Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 110. Makin dekat


__ADS_3

Chen tampak membawakan makanan ke meja makan di rumahnya sebagai sarapan dirinya dan juga Fey Chu pagi ini.


Kebetulan gadis itu memang suka memasak sendiri, apalagi sejak ibu dan ayahnya tinggal di istana dan dia harus sendirian disana.


"Nah udah siap, tinggal panggil si Fey deh buat sarapan," ucapnya.


Chen pun melangkah menuju kamar tempat Fey Chu berada, ia berniat mengajak sahabat barunya itu untuk sarapan bersamanya.


TOK TOK TOK...


"Fey, kita makan yuk! Aku udah siapin sarapan loh buat kita berdua, buka dong pintunya!" ucap Chen dengan lantang.


"Iya sebentar!" balas Fey Chu dari dalam.


Ceklek...


Akhirnya pintu terbuka, Fey Chu muncul dari dalam kamar itu dan tersenyum menatap Chen.


"Eh Chen, sorry ya aku baru selesai mandi soalnya!" ucap Chen sembari mengusap-usap rambutnya yang basah.


"Ya gapapa, aku juga tau kamu baru mandi. Pas banget nih, abis mandi biasanya lapar kan?" ucap Chen.


"Iya sih, aku lapar banget," jawab Fey Chu.


"Yaudah, kita sarapan yuk!" ajak Chen.


"Umm, emang makanannya udah ada?" tanya Fey Chu.


"Udah dong Fey, aku kan udah bilang tadi sama kamu," jawab Chen.


"Kamu beli? Kapan?" tanya Fey Chu.


"Ih enak aja beli! Aku masak sendiri tau, mana pernah aku beli makanan di luar? Selagi aku bisa masak, buat apa beli makanan di luar?" jawab Chen.


"Oh gitu, emangnya kamu bisa masak?" tanya Fey Chu meragukan kemampuan Chen.


"Jangan dibiasakan meremehkan seorang Chen! Ya jelas bisa dong, ibu aku aja tukang masak di istana, masa anaknya gak bisa masak!" ujar Chen.


"Hah? Tukang masak istana?" ujar Fey terkejut.


"Iya, kenapa?" tanya Chen heran.


"Eee gak kok, gapapa." elak Fey Chu.


"Ah aneh kamu mah! Udah, ayo buru kita makan mumpung makanannya masih hangat!" ujar Chen.


"Iya iya.." ucap Fey Chu menurut saja.


Akhirnya mereka berdua melangkah menuju meja makan bersama-sama.


Fey Chu cukup terkejut melihat banyaknya makanan tersaji disana.


"Hah? Ini semua kamu yang masak?" tanya Fey.


"Iyalah, emang siapa lagi kalo bukan aku?" jawab Chen dengan pede.


"Waw kamu keren juga ya bisa masak sebanyak ini! Emangnya kamu gak capek apa?" ujar Fey Chu.


"Enggak kok, aku udah biasa masak segini mah. Dari kecil itu ibu selalu ajarin aku buat masak, jadi pas udah gede ya masak itu sesuatu yang mudah buat aku," ucap Chen.


"Tapi ini banyak banget loh, emang kamu bisa abisin semuanya?" tanya Fey Chu.


"Ya gak lah, aku paling makannya cuma dikit. Nanti kan sebagian juga mau aku sisihin buat dikasih ke warga," jawab Chen.


"Ohh, ternyata kamu baik banget ya?" ujar Fey Chu.


"Biasa aja, semuanya disini saling bantu kok," ucap Chen sambil tersenyum.


"Iya deh," ucap Fey Chu singkat.


"Yaudah, kita makan dulu yuk!" ajak Chen.


Fey mengangguk setuju, mereka pun duduk di kursi lalu mengambil makanan yang sudah tersedia disana.


Keduanya mulai menikmati makanan itu, Chen tampak penasaran menunggu penilaian dari Fey mengenai rasa masakannya.


"Gimana, enak gak?" tanya Chen.


"Emhh ini enak banget asli!" jawab Fey.


"Syukurlah!" ucap Chen merasa senang.




An Ming dan Zheng kembali ke desa tempat Feng Lian berada, mereka berniat menjemput gadis itu dan membawanya ke istana untuk dikenalkan kepada sang ratu.


Namun, dalam perjalanan mereka justru dicegat oleh Tachi dan teman-temannya yang masih tak terima kalau An Ming akan menikahi Feng Lian.


"Mau kemana kalian? Kalian tidak diizinkan masuk ke desa ini!" ujar Tachi.


"Hahaha, kalian lagi. Apa kalian gak kapok dengan kejadian kemarin, ha?" ujar An Ming.


"Jangan sombong kau pangeran kecil! Kemarin memang kalian berhasil mengalahkan kami, tapi kali ini kita yakin kalau kita bisa menghabisi kalian berdua sekaligus!" ucap Tachi.


"Ck, dasar banyak omong! Kamu buktikan saja jika kamu bisa mengalahkan kamu!" tantang An Ming.


Tachi emosi dan terlihat bersiap untuk menyerang An Ming serta Zheng, tampak teman-temannya juga sudah mengambil ancang-ancang.


"Pangeran, bagaimana ini?" bisik Zheng.

__ADS_1


"Ya kita terpaksa harus lawan mereka paman! Jangan jadi pengecut!" jawab An Ming.


"Bukan begitu pangeran, aku hanya khawatir jika kita dianggap biang masalah," ujar Zheng.


"Tenanglah paman! Semua warga juga sudah tau, siapa yang biang masalah disini," ucap An Ming.


"Hiyaaa...!!" Tachi bergerak menyerang pangeran kecil itu dengan emosi membara.


Perkelahian diantara keduanya terlihat sengit, kemampuan Tachi memang tak boleh diremehkan karena dia ahli beladiri.


Namun, yang menjadi lawannya saat ini adalah An Ming, anak dari pasangan ratu Lien juga raja Xavier yang tak kalah jago.


Pukulan, tendangan, jepitan berkali-kali dilakukan oleh Tachi untuk mengalahkan An Ming. Akan tetapi, tak semudah itu melakukannya.


Justru kini An Ming mendapat kesempatan dan berhasil memukul dada Tachi dengan keras hingga pria itu merasa sesak.


Disaat Tachi sedang lengah, An Ming kembali melancarkan serangan dengan menendang punggung pemuda itu.


Bruuukkk...


Tachi terkapar di tanah, tangannya terletak di atas dada dan nafasnya tampak sesak akibat pukulan keras An Ming tadi.


"Segitu saja, ha? Ini yang kau katakan ingin mengalahkan ku?" cibir An Ming.


"Dasar lemah!" pangeran itu mengumpat dan berniat menginjak tubuh lemah Tachi.


"Pangeran hentikan!" suara teriakan sang wanita membuat An Ming terkejut dan mengurungkan niatnya.


"Lian?" ucap An Ming begitu melihat gadisnya ada di hadapannya kini.


"Pangeran, tolong jangan teruskan ini! Aku tidak mau Tachi terbunuh," pinta Feng Lian.


"Ya, aku akan menurut denganmu. Tapi, kamu ikutlah denganku sekarang!" ujar An Ming.


"Kemana pangeran?" tanya Feng Lian bingung.


"Kita akan ke istana, aku ingin mengenalkan mu pada ibuku, ratu Lien." Feng Lian terkejut mendengar penjelasan An Ming itu.


"Apa??" ucap Feng Lian disertai mulut menganga.




Hari mulai terik, panas matahari menyeruak masuk ke dalam rumah saat Chen membuka pintunya.


Gadis manis itu mengambil beberapa makanan yang ia masak sendiri untuk dibagikan kepada seluruh warga di desanya.


Kegiatan ini memang sering dilakukan olehnya, tentu dia hanya meneruskan rutinitas sang ibu.


"Chen, tunggu!" gadis itu terkejut dan menoleh ke belakang begitu ada yang memanggilnya.


"Ya?" ucap Chen lirih.


"Iya, kenapa?" jawab Chen singkat.


"Aku mau ikut denganmu, apa boleh?" ujar Fey.


"Kamu yakin mau ikut?" tanya Chen sedikit kaget.


"Tentu saja, mengapa tidak? Aku akan sangat bosan jika berdiam diri di rumah ini sendiri, boleh ya aku ikut bersamamu!" pinta Fey.


"Baiklah, kamu boleh ikut. Aku juga kesusahan membawa tempat makan ini, kamu tolong bantu aku ya!" ujar Chen.


"Iya aku mau," Fey mengangguk-angguk lalu membantu Chen membawakan makanan itu.


"Yaudah, yuk kita keliling desa dan bagiin makanan ini!" ajak Chen.


"Yuk!" ucap Fey tampak bersemangat.


Kedua gadis muda nan cantik itu pun berjalan keluar rumah membawa makanan yang cukup banyak.


Mereka mulai membagikan makanan tersebut secara gratis kepada warga yang tinggal di dekat rumah Chen.


"Bu, ini kami ada sedikit makanan buat ibu. Mohon diterima ya!" ucap Chen ramah.


"Eh nak Chen, ternyata kamu datang lagi buat bawain makanan. Terimakasih ya nak!" ucap wanita tua itu.


"Iya Bu, sama-sama. Aku gak mau aja kalau ada warga sini yang gak bisa makan," ucap Chen.


"Duh, kamu baik sekali nak Chen! Ibu dan ayahmu pasti bangga padamu!" puji wanita tua itu.


"Ah ibu bisa aja, makasih pujiannya!" ucap Chen malu-malu.


"Oh ya, dia ini siapa nak Chen?" tanya wanita tua itu sembari menunjuk ke arah Fey.


"Ohh, dia temanku Bu. Namanya Fey, dia sekarang tinggal sama aku," jawab Chen.


"Halo ibu! Kenalkan nama saya Fey Chu, salam kenal ya Bu!" ucap Fey mengenalkan diri dengan ramah.


"Iya anak cantik, ibu senang bisa kenal sama kamu!" ucap wanita tua itu.


"Ahaha.." mereka tertawa bersamaan.


Setelah selesai membagi makanan ke seluruh warga yang membutuhkan, kini Chen serta Fey pulang ke rumah dengan tangan kosong.


Mereka tampak sangat lelah, Fey bahkan langsung duduk di kursi depan untuk beristirahat karena sangking lelahnya.


"Huft capek banget!" keluh Fey.


"Hahaha, tadi aja maksa ikut!" cibir Chen.

__ADS_1


"Ya emang, aku gak nyesel kok ikut kamu. Aku jadi punya banyak kenalan disini," ucap Fey.


"Bagus deh!" ucap Chen.


"Chen!" mereka berdua menoleh ke asal suara.




Disisi lain, Wein Lao tengah mengajak Xiao Tien berjalan-jalan di sekitar istana agar gadis itu terbiasa.


Ya ini adalah metode pemulihan bagi Xiao Tien, gadis itu harus sering berjalan walau pelan untuk melatih otot-otot kakinya.


"Awhh akh perih!" Xiao meringis sakit saat hendak bergerak lebih cepat.


"Sabar dulu Xiao! Kamu mulai dengan pelan dulu aja, jangan langsung digas!" ujar Wein Lao.


"Iya pangeran, aku—"


"Hey! Kamu lupa yang aku bilang sebelumnya? Jangan panggil aku pangeran, panggil aja Wein Lao!" potong lelaki itu dengan cepat.


"Iya, maksud aku Wein Lao," ralat Xiao Tien.


"Kamu sekarang maju pelan-pelan aja! Jangan takut, aku selalu pegangin kamu kok!" ujar Wein Lao.


Gadis itu mengangguk saja, perlahan memajukan langkahnya dengan tuntunan dari Wein Lao.


"Nah iya gitu, lama-lama kamu pasti bisa jalan lagi kalau terus dilatih kayak gini. Kamu itu wanita kuat, jadi gak boleh sakit lama-lama!" ucap Wein Lao.


"Iya, aku juga gak mau sakit kelamaan kok, apalagi ngerepotin kamu begini. Aku gak enak sama kamu, terutama tuan putri," ucap Xiao Tien.


"Gak perlu bilang begitu, kamu gak sama sekali ngerepotin aku atau siapapun kok! Soal putri Xiu, dia mah emang biasa kayak gitu," ucap Wein Lao.


"Biasa? Istri kamu itu cemburu loh, dia gak suka lihat kita dekat-dekat begini. Lebih baik kamu jangan terlalu dekat sama aku!" ucap Xiao Tien.


"Gapapa, aku bakal bantu kamu sampai sembuh. Biar aku nanti yang bicara sama Xiu, aku yakin dia bisa ngerti," ucap Wein Lao meyakinkan.


"Terserah kamu aja deh, tapi kalau terjadi apa-apa aku gak mau ikut-ikutan ya! Aku udah peringati kamu, jadi jangan salahin aku!" ucap Xiao Tien.


"Siapa juga yang mau salahin kamu? Udah lah, ayo lanjut jalan lagi!" ujar Wein Lao.


"Okay!" Xiao menurut dan kembali melangkahkan ke depan dengan perlahan.


Gadis itu meringis sembari memejamkan mata, menahan rasa sakit saat ia menggerakkan kakinya kali ini.


"Pelan-pelan!" ujar Wein Lao mengingatkan.


Dari jauh, ratu Lien dan In Lao tampak memperhatikan kedekatan Wein Lao dengan Xiao Tien disana.


Mereka terlihat khawatir akan terjadi masalah dalam rumah tangga anak mereka itu, apalagi Xiu adalah wanita yang mudah cemburu.


"Ratu, maafkan kelakuan putraku ya! Dia terlalu baik pada gadis itu, seharusnya dia tidak melakukannya karena dia sudah memiliki istri," ucap In Lao.


"Tak apa, asalkan Wein Lao bisa menjaga hatinya," ucap ratu Lien singkat.


"Semoga!" ucap In Lao.




Raja Ling telah pulih dari luka tusuk akibat Alice si ratu iblis, ia tampak segar kembali dan berniat untuk membalas dendam kepada Alice juga Reiner mantan panglimanya.


Akai orang kepercayaannya masih terus menjaga dan mengawasi raja Ling, dia memang sangat setia walau raja Ling selalu saja cuek bahkan tak perduli padanya.


"Mohon maaf yang mulia! Anda hendak pergi kemana? Luka anda belum pulih benar, sebaiknya anda tetap istirahat dulu!" ucap Akai.


"Tidak Akai, aku harus cari dan balas dendam atas perbuatan ratu Alice! Selain itu, aku juga harus menemukan Reiner si pembunuh itu!" ujar raja Ling.


"Harap bersabar yang mulia! Ini tidak bisa dilakukan dengan mudah, apalagi kondisi anda masih belum stabil," ucap Akai.


"Aku tidak perduli! Aku harus segera membalas kematian ayahku! Pembunuh seperti Reiner dan istrinya itu tidak bisa didiamkan begitu saja, mereka harus mati!" geram raja Ling.


"Tenang yang mulia! Saya pastikan Reiner akan segera ditemukan, tapi yang mulia harus istirahat kembali disini!" ucap Akai.


"Bagaimana aku bisa beristirahat, jika pembunuh ayahku masih berkeliaran bebas di luar sana? Kamu itu tidak merasakan apa yang aku rasakan, kamu tidak tahu seperti apa rasanya kehilangan ayah dengan kondisi mengenaskan!" ujar raja Ling.


"Maaf yang mulia! Hamba memang tidak bisa merasakan itu, tapi hamba tahu kalau yang mulia sangat bersedih saat ini. Untuk itu, hamba akan terus berjuang agar yang mulia bisa mendapatkan apa yang anda inginkan," ucap Akai.


"Baguslah, sebaiknya sekarang kamu biarkan saya pergi dan jangan halangi saya!" pinta raja Ling.


"Tetap tidak bisa yang mulia, biarkan hamba dan para pasukan Sidhagat yang mencarinya, kami pasti bisa menemukan mereka!" ucap Akai.


"Aku tidak percaya padamu! Aku akan cari mereka sendiri, itu keinginan ku!" bantah raja Ling.


Akai menunduk diam, rajanya itu benar-benar keras kepala dan sulit sekali diberitahu.


Akhirnya raja Ling bangkit, dia berdiri tegak seolah memberitahu Akai bahwa dirinya sudah kuat untuk pergi dari sana.


"Lihat kan? Aku sudah sehat," ucap raja Ling.


"Ya yang mulia," ucap Akai mengiyakan saja.


Disaat raja Ling hendak menuruni singgasananya, tiba-tiba saja sebuah letupan keras terdengar dari luar istana.


Duaarrr...


"Apa itu?!" ujar raja Ling terkejut bukan main.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2