Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 49. Berhasil lepas


__ADS_3

"Baik tuan! Ikuti saja kami, di depan sana kita akan sampai pada perkampungan Sidhagat." kata ninja.


"Baiklah," ucap Ryu singkat.


Disaat mereka hendak kembali melangkah, tiba-tiba saja empat orang berpakaian prajurit kuno muncul dan mencegat jalan mereka.


"Berhenti!" teriak prajurit itu.


Ryu serta tiga ninja yang bersamanya pun terkejut, mereka langsung bersiap-siap untuk menghadapi serangan dari prajurit itu.


"Kalian tau siapa mereka?" tanya Ryu.


"Ya, mereka adalah prajurit istana Sidhagat. Kita harus berhati-hati tuan, karena mereka cukup ahli dalam bertarung!" jawab ninja itu.


"Baiklah, kita pasti bisa hadapi mereka bersama!" ucap Ryu.


Akhirnya mereka saling berkelahi disana, Ryu tampak brutal dan ingin segera menghabisi prajurit-prajurit tersebut.


Tak butuh waktu lama, Ryu dan ketiga ninja itu berhasil mengalahkan prajurit-prajurit tersebut hingga mereka semua tumbang disana.


Sontak Ryu langsung mendekati keempat prajurit tersebut, ia tarik salah satu prajurit untuk ditanyakan mengenai Xi Mei.


"Apa kalian sempat bertemu dengan gadis cantik yang mengenakan pakaian serba biru di sekitar sini? Cepat katakan padaku!" tanya Ryu tegas.


"Ka-kami tidak tahu.." jawab prajurit itu gugup.


"JANGAN BOHONG! CEPAT KATAKAN ATAU SAYA AKAN BUNUH KAMU!" bentak Ryu.


"Lebih baik kami mati, daripada harus berkhianat dari Sidhagat!" ucap prajurit itu tegas.


"Wah wah, sepertinya ada yang tidak takut dengan kematian. Baiklah, akan saya tunjukkan pada kalian semua betapa sakitnya kematian itu. Rasakan ini dasar prajurit bodoh!" ucap Ryu.


Ryu yang kesal, langsung menancapkan pedangnya di dada prajurit itu berkali-kali hingga mengeluarkan darah cukup banyak.


"Aakhhh!" pekik prajurit itu.


Akhirnya satu orang prajurit berhasil dibunuh oleh Ryu, kini tersisa tiga orang lagi yang masih hidup dan tampak panik melihat temannya dibunuh.


"Bagaimana? Kalian bertiga sekarang masih kekeuh juga tidak ingin memberitahuku dimana gadis cantik itu?" tanya Ryu pada mereka.


Ketiga prajurit itu saling menatap satu sama lain, sampai mereka akhirnya kompak menggeleng.


"Tidak tuan, kami tidak ingin mati. Kami akan beritahu kepada kamu, dimana gadis cantik yang tadi kami temui itu." jawab prajurit itu.


"Bagus, kalau begitu dimana dia sekarang!" ujar Ryu.


"Tadi kami membawa gadis itu ke istana, sekarang kami sudah menyerahkannya kepada raja kami. Kami tidak tahu apa yang terjadi pada gadis itu, tolong ampuni kami!" jelas prajurit itu.


"Sial! Sekarang kalian harus bawa saya ke istana tersebut, antarkan saya kesana agar saya bisa bertemu dengan keponakan saya!" ucap Ryu.


"Tapi tuan, itu sangat berbahaya!" ucap si prajurit.


"Saya tidak perduli, saya tidak takut pada apapun itu termasuk raja kalian! Cepatlah bangun dan antar saya ke istana kalian!" titah Ryu.


"Ba-baik tuan!" ucap prajurit itu bersamaan.


"Tuan, apa ini tidak terlalu berbahaya? Kita bisa saja terbunuh tuan," bisik si ninja.


"Kalau kalian takut, pergi saja dari sini!" ucap Ryu.


"Bolehkah tuan?" tanya si ninja kegirangan.


"Ya boleh, tetapi saya akan bunuh kalian sebelum kalian beranjak dari tempat ini." jawab Ryu.


"Eee tidak tuan, kami tidak jadi pergi. Kami akan ikut dengan tuan sampai ke istana," ucap ninja itu.


"Yasudah, tidak usah banyak omong!" ujar Ryu.


"Siap tuan!" ucap ninja-ninja itu bersamaan.


Setelahnya, ketiga prajurit yang tadi pun berdiri tegak lalu memimpin perjalanan mereka menuju istana Sidhagat.


Ryu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Xi Mei dan menghajar siapapun yang berani menyentuh gadis itu.


"Kamu jangan takut Xi Mei, paman akan bebaskan kamu sekarang!" batin Ryu.




Xi Mei dituntun oleh raja Ling menuju kamar kosong yang kemungkinan akan dijadikan sebagai tempat istirahat Xi Mei sementara waktu selama gadis itu tinggal di istana.


Sebenarnya Xi Mei tidak ingin mengikuti kemauan raja Ling untuk membawanya ke kamar, namun Xi Mei tak memiliki pilihan lain saat ini selain menurut saja dengan raja tersebut.


"Nah Xi Mei yang cantik jelita, ini adalah kamarmu. Kamu akan tinggal disini selama beberapa waktu, sampai kamu sah menjadi istriku." ucap raja Ling.


"Apa tidak ada kamar lain? Ini terlalu mewah untukku, aku ingin tidur di kamar yang biasa-biasa saja." ucap Xi Mei.


"Tidak bisa Xi Mei, kamu harus tidur disini dan beristirahat sampai luka kamu sembuh! Barulah nanti kamu akan pindah ke kamar khusus para selirku, disana kamu bisa mendapat kemewahan yang lebih dari ini." kata raja Ling.


"Aku kan sudah bilang, aku tidak ingin kemewahan atau apapun itu. Aku juga gak mau jadi istri kamu, jadi jangan paksa aku dong! Apa kamu gak kasihan sama aku?" ucap Xi Mei.

__ADS_1


"Untuk apa aku kasihan denganmu? Kamu sendiri yang masuk ke wilayah ini bukan?" ujar raja Ling.


"Memang benar, tapi aku kesini bukan ingin menikah denganmu. Aku tersesat, dan aku hanya sedang mencari pamanku." ucap Xi Mei.


"Pamanmu? Kamu kesini bersama pamanmu?" tanya raja Ling.


"Iya, tapi sekarang aku tidak tahu dimana dia. Kami berpisah saat malam hari, aku juga tidak tahu apa yang terjadi denganku. Karena tiba-tiba sewaktu pagi, aku sudah berada di sebuah gubuk bersama tiga orang aneh." jawab Xi Mei.


"Wah menyedihkan sekali! Tapi, bagiku itu adalah sebuah kesenangan karena aku bisa bertemu denganmu disini." ucap raja Ling tersenyum.


"Yasudah, singkirkan tanganmu dariku! Aku bisa jalan sendiri kesana, kamu tidak perlu membantuku!" pinta Xi Mei.


"Aku tidak ingin mengambil resiko, kamu belum pulih benar dan aku harus tetap menjaga kamu supaya tidak terjadi sesuatu dengan kamu!" ucap raja Ling dengan tegas.


"Sudahlah, ayo kita lanjut!" sambungnya.


Xi Mei terdiam saja, ia memalingkan wajahnya dan mulai melangkah dituntun oleh raja Ling.


Barulah raja Ling melepaskan tangannya dari lengan Xi Mei, ketika mereka tiba di ranjang.


Gadis itu pun duduk di atas ranjang, menaikkan dua kakinya ke atas dan bersandar.


"Akh!" pekik Xi Mei kesakitan.


"Kenapa? Masih sakit? Mau saya pijat kaki kamu? Kebetulan saya ahli memijat juga loh, siapa tahu sakitnya bisa hilang." tanya raja Ling.


"Enggak kok, kakiku baik-baik aja. Kamu gak perlu sok peduli begitu! Mending kamu keluar deh sana, aku mau istirahat!" ucap Xi Mei.


"Okay, aku akan keluar. Kamu istirahat yang cukup ya calon istriku!" ucap raja Ling tersenyum.


"Jangan bilang begitu! Sampai kapanpun, aku gak akan pernah jadi istri kamu. Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap, nanti ujung-ujungnya sakit dan kamu bisa bersedih!" ucap Xi Mei.


Ling tersenyum saja sembari menatap wajah gadis itu yang cukup membuatnya terkesan, lalu ia hendak menyentuhnya dengan tangannya.


Akan tetapi, Xi Mei menghindar dengan cepat.


"Jangan coba-coba buat sentuh aku lagi, aku gak suka disentuh kayak gitu!" bentak Xi Mei.


"Baiklah, aku kali ini menurut denganmu. Tapi, setelah kamu menjadi istriku nanti, jangan harap kamu bisa menolak sentuhan dariku!" ucap Ling.


"Cih! Gausah ngarep ya kamu! Pernikahan itu gak akan pernah terjadi!" tegas Xi Mei.


"Oh ya? Kamu tahu darimana soal itu? Asal kamu tahu ya Xi Mei, sebentar lagi kamu akan menjadi istri saya." ucap raja Ling.


Xi Mei membulatkan matanya, menatap Ling penuh kekesalan.




"Tuan, ini dia istana Sidhagat. Kami sebelumnya membawa keponakan tuan kemari, lalu kami serahkan kepada raja Ling di dalam sana. Setelah itu, kami tidak tahu lagi apa yang terjadi pada keponakan anda." ucap prajurit itu.


"Baiklah, kalau begitu kalian bertiga sekarang masuk ke dalam dan bawa tiga ninja ini sebagai tahanan kalian!" ucap Ryu.


"Hah? Kenapa begitu tuan?" tanya si ninja.


"Tenanglah, aku hanya ingin membuat pancingan agar raja Ling dan pasukannya tidak bisa tahu kalau aku menyusup ke dalam sana." jawab Ryu.


"Ta-tapi tuan, bagaimana kalau kami benar-benar ditahan dan dijebloskan ke dalam penjara oleh raja Ling? Dari yang kami tahu, raja Ling tidak pernah mengampuni tawanannya." ucap ninja itu cemas.


"Tenang saja! Aku akan bebaskan kalian bertiga nanti, setelah aku menemukan Xi Mei." ucap Ryu.


"Eee kalau begitu, biar mereka berdua saja yang ikut bersama prajurit itu. Aku akan menemani tuan menyusup ke dalam," usul si ninja.


"Lah ngapa jadi gitu? Gak gak, saya gak terima usul begitu!" protes ninja yang lain.


"Sudahlah, jangan ribut! Saya bilang kalian bertiga ikut dengan prajurit itu ke dalam, tenang saja karena tidak akan terjadi apapun!" ucap Ryu.


"Ba-baik tuan!" ucap ninja itu gugup.


"Yasudah, cepatlah kalian semua masuk kesana!" titah Ryu.


"Siap tuan!" ucap mereka serentak.


Sontak prajurit bersama ninja-ninja itu pun langsung bergerak menuju ke dalam istana, mereka berpura-pura menangkap ketiga ninja untuk mengalihkan perhatian sang raja.


Sementara Ryu tetap disana, memantau keadaan hingga tepat waktunya agar ia bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan Xi Mei.


Ryu mengambil penutup wajah miliknya dari saku celana, lalu memakai itu untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat oleh orang-orang istana.


Saat prajurit tadi hendak masuk membawa ninja-ninja tersebut, mereka dihadang oleh dua orang prajurit yang bertugas menjaga pintu bagian depan.


"Berhenti! Mau apa kalian dan siapa orang yang kalian bawa itu?" tanya penjaga itu tegas.


"Mereka ini para penyusup yang hendak merusuh di wilayah Sidhagat, kami membawa mereka kemari untuk diserahkan kepada raja Ling." jawab prajurit itu.


"Baiklah, kalian boleh masuk!" ucap penjaga itu.


Akhirnya mereka diperbolehkan masuk kesana, tampak si ninja menoleh ke belakang memberi kode pada Ryu untuk segera menyusup.


Dengan cepat Ryu meloncat ke atas istana, tanpa sadar gerakannya itu diketahui oleh penjaga tadi yang langsung berteriak keras.

__ADS_1


"HEY ADA PENYUSUP!" teriak penjaga itu.


"PENYUSUP PENYUSUP!!"


Bughh...


Ketiga ninja tadi langsung memukul tubuh si penjaga hingga ambruk ke tanah.


"Kurang ajar, dasar kalian pengkhianat!"


Tak lama kemudian, prajurit-prajurit yang lain pun berkumpul disana mengelilingi ninja beserta prajurit di pihak Ryu.


"Bagaimana ini?" tanya si ninja panik.


"Kita hadapi saja dulu, urusan selamat atau tidak itu dikesampingkan saja!" jawab yang lain.


"Baiklah,"


"Ayo kita tangkap mereka! Mereka adalah pengkhianat, kita habisi saja mereka!" ujar si penjaga.


"Hiyaaa..." akhirnya mereka semua saling menyerang satu sama lain.




Ryu berhasil menyelinap masuk ke dalam kamar tempat Xi Mei berada, entah mengapa firasat Ryu mengatakan kalau Xi Mei memang ada di kamar itu sehingga ia memilih masuk kesana.


Benar saja, keputusannya untuk masuk ke dalam kamar tersebut tidak salah. Ya Xi Mei memang ada disana dan tampak tengah terbaring di atas ranjang sambil memejamkan mata.


Ryu pun tampak senang, ia melangkah menghampiri gadis itu dengan senyuman di wajahnya. Ryu sama sekali tak menyangka kalau ia langsung bisa bertemu dengan Xi Mei.


"Xi Mei..." ucap Ryu pelan.


Pria itu kini duduk di sebelah Xi Mei, menyentuh wajah gadis itu secara perlahan dan membangunkannya.


Xi Mei yang tengah tertidur pulas, langsung syok saat melihat pamannya ada di hadapannya saat ini. Ia pun reflek bangkit dan menatap ke arah Ryu dengan penuh curiga plus keheranan.


"Paman? Ini benar paman kan? Aku sedang tidak berhalusinasi?" tanya Xi Mei bingung.


"Iya putri Xiu, ini paman. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa pegang wajah paman." jawab Ryu sembari mengarahkan telapak tangan Xi Mei ke wajahnya.


"Bagaimana? Kamu sudah percaya kan?" tanya Ryu pada gadis itu.


"Paman!" Xi Mei langsung memeluk erat tubuh Ryu dan menumpahkan air matanya disana.


Tampak Xi Mei benar-benar senang dapat bertemu kembali dengan pamannya, ia sudah sangat takut dan pasrah akan dijadikan istri oleh Ling tadinya.


"Aku senang banget paman datang! Aku takut tau disini sendirian!" ucap Xi Mei terisak.


"Tenang ya sayang! Paman sekarang udah ada disini, kamu gak perlu sedih lagi! Udah yuk, kita harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita!" ucap Ryu.


"Tapi paman, kakiku sedang sakit. Tadi aku sempat berkelahi dengan prajurit disini, dan aku berhasil dikalahkan oleh mereka karena aku tidak memiliki busur panah." ucap Xi Mei.


"Tenang saja! Busur kamu ada sama paman. Nah, ini dia sayang. Sekarang kamu bisa melawan mereka dengan ini," ucap Ryu.


Ryu melepas pelukannya dan menunjukkan busur panah milik Xi Mei disana.


"Wah busurku!" ucap Xi Mei girang.


Xi Mei langsung mengambil busur itu dan sangat senang karena dapat memegangnya kembali.


"Terimakasih ya paman!" ucap Xi Mei.


"Sama-sama sayang, sekarang kamu gak takut lagi kan?" ucap Ryu.


"Enggak paman, aku bisa hadapi mereka semua sekarang!" ucap Xi Mei.


"Bagus! Paman suka semangat kamu," ucap Ryu.


Xi Mei seketika lupa dengan luka di kakinya, ia hendak turun dari ranjang dan berdiri begitu saja tanpa berpegangan.


"Akh awhh!" pekik Xi Mei kesakitan.


"Hati-hati sayang! Kamu kan tadi bilang kakimu terluka," ujar Ryu.


"Ma-maaf paman! Aku lupa." kata Xi Mei.


"Yasudah, paman gendong ya?" ucap Ryu.


"Eee..." Xi Mei nampak ragu menjawabnya.


"Udah, gausah bingung!" Ryu langsung menggendong tubuh Xi Mei dari ranjang dan memandangi wajahnya yang memerah itu.


"Kenapa sih? Kok wajah kamu merah?" tanya Ryu.


"Paman ih!" ucap Xi Mei kesal.


"Hahaha..." Ryu tertawa lepas sebelum membawa Xi Mei keluar dari kamar itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2