
"Bukan Wein Lao yang akan kamu hadapi Xavier, tapi aku, Xiu Jia Li." ucap Xiu.
Xavier sedikit terkejut mendengarnya, tapi kemudian ia tersenyum lebar dan tertawa meledek gadis itu.
"Hahaha, kamu bisa apa gadis kecil? Kamu tidak sebanding denganku, kemampuan kamu itu hanya seujung kuku ku saja. Sebaiknya kamu jangan macam-macam denganku, Xiu!" ucap Xavier.
"Kamu bisa bicara begitu saat ini, tapi tidak nanti setelah aku mengalahkan mu!" ucap Xiu.
Xiu mengeluarkan busur panahnya dan langsung melesakkan satu anak panah ke arah Xavier.
Slaasshh...
Jlebb...
"Akh! Apa-apaan ini? Kurang ajar kau gadis sialan!" umpat Xavier saat mendapati sebuah anak panah menancap di bahunya.
Xiu tersenyum tipis, menatap suaminya dengan bangga.
"Itu baru permulaan Xavier, masih ada banyak anak panah yang menunggu giliran untuk aku lesakkan ke dalam tubuhmu itu." ucap Xiu.
"Sialan!" Xavier nampak semakin kesal.
"Bagaimana ini Xavier? Kamu masih bisa melanjutkan pertarungan ini?" tanya Fredison.
"Tentu saja, hanya satu anak panah tidak membuatku gentar!" jawab Xavier sembari mencabut anak panah itu dari bahunya.
"Lihat itu putri Xiu? Anak panah mu sudah kucabut, dia tidak ada apa-apanya bagiku!" ucap Xavier.
"Kita lihat saja, sejauh mana kamu mampu bertahan dari serangan-serangan ku!" tantang Xiu.
Gadis itu kembali menarik busurnya, membuat Xavier terkejut dan bersiaga untuk menahan anak panah yang akan melesak ke arahnya.
Slaasshh...
Xavier sudah sangat ketakutan, namun anak-anak panah tersebut justru melewatinya begitu saja dan tak ada satupun yang mengenainya.
"Hahaha, anak panahmu itu meleset cantik. Yang seperti itu masih kamu andalkan, ha?" ledek Xavier.
Xiu tersenyum saja sembari melipat kedua tangannya di atas perut, sedangkan Xavier tampak sangat senang dan merasa aman.
Bruuukkk...
Tiba-tiba saja terdengar suara orang jatuh, Xavier langsung menoleh ke belakang dan melihat Fredison serta pasukannya sudah tersungkur di lantai tak bernyawa dengan tubuh dipenuhi anak panah milik putri Xiu.
"Hah? Apa-apaan ini? Mengapa ini semua bisa terjadi??" ujar Xavier kebingungan.
"Itulah panahku Xavier, dia tidak mungkin meleset dari targetnya." ucap Xiu.
"Hore! Hidup putri Xiu! Hidup tuan putri Xiu!" sorak-sorai langsung bergema di ruangan itu yang ditujukan untuk sang putri.
"Kamu memang hebat istriku!" puji Wein Lao.
"Jauh lebih hebat kamu," balas Xiu.
Ratu Lien merasa senang dan bahagia karena putrinya sudah tumbuh menjadi seorang pemanah yang handal.
Sementara Xavier tak terima dengan itu, ia makin tersulut dan mengeluarkan pedangnya penuh emosi.
"Kalau kamu merasa hebat, mari lawan aku dengan pedang!" tantang Xavier.
"Siapa takut? Kamu jangan kira aku ini cuma ahli dalam satu bidang senjata aja ya! Aku juga bisa menguasai pedang atau apapun itu, karena aku adalah Xiu Jia Li!" ucap Xiu dengan lantang.
"Yasudah, kamu tidak usah banyak bicara lagi! Ayo maju dan hadapi aku!!" teriak Xavier.
Disaat Xiu hendak maju, Wein Lao menghalanginya dengan memegang lengan gadis itu.
"Ada apa Lao?" tanya Xiu bingung.
"Kamu jangan pergi! Aku gak akan biarin kamu lawan dia! Aku gak mau kamu kenapa-napa sayang!" jawab Wein Lao.
"Tenang aja sayang! Aku gak akan kenapa-napa kok! Kamu percaya aja sama aku, pasti aku bakal baik-baik aja!" ucap Xiu meyakinkan suaminya.
"Gak bisa Xiu, aku takut kehilangan kamu! Biar aku aja yang hadapi dia ya?" ujar Wein Lao.
"Enggak Lao, aku aja yang lawan dia! Kamu percaya ya sama aku!" ucap Xiu.
Wein Lao pun terdiam sesaat menatap wajah Xiu dengan ragu, hingga pada akhirnya ia mengangguk memberi izin pada Xiu untuk melawan Xavier.
"Baiklah, aku izinkan kamu melawannya. Tapi tidak disini, kalian bertarung lah di luar istana supaya tidak membahayakan nyawa para warga yang ada disini!" saran Wein Lao.
"Benar yang kamu katakan! Xavier, jika kamu berani, mari kita bertarung di luar istana!" ucap Xiu.
"Aku akan lawan kamu dimanapun itu, karena aku tidak takut dengan gadis kecil sepertimu!" jawab Xavier.
"Yasudah, ayo kita keluar!" ucap Xiu.
Xavier melangkah lebih dulu keluar dari tempat itu, sedangkan Xiu tertahan disana karena ratu Lien memanggilnya.
"Tunggu putriku!" ucap ratu Lien.
"Iya mom, kenapa?" tanya Xiu penasaran.
Ratu Lien mengeluarkan senjata sabit kembar dari dalam tubuhnya yang membuat Xiu serta Wein Lao terkejut hebat.
"Apa ini mom?" tanya Xiu.
__ADS_1
"Ini sabit kembar milik ayahmu dulu, sabit ini adalah senjata andalan ayahmu untuk menumpas kejahatan yang meresahkan. Kamu bisa gunakan ini untuk melawan dan menghabisi Xavier!" jelas ratu Lien.
"Waw keren banget! Pasti dulu Daddy gagah banget deh kalau pakai senjata ini!" ucap Xiu.
"Tentu saja putriku, dia sangat gagah! Dan sekarang, kamu yang akan meneruskan perjuangan ayahmu itu. Ayolah putriku, kamu pakai ini ya!" ucap ratu Lien.
"Iya mom, makasih! Aku janji aku akan jaga senjata ini sebaik mungkin!" ucap Xiu.
Xiu mengambil sabit kembar itu dari tangan ibunya, dan tersenyum menatap kedua senjata yang sudah dipegang olehnya itu.
"Wah indahnya!" ucap Xiu spontan.
"Benar sayang! Baru dilihat seperti ini saja sudah indah sekali, bagaimana kalau dia dipakai dalam pertarungan nanti?" ucap Wein Lao.
"Baiklah, aku akan tunjukkan ke kamu. Ayo Lao, kita keluar sekarang! Mommy tetap disini aja ya, jangan kemana-mana!" ucap Xiu.
"Iya sayang.." ucap ratu Lien menurut.
Xiu dan Wein Lao langsung pergi keluar dari sana untuk menyusul Xavier, Xiu terlihat sudah tidak sabar ingin segera menggunakan sabit kembar itu untuk menghabisi Xavier.
"Kalahkan dia putriku! Mommy yakin kamu pasti bisa melakukan itu untuk ayahmu!" batin ratu Lien.
•
•
Xavier sudah menunggu kehadiran Xiu dan Wein Lao di luar istana, ia bahkan telah memegang senjatanya tak sabar ingin segera melawan Xiu.
Tak lama kemudian, Xiu pun datang bersama Wein Lao dengan tangan kosong. Xiu sengaja menyembunyikan sabit kembar milik ayahnya agar tak diketahui oleh Xavier.
"Akhirnya kalian datang juga! Kenapa lama sekali? Kamu sempat ragu untuk melawanku ya?" ujar Xavier.
"Jangan asal bicara kamu! Aku tidak pernah ragu, apalagi takut denganmu! Tadi aku hanya berdiskusi sejenak dengan suamiku," elak Xiu.
"Baiklah, kalau begitu ayo maju dan lawan aku!" ucap Xavier.
Xiu menatap wajah suaminya, meminta izin pada pria itu untuk segera maju menghadapi Xavier.
Wein Lao mengangguk saja, membiarkan istrinya melawan Xavier di depan matanya, walau sebenarnya ia sedikit cemas.
"Hiyaaa..." Xiu langsung maju dengan cepat dan mulai menyerang Xavier tanpa senjata.
Gerakan-gerakan Xiu sangat lincah dan cukup membuat Xavier kesulitan menangkisnya, padahal Xavier masih memegang senjata miliknya.
Bughh...
Satu pukulan Xiu akhirnya berhasil mengenai dada Xavier, hingga membuat pria itu terdorong ke belakang sembari memegangi dadanya.
"Aaarrgghh sial! Kurang ajar kamu dasar gadis sialan!" umpat Xavier.
"Kamu ternyata begitu lemah Xavier! Melawan gadis kecil sepertiku saja kamu tak mampu, sebaiknya kamu ganti saja jenis kelamin mu itu Xavier!" ledek Xiu.
"Hiyaaa..."
Pertarungan kembali dilanjutkan, Xavier masih dengan pedangnya terus mencoba menyerang Xiu yang hanya menggunakan tangan kosong.
Sementara Wein Lao terus memperhatikan dari jarak agak jauh, ia masih tampak cemas walau terlihat saat ini Xiu cukup mendominasi.
Bughh...
Xiu berhasil menangkis pedang Xavier dan justru memukul perut serta menendang paha pria itu dengan keras.
"Aakhhh!!" Xavier memekik menahan sakit sembari memegangi bagian paha dan perutnya.
Tanpa menunggu lama, Xiu langsung saja menyerang Xavier kembali memanfaatkan momen Xavier yang sedang kesakitan.
Bughh...
Satu tendangan berhasil ia layangkan dan tepat mengenai dada Xavier.
Bruuukkk..
Tubuh Xavier ambruk dan terjatuh ke atas tanah dengan posisi terlentang.
Pedang miliknya pun jatuh terlepas, pria itu juga terus memegangi dadanya.
"Hahaha, kamu menyerah Xavier? Ini adalah pertarungan paling mudah yang pernah aku rasakan selama ini, kamu benar-benar payah!" ucap Xiu menyombongkan diri.
"Akkhh!! Kurang ajar kamu Xiu! Berani sekali kamu menghinaku seperti ini! Lihat saja, aku akan bikin perhitungan buatmu!" ancam Xavier.
"Hanya sekedar omongan saja tidak bisa membuat aku gentar, Xavier. Sebaiknya kamu bangkit, lalu lawan aku kembali!" tantang Xiu.
"Tidak perlu kamu suruh, aku juga akan bangkit dan menghabisi kamu!" ucap Xavier.
Xavier perlahan mulai bangkit kembali dan mengambil pedangnya, bersiap menyerang Xiu seperti niat awalnya.
Serangan demi serangan terus dilancarkan oleh Xavier, namun tidak ada yang mampu mengenai tubuh putri Xiu.
Xiu pun tersenyum lebar, karena gerakan lincahnya berhasil membuat Xavier kewalahan dalam menghadapinya saat ini.
"Sial! Kenapa kamu terus menghindar dariku? Ayo lawan aku!" geram Xavier.
"Jika aku melawan mu sekarang, sudah dapat dipastikan kamu pasti akan terbunuh saat ini juga Xavier!" ucap Xiu.
"Kurang ajar! Beraninya kamu meremehkan aku! Lihat saja, siapa yang akan terbunuh nantinya!" ucap Xavier cukup emosi.
__ADS_1
Xavier kembali melayangkan serangannya ke arah Xiu bertubi-tubi.
Ctaaashh...
Akhirnya pedang milik Xavier itu berhasil menyentuh tubuh Xiu, memberikan goresan luka di perut putri Xiu yang membuat gadis itu berdarah.
"Akh! Pedang itu dahsyat juga! Padahal aku hanya terkena sedikit, tapi lukanya benar-benar parah. Apa ini saatnya aku gunakan sabit kembar Daddy?" gumam Xiu sambil memegangi perutnya.
Wein Lao tampak panik melihat gadisnya terluka, ia sangat khawatir dengan luka yang diderita istrinya itu.
"Hahaha, apa yang akan kamu katakan lagi Xiu? Lihatlah sekarang, tubuhmu terluka akibat pedang milikku ini! Dan sebentar lagi, kamu juga akan mati di tanganku!" ucap Xavier.
"Aku memang terluka, tapi ini tidak seberapa Xavier!" balas Xiu.
Xiu berdiri tegak, tangannya terlepas dari luka yang mengeluarkan darah.
Semua mata tertuju padanya, saat tiba-tiba luka tersebut sembuh dengan sendirinya.
"Apa? Bagaimana mungkin??" ujar Xavier.
"Kalau hanya luka seperti itu saja, tidak mungkin dapat menyakitiku Xavier! Kamu perlu lebih semangat lagi untuk bisa membuatku terluka!" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Kurang ajar! Ternyata kamu menggunakan sihir, dasar curang!" umpat Xavier.
"Sihir atau apalah itu, yang penting aku tidak akan bisa terluka oleh apapun!" ucap Xiu.
Xavier menggeram kesal sembari mengepalkan tangannya, ia kembali maju menyerang putri Xiu dengan membabi buta.
•
•
Terizla tersungkur di lantai akibat serangan dari In Lao, ia terluka cukup parah dan terus mengeluarkan darah dari mulutnya.
In Lao tersenyum lebar melihat Terizla sudah tidak mampu berdiri lagi, ia menyimpan senjatanya di dalam tubuh lalu mendekati Terizla.
"Bagaimana Terizla? Kamu masih ingin melawanku atau pergi sekarang juga sebelum aku membunuh kamu?" ujar In Lao.
"Aakhhh!! Ampun raja Lao! Tolong jangan bunuh saya!" ucap Terizla memelas.
"Baguslah, aku akan mengampuni kamu, jika kamu mau menarik semua pasukan kamu dari sini!" ucap In Lao memberi kesempatan bagi Terizla.
"Baiklah, aku turuti kemauan kamu. Tapi, tolong kamu jangan bunuh saya!" pinta Terizla.
"Ya ya ya, sekarang cepat kamu pergi dari sini dan jangan pernah kembali! Sekali lagi kamu datang kesini, aku tidak akan segan-segan untuk menghabisi kamu!" ucap In Lao.
"Baik raja Lao! Terimakasih atas kebaikan hatimu! Saya janji tidak akan membuat masalah lagi di wilayah Quangzi!" ucap Terizla.
"Ya, cepatlah pergi!" ucap In Lao.
Disaat Terizla hendak bangkit dan pergi, In Lao justru kembali menyerangnya dengan ilmu serigala miliknya hingga Terizla terkapar.
"Aakkkhhh!!" Terizla memekik kesakitan, terjatuh kembali ke atas lantai dengan posisi tengkurap.
"Ka-kau keterlaluan...!!" ucap Terizla terbata-bata.
"Hahaha, kamu pikir aku akan membiarkan kamu lepas begitu saja Terizla? Tentu tidak, kamu tidak bisa pergi dari sini karena aku tidak percaya dengan omongan kamu tadi!" ucap In Lao.
Tak lama kemudian, Terizla memejamkan mata dan kehilangan nyawanya di depan In Lao.
Sontak In Lao merasa tenang dan aman, kerajaan Quangzi saat ini sudah kembali tentram.
"Kita cek ke depan, barangkali masih ada penjahat lainnya yang perlu kita hadapi!" perintah In Lao pada prajuritnya.
"Baik yang mulia!" ucap mereka serentak.
Mereka melangkah keluar istana, meninggalkan jasad Terizla serta pasukannya disana.
Sesampainya di depan, In Lao melihat Gusion dan Lu Ching Yao tengah bertarung dengan Alice.
Sontak saja In Lao langsung meneriakkan mereka agar menghentikan pertarungan itu.
"HEY HENTIKAN!!" teriak In Lao dengan lantang.
"Hah? Raja Lao??" ucap Gusion terkejut.
"Sial! Apa-apaan ini? Mengapa bisa ada raja Lao disini? Aku bisa habis kalau terus berada disini, aku harus segera pergi!" gumam Alice.
Cliingg..
Alice menghilang menggunakan kekuatannya, diikuti oleh para pasukannya.
"Kurang ajar! Mereka melarikan diri," geram Gusion.
"Tenang panglima! Mereka tidak perlu dikejar! Sebaiknya kalian selamatkan saja semua prajurit yang terluka, termasuk Zheng!" ucap In Lao.
"Baik yang mulia! Tapi, bagaimana dengan Terizla dan Xavier?" tanya Gusion.
"Aku sudah mengatasi Terizla, sedangkan Xavier tengah diberi pelajaran oleh putri Xiu. Kamu tenang saja, tuan putri pasti dapat mengalahkan Xavier!" jawab In Lao.
"Baiklah yang mulia!" ucap Gusion menurut.
Gusion langsung melangkah pergi menyelamatkan para prajuritnya yang terluka, ia juga membantu Zheng serta Ryu dan Chen untuk dibawa ke ruang pengobatan.
Sementara In Lao bersama prajuritnya pergi menuju tempat Xiu bertarung di luar sana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...