwa para warga sudah menunggu kehadiran tuan putri di halaman istana, mereka ingin melihat tuan putri secara langsung dan bicara dengan tuan putri." jelas Zheng.
"Baiklah, nanti aku dan Lao akan ke depan untuk temui mereka. Kamu bilang saja mereka kalau aku sedang beristirahat sejenak! Kamu perintahkan mereka nikmati saja hidangan yang ada, sembari menungguku datang!" ucap Xiu.
"Baik tuan putri! Aku akan beritahu para warga untuk menunggu sejenak, sesuai perintah dari tuan putri." ucap Zheng.
"Yasudah, kamu bisa pergi sekarang! Katakan kalau aku tidak akan lama!" ucap Xiu.
"Siap tuan putri!" ucap Zheng dengan lantang.
Zheng pun berbalik, namun sempat melirik sejenak ke arah Wein Lao dengan tatapan sinis nya.
Wein Lao hanya terdiam, ia tak mengerti mengapa Zheng menatapnya seperti itu.
Setelah Zheng pergi, Wein Lao pun menatap Xiu sambil menggenggam tangan gadis itu.
"Ada apa Lao?" tanya Xiu penasaran.
"Gapapa, aku suka aja pegang tangan kamu. Selain itu, aku juga pengen ulangi apa yang tadi kita mau lakukan." jawab Wein Lao sambil tersenyum.
"Ulangi apa? Emangnya tadi kita mau ngapain dah?" tanya Xiu terheran-heran.
"Kamu masa gak tahu sih? Tadi kan kita udah saling mendekat dan bibir kita hampir bersentuhan, eh si Zheng itu malah datang dan mengacaukan semuanya." jelas Wein Lao.
"Ohh, kamu mau cium bibir aku lagi sekarang? Enggak ah gak mau! Nanti kamu gak mau lepas lagi kalo udah nempel," ujar Xiu.
"Gak gitu kok putri," ucap Wein Lao.
Xiu tersenyum tipis dan memalingkan wajahnya, Wein Lao tampak kecewa karena ia harus mengurungkan niatnya saat ini.
Cupp!
Namun, tiba-tiba saja Xiu berbalik dan langsung mengecup bibir Wein Lao dengan singkat.
Wein Lao terkejut dengan perlakuan Xiu barusan, ia memegangi bibirnya yang dikecup oleh gadis itu.
"Kamu ngapain barusan?" tanya Wein Lao.
"Yah elah pake segala nanya, padahal kamu udah tau sendiri apa yang aku lakuin barusan. Itu kan yang kamu pengen, Lao?" ucap Xiu.
Wein Lao pun tersipu malu mendengar jawaban Xiu, ia tak bisa menyembunyikan wajah merahnya dari gadis itu.
"Ahaha cie cie yang mukanya merah.." ledek Xiu.
"Kurang ajar ya kamu!" ucap Wein Lao.
Pria itu menatap Xiu secara intens, kemudian menarik wajahnya dan mencium paksa bibir Xiu sambil menekan tengkuk nya.
•
•
"Daddy!"
An Ming tiba di depan sel tempat ayahnya berada, ia memanggil ayahnya itu sambil melangkah lebih dekat ke arahnya.
Sontak Xavier terkejut, ia membuka matanya dan mendongakkan kepalanya ke arah depan.
Xavier langsung tersenyum lebar melihat putranya ada di hadapannya saat ini, ia bangkit dari duduknya dan perlahan mendekati putranya.
__ADS_1
"An Ming? Akhirnya kamu kemari nak, cepatlah kamu tolong Daddy sayang! Daddy gak mau lama-lama ada disini, ayo cepat lepasin Daddy dari sini nak!" ucap Xavier penuh harap.
"Enggak dad, aku kesini bukan buat lepasin daddy. Justru aku pengen bicara sama dia, mengenai apa yang sudah Daddy lakukan kepada putri Xiu alias kakakku." ucap An Ming.
Xavier merasa heran dengan ucapan putranya, apalagi ia lihat kalau putranya itu terlihat sangat marah.
"Ada apa An Ming?" tanya Xavier bingung.
"Daddy jangan pura-pura gak tahu deh! Aku udah tau semua yang Daddy lakuin ke kakakku, itu jahat banget tau!" jawab An Ming.
"Apa maksud kamu? Daddy ini gak jahat, Daddy juga gak ngerasa melakukan apapun. Kamu jangan kemakan omongan mereka sayang!" ucap Xavier.
"Seharusnya aku tidak mendengarkan omongan Daddy, karena Daddy selalu mencuci otakku! Aku benar-benar gak nyangka sama Daddy, ternyata Daddy sejahat ini. Aku kecewa sama Daddy!" geram An Ming.
"Kamu jangan bilang begitu dong nak! Daddy itu orang baik, Daddy sayang banget sama kamu! Gak mungkin Daddy tega cuci otak kamu, ayolah An Ming kamu percaya sama Daddy!" ujar Xavier.
"Gak mau dad, aku gak akan pernah percaya lagi sama Daddy!" ucap An Ming dengan lantang.
"An Ming, kamu kenapa jadi begini sih? Apa karena Xiu sudah bicara sesuatu sama kamu?" ujar Xavier.
"Ya, tapi aku gak nyesel ketemu kakak. Aku justru senang karena kak berhasil nyadarin aku," ucap An Ming.
"Kamu salah An Ming! Xiu udah bikin kamu jadi benci sama Daddy, gak seharusnya itu terjadi sayang!" ucap Xavier.
"Aku gak benci sama Daddy, aku tetap sayang kok sama Daddy. Tapi, kali ini aku kecewa berat sama Daddy!" ucap An Ming.
"Jangan bicara begitu sayang! Daddy gak terima kalau kamu kecewa sama Daddy!" ucap Xavier.
"Kenapa dad? Apa gak boleh seorang anak kecewa dengan ayahnya, karena sudah membunuh ayah dari saudaranya sendiri?" ucap An Ming.
"Dengar An Ming! Kalau Daddy gak bunuh raja Feng dulu, mungkin aja kamu gak akan ada di dunia ini sayang. Jadi, seharusnya kamu berterimakasih pada Daddy bukan malah bertindak seperti ini!" ucap Xavier.
"Aku lebih senang kalau aku gak lahir ke dunia ini, daripada aku harus melihat penderitaan di mata orang-orang yang aku sayang." ucap An Ming.
An Ming pergi begitu saja setelah mengatakan itu, tampaknya ia sangat emosi dan tidak ingin menyakiti ayahnya jika ia terus-terusan bertahan disana.
"An Ming, tunggu nak! Kamu jangan tinggalin Daddy disini sayang!" teriak Xavier.
Namun, An Ming tak memperdulikan itu.
An Ming kembali menemui Xiu dan Wein Lao yang masih terduduk disana menunggunya.
"Kak, aku sudah selesai." ucap An Ming.
"Kenapa sebentar sekali? Terus, tadi aku dengar suara ayah kamu teriak. Itu kenapa ya?" tanya Xiu terheran-heran.
"Biasalah kak, Daddy memang begitu." jawab An Ming.
"Baiklah," ucap An Ming mengangguk setuju.
•
•
Xiu kini berhadapan langsung dengan Xavier di penjara layaknya An Ming tadi.
Nampak Xavier tengah menangis sesenggukan sembari terduduk memegangi sel.
"Kenapa kamu menangis begitu?" tanya Xiu.
Xavier terkejut mendengar suara itu, ia segera mendongakkan kepalanya menatap Xiu dan menganga lebar.
"Mau apa kamu kesini? Sana pergi!" ujar Xavier.
"Aku tidak akan pergi, aku berhak untuk ada disini karena aku adalah putri kerajaan." ucap Xiu.
"Baiklah, kamu memang putri kerajaan. Tapi, ingatlah Xiu kalau kamu tidak akan mungkin menjadi ratu di istana ini! Aku pastikan kamu akan hancur sebentar lagi!" ancam Xavier.
"Kamu gak perlu repot-repot bilang begitu Xavier, aku memang tidak akan menjadi ratu disini. Karena yang meneruskan mommy ku nanti, adalah suamiku alias pangeran Wein Lao." ucap Xiu.
"Hah??" Xavier terkejut hebat mendengarnya, ia tak menyangka jika Xiu akan menikah dengan Wein Lao.
"Kenapa Xavier? Kok kaget gitu?" tanya Xiu.
"Kamu jangan coba-coba bohongi saya! Mana mungkin kamu bisa menikah dengan pangeran Lao dari kerajaan serigala itu?!" ujar Xavier.
"Terserah kamu saja Xavier, aku sudah katakan semuanya dengan jujur. Nanti aku akan berikan undangan pernikahan kami kepada kamu, supaya kamu bisa percaya. Tapi, percuma aja sih karena kamu juga gak bisa datang." ledek Xiu.
"Kurang ajar! Beraninya kamu meledek ku, lihat saja jika aku bebas dari sini aku pastikan kamu adalah orang pertama yang aku habisi!" geram Xavier.
"Jangan pikirin itu dulu Xavier! Pikir saja bagaimana kamu makan sekarang!" ucap Xiu.
"Apa maksudmu? Kamu tidak ingin memberiku makanan, ha?" tanya Xavier kaget.
"Jika kamu masih saja bersikap seperti itu padaku, untuk apa aku memberimu makanan?" jawab Xiu.
"Sialan! Kamu benar-benar keterlaluan Xiu! Aku pastikan kamu akan hancur!" geram Xavier.
"Aku tidak mungkin hancur, justru kamu yang akan hancur di dalam sini." balas Xiu.
__ADS_1
Xavier menggeram kesal, ia bangkit dan hendak memukul Xiu dari dalam sana.
Namun, tentunya Xavier tidak berhasil melakukan itu lantaran ia terhalang sel di depannya.
"Ayo sini kau! Lebih dekat dan rasakan pukulan ku! Aku akan habisi kamu Xiu! Matilah kamu Xiu!" ucap Xavier sangat kesal.
"Hahaha, kamu gak mungkin bisa menghabisi ku Xavier! Ayo teruslah mencoba, tunjukkan padaku betapa hebatnya dirimu!" tantang Xiu.
"Jika saja aku ada di luar, aku pastikan kamu akan habis di tanganku Xiu! Kamu itu tidak ada apa-apa nya dibandingkan denganku, karena kamu hanyalah wanita lemah!" ucap Xavier.
"Baiklah, aku biarkan kamu mengatakan itu Xavier. Aku tidak akan melawan atau membantah kata-kata mu lagi, asal kau bahagia!" ujar Xiu.
"Hahaha... hahaha..." Xavier tertawa puas.
"Kenapa kamu ketawa begitu? Jangan-jangan kamu sudah tidak waras ya karena kamu sekarang bukan lagi pemimpin disini?" ledek Xiu.
"Aku tertawa, karena aku tahu betapa lemahnya dirimu Xiu. Kamu itu tidak lebih dari seorang wanita lemah di desa!" ujar Xavier.
Xiu menggelengkan kepalanya, memegangi dahi dan memalingkan pandangan dari Xavier.
Tak lama kemudian, Wein Lao datang menyusulnya dan berdiri di sebelahnya.
"Xiu, sudahlah ayo kita ke depan sekarang! Kasihan para warga yang sudah menunggu disana, mereka sangat ingin bertemu denganmu!" ucap Wein Lao.
"Iya Lao, aku ikut denganmu." ucap Xiu.
Akhirnya Xiu menaruh tangannya di lengan Wein Lao dan berjalan pergi meninggalkan Xavier.
"Hey! Jangan pergi kau gadis pengecut! Ayo sini lawan aku! Dasar pengecut kamu! Kamu itu tidak lebih dari seorang gadis lemah!" teriak Xavier.
"Diam kamu! Jangan berisik!" bentak seorang prajurit penjaga tahanan.
•
•
Wein Lao merasa heran saat Xavier berteriak seperti itu kepada Xiu, ia terus menoleh ke belakang menatap Xavier dengan bingung.
Sementara Xiu membiarkan saja teriakan Xavier itu, ia pun juga meminta Wein Lao untuk fokus ke jalan dan mengabaikan Xavier.
"Lao, sudah kamu fokus aja!" pinta Xiu.
"Tapi Xiu, dia kenapa bisa sekesal itu denganmu? Apa yang kamu bicarakan tadi?" tanya Wein Lao.
"Tidak ada, mungkin dia itu stres karena sekarang dia ada di penjara." jawab Xiu asal.
"Ohh, iya kali ya." ujar Wein Lao sambil nyengir.
"Yaudah, kita fokus aja jalan ke depan! Jangan sampai kita bikin para warga kesal!" ucap Xiu.
"Iya Xiu, kau benar!" ucap Wein Lao.
Sesampainya di halaman istana, Xiu langsung tersenyum menatap seluruh masyarakat Quangzi yang ada di depan sana.
Kehadiran Xiu tentunya langsung disambut oleh para warga itu, mereka semua bersorak gembira dan bertepuk tangan untuk putri Xiu.
"Hore putri Xiu sudah datang! Hore putri Xiu sudah datang!" teriak para warga.
Xiu tersenyum senang mendengarnya, ia melirik ke arah Wein Lao dan membuat pria itu mengusap puncak kepalanya lembut.
"Lao, kita bicara disitu yuk!" ucap Xiu.
"Iya Xiu," ucap Wein Lao mengangguk kecil.
Xiu dan Wein Lao pun berjalan ke arah tempat yang sudah disediakan bagi mereka untuk berbicara dengan para warga.
"Halo semua!" ucap Xiu sambil melambaikan tangan.
"Halo tuan putri!" balas mereka semua.
"Tuan putri, kami senang sekali karena tuan putri sudah kembali ke istana! Kami sungguh sedih sewaktu tuan putri dikabarkan hilang dan tidak muncul bertahun-tahun," ucap salah seorang warga.
"Iya tuan putri, dari dulu kami selalu berharap tuan putri dapat kembali ke istana. Dan ternyata harapan kami terkabul juga walau baru sekarang tuan putri kembali," sahut yang lain.
"Terimakasih ya buat kalian semua, karena kalian benar-benar perduli dan cinta sama aku. Aku gak nyangka kalau kalian para rakyat Quangzi ternyata secinta ini kepadaku, aku bangga memiliki rakyat seperti kalian!" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Tentu saja tuan putri, kami kan selalu sayang pada semua anggota kerajaan!" ucap warga itu.
"Oh ya, kalian kenalkan pria di sebelah ku ini ya! Nama dia Wein Lao, dia pangeran dari kerajaan seberang dan dia akan menjadi suamiku dalam waktu dekat ini." ucap Xiu.
"Hai semua warga Quangzi! Salam kenal dari aku, pangeran Wein Lao!" ucap Wein Lao.
"Wah hebat ya tuan putri! Baru pulang aja udah langsung bawa calon suami, emang pesona kecantikan tuan putri gak ada tandingannya deh!" ucap salah seorang warga.
"Hahaha, ada-ada saja.." Xiu tertawa lepas.
Sementara itu, Zheng hanya bisa mengamati momen itu dari jauh dengan perasaan sedih.
"Aku ingin ada di atas sana bersama kamu Xi Mei," batin Zheng.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...