
"Siapa namamu wanita?" tanya Li Fan padanya.
"Zhao Xi Mei, itulah namaku.." jawab Xi Mei mengenalkan dirinya sembari membungkuk.
"Nama yang indah!" ucap Li Fan memujinya.
Xavier yang mendengar itu cukup terkagum, entah mengapa ia tersenyum dan terus memandang ke arah Xi Mei dari tempat ia berdiri saat ini.
Tentu aja hal itu disadari oleh ratu Lien, ia pun menyenggol lengan Xavier yang tampak fokus pada sosok Xi Mei di depan sana.
"Ehem ehem, kenapa dilihatin terus itu perempuan? Kamu naksir?" sindir ratu Lien.
"Kamu ini bicara apa sih? Mana mungkin aku naksir sama perempuan lain? Aku kan udah punya kamu sayangku, aku bakal selalu setia sama kamu!" ucap Xavier mengelak.
"Iyain aja deh, padahal jelas-jelas tadi kamu tertarik sama dia. Eh masih aja gak mau ngaku!" cibir ratu Lien sembari memutar bola matanya.
"Ahaha, kamu cemburu ya?" goda Xavier.
"Ngapain juga aku cemburu? Mau kamu naksir atau enggak sama dia, aku gak perduli. Itu kan urusan kamu! Aku mah cuma nanya aja tadi," ucap ratu Lien ngeles.
Xavier tersenyum lebar dan sengaja mencolek dagu ratu Lien bermaksud menggodanya.
"Ish, gausah colek-colek deh!" protes ratu Lien.
"Kamu imut banget tau kalo lagi marah-marah begitu, aku jadi makin cinta sama kamu!" ucap Xavier terus menggoda istrinya.
Ratu Lien hanya membuang muka dan tetap fokus menatap putrinya yang berada di depan sana.
Sebenarnya ratu Lien cukup khawatir dengan apa yang dilakukan putrinya itu, apalagi saat ini istana tengah melakukan sayembara yang tentunya cukup banyak petinggi istana berkumpul disana.
Ya ratu Lien cemas jika penyamaran Xi Mei bisa terbongkar dan putrinya itu akan ditangkap oleh Xavier, lalu dijadikan tahanan istana.
"Kenapa kamu senekat ini Xiu? Mommy senang bisa lihat kamu lagi, tapi kamu gak seharusnya melakukan ini!" batin ratu Lien.
Tiba-tiba saja, putranya yang sedang duduk di samping itu menyerukan sesuatu terkait gadis bercadar yang ada di depannya.
"Mom, dad, itu wanita yang aku temui di hutan dan aku menaksirnya!" ucap An Ming.
"Apa??" ratu Lien dan Xavier kompak menoleh ke arah putri mereka dengan wajah terkejutnya.
"Yang benar saja An Ming, kau menaksir wanita yang usianya jauh lebih dewasa dibanding dirimu? Itu benar-benar tidak masuk akal untuk anak seusia kamu, An Ming!" ujar ratu Lien.
"Kenapa mom? Mommy lihat sendiri kan? Gadis itu sangat cantik dan jago memanah, aku suka dengan wanita yang seperti itu!" ucap An Ming.
"Tapi An Ming..." ucapan ratu Lien terpotong.
"Sudahlah Lien, biarkan putra kita menaksir seseorang yang dia sukai! Lagipun, itu hanya sekedar suka dan tak mungkin An Ming ingin menikahi gadis itu saat ini." potong Xavier.
"Kalau boleh, aku siap menikah dengan Xi Mei saat ini juga Daddy!" ucap An Ming tersenyum.
"Hah??" lagi dan lagi kedua orang tua itu dibuat syok dengan perkataan An Ming.
"Kamu jangan macam-macam ya An Ming, usia kamu masih dibawah umur dan kamu belum boleh menikah!" tegas ratu Lien.
"Hehe, kan kalo boleh mom.." ujar An Ming nyengir.
•
•
Saat ini pertarungan antara Xi Mei melawan pendekar Bowen sedang berlangsung, mereka terus melesakkan anak panah berkali-kali ke arah target untuk dapat memenangi pertempuran itu.
Zheng tampak terpukau dengan kemampuan Xi Mei, ia bahkan sampai menggelengkan kepala setelah melihat apa yang ditunjukkan oleh Xi Mei di depan para penonton itu.
"Waw kau memang hebat, Xi Mei! Tidak salah kalau aku mengagumi mu!" ucap Zheng.
"Apa? Jadi, pendekar Zheng yang gagah dan perkasa ini mengagumi keponakan ku? Wah sungguh sulit ditebak!" ujar Ryu yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Zheng.
"Guru?" ucap Zheng reflek menjauh.
"Maaf guru! Aku sungguh-sungguh tidak tahu kalau kau ada disini!" ucap Zheng merasa tidak enak sembari mencium tangan gurunya.
"Tak apa, lagipula kenapa kau harus meminta maaf? Kalau kau kagum dengan Xi Mei, itu bukan suatu kesalahan. Wajar jika kau melakukan itu, lantaran Xi Mei memang pantas untuk dikagumi." ucap Ryu sambil tersenyum.
__ADS_1
"Betul itu guru, saya pun tak menyangka jika Xi Mei bisa sepandai itu dalam memanah. Awalnya saya kira kemampuan Xi Mei di bawah saya, tetapi nyatanya lain." ucap Zheng.
"Hahaha, Xi Mei itu memang memiliki bakat sedari kecil. Jadi, kau tidak usah heran!" ucap Ryu.
"Tapi guru, apa jadinya jika nanti Xi Mei menang dalam pertarungan ini? Apakah guru akan membiarkan Xi Mei tinggal di istana?" tanya Zheng.
"Entahlah, aku masih belum tahu." jawab Ryu.
Ryu sangat-sangat tidak ingin hal itu terjadi, begitupun dengan Zheng yang khawatir kalau Xi Mei akan meninggalkan dirinya dan tinggal di dalam istana itu.
Namun, tentunya semua keputusan ada di tangan Xi Mei sendiri dan mereka berdua tidak dapat melakukan apapun jika memang Xi Mei berniat untuk kembali ke istana.
"Sudahlah Zheng, tidak perlu kau cemaskan soal itu sekarang! Kita fokus saja dulu ke pertandingan di depan itu!" ucap Ryu.
"Baik guru!" ucap Zheng menurut.
Mereka berdua pun memfokuskan pandangan pada pertarungan sengit antara pendekar Bowen dengan Xi Mei itu.
"Aku yakin sekali, Xi Mei pasti yang akan memenangkan pertarungan ini!" ujar Ryu.
"Iya guru, aku juga memikirkan hal yang sama. Pendekar itu seakan tidak dapat berbuat banyak saat melawan Xi Mei sekarang, dia bahkan hanya sering terdiam." kata Zheng.
"Tapi, tentunya Xi Mei harus tetap waspada! Bisa saja pendekar itu sedang menyusun rencana, dan kita juga harus bersiaga untuk membantu Xi Mei bila terjadi sesuatu nanti!" ucap Ryu.
"Tentu guru, aku tidak akan terima jika pendekar itu berani berbuat curang terhadap Xi Mei kali ini!" ucap Zheng.
Ryu melirik sekilas ke arah Zheng disertai senyuman tipis yang melingkar di bibirnya, sedangkan Zheng tetap fokus ke depan dan berharap-harap cemas untuk keselamatan Xi Mei.
•
•
Xi Mei sendiri masih terus berjuang untuk dapat mengalahkan pendekar Bowen.
Gadis itu telah berhasil melewati beberapa tantangan yang diberikan oleh pendekar itu.
"Bagaimana pendekar Bowen? Apa kamu masih tidak mau mengakui kecurangan mu tadi? Sekarang sudah terbukti kan, kemampuan mu itu hanya sebesar kuku jariku. Jadi, kamu tidak pantas menang di sayembara ini!" ucap Xi Mei.
"Kurang ajar! Beraninya kau meremehkan ku, lihat saja akan ku tunjukkan padamu betapa hebatnya aku!" ujar Bowen emosi.
"Sombong sekali kau! Baiklah, jangan salahkan aku kalau kau akan menanggung malu nantinya, Xi Mei!" ucap Bowen semakin geram.
"Aku tidak akan malu paman, lihatlah semua orang disini mengagumi kemampuan ku! Mereka terpesona dengan apa yang aku pertunjukan pada mereka, jadi seharusnya kamu yang cemas sekarang paman!" ucap Xi Mei.
"Benar-benar sombong kamu! Sudahlah, tidak usah terlalu banyak bicara lagi! Mari kita selesaikan pertarungan kali ini dan lihat siapakah yang lebih hebat diantara kita!" geram Bowen.
"Baiklah paman, silahkan!" ucap Xi Mei.
Bowen kembali menarik busurnya ke atas, membaca mantra sembari memejamkan mata dan mengeluarkan anak panah api dari busurnya.
Semua mata tertuju pada anak panah tersebut, karena panah api itu berhasil melesak ke udara dan berubah menjadi sebuah kembang api.
"Wah hebat sekali!" ucap orang-orang yang hadir disana.
"Apa kamu juga bisa melakukan itu Xi Mei?" tanya Bowen dengan nada mengejek.
"Hanya itu saja yang kau bisa pendekar? Aku bahkan dapat melakukan yang lebih daripada yang kau lakukan," ucap Xi Mei.
"Coba saja kalau kau bisa," tantang Bowen.
Xi Mei memicingkan senyum, menarik busurnya sesuai apa yang dilakukan Bowen tadi.
Namun, kali ini Xi Mei melakukan lebih menarik daripada yang Bowen lakukan.
Ya gadis itu melesakkan tiga anak panah sekaligus ke udara dan berhasil membuat kembang api bertuliskan I'm the winner di atas sana.
Sontak saja hal itu menimbulkan keriuhan di sekitar sana, sorak-sorai terus bergemuruh saat Xi Mei melakukannya.
"Bagaimana paman?" ucap Xi Mei agak sombong.
"Sial! Dia selalu bisa melakukan apa yang aku lakukan, bahkan lebih baik. Aku harus bagaimana ini Alice?" gumam Bowen berbincang dengan seseorang melalui batinnya.
Melihat Bowen hanya terdiam, Xi Mei pun semakin merasa puas dan ia yakin sekali kalau Bowen akan kalah darinya kali ini.
__ADS_1
Li Fan bergerak menghampiri dua orang finalis itu sambil tersenyum, matanya tertuju pada sosok gadis yang tengah memegang busur panah disana.
"Xi Mei, kamu benar-benar luar biasa! Kamu berhasil memukau seluruh orang disini, sepetinya kamu layak untuk dijadikan pemenang. Aku yakin yang mulia raja Xavier pun pasti setuju dengan perkataan ku barusan!" ucap Li Fan mengarah pada Xavier yang masih terduduk di kursinya.
"Terimakasih paman! Sungguh suatu kehormatan bila yang mulia raja Xavier mau menganggap ku sebagai seorang pemenang, tapi aku tidak butuh itu. Karena yang aku butuhkan hanya pembuktian bahwa pendekar ini telah berbuat curang dalam pertarungan tadi," ucap Xi Mei.
"Kamu kan sudah membuktikan itu Xi Mei, terbukti kalau pendekar Bowen tidak ada apa-apanya dibandingkan denganmu. Jadi, kau pantas untuk menjadi seorang pemenang!" ucap Li Fan.
"Benar itu, Xi Mei!" Xavier tiba-tiba beranjak dari kursinya dan melangkah menuju ke arah Xi Mei.
Sontak Xi Mei terkejut, ia spontan menoleh kemudian memberi senyuman tipis kepada sang raja disertai lirikan yang mengarah pada ibundanya.
"Ini dia, orang yang aku sangat benci sudah ada tepat di depan mataku. Rasanya ingin sekali aku menghabisinya saat ini juga, andai saja tidak ada banyak saksi mata yang melihatnya." batin Xi Mei.
Xavier menghentikan langkahnya tepat di hadapan Xi Mei, ia masih terus tersenyum padanya.
"Kamu memang layak menjadi pemenang, dan kamu akan diangkat langsung olehku untuk menjadi bagian dari istana Quangzi. Apa kamu bersedia, Xi Mei?" ucap Xavier.
"Bagian dari istana? Maksud yang mulia?" tanya Xi Mei mencoba memahaminya.
"Iya Xi Mei, aku akan mengangkat mu untuk menjadi pasukan pemanah di istana Quangzi. Karena kemampuan mu yang luar biasa itu, kamu mau kan menerima tawaranku itu?" jawab Xavier menjelaskan.
Xi Mei terdiam sejenak sembari menundukkan kepalanya, sampai tiba-tiba sebuah serangan datang dari pendekar Bowen.
Slaasshh...
Hampir saja panah itu mengenai Xi Mei, untungnya gadis itu berhasil mengelak dengan cepat.
Xavier, Xi Mei serta Li Fan menatap Bowen dengan tatapan tajam.
Sementara Bowen sendiri justru tersenyum smirk sembari mengepalkan tangannya.
"Aku belum kalah darimu Xi Mei, aku masih ingin melawan mu! Mari kita bertarung lagi, karena aku akan mengalahkan mu kali ini!" ucap Bowen.
"Kamu ternyata masih belum jera juga ya, apa kamu tidak kapok?" ucap Xi Mei.
"Tadi itu kau hanya beruntung saja, aku yakin kali ini kau tak akan bisa mengalahkan ku!" geram Bowen.
"Baiklah, aku terima tantangan mu itu." jawab Xi Mei dengan senang hati.
"Rasakan ini Xi Mei!" Bowen yang sudah terbawa emosi, langsung menarik busurnya dan melesakkan anak panah beracun miliknya itu ke arah dada Xi Mei.
Gadis itu hanya tersenyum disaat yang lainnya merasa panik, bahkan ibundanya juga tidak tega dan ingin menyelamatkannya.
Jlebb...
Anak panah itu berhasil menancap tepat pada bagian dada Xi Mei, tampak senyum seringai terpampang di wajah Bowen karena ia merasa akan menang.
Ratu Lien pun syok dan menutup mulutnya saat melihat kejadian itu, begitu juga dengan orang-orang yang ada disana termasuk sang raja.
"Rasakan itu Xi Mei, kamu tidak akan bisa melepas panah itu dari tubuhmu!" ucap Bowen.
"Kamu memang selalu berbuat curang ya pendekar, tapi sayangnya racun di panah ini tidak akan berpengaruh pada tubuhku. Asal kau tahu, aku bisa menetralkan segala jenis racun yang masuk ke tubuhku." ucap Xi Mei santai.
Xi Mei pun mencabut panah tersebut dari tubuhnya dengan satu tarikan, membuat semua orang yang ada disana terkejut bukan main melihatnya.
"Apa? Bagaimana mungkin?" ujar Bowen dengan mulut terbuka lebar.
"Kalau kamu mau merasakan ini juga, aku akan berikan benda ini padamu paman. Terima kembali ya!" ucap Xi Mei melemparkan panah itu ke arah tubuh Bowen.
"Kurang ajar!" umpatnya kesal.
Bowen pun menghilang bersamaan dengan anak panah itu, seketika seluruh orang disana terkejut dan mencari-cari dimana keberadaan Bowen.
"Apa-apaan ini? Kemana dia pergi?" ujar Xavier.
"Tenang yang mulia! Pendekar Bowen sudah melarikan diri jauh dari sini, dia tidak mungkin kembali setelah semua triknya terbongkar." ucap Xi Mei sambil tersenyum.
"Wah kamu memang luar biasa Xi Mei! Jadi, bagaimana keputusan mu kali ini?" ucap Xavier.
Zheng yang sebelumnya berdiam diri di bawah, kini kembali naik ke panggung bersama Ryu serta Chen yang mengikutinya.
Bahkan sang ratu pun turut menghampiri Xi Mei disana, walau tentu saja ia tidak akan membongkar identitas Xi Mei di depan sana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...