
"Kurang ajar! Siapa yang berani menyerang ku dari belakang seperti itu?!" geram Xavier.
"Hahaha... hahaha..." mereka semua kompak mencari asal suara tertawa itu di sekeliling istana.
"Paman, itu dia disana!" ucap Xi Mei menunjuk ke pojok atas langit-langit istana yang mana terdapat sosok makhluk besar terduduk santai disana.
Lalu, makhluk itu pun turun ke bawah menghampiri mereka semua sambil terus tertawa.
"Hahaha... hahaha... aku yang sudah menyerang mu Xavier, dan aku datang kesini untuk membela Kromo serta Fredison. Kau tidak bisa membunuh mereka saat ini!" ucapnya.
"Terizla? Kau benar-benar sialan!" umpat Xavier.
"Hahaha, apa kabar Xavier? Kau pasti merindukan ku bukan?" ucap Terizla dengan sombongnya.
Xi Mei seketika teringat pada sosok makhluk yang pernah menawarkan diri untuk membantunya ketika sedang berlatih di hutan.
"I-itu kan.." ucap Xi Mei tertahan.
"Kenapa Xi Mei? Kau kenal dia?" tanya Ryu.
"Eee dia..." Xi Mei menggantung ucapannya.
"Dia orang yang pernah menemui ku di hutan waktu aku sedang berlatih kekuatan, dia juga menawarkan aku bantuan untuk merebut kembali Quangzi dari Xavier." sambungnya.
"Apa? Lalu, apa jawabanmu saat dia menawarkan bantuan itu?" tanya Ryu kaget.
"Aku belum menjawab, aku bingung harus percaya atau tidak dengan dia. Kulihat dia bukan orang yang baik, tapi aku juga gak tahu sih." jawab Xi Mei.
"Baguslah, kamu jangan sampai bekerjasama dengan dia ya Xi Mei!" ucap Ryu.
"Kenapa paman?" tanya Xi Mei heran.
"Terizla itu orang jahat, dia bersekutu dengan iblis untuk dapat merebut wilayah Quangzi dari ayah mu. Sayangnya, Terizla dikhianati oleh rekannya sendiri yang tak lain adalah Xavier. Sehingga sekarang sepertinya mereka bermusuhan, dan akan saling berhadapan." jawab Ryu.
"Apa? Jadi, Terizla dan Xavier itu sama-sama jahat ya paman? Terus, sekarang kita harus ada di pihak siapa paman?" tanya Xi Mei bingung.
"Eee kita saksikan saja dulu, mana yang pantas kita bela saat ini! Tetapi, yang penting kita harus jaga ratu Lien dari mereka berdua! Kita tidak boleh lengah sayang!" jawab Ryu.
"Iya paman, aku akan jaga mommy!" ucap Xi Mei.
✨
Xavier beralih mendekati Terizla dengan wajah geram, Terizla masih terus tertawa keras dan sudah tidak sabar ingin menghadapi Xavier.
"Terizla, sebaiknya kau jangan ikut campur dalam masalah ini! Ini urusan aku dengan si busuk Fredison dan ayahnya yang kurang ajar itu! Kau tidak usah sok menjadi pahlawan!" ucap Xavier.
"Hahaha, aku akan selalu ikut campur jika urusan itu melibatkan istana Rofusha.." ucap Terizla.
"Apa maksudmu? Memangnya kau ini siapa di Rofusha, ha?" tanya Xavier heran.
"Aku siapa? Oh ayolah, masa kau tidak tahu jika aku adalah penguasa tertinggi di istana ini?" ucap Terizla terkekeh.
"Hah? Mana mungkin??" Xavier terkejut.
Tak hanya Xavier, seluruh orang disana pun ikut terkejut mendengar penuturan Terizla.
"Tidak! Tidak mungkin! Bagaimana bisa kau menjadi pemimpin disini?" ujar Xavier.
"Kenapa Xavier? Kau kira kau saja yang dapat menjadi penguasa, ha? Asal kau tahu, hampir seluruh wilayah di negeri ini sudah menjadi milikku dan aku sebentar lagi juga akan memiliki Quangzi seutuhnya!" ucap Terizla.
"Jangan mimpi kau Terizla! Keinginan mu itu tidak akan pernah terwujud. Selama aku masih hidup, maka Quangzi hanya akan dipimpin olehku!" ucap Xavier merentangkan kedua tangannya.
"Baiklah, langsung saja kita buktikan sekarang siapa yang lebih pantas menjadi pemimpin di Quangzi! Aku tantang kau untuk bertarung denganku, tetapi itu jika kau berani Xavier!" ucap Terizla.
"Untuk apa aku takut dengan makhluk sepertimu? Tanpa para iblis itu, kau bukanlah siapa-siapa Terizla!" ujar Xavier.
"Kurang ajar kau! Akan ku pastikan kau menyesal, karena sudah meremehkan ku!" geram Terizla.
Xavier terkekeh saja mendengar perkataan Terizla, ia bersiap menerima serangan dari makhluk itu sambil juga menyiapkan mantranya.
Ratu Lien pun bergerak menghampiri Xavier, ia mencegah mereka melakukan pertempuran disana karena khawatir akan ada korban.
"Tunggu Xavier!" ucap ratu Lien dengan keras.
"Kenapa Lien? Jangan halangi aku kali ini, karena aku ingin memperjuangkan martabat seorang wanita! Aku gak mau ada laki-laki yang memandang rendah ke perempuan, apalagi dia sampai berani melecehkan wanita itu. Jelas aja aku gak terima sayang!" ujar Xavier.
"Aku tahu kamu emosi, tapi kamu harus bisa tahan emosi kamu! Quangzi butuh kamu, sebaiknya kita kembali saja ke istana! Aku gak mau ada pertempuran lagi disini!" ucap ratu Lien.
"Hahaha, ya benar yang dikatakan Lien, Xavier! Lebih baik kalian pulang saja dan kembali ke istana kalian! Karena kalau kalian tetap disini, aku akan menghabisi kalian semua tanpa ada yang tersisa sedikitpun!" ucap Terizla angkuh.
__ADS_1
"Jangan sombong kau Terizla! Aku bisa mengubur mu hidup-hidup saat ini juga!" geram Xavier.
"Tahan yang mulia!" teriak ratu Lien sembari memegangi bahu suaminya itu.
"Lien, tolong jangan tahan aku!" pinta Xavier.
"Aku gak mau lepasin kamu! Pokoknya kita kembali ke istana sekarang, Xavier! Kalau enggak, aku bakal pergi aja sendiri." ancam ratu Lien.
"Ja-jangan sayang! Okay, aku turuti kemauan kamu! Ayo kita pergi sekarang ya sayang! Tapi, sebelumnya aku masih ingin menghajar pangeran kurang ajar itu dulu!" ucap Xavier.
"Yang mulia jangan! Sudah cukup, dia sudah menerima balasannya!" ucap ratu Lien.
Akhirnya Xavier pasrah dan mengikuti kemauan ratu Lien untuk pergi dari sana, walau ia masih belum puas menghajar Fredison.
"Ayo kita kembali ke istana!" perintah Xavier.
"Baik yang mulia!" ucap Gusion menurut.
Lalu, mereka semua pun keluar dari istana itu. Kini hanya tersisa Xi Mei bersama Ryu yang masih ada disana, Ryu tampak heran melihat Xi Mei terus-terusan menatap ke arah Terizla.
"Xiu, kau mau apa?" tanya Ryu bingung.
Xi Mei hanya diam dan masih terus menatap Terizla, begitupun sebaliknya.
Perlahan Xi Mei melangkah lebih dekat ke arah Terizla, Ryu berusaha mencegahnya tetapi gagal.
"Hai! Kita bertemu lagi disini," ucap Terizla.
"Kenapa kamu begitu ingin menguasai Quangzi? Kamu kan tahu, hanya aku yang berhak menjadi pemimpin disana!" ucap Xi Mei.
"Ya, aku tahu itu. Aku tadi hanya memancing Xavier saja agar dia emosi, tidak mungkin aku ingin menguasai Quangzi. Hanya kamu yang pantas memimpin disana, putri Xiu!" ucap Terizla.
Sontak Yong Kromo serta Fredison terkejut mendengar Terizla menyebut gadis itu dengan nama putri Xiu.
•
•
Ratu Lien merasa cemas dengan putrinya yang masih berada di dalam sana, ia pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang sejenak.
"Sayang, ada apa?" tanya Xavier heran.
"Sudahlah, kamu tak perlu memikirkan dia! Mungkin saja ada yang ingin dia urus disana, kamu sekarang ikut denganku dan kita kembali ke istana!" ucap Xavier.
"I-i-iya yang mulia, tapi tetap saja aku cemas dengannya." kata ratu Lien.
"Kenapa? Dia itu kan bukan siapa-siapa, kenapa kau bisa mencemaskan dia?" tanya Xavier curiga.
"Eee aku tahu dia bukan bagian istana dan aku tidak mengenal dia, tapi tadi dia kan sempat bantu pasukan kita. Apa kamu tega biarkan dia tetap di dalam sana dan terluka karena ulah Terizla?" ucap ratu Lien.
"Benar yang mulia! Pendekar Xi Mei sudah membantu pasukan kita saat bertarung melawan prajurit Rofusha tadi," sahut Zheng.
"Dia memang sudah membantu kita, tetapi dia tetap ada di dalam itu kan pilihan dia sendiri. Aku tadi sudah meminta semuanya untuk keluar, dan dia malah tetap diam disana." kata Xavier.
"Iya aku tahu, tapi seenggaknya kita tunggu dulu sampai Xi Mei keluar!" ucap ratu Lien.
"Yasudah, aku ngikut kamu aja." ucap Xavier.
Akhirnya mereka berempat menunggu disana sampai Xi Mei keluar dari istana tersebut, walau sebenarnya Xavier sudah ingin pergi dari sana.
"Aku merasa ada yang disembunyikan oleh Lien, dia terlihat cemas sekali dengan Xi Mei. Kira-kira apa ya yang terjadi? Siapa Xi Mei itu?" batin Xavier.
Zheng yang sungguh mencemaskan Xi Mei, meminta izin pada raja dan ratunya untuk menyusul Xi Mei masuk ke dalam.
"Maaf yang mulia, ratu Lien! Bolehkah aku masuk ke dalam mengecek kondisi Xi Mei?" ujar Zheng.
"Untuk apa Zheng? Kamu ingin menyelamatkan pendekar Xi Mei dari Terizla? Kelihatannya kamu cukup dekat dengan pendekar itu, apa dia pacar mu?" tanya Xavier.
"Bukan yang mulia, Xi Mei itu temanku dari kecil. Kami berdua satu perguruan, jadi aku hanya ingin membantu Xi Mei saat ini." jawab Zheng.
"Baiklah, kau boleh masuk." ucap Xavier.
"Terimakasih yang mulia!" ucap Zheng.
Zheng pun bergerak cepat masuk ke dalam istana Rofusha itu, ia sangat cemas dengan kondisi Xi Mei karena tak kunjung keluar.
"Zheng kelihatannya sangat dekat dengan Xi Mei, sepertinya aku bisa menanyakan identitas Xi Mei itu kepada Zheng." batin Xavier.
"Lien, ayo duduk! Kamu pasti capek kan berdiri terus?" ucap Xavier pada ratu Lien.
__ADS_1
"Ah iya, tapi selain capek aku juga masih belum percaya dengan apa yang udah dilakuin pangeran Fredison ke aku. Rasanya aku gak kuat lagi buat hidup di dunia ini," ucap ratu Lien.
"Hey, jangan bicara begitu ah! Ada aku disini, kamu harus kuat ya sayang!" ucap Xavier.
Ratu Lien mengangguk pelan, air mata yang menetes di pipinya pun diseka oleh Xavier sembari melangkah menuju tempat duduk disana.
•
•
Xi Mei masih berhadapan dengan Terizla di dalam istana itu, Ryu juga turut berada disana dan masih bingung Xi Mei hendak melakukan apa.
Terizla terus berusaha meyakinkan Xi Mei bahwa dirinya tak mengincar kekuasaan Quangzi, dan ia hanya ingin membantu Xi Mei merebut Quangzi dari tangan Xavier.
"Kamu bisa percaya sama aku, Xi Mei. Aku ini benar-benar tulus bantu kamu!" ucap Terizla.
"Haruskah aku percaya dengan orang yang sudah membunuh ayahku?" ucap Xi Mei.
"Apa maksudmu Xi Mei?" ucap Terizla terkejut.
"Kau pikir aku tidak tahu, kalau kau yang sudah membunuh ayahku?! Dengar Terizla, aku tidak akan pernah mau bekerjasama dengan pembunuh sepertimu! Kamu itu tidak lebih baik dibanding Xavier, dan aku juga akan menghabisi mu seperti kau melakukan itu pada ayahku!" ucap Xi Mei.
"Jangan salah kira dulu Xi Mei! Aku sama sekali tidak membunuh ayahmu, Xavier lah yang melakukan itu. Tolong kau percaya denganku, aku ini orang baik!" ucap Terizla.
"Orang baik tidak mengaku dirinya itu orang baik, Terizla. Kau dan Xavier itu sama saja, kalian berdua akan kuhabisi secepat mungkin!" ucap Xi Mei.
"Tidak putri Xiu, percayalah padaku! Aku akan membantumu mengalahkan Xavier. Asal kau tahu, aku ini sudah mengetahui kelemahan Xavier dan aku bisa membantumu melengserkan dia dari jabatannya saat ini." kata Terizla.
"Kelemahan? Apa maksudmu? Aku tak perlu tahu kelemahan dia, aku bisa menghabisi siapapun yang aku mau! Asal kau tahu Terizla, anak panahku ini tidak ada tandingannya!" ucap Xi Mei.
"Iya, aku tahu Xiu. Tapi, Xavier tidak akan bisa dibunuh walau dengan panahmu itu!" ucap Terizla.
"Kata siapa? Kamu jangan meremehkan panahku, Terizla! Bahkan, saat ini juga dia bisa kuhabisi di depan mata kalian semua!" ucap Xi Mei.
"Xi Mei, jangan angkuh!" tegur Ryu dari belakang.
Akan tetapi, Xi Mei sama sekali tak perduli dengan ucapan pamannya itu. Ia justru melangkah lebih dekat ke arah Terizla dan tersenyum smirk.
"Kau ingin merasakan anak panah ini, Terizla?" tanya Xi Mei pada Terizla.
"Ja-jangan putri Xiu! Baiklah, aku tidak akan meremehkan anak panahmu itu." pinta Terizla.
"Baguslah, sekali lagi kau bicara seperti itu maka aku akan melesakkan anak panah ini ke jantung mu Terizla!" ucap Xi Mei.
"I-i-iya putri Xiu, aku tunduk padamu!" ucap Terizla.
Xi Mei tersenyum dan menoleh ke arah pamannya, "Lihatlah paman! Bahkan Terizla saja sudah mau tunduk padaku, jadi untuk apa paman masih takut dengan makhluk hijau itu?" ucapnya.
"Kau jangan mudah terpedaya olehnya, Xiu! Dia itu sangat licik!" bisik Ryu.
"Tidak akan paman, aku ini seribu kali lebih licik dibanding dia." kata Xi Mei.
Ryu menggelengkan kepalanya melihat tingkah Xi Mei yang begitu angkuh saat ini, sedangkan Terizla tampak terkekeh kecil sembari menatap Xi Mei.
"XI MEI!" tiba-tiba saja muncul suara teriakan seseorang dari arah belakang.
Mereka semua pun kompak menoleh mencari asal suara tersebut, lalu ditemukan lah sosok Zheng yang sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah tergesa-gesa.
"Zheng?" ucap Xi Mei heran.
"Xi Mei, kamu gak kenapa-napa kan? Ada yang luka atau enggak?" tanya Zheng cemas dan langsung merabaa-rabaa tubuh gadis itu.
"Eee aku baik kok, lagipun aku tidak bertarung dengan siapapun. Kau tidak perlu khawatir padaku Zheng! Oh ya, dimana ratu Lien sekarang? Kenapa kau malah kembali kesini?" ucap Xi Mei.
"Ratu Lien baik-baik saja, Xi Mei. Akan tetapi, sepertinya mentalnya telah rusak akibat perbuatan keji pangeran Fredison padanya!" jawab Zheng.
"Apa? Ratu Lien terkena mental? Kurang ajar, aku tidak bisa biarkan ini terjadi!" ucap Xi Mei emosi.
Xi Mei melangkah maju mendekati Fredison, namun tetap diikuti oleh Zheng dan juga Ryu di belakangnya untuk berjaga-jaga.
"Sialan kau Fredison! Kau tidak pantas disebut seorang pangeran!" umpat Xi Mei.
"RASAKAN INI, HIYAAA...!!"
"TAHAN XI MEI!" suara teriakan itu menghentikan niat Xi Mei yang ingin menghabisi Fredison.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1