
"Jadi, sekarang aku harus bagaimana?" tanya Terizla kebingungan.
"Serang dia dan cari cara untuk bisa menjatuhkan mahkota itu dari kepalanya! Dengan begitu, kesempatan mu untuk mengalahkannya terbuka lebar!" jawab Alice.
"Baiklah, akan kulakukan saran mu itu!" ucap Terizla penuh percaya diri.
Alice memberi anggukan dan melepaskan tangannya dari lengan Terizla, pria itu turun dari kudanya dan bersiap melawan Xavier disana.
"Hey Xavier! Kemari lah dan lawan aku!" ucap Terizla memanggil Xavier untuk segera turun.
Xavier dengan penuh kepercayaan diri yang tinggi, turun dari kudanya dan melangkah mendekati Terizla tanpa membawa senjata apapun di tangannya.
"Kau memang pemberani, Xavier. Kau berani menantang ku saat ini dengan tangan kosong, sungguh luar biasa!" ujar Terizla.
"Namun, kita semua disini sudah tahu. Dengan senjata pun, belum tentu ada orang yang bisa mengalahkan ku. Apalagi sekarang kau hanya bermodalkan nekat yang kuat, tentu saja kau tak mungkin bisa mengalahkan ku Xavier!" sambungnya penuh kesombongan.
"Cih! Aku tak memerlukan senjata apapun itu untuk menghabisi mu raja bodoh! Karena aku punya senjata paling ampuh yang bisa menghajar mu hanya dengan sekali serangan saja!" balas Xavier.
"Oh ya? Mungkin kau salah Xavier, tidak ada senjata apapun di dunia ini yang bisa membuat ku terkalahkan. Bahkan, tombak sakti milik nenek Tan Lai pun tidak bisa melukai ku. Apalagi sekarang senjata ghaib mu itu, hahaha..." ujar Terizla.
"Lihat saja nanti, apa kau masih mampu tertawa seperti ini setelah bertarung denganku?" ucap Xavier tersenyum smirk.
"Ya, aku tidak sabar menantinya!" ucap Terizla tak mau kalah.
Keduanya bersiap mengambil posisi, pertarungan kali ini hanya melibatkan dua orang yang berambisi untuk menduduki tahta Quangzi itu.
Sementara para pasukan mereka hanya menonton dari pinggir, menyaksikan dua orang hebat yang akan mengadu kekuatan mereka disana.
Pertarungan pun dimulai, serangan pertama dilancarkan oleh Xavier yang menggunakan jurus pancaran sinar miliknya.
Terizla cukup terkejut dengan serangan dari Xavier, ini memang kali pertama Terizla bertarung dengan Xavier sehingga ia buta dengan kekuatan dari Xavier.
"Hahaha... itu baru permulaan, Terizla. Kau tidak perlu ketakutan begitu! Karena yang selanjutnya, pasti akan lebih menyakitkan!" ucap Xavier.
"Aku tak pernah takut dengan siapapun, termasuk dirimu Xavier! Jadi, jangan sombong dulu karena aku belum mengeluarkan kekuatan ku! Lagipun, tadi aku juga belum siap!" ucap Terizla.
"Baiklah, mari kita lanjutkan pertarungan ini!" ucap Xavier tersenyum smirk.
Mereka kembali menyerang satu sama lain, Xavier terus-menerus melakukan serangan bertubi-tubi ke arah Terizla dengan kekuatan cahaya miliknya.
Sementara Terizla memang lebih banyak bertahan karena cukup sulit untuk melawan serangan cahaya dari Xavier, apalagi cahaya itu dapat menembus balok miliknya.
Namun, lambat laun Terizla berhasil mengimbangi Xavier dan dapat membalas serangan Xavier dengan kekuatan miliknya.
•
•
Ratu Lien tetap berada di dalam istana bersama putranya yakni, An Ming.
An Ming tampak ketakutan ketika mengetahui bahwa ayahnya saat ini sedang berjuang di luar sana untuk mempertahankan kedudukannya.
"Sayang, kamu jangan takut ya! Mommy kan ada disini, mommy pasti bakal jagain kamu! Jadi, kamu gak perlu cemas ya sayang!" ucap ratu Lien.
"Iya mom, aku cuma khawatir sama Daddy! Aku takut Daddy kenapa-napa!" ucap An Ming.
"Daddy kamu pasti baik-baik aja! Kita sekarang doain semoga Daddy bisa selamat dan kembali ke istana lagi nanti! Mommy yakin doa seorang anak buat Daddy nya pasti didengar!" ucap ratu Lien.
An Ming mengangguk, lalu mulai mengangkat kedua tangannya dan berdoa sesuai arahan ratu Lien agar Xavier bisa selamat.
"Mom, emangnya kenapa Daddy harus perang sih? Apa gak ada cara lain buat Daddy bisa tetap di istana ini selain perang?" tanya An Ming dengan polosnya.
"Eee nanti suatu hari, saat kamu sudah besar dan menjadi pemimpin di istana ini, kamu pasti tahu alasan kenapa Daddy kamu sampai harus perang untuk tetap berada disini!" jawab ratu Lien.
"Oh, berarti aku kalau udah besar bisa jadi kayak Daddy dong mom?" ucap An Ming.
"Benar sayang! Makanya kamu doain ya semoga Daddy kamu bisa menang!" ucap ratu Lien.
"Iya mom, aku pasti selalu doain daddy!" ujar An Ming sambil tersenyum.
TOK TOK TOK...
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar sang ratu dari luar, membuat keduanya terkejut dan reflek menoleh ke arah pintu.
"Mom, ada yang datang." kata An Ming.
"Iya sayang, sebentar ya biar mommy cek dulu ke depan!" ucap ratu Lien.
__ADS_1
"Oke mom!" ucap An Ming mengangguk pelan.
Ratu Lien pun bergerak menuju pintu untuk mencari tahu siapa yang datang kesana.
Ceklek...
"Mungyi?" ratu Lien menganga tipis saat mengetahui Mungyi lah yang datang ke kamarnya.
"Ada apa kau datang kesini?" tanya ratu Lien pada Mungyi dengan wajah penasaran.
"Maaf ratu! Hamba hanya ingin memastikan bahwa ratu dan pangeran An Ming akan baik-baik saja! Saya khawatir karena saat ini kan sedang terjadi peperangan di luar sana!" jawab Mungyi.
"Terimakasih ya Mungyi, kamu memang punggawa paling setia yang aku temui!" ucap ratu Lien tersenyum ke arah Mungyi.
"Tentu saja ratu, aku selalu menginginkan yang terbaik untuk raja dan ratu Quangzi! Apalagi aku juga tahu, istana ini akan semakin kacau jika ratu tidak ada." kata Mungyi.
"Kamu terlalu berlebihan Mungyi!" ujar ratu Lien.
"Eee sebelumnya maaf ratu! Namun, jikalau nantinya raja Xavier harus menderita kekalahan dari Terizla, apa yang akan ratu lakukan demi menjaga kedaulatan istana ini dan juga keselamatan pangeran An Ming?" tanya Mungyi.
"Aku tidak tahu Mungyi, aku yakin Terizla pasti akan menyingkirkan ku begitu dia sampai kesini. Tapi, tentunya aku juga tidak akan pergi begitu saja dan akan terus berusaha mempertahankan tempatku disini!" jawab ratu Lien.
"Iya ratu, aku juga akan terus berusaha dan mendukung ratu!" ucap Mungyi.
"Yasudah, kamu sebaiknya pantau situasi di medan perang! Lalu, laporkan padaku bagaimana keadaan disana! Aku ingin tahu, siapa diantara Xavier dan Terizla yang bisa menang!" titah ratu Lien.
"Baik ratu! Kalau begitu, hamba pamit dulu! Permisi!" ucap Mungyi pamit pada sang ratu.
"Iya," ucap ratu Lien mengangguk singkat.
Mungyi pun pergi dari sana untuk memantau situasi peperangan, sedangkan ratu Lien kembali ke dalam kamar menenangkan putranya.
•
•
Slaasshh... jegeeerrr....
Serangan dahsyat dari Xavier berhasil membuat Terizla terhempas dan jatuh ke tanah.
Senjata milik Terizla bahkan sudah terjatuh ke bawah dan membuat Terizla kesulitan untuk dapat bangkit dari posisinya saat ini.
Tentu saja Xavier merasa senang dan tertawa puas sembari merentangkan kedua tangannya karena telah berhasil menjatuhkan Terizla.
"Hahaha... hanya segitu kemampuan mu, Terizla? Ini yang kau bilang tak dapat terkalahkan?" ujar Xavier penuh kesombongan.
"Cih! Aku belum kalah, Xavier!" ucap Terizla.
"Sudah seperti ini pun kau masih saja bersikap angkuh, Terizla. Sudahlah, sebaiknya kau mengaku kalah dan akui saja kalau aku lebih kuat darimu! Dan akulah yang berhak memimpin Quangzi, bukan kau Terizla!" ucap Xavier.
"Oh ya, aku punya penawaran untukmu. Kau mengaku kalah sekarang, maka aku akan memberi izin pada kau dan juga pasukan kau untuk tetap tinggal di istana." sambungnya.
Terizla terdiam memalingkan wajahnya, ia berpikir sejenak mengenai tawaran Xavier tadi.
"Bagaimana Terizla? Apa kau tak tertarik dengan tawaran dariku tadi? Itu lumayan loh, kau masih bisa tinggal di istana walau kau kalah dariku. Selain itu, kau juga bisa mengajak para pasukan mu itu tinggal di istana ku." kata Xavier.
Terizla masih tetap terdiam, sedangkan Alice di belakang sana sudah merong-merong berharap Terizla mengiyakan saja tawaran dari Xavier.
"Haish, apa lagi yang kau pikirkan Terizla? Cepat kau terima saja tawaran dari Xavier itu! Dasar manusia bodoh, dia lebih mengedepankan gengsi dibanding kesempatan emas!" geram Alice.
Xavier kembali melangkah mendekati Terizla, ia berjongkok di hadapan Terizla sambil tersenyum smirk ke arahnya.
"Ternyata kau masih saja tidak mau mengakui kekalahan mu ya, Terizla. Padahal sudah jelas-jelas kalau kau tidak bisa mengalahkan ku, bahkan untuk melukai tubuhku saja kau tidak bisa!" ucap Xavier menyombongkan diri.
"Jangan sombong kau Xavier! Aku memang saat ini kalah darimu, tapi jangan pernah lupa kalau aku bisa saja membalas apa yang kau berbuat hari ini kepadaku!" geram Terizla.
"Sudahlah Terizla, mau sampai kapan kau terus berkhayal seperti itu?" ujar Xavier.
"Kau lihat saja nanti Xavier! Akan ku pastikan kau menyesal karena sudah merendahkan diriku seperti ini!" ucap Terizla.
"Hey manusia bodoh! Aku tak akan pernah menyesal, justru kau yang akan menyesal karena sudah menolak tawaran ku! Padahal aku sudah memberikan tawaran terbaik agar kau tetap menjadi bagian dari istana Quangzi, tetapi kau malah menolaknya hanya karena tak mau mengakui kekalahan mu!" ucap Xavier.
Xavier pun kembali berdiri, memerintahkan para pasukannya untuk menekan pasukan Terizla agar pergi dari tempat itu.
"Cepat kau bawa raja bodoh mu ini pergi dari sini, sebelum aku habisi dia dengan kekuatan dahsyat ku!" titah Xavier pada Wingki.
"Apa maksud mu? Aku tak perduli lagi dengan dia, aku ingin tetap bersamamu di Quangzi!" ucap Wingki.
__ADS_1
"Cih! Kau pikir semudah itu aku percaya padamu? Kemarin saja kau merendahkan ku, aku tidak butuh orang sepertimu Wingki! Pergilah bersama Terizla dan juga ratu iblis itu!" geram Xavier.
Akhirnya Alice turun dari kudanya, menghampiri Terizla dan membawanya pergi dari sana.
Begitupun dengan Wingki, ia tak ada pilihan lain selain ikut bersama Terizla serta Alice.
"Hahaha... seluruh pasukan ku, mari kita rayakan kemenangan ini dan sebarkan berita ini ke seluruh wilayah Quangzi!" teriak Xavier.
"Hidup istana Quangzi! Hidup raja Xavier!" seluruh orang disana mulai bersorak-sorai.
•
•
Berita mengenai kemenangan Xavier sudah sampai di telinga Luan dan Ryu, mereka sama-sama terkejut mendengarnya dan tak menyangka jika Xavier dapat mengalahkan Terizla yang dikenal kuat dan kejam itu.
"Apa? Raja Xavier berhasil mengalahkan Terizla? Kau tidak salah dengar kan Ryu? Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" tanya Luan terkejut.
"Tentu saja tidak, Luan. Berita itu memang benar, dan seluruh penduduk disini juga sudah mengetahuinya. Raja Xavier berhasil mengalahkan Terizla dalam peperangan tadi!" jawab Ryu.
"Aku jadi bingung sekarang, apa ini termasuk berita buruk atau baik ya?" ujar Luan.
"Entahlah, karena aku rasa siapapun pemenangnya itu sama-sama bukan suatu kebaikan bagi Quangzi. Tapi, setidaknya jika raja Xavier yang menang maka ratu Lien masih bisa aman untuk tinggal di istana." kata Ryu.
"Iya, kamu benar Ryu! Hanya saja, aku tetap ingin ratu Lien yang memimpin istana Quangzi. Maka dengan itu, putri Xiu tak perlu lagi melakukan penyamaran seperti sekarang dan dia bisa menikmati hidupnya sebagai seorang putri kerajaan." kata Luan.
"Memang betul, tapi itu tak mudah dilakukan. Untuk saat ini kita harus menjaga putri Xiu sebaik mungkin! Jangan sampai pihak istana tahu kalau putri Xiu ada disini!" ucap Luan.
Luan mengangguk pelan, kemudian melangkah masuk ke dalam rumahnya bersama Ryu dengan saling merangkul.
Sepasang suami-istri itu bertemu dengan Xi Mei saat hendak masuk menuju ruang tamu, gadis cantik itu baru selesai mandi dan langsung menghampiri paman serta bibinya itu.
"Paman, bibik, pada darimana sih? Tadi aku cariin kok gak ketemu-ketemu?" tanya Xi Mei heran.
"Iya Xi Mei, kami baru kembali dari tempat pelatihan Wushu milik Ryu. Memangnya ada apa kamu cari kami sayang?" ucap Luan.
"Eee gak ada apa-apa sih, aku cuma bingung kemana paman sama bibik tadi." kata Xi Mei.
"Ahaha, bibik kirain kamu kenapa-napa sayang. Yasudah, kamu udah lapar apa belum?" ucap Luan mengusap rambut gadis itu.
"Kebetulan udah sih, bik. Emang bibik bawa makanan?" tanya Xi Mei.
"Bawa dong sayang. Nih bibik tadi beliin makanan kesukaan kamu, jadi kita bisa makan sama-sama sekarang. Oh ya, Chen ada di rumah kan sayang?" ucap Luan.
"Ada kok bik, tadi sih Chen masuk ke kamarnya. Biar aku panggil dia ya bik?" ucap Xi Mei.
"Iya sayang, makasih ya!" ucap Luan tersenyum.
Xi Mei mengangguk pelan, kemudian berjalan menuju kamar Chen untuk memanggil putri dari Luan dan Ryu itu.
•
•
Sementara itu, Mungyi juga baru saja selesai memberi laporan kepada ratu Lien dan juga An Ming mengenai kemenangan raja Xavier.
"Apa kau tidak salah bicara Mungyi? Benarkah Xavier menang?" tanya ratu Lien terkejut.
"Iya ratu, ini sungguh berita yang menggembirakan bagi seluruh wilayah Quangzi. Para warga merasa bahagia dengan kemenangan raja Xavier, karena menurut mereka raja Xavier lebih baik dibanding dengan Terizla." jawab Mungyi.
"Baguslah, aku juga senang dengan kemenangan raja Xavier. Jadinya aku bisa tetap tinggal disini, dan memantau kondisi istana secara langsung." kata ratu Lien tersenyum.
"Benar ratu! Sekarang pasukan raja Xavier sedang dalam perjalanan menuju kemari, apa ratu mau mau menyambut kedatangan raja Xavier di depan istana?" ucap Mungyi.
"Umm aku..."
"Mom, ayo kita sambut Daddy di depan! Aku mau ucapin selamat buat Daddy karena Daddy udah berhasil menang!" potong An Ming.
"Eee i-i-iya sayang, ayo kita sama-sama ke depan ya buat sambut Daddy dan pasukan istana lainnya!" ucap ratu Lien tersenyum.
"Iya mom," ucap An Ming mengangguk singkat.
Lalu, ratu Lien dan An Ming pun pergi ke halaman istana bersiap menyambut kedatangan raja Xavier beserta pasukannya dari medan peperangan.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1