Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 40. Ratu diculik?


__ADS_3

Slaasshh...


Tiba-tiba cahaya kuning muncul dan membuat kelima pria tersebut silau, termasuk sang ratu. Mereka tidak bisa melihat apa-apa kali ini, hingga cahaya itu hilang setelah beberapa detik muncul.


Barulah kelima pria itu sadar bahwa sang ratu sudah tidak ada di depan mereka, hanya tersisa kuda milik ratu Lien yang masih berdiam diri disana.


"Aaarrgghh sial! Siapa tadi yang udah bawa kabur ratu?!" geram mereka.


Pria-pria tersebut pun beranjak pergi dengan perasaan jengkel, mereka gagal untuk dapat merasakan nikmatnya tubuh sang ratu karena ada seseorang yang menolongnya.


Sama seperti kelima pria tadi, ratu Lien juga merasa bingung siapa yang sudah menolongnya saat ini dan membawanya pergi dari kerumunan lelaki nakal tersebut.


Ratu Lien terus memandangi pria yang menggendongnya saat ini, ia menyipitkan matanya karena tidak terlalu jelas melihat wajah dari si pria di sampingnya itu.


"Kamu siapa? Kenapa kamu tolong aku?" tanya ratu Lien kepada pria itu.


Namun, pria itu tak menjawab dan hanya terus fokus ke depan membawa tubuh sang ratu pada gendongannya.


"Sebenarnya dia siapa? Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena wajah pria ini tertutupi oleh kain." gumam ratu Lien dalam hati.


Sampailah mereka di depan sebuah kerajaan yang dipenuhi warna gelap pada dindingnya, membuat sang ratu melotot keheranan.


"Hey! Kamu bawa aku kemana?" ucap sang ratu.


"Diam lah!" bentak pria itu.


Nyali ratu Lien seketika ciut saat dibentak oleh pria yang menggendongnya, ia pun terdiam sembari melihat sekeliling.


Tampak sebuah kerajaan besar bernuansa kuno dengan cukup banyak prajurit berjaga di luaran sana seakan hari masih pagi.


Pria itu turun ke bawah dengan masih menggendong tubuh ratu Lien, tatapannya juga terus mengarah ke depan tanpa perduli pada wanita yang sedang keheranan itu.


Mereka langsung menyambut kedatangan sang ratu bersama pria itu, bahkan mereka membungkuk dan memberi hormat.


"Selamat datang kembali di istana, pangeran Fredison!" ucap mereka semua.


Sontak ratu Lien menganga lebar mendengar para prajurit itu menyebut nama si pria, ia baru sadar rupanya yang menolongnya itu adalah seorang pangeran di wilayah seberang.


"Minggirlah, aku mau lewat!" ucap si pria.


Prajurit-prajurit disana pun memberi jalan bagi sang pangeran untuk lewat, pangeran bernama Fredison itu pun melangkah memasuki istana dengan ratu Lien di gendongannya.


"Jadi, kau pangeran Fredison dari wilayah Rofusha?Mengapa kau mau menolongku?" ucap sang ratu.


"Kerajaan kita memang bermusuhan, tetapi aku juga tidak bisa membiarkan dirimu dinikmati begitu saja oleh pria-pria di jalan tadi." jawabnya dingin.


"Tunjukkan wajahmu!" pinta ratu Lien.


"Kau tidak mempunyai hak untuk meminta seperti itu!" ucap Fredison.


Ratu Lien pun pasrah saja saat dibawa ke dalam istana itu.


Fredison merebahkan tubuh sang ratu di atas ranjang yang empuk, entah dimana Fredison meletakkan sang ratu mungkin saja di kamarnya.


Setelahnya, Fredison tampak berbalik dan hendak meninggalkan sang ratu disana.


"Hey tunggu! Kau mau kemana?" teriak sang ratu sembari bangkit dari tidurnya.


"Tetaplah disini, aku akan bicara dengan sang raja untuk memperbolehkan dirimu menetap disini selama beberapa waktu!" jawabnya.


"Baiklah!" ucap ratu Lien menurut.


Fredison pergi meninggalkan ratu Lien disana, ia menutup pintu sehingga sang ratu tidak dapat pergi kemana-mana.


"Duh, kenapa perasaan aku jadi gak enak gini ya? Tinggal di istana orang belum pernah aku lakuin sebelumnya, rasanya gak nyaman banget. Apalagi Rofusha tidak memiliki hubungan baik dengan Quangzi, aku khawatir akan terjadi masalah nantinya." gumam sang ratu.


Namun, ratu Lien tidak memiliki pilihan lain saat ini selain menurut saja dan beristirahat disana sementara waktu. Pasalnya, waktu sudah menunjukkan tengah malam dan tidak mungkin jika ia pulang ke istana saat ini.


"Semoga aja Xavier gak sadar kalau aku pergi dari istana!" ucap ratu Lien.




Braakkk...


Xavier menggebrak meja saat mengetahui bahwa istrinya tidak ada di kamar, ia berteriak emosi memanggil para pelayan yang bertugas melayani sang ratu disana.


"PELAYAN! PELAYAN!!" teriak Xavier.


"Iya yang mulia, ada apa?" ucap pelayan itu.


"Dimana ratu Lien? Kenapa dia tidak ada di kamarnya?!" tanya Xavier emosi.


"Ma-maaf yang mulia! Kami tidak tahu dimana ratu berada, karena tadi ratu pamit untuk beristirahat di kamarnya." jawab si pelayan.

__ADS_1


"Dasar gak becus kalian semua! Bisa-bisanya kalian lalai menjaga ratu kalian!" bentak Xavier.


"Maafkan kami yang mulia! Kami benar-benar tidak tahu dimana sang ratu!" ucap pelayan itu.


"Aaarrgghh sial! Sekarang kalian sebarkan berita hilangnya ratu ke seluruh prajurit istana! Saya ingin ratu segera ditemukan!" perintah Xavier.


"Baik yang mulia, kami permisi dulu!" ucap si pelayan.


Pelayan-pelayan itu pun pergi dengan cepat, memberitahu para prajurit di istana termasuk panglima Gusion serta pemanah Zheng.


Sementara Xavier tetap disana, perasaannya cukup kacau setelah ratu Lien tidak ada di kamarnya saat ini.


"Kemana kamu Lien...??" gumamnya.


Xavier pun pergi dari sana, ia mengambil pedangnya dan berniat untuk mencari ratu Lien keluar istana.


"Akan aku cari kau sampai ketemu, Lien! Aku tidak bisa jauh-jauh dari kamu!" ucap Xavier.



"Apa bik? Ratu Lien tidak ada di kamarnya?" Gusion terkejut mendengar laporan dari dua orang pelayan ratu itu.


"Iya panglima, tadi raja Xavier sendiri yang mengetahui kalau ratu Lien tidak ada di kamarnya. Kami diperintahkan oleh yang mulia untuk meminta bantuan panglima dan seluruh prajurit di istana ini, yang mulia ingin kita mencari ratu Lien sampai dapat." jelas pelayan itu.


"Huh baiklah, aku akan perintahkan prajurit mengitari seluruh wilayah Quangzi dan mencari sang ratu! Terimakasih atas laporannya, kalian berdua juga temui Zheng untuk minta bantuan lebih darinya!" ucap Gusion.


"Baik panglima!" ucap pelayan itu.


Pelayan itu pun pergi dari kamar Gusion, kini giliran mereka menemui Zheng dan meminta bantuan pada pemanah istana tersebar.


Sementara Gusion bergegas pergi ke halaman istana, menyiapkan prajurit untuk mulai berpencar mencari keberadaan ratu Lien.


"Prajurit! Kalian semua pergi sekarang, cari ratu Lien sampai dapat! Jangan ada yang kembali ke istana, sebelum kalian mendapatkan ratu Lien!" titah Gusion.


"Baik panglima!" ucap prajurit itu serentak.


"Panglima, apa aku juga harus ikut keluar mencari ratu?" tanya Li Fan yang ada disana.


"Tidak Li Fan, kau tetaplah disini untuk menjaga istana! Kita tidak boleh membiarkan istana dalam keadaan kosong!" jawab Gusion.


"Baik panglima!" ucap Li Fan menurut.


Lalu, Xavier muncul disana dengan wajah murka merasa kesal pada kinerja prajuritnya yang tidak benar karena telah gagal menjaga sang ratu.


"Gusion, apa kau sudah memerintahkan prajurit kepercayaan mu untuk mencari ratu Lien?" tanya Xavier sedikit emosi.


"Baguslah, sekarang kau temani aku untuk mencari ratu Lien! Kita harus bisa temukan dia malam ini juga! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya!" pinta Xavier.


"Baik yang mulia!" ucap Gusion menurut.


"Dimana Zheng?" tanya Xavier.


"Eee pelayan sedang memanggilnya, yang mulia. Mungkin Zheng akan segera menyusul." jawab Gusion.


"Baiklah, ayo pergi!" ucap Xavier.


Xavier dan Gusion pun pergi mengenakan kuda mereka.




Pangeran Fredison kembali memasuki kamar tempat ratu Lien berada, ia tersenyum lebar ketika mengetahui sang ratu sudah tertidur lelap di atas kasurnya dengan posisi miring.


Tanpa basa-basi lagi, Fredison pun bergegas menghampiri ratu Lien dan duduk di samping tubuh sang ratu sembari terus memandangi wajah cantiknya yang membuat ia tergoda.


Fredison menggerakkan tangannya, mengusap lembut wajah sang ratu dan membelai rambut hingga bibirnya.


"Kamu sangat cantik ratu!" ujarnya.


Perlahan Fredison menunduk mendekatkan wajahnya pada bibir ratu Lien, tangannya juga terus mengusap bibir ranum itu seakan-akan ia ingin mengecupnya saat ini juga.


Akan tetapi, keinginan itu seketika runtuh saat ratu Lien berbalik badan.


"Eenngghh.." lenguh sang ratu yang kini beralih menghadap ke arah Fredison.


Fredison semakin tercengang karena saat ini posisi sang ratu membuat ia dapat melihat jelas wajah cantiknya itu.


"Luar biasa! Rasanya aku ingin sekali menghajar habis bibir mu yang indah itu ratu!" ucapnya.


"Tapi, tidak enak tentunya jika kau dalam keadaan tertidur begini. Aku ingin kita sama-sama merasakan kenikmatan itu malam ini, dan kau harus tersadar ratu!" ucap Fredison tersenyum.


Fredison kembali mengusap wajah ratu Lien, lalu menjilat telinga ratu Lien sembari meniupnya hingga membuat tubuh sang ratu gelenjotan.


"Bangunlah ratu, sebelum aku mulai menikmati tubuh mu yang indah ini!" bisik Fredison.

__ADS_1


Sang ratu merasakan sensasi aneh di tubuhnya, ia menggelinjang sedikit disertai lenguhan yang membuat Fredison makin bersemangat.


Ratu Lien pun membuka matanya, ia terbelalak mengetahui Fredison ada di dekatnya dan tengah menggigit telinganya.


"Pangeran, apa yang kau lakukan?" tanyanya reflek menjauh dari si pangeran.


"Aku hanya ingin membangunkan mu, ratu. Maaf kalau aku lancang! Tetapi, tubuhmu memang betul-betul indah ratu. Aku akui kau cukup cantik untuk seorang ratu yang sudah menikah dua kali!" ucap Fredison sambil mengeluarkan seringaian nya.


"Kenapa kamu bicara seperti itu? Jangan berpikir yang macam-macam ya pangeran! Aku bisa mengirim pasukan kesini untuk meratakan seluruh istana ini!" ancam ratu Lien.


"Ya, aku tahu itu ratu. Tapi, aku yakin mereka tidak akan berani menyerbu wilayah Rofusha setelah mereka mengetahui ratunya ada di tanganku. Keselamatan mu terancam sayang, jika mereka berani mendekat kesini." ucap Fredison.


"Apa mau mu pangeran? Mengapa kau selalu saja mengganggu Quangzi?" tanya ratu Lien.


"Berikan aku separuh wilayah Quangzi, maka aku akan berhenti menggangu kalian." jawab Fredison.


"Apa? Jangan bermimpi kau pangeran! Aku tidak mungkin memberikan apa yang kau mau itu, jadi sebaiknya kau lepaskan aku!" tegas ratu Lien.


"Itu terserah kamu, aku tidak memaksa kok. Ya tapi tentu saja kamu akan tetap berada disini selamanya, dan kamu gak bisa kemana-mana!" ucap Fredison tersenyum tipis.


Ratu Lien terdiam sembari memalingkan wajahnya, ia berpikir keras untuk bisa lepas dari sana.


"Tolong, kumohon lepaskan aku!" pinta ratu Lien.


"Mau kamu memelas sekeras apapun, aku tidak akan terpengaruh untuk melepaskan mu ratu. Kecuali kau ingin menuruti kemauan ku tadi," ucap Fredison.


"Oh ya, seharusnya kau berterimakasih padaku saat ini! Aku sudah menolong mu dari para lelaki tadi, dan kamu patut memberiku bayaran!" sambungnya.


"Berapa banyak yang kau minta? Akan kuberikan semuanya padamu!" tanya ratu Lien.


"Ini bukan tentang uang ratu, aku tidak memerlukan uang mu yang tak seberapa itu!" jawab Fredison.


"Lalu, apa mau mu?" tanya Lien sekali lagi.


"Bercintalah denganku malam ini!" jawab Fredison.




Xavier bersama para pasukan istana sudah bergerak cepat mencari keberadaan sang ratu, mereka terus menyusuri seluruh wilayah Quangzi hingga daerah perbatasan.


Namun, tidak ada tanda-tanda ratu Lien disana. Xavier pun tampak bingung sekaligus kewalahan karena sudah cukup lama ia mengelilingi wilayah istananya itu.


"Yang mulia, sepertinya ratu Lien tidak ada di sekitar sini." ucap Gusion.


"Benar yang mulia! Mungkin saja ratu Lien pergi keluar Quangzi," sahut Zheng.


"Ya, aku juga berpikir demikian. Kita terus cari dia sampai ketemu! Kalian berpencar lah agar kita lebih mudah menemukannya!" perintah Xavier.


"Baik yang mulia!" ucap mereka bersamaan.


Disaat mereka hendak berpencar demi menemukan sang ratu, tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat dan hampir mengenai wajah Xavier.


Slaasshh...


Untungnya Xavier masih dapat menghindar dan bahkan menangkap anak panah itu.


"Hey! Siapa itu?!" teriak Gusion.


"Kurang ajar! Jangan-jangan ada yang mengintai kita, yang mulia!" ucap Zheng.


"Abaikan saja. Sepertinya orang itu hanya ingin mengirim surat untukku. Lihatlah, di anak panah ini berisi sepucuk surat!" ucap Xavier.


"Apa isi surat itu, yang mulia?" tanya Gusion.


"Entahlah, aku belum membukanya. Coba kau buka dan bacakan ini untukku, Gusion!" titah Xavier pada Gusion sembari memberikan surat di tangannya itu.


"Baik yang mulia!" ucap Gusion menurut.


Gusion pun membuka surat tersebut, membacanya di hadapan Xavier serta seluruh pasukan Quangzi yang ada disana.


"Selamat malam, yang mulia raja Xavier! Ini aku, Yong Kromo sang penguasa dari Rofusha. Aku tahu kalau saat ini kau sedang mencari keberadaan ratu mu yang cantik jelita itu bukan? Tenang saja raja Xavier, karena ratu Lien ada bersamaku di istana ini! Dia akan aman dan baik-baik saja, selagi kau tidak mengirim pasukan untuk menyerang ke istana ini. Jika kau ingin dia bebas, maka bersedia lah temui aku disini agar kita bisa bicara empat mata!"


Begitulah isi dari surat tersebut yang dibacakan oleh Gusion.


Xavier tampak syok mendengarnya, ia mengepalkan kedua tangannya dan matanya tampak berkaca-kaca setelah mengetahui bahwa ratu Lien diculik oleh kerajaan Rofusha.


"Sial! Jadi ini semua ulah mereka, dasar kurang ajar! Sudah bagus aku tidak meratakan wilayah mereka, tapi mereka malah bertindak seenaknya kepada Quangzi. Aku tidak akan tinggal diam untuk ini, aku harus segera membebaskan ratu Lien! Ayo Gusion, Zheng, kita serbu istana ini sekarang!" ucap Xavier penuh emosi membara.


"Tunggu yang mulia! Apa yang mulia lupa dengan kata-kata di surat ini tadi? Raja Yong Kromo mengatakan jika kita tidak boleh menyerang kesana, kalau kita melanggarnya maka nyawa ratu Lien akan dalam bahaya!" ucap Gusion.


"Benar yang mulia!" sahut Zheng.


Xavier terdiam menggelengkan kepalanya, sungguh ia bingung harus bagaimana saat ini.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2