
"XI MEI!" tiba-tiba saja muncul suara teriakan seseorang dari arah belakang.
Mereka semua pun kompak menoleh mencari asal suara tersebut, lalu ditemukan lah sosok Zheng yang sedang berjalan ke arah mereka dengan langkah tergesa-gesa.
"Zheng?" ucap Xi Mei heran.
"Xi Mei, kamu gak kenapa-napa kan? Ada yang luka atau enggak?" tanya Zheng cemas dan langsung merabaa-rabaa tubuh gadis itu.
"Eee aku baik kok, lagipun aku tidak bertarung dengan siapapun. Kau tidak perlu khawatir padaku Zheng! Oh ya, dimana ratu Lien sekarang? Kenapa kau malah kembali kesini?" ucap Xi Mei.
"Ratu Lien baik-baik saja, Xi Mei. Akan tetapi, sepertinya mentalnya telah rusak akibat perbuatan keji pangeran Fredison padanya!" jawab Zheng.
"Apa? Ratu Lien terkena mental? Kurang ajar, aku tidak bisa biarkan ini terjadi!" ucap Xi Mei emosi.
Xi Mei melangkah maju mendekati Fredison, namun tetap diikuti oleh Zheng dan juga Ryu di belakangnya untuk berjaga-jaga.
"Sialan kau Fredison! Kau tidak pantas disebut seorang pangeran!" umpat Xi Mei.
"RASAKAN INI, HIYAAA...!!"
"TAHAN XI MEI!" suara teriakan itu menghentikan niat Xi Mei yang ingin menghabisi Fredison.
Mereka semua kompak menoleh ke asal suara, itu adalah teriakan dari Zheng yang kini berdiri tepat di belakang gadis itu.
Zheng langsung mengambil busur panah itu dari tangan Xi Mei dan menyimpannya, membuat Xi Mei sedikit bingung dengan apa yang dilakukan Zheng dan berusaha mengambil kembali miliknya.
"Ih kamu apa-apaan sih, Zheng?! Balikin busur aku sekarang!" ujar Xi Mei.
"Gak, aku gak akan balikin ini ke kamu. Kamu gak boleh ngelakuin hal itu, Xi Mei!" tegas Zheng.
"Kamu kenapa sih? Kamu mau belain laki-laki gak bener itu? Dia udah bikin ratu Lien terpuruk loh, apa kamu gak kasihan sama ratu? Kamu itu kan punggawa istana, dimana rasa sayang dan cinta kamu sama ratu? Harusnya kamu bantu aku, bukan malah bela mereka!" ucap Xi Mei.
"Aku bukan bela mereka, aku cuma gak mau kamu salah langkah. Kamu harus bisa tahan emosi kamu, jangan lakuin itu disini!" ucap Zheng.
"Kenapa? Kamu takut bakal ada perang besar? Tenang aja, aku gak akan libatin kamu atau pasukan Quangzi sekalipun! Ini murni pertarungan antara aku dan mereka, jadi kamu gak perlu takut soal itu!" ucap Xi Mei.
"Aku gak akan biarin itu terjadi, kamu belum bisa kontrol emosi kamu Xi Mei! Kalau kamu bertarung dalam keadaan emosi, kamu bisa terluka dengan sendirinya!" ucap Zheng.
"Benar yang dikatakan Zheng, kau menurut saja dengannya Xi Mei!" sahut Ryu.
"Paman apa sih? Kenapa paman malah ikut-ikutan larang aku kayak Zheng? Aku cuma mau balas perbuatan orang itu!" ucap Xi Mei.
"Hahaha..." mereka dikejutkan dengan suara tawa yang muncul dari Terizla.
Kini ketiganya beralih menatap Terizla, Ryu tampak bingung dan coba mencari tahu apa yang hendak dilakukan Terizla saat ini.
"Mau apa kau?" tanya Xi Mei ketus.
"Tenanglah Xi Mei, kamu tidak perlu emosi begitu! Sudah kubilang daritadi, aku ini baik dan ingin membantu kamu mendapatkan semuanya. Ayolah, kenapa kita tidak bekerjasama saja?! Aku yakin, kamu pasti akan lebih mudah mendapat apa yang kamu inginkan! Jika kamu tetap ingin bersama mereka, kamu akan sulit mendapatkan semua itu. Mengapa? Karena mereka terlalu takut untuk berperang, sayang." ucap Terizla.
Xi Mei terdiam sembari melirik ke arah Ryu serta Zheng di sampingnya, sedangkan Terizla terus tersenyum berharap Xi Mei mau menerima bantuan darinya.
"Xi Mei, jangan sampai kamu bekerjasama dengan dia! Itu bahaya!" bisik Zheng di telinga Xi Mei.
"Iya Xi Mei, ingat kata-kata paman tadi tentang Terizla!" sahut Ryu.
"Mengapa paman? Aku rasa benar yang dikatakan Terizla barusan, kalian itu terlalu takut untuk membantuku!" ucap Xi Mei.
Perkataan Xi Mei sontak membuat kedua pria itu terkejut dan menganga lebar.
"Apa maksudmu Xi Mei? Mengapa kau bicara begitu? Apa kau sudah termakan omongan si makhluk jahat itu?" tanya Ryu cemas.
"Menurut aku Terizla gak jahat, dia pemberani dan dia benar kok. Kalau aku terus-terusan sama paman dan Zheng, bisa-bisa semua keinginan aku itu bakal sulit terwujud." jawab Xi Mei.
"Xi Mei, hentikan ucapanmu itu! Kau tidak boleh bekerjasama dengan dia!" tegur Ryu.
"Kenapa paman? Itu tidak akan merugikan paman bukan?" tanya Xi Mei.
"Memang tidak, tetapi paman tidak mau kamu terluka sayang!" jawab Ryu.
"Paman tak perlu khawatir! Bukan aku yang akan terluka nantinya, tapi Terizla sendiri jika dia benar-benar berkhianat dariku." ucap Xi Mei.
"Tentu tidak, Xi Mei. Aku tak mungkin berkhianat darimu, aku ini setia." kata Terizla.
"Cih! Orang sepertimu tidak bisa dipercaya Terizla, kau adalah pengkhianat terbesar di muka bumi ini!" ucap Ryu geram.
__ADS_1
"Paman cukup!" pinta Xi Mei.
"Kamu ini kenapa Xi Mei? Seharusnya kamu menurut dengan paman, bukan orang itu! Paman ini perduli denganmu, paman tidak mau hal buruk terjadi padamu!" ucap Ryu.
"Terserah paman saja! Aku akan pergi dari sini!" ucap Xi Mei emosi dan langsung melangkah keluar dari istana itu dengan cepat.
"Xi Mei, tunggu!" teriak Ryu berusaha mengejar Xi Mei keluar istana.
Tak hanya Ryu, kini Zheng juga turut mengejar Xi Mei karena khawatir gadis itu akan berbuat nekat dan pergi demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
Sementara Terizla tetap berdiri disana, ia tersenyum smirk memandang ke arah Xi Mei yang perlahan menjauh darinya.
"Kamu akan kumiliki seutuhnya, putri Xiu. Dan kamu tidak mungkin bisa lari dariku, kamu pasti akan sangat tergila-gila padaku!" ucap Terizla.
•
•
Xi Mei telah berada di luar istana, ia menghentikan langkahnya saat melihat ratu Lien tengah menangis di dalam pelukan Xavier.
Matanya mulai berkaca-kaca menyaksikan momen itu, hatinya sangat sakit karena melihat ibundanya tengah bersedih dan menangis tersedu-sedu.
Rasanya ia ingin sekali menghampiri sang ratu dan memeluk ibunya itu dengan erat saat ini, namun kehadiran Xavier serta para prajurit Quangzi disana membuatnya tak berani melakukan itu.
"Ratu.." Xi Mei memberanikan diri menyapa dan menghampiri sang ratu dengan perlahan.
"Xi Mei?" ratu Lien reflek berdiri dan melepas pelukan Xavier lalu mendekat ke arah Xi Mei.
"Kau baik-baik saja?" tanya ratu Lien seraya mengelus wajah putrinya di hadapan Xavier.
"Ya, aku baik. Ratu sendiri bagaimana? Apa ratu terluka?" ucap Xi Mei masih berusaha tenang.
"Syukurlah! Aku juga baik," ucap ratu Lien.
"Tapi, mengapa ratu menangis?" tanya Xi Mei cemas.
"Aku tidak apa-apa, terimakasih ya karena kamu sudah perduli denganku dan rela datang kesini untuk menolongku! Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas jasamu," ucap ratu Lien.
"Tak perlu seperti itu ratu, anggap saja aku sedang mengabdikan diriku kepada Quangzi melalui cara ini." ucap Xi Mei tersenyum.
Keduanya saling menatap dan tersenyum satu sama lain, hal itu membuat Xavier semakin kebingungan dan heran mengapa bisa istrinya akrab dengan Xi Mei.
"Ratu, boleh gak kalau aku peluk ratu saat ini? Siapa tahu dengan begitu, ratu gak akan sedih dan nangis lagi." tanya Xi Mei meminta izin.
"Oh, tentu saja boleh. Kebetulan aku juga rindu dengan putriku yang saat ini entah ada dimana, aku yakin jika dia ada disini, pasti dia sama seperti kamu Xi Mei. Dia selalu gak bisa melihat aku bersedih begini," ucap ratu Lien.
Xi Mei tersenyum dengan matanya yang sudah tak bisa lagi menahan air mata.
Lalu, perlahan Xi Mei bergerak maju dan hendak memeluk tubuh sang ratu.
Akan tetapi, Gusion tiba-tiba maju menghalangi niat Xi Mei untuk melakukannya.
"Maaf! Tidak sembarang orang dapat menyentuh tubuh ratu kami. Biarpun kamu sudah membantu kami tadi, tetap saja kami harus tetap waspada!" ucap Gusion.
"Tenanglah Gusion! Aku bisa jamin kalau Xi Mei adalah orang baik! Dia ini pendekar yang jujur. Kau lihat sendiri kan sewaktu sayembara itu berlangsung?" ucap ratu Lien.
"Tapi ratu—"
"Gusion, biarkan ratu melakukan yang ingin dia lakukan! Kau mundur saja, jangan menghalangi mereka!" potong Xavier.
"Baik yang mulia!" ucap Gusion patuh.
Setelah Gusion menjauh, kini Xi Mei kembali bergerak maju dan memeluk tubuh ratu Lien dengan erat.
Tangisan Xi Mei pecah dalam pelukan itu, ia benar-benar sedih sekaligus senang karena dapat memeluk ibunya lagi.
•
•
Singkat cerita, Xi Mei sudah kembali bersama Ryu dan tengah melanjutkan perjalanan mereka menuju lokasi teman pamannya itu.
Namun, Ryu masih tak habis pikir dengan kelakuan Xi Mei saat di istana Rofusha tadi. Selain ingin bekerjasama dengan Terizla, gadis itu juga memeluk ratu Lien sambil menangis di hadapan Xavier dan juga prajurit Quangzi.
"Sayang, paman masih tidak mengerti dengan apa yang kamu lakukan tadi. Mengapa kamu berani memeluk ratu Lien di hadapan raja Xavier dan yang lainnya?" ucap Ryu terheran-heran.
__ADS_1
"Gapapa paman, aku memang sudah rindu sekali dengan mommy." ucap Xi Mei.
"Tapi Xi Mei, bagaimana kalau raja Xavier atau yang lainnya curiga denganmu?" tanya Ryu.
"Biarkan saja paman, lagipun sebentar lagi juga semuanya akan terbongkar. Paman tahu sendiri kan, aku sudah tidak sabar ingin segera menyerang istana Quangzi dan merebut tahta raja disana dari Xavier!" jawab Xi Mei.
"Terserah apa yang ingin kamu lakukan, paman dukung saja keinginan kamu itu. Kalau kamu butuh bantuan, katakan saja pada paman!" ucap Ryu.
"Baik paman, terimakasih karena paman sudah mau mengerti aku!" ucap Xi Mei tersenyum.
"Iya sayang, paman sadar kalau paman ini bukan siapa-siapa dan paman tidak berhak melarang kamu untuk melakukan yang ingin kamu lakukan. Jadi, sekarang paman bebaskan kamu asalkan kamu tidak bekerjasama dengan Terizla si jahat itu!" ucap Ryu.
"Paman kok bicaranya begitu sih? Paman itu kan paman aku, sekaligus guru aku. Aku gak mungkin bisa begini tanpa paman, tolong dong paman jangan bicara kayak gitu ya!" ucap Xi Mei.
"Tidak apa sayang," ucap Ryu tersenyum tipis.
Ryu mengusap rambut Xi Mei secara perlahan, membuat gadis itu merasa nyaman walau ia masih tidak enak kepada pamannya.
"Kamu kenapa?" tanya Ryu heran.
"Aku minta maaf ya paman!" ucap Xi Mei.
"Untuk apa?" tanya Ryu tak mengerti.
"Aku sudah bikin paman kesal, aku tadi terlalu angkuh saat berhadapan dengan Terizla. Harusnya aku hargai kata-kata paman, aku benar-benar bodoh!" jawab Xi Mei.
"Tidak Xi Mei, kamu tidak bodoh. Anak seusia kamu wajar saja jika merasa hebat dan ingin menunjukkan kemampuan mu, hanya saja kamu harus paham dan mengerti cara yang tepat untuk melakukan itu." ucap Ryu.
"Iya paman, aku sekali lagi minta maaf ya sama paman!" ucap Xi Mei pelan.
"Gapapa sayang, kamu gak perlu minta maaf sama paman. Paman sudah maafkan kamu kok, karena kamu tidak salah." kata Ryu.
"Makasih paman!" ucap Xi Mei tersenyum.
"Yasudah, kita lanjut yuk! Kamu sudah tidak sabar kan ingin menambah ilmu kamu di tempat teman paman? Tempatnya sudah dekat loh, tinggal beberapa langkah lagi." ujar Ryu.
"Yang bener paman? Perasaan kita baru jalan beberapa menit, masa udah mau sampe aja?" tanya Xi Mei keheranan.
"Sebenarnya emang masih jauh, tapi supaya kamu lebih semangat jadinya papa bilang udah dekat." jawab Ryu sambil mencolek dagu Xi Mei.
"Haish, ternyata paman bisa juga ya ngerjain aku. Gapapa deh, walau sejauh apapun itu pasti bakal aku tempuh demi menambah ilmu!" ucap Xi Mei tersenyum renyah.
"Bagus itu, paman suka dengan semangat kamu! Terus begini ya sayang!" ucap Ryu.
Xi Mei mengangguk pelan, lalu menggandeng tangan Ryu dan mengajak pamannya itu untuk lanjut berjalan.
"Ayo paman!" ucap Xi Mei singkat.
"Iya," Ryu tersenyum kemudian melangkahkan kakinya dengan Xi Mei berada di sampingnya.
•
•
Sementara ratu Lien juga telah berada di istana Quangzi, ia masih terus bersedih mengingat kejadian kelam yang ia alami di Rofusha.
Xavier ikut menemani istrinya disana, ia duduk di sebelah ratu Lien sambil mengusap lengan serta wajah sang ratu.
"Lien, sudahlah jangan menangis! Aku tak bisa melihat kamu bersedih terus seperti ini, kamu harus bisa lupakan semuanya sayang!" ucap Xavier tampak khawatir.
"Iya Xavier, aku akan coba tegar. Tapi, tetap saja itu selalu membekas di hatiku." ucap ratu Lien.
"Sabar ya! Kamu sudah aman sekarang, pria itu gak akan bisa sentuh kamu lagi! Kamu juga akan mendapatkan perawatan rutin kok, supaya tubuh kamu ini bisa bersih dan suci kembali. Dan satu lagi, aku akan tetap cinta sama kamu walau kamu pernah dijamah oleh lelaki lain!" ucap Xavier.
"Terimakasih Xavier!" ucap ratu Lien tersenyum tipis lalu memeluk suaminya dengan erat, belum pernah ia melakukan ini sebelumnya kepada Xavier.
"Sama-sama, sudah ya kamu jangan sedih lagi istriku yang cantik!" pinta Xavier sembari mengusap punggung ratu Lien dengan lembut.
"Iya yang mulia.." ucap ratu Lien menurut.
"Oh ya, kalau gitu aku mau tanya satu hal deh ke kamu. Tadi kenapa sih kamu bisa khawatir banget sama pendekar Xi Mei? Terus, kenapa juga kalian harus pelukan sambil nangis-nangis begitu? Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Xavier menaruh curiga pada ratu Lien.
Deg!
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...