Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 109. Cepat menikah


__ADS_3

Bruuukkk...


Akhirnya semua perampok itu tersungkur di tanah dengan posisi terlentang, kebanyakan dari mereka terluka parah akibat serangan Fey Chu dan Chen.


"Rasakan itu! Suruh siapa kalian berani mengganggu ku?!" ujar Fey Chu.


"Ayo kita pergi dari sini!" si perampok itu langsung bangkit dan pergi bersama yang lainnya.


Fey Chu pun tersenyum lebar, melirik ke arah Chen dan menatapnya bingung, baru kali ini ia bertemu dengan gadis itu.


"Hey, terimakasih ya!" ucap Fey Chu.


"Sama-sama, kamu ternyata hebat juga ya dalam bertarung!" ucap Chen.


"Ini belum seberapa, aku masih ingin yang lebih hebat lagi dari ini," ucap Fey Chu.


"Aku yakin kamu pasti bisa!" ucap Chen.


"Oh ya, siapa namamu? Baru kali ini aku bertemu denganmu dan melihatmu, apa kau tinggal di dekat sini?" tanya Fey Chu.


"Ya, aku tinggal tak jauh dari sini, tepatnya di desa Fuxiu. Namaku Chen Yufei, aku anak dari pasangan Ryu dan Luan," jelas Chen.


"Waw! Desa Fuxiu? Pantas saja kamu hebat, ternyata kamu berasal dari sana!" puji Fey Chu.


"Ah aku biasa saja kok, justru aku sangat terkesan dengan kemampuan bela dirimu! Kamu belajar dimana selama ini?" ucap Chen.


"Aku memiliki guru, tapi dia sekarang sudah tiada. Jadi, aku ingin terus menjaga amanahnya dengan cara menambah ilmu yang ku kuasai," jawab Fey.


"Kamu itu gadis yang luar biasa! Aku yakin kamu pasti juga bisa menjadi petarung yang hebat di masa depan!" ucap Chen.


"Kamu terlalu berlebihan memujiku, nyatanya aku bukanlah siapa-siapa!" ucap Fey Chu.


"Mungkin sekarang iya, tapi siapa yang tau jika di masa depan kamulah pendekar tersakti di negeri ini!" puji Chen.


"Ah sudahlah, jangan bahas tentang aku terus! Kamu sendiri sekarang mau kemana? Kok ada di hutan sore-sore begini?" ucap Fey Chu mengalihkan pembicaraan.


"Eee iya, aku memang biasa berkeliling di sekitar sini untuk mencari udara segar. Tapi, kebetulan ini aku hendak pulang," jawab Chen.


"Ohh, yasudah kalau kamu mau pulang silahkan saja! Terimakasih ya atas pertolongan kamu tadi, aku sangat berhutang budi sama kamu!" ucap Fey Chu sambil tersenyum.


"Sama-sama, sudahlah kamu gak perlu merasa berhutang padaku! Aku menolong kamu karena ikhlas, kita sesama manusia kan harus saling tolong menolong," ucap Chen.


"Kamu memang gadis yang baik ya Chen! Aku beruntung bisa bertemu dan mengenalmu!" ucap Fey Chu.


"Kamu juga baik, eee.." Chen menggantung ucapannya, sesaat ia baru sadar kalau dirinya belum mengetahui nama gadis yang ia tolong tadi.


"Hahaha, namaku Fey. Maaf maaf, aku sampai lupa mengenalkan diri karena terlalu asyik berbincang denganmu!" potong Fey Chu.


"Tidak apa, omong-omong namamu bagus juga Fey! Lalu, kamu sekarang mau kemana?" ujar Chen.


"Terimakasih! Iya, sebenarnya aku pengembara dan saat ini aku hanya jalan-jalan saja menyusuri hutan tanpa tujuan. Selain itu, aku juga ingin memperdalam ilmu ku sesuai yang aku katakan padamu tadi," jelas Fey Chu.


"Oh gitu, apa kamu mau mampir dan tinggal di rumahku?" ucap Chen menawarkan diri.


"Bolehkah?" tanya Fey Chu ragu.


"Ya, tentu saja. Aku tinggal sendiri disana, aku akan sangat senang kalau kamu mau menerima tawaranku!" jawab Chen.


"Umm baiklah, aku mau ikut denganmu jika tidak merepotkan!" ucap Fey Chu lirih.


"Kamu gak akan ngerepotin aku kok, justru aku senang punya teman di rumah!" ujar Chen.


"Terimakasih Chen!" ucap Fey Chu.


Akhirnya kedua gadis itu pergi dari sana, mereka bergegas menuju desa Fuxiu tepatnya rumah Chen untuk beristirahat.




"Paman, sepertinya itu pangeran An Ming," ucap Gusion.


"Kau benar panglima! Kita hampiri mereka!" ucap Ryu.


"Baik paman!" ucap Gusion menurut.


Keduanya langsung bergerak cepat mendekati kerumunan itu dengan wajah panik.


"Lian, apa benar kamu ingin menikah dengan pangeran kecil yang tidak tahu diri ini?" tanya Tachi pada Feng Lian.


"Iya benar, aku akan menikah dengan pangeran An Ming sebentar lagi. Sekarang kalian cepat pergi, jangan buat keributan disini!" jawab Feng Lian.


"Kurang ajar! Kamu lebih memilih si kecil yang payah ini dibanding kami, apa hebatnya dia ha?" geram Tachi.


An Ming tersenyum seringai menyaksikan kemarahan di wajah Tachi.


"Pangeran!" suara panggilan itu membuat An Ming terkejut dan menoleh ke belakang.


"Paman Ryu, panglima Gusion?" An Ming menatap mereka dengan wajah heran. "Apa yang kalian lakukan disini? Bagaimana bisa kalian datang ke tempat ini?" tanyanya penuh penasaran.

__ADS_1


"Eee kami sedang ditugaskan oleh ratu untuk mencari seseorang, tapi kami malah tidak sengaja bertemu dengan pangeran disini. Pangeran sendiri sedang apa?" jelas Ryu.


"Aku tidak sedang melakukan apapun, aku hanya ingin mempertegas pada mereka bahwa gadis di sebelahku ini akan menikah denganku dalam waktu singkat," ucap An Ming.


"Apa? Menikah??" Ryu dan Gusion kompak terkejut mendengar pernyataan An Ming barusan.


"Pangeran, apa benar yang pangeran katakan itu?" tanya Gusion seolah tak percaya.


"Tentu saja, tekad ku sudah bulat paman dan aku ingin menikahi Feng Lian!" jawab An Ming.


"Tapi, apa pangeran sudah bicarakan ini dengan ratu Lien di istana?" tanya Gusion lagi.


"Nanti aku akan bicara dengan mommy, semua bisa diatur paman," jawab An Ming.


"Baiklah, tapi sekarang ada baiknya pangeran pulang dengan kami!" ucap Ryu.


"Pulang? Aku belum bisa pulang sebelum para pemuda itu menyingkir dari hadapanku, mereka sudah membuatku kesal paman!" ujar An Ming.


Gusion dan Ryu menoleh bersamaan ke arah pemuda yang sedang diselimuti amarah itu.


"Hey! Jangan kira kami takut denganmu pangeran karena kehadiran dua pasukan mu itu! Kami akan terus disini, sampai kami berhasil mendapatkan Feng Lian!" sentak Tachi.


"Kamu benar-benar orang yang aneh! Lian sudah mengatakan jika dia ingin menjadi istriku, lantas apa lagi yang kalian tunggu ha?" ujar An Ming.


"Kami yakin, Lian berkata seperti itu karena dia terpaksa. Kami disini untuk membantunya, karena kami tidak mau dia tersakiti karena menikah denganmu," ucap Tachi.


"Kurang ajar! Kalian pikir aku akan menyakiti dia, ha?!" geram An Ming. Satu tangannya sudah terkepal kuat menahan amarah.


"Memang begitu kan?" ujar Tachi.


Akhirnya, An Ming yang sudah diliputi emosi pun maju menyerang gerombolan pemuda tersebut. Dia tak memberi kesempatan bagi Tachi atau yang lain untuk melakukan serangan balas.


Gusion, Ryu, Zheng serta Felix kini juga ikut membantu An Ming menyerang pemuda di hadapan mereka. Tentunya sebagai pengawal, mereka tidak mau An Ming terluka.


Sementara Feng Lian dibawa menjauh oleh sang ayah agar terhindar dari pertarungan itu.


"Lian, ini sangat gawat. Ayah khawatir pasukan Quangzi akan menghabisi mereka, jika itu terjadi maka kemungkinannya bisa semakin buruk!" ucap Shi Yuqi tampak panik.


"Tenanglah ayah! Aku tahu pangeran dan pasukannya tidak mungkin melakukan itu, biarpun mereka semua sedang dipengaruhi emosi. Kita percaya saja pada mereka!" ucap Feng Lian.


Shi Yuqi mengangguk pelan, berharap-harap cemas agar pertarungan itu segera terhenti.




Hari telah berganti, Xiao Tien kini sudah membaik dan mampu bangkit dari tempat tidurnya.


"Kau sudah sehat?" tanya tabib.


"Iya, aku merasa lebih baik. Terimakasih ya tabib karena sudah mengobati lukaku! Apa aku bisa pergi sekarang?" ucap Xiao Tien.


"Kamu mau pergi kemana?" tanya si tabib.


"Eee aku akan pulang, aku khawatir keluargaku cemas mencari ku," jawab Xiao Tien.


"Kalau kamu mau pulang, sebaiknya kamu bilang dulu sama pangeran dan ratu," ucap tabib.


"Bisakah aku bertemu mereka?" tanya Xiao Tien.


"Ya, tentu saja. Sebentar ya, biar aku panggilkan pangeran atau tuan putri untuk menemui mu disini!" jawab tabib itu.


"Baik tabib! Sekali lagi terimakasih sudah membantuku!" ucap Xiao Tien.


"Sama-sama, aku permisi dulu. Kamu jangan banyak bergerak!" ucap si tabib.


Xiao Tien mengangguk disertai senyum kecilnya, ia memegangi dadanya dan berusaha menaruh kedua kakinya ke lantai.


Sementara sang tabib sudah berjalan keluar ruangan untuk mencari Wein Lao maupun putri Xiu.


Baru saja tabib itu hendak menuju kamar sang pangeran, namun ia sudah lebih dulu bertemu dengan Wein Lao di depan sana.


"Eh pangeran, syukurlah kita bertemu disini!" ucap tabib itu.


"Ya tabib, ada apa? Kau mencari ku?" tanya Wein Lao penasaran.


"Iya pangeran, pasien yang kemarin pangeran bawa itu sekarang sudah membaik. Dia mengatakan ingin pulang dan pamit pada pangeran," jelas sang tabib.


"Oh ya? Memangnya dia sudah bisa pulang?" tanya Wein Lao terkejut.


"Sebenarnya belum boleh, tapi dia memaksa ingin pulang. Katanya dia takut keluarganya cemas mencarinya," jawab tabib itu.


"Yasudah, biar aku temui dia dan bicara dengannya." Wein Lao langsung bergerak diikuti tabib itu dari belakangnya.


Mereka pun kembali tiba di dalam ruang pengobatan, tampak Xiao Tien sedang berusaha bangkit dan berdiri tegak.


"Xiao!" Wein Lao berteriak bermaksud menahan niat gadis di depannya.


Namun, itu justru membuat Xiao Tien kaget dan kehilangan keseimbangan. Akibatnya, gadis itu tergelincir dan hampir jatuh ke lantai.

__ADS_1


Hap!


Beruntung Wein Lao berhasil menangkapnya, sehingga Xiao Tien terhindar dari jatuh.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Wein Lao cemas.


"I-i-iya, aku baik-baik saja. Terimakasih pangeran, kau selalu menolongku dan bersikap baik padaku!" jawab Xiao Tien.


Wein Lao tersenyum, kemudian membantu gadis itu duduk kembali di ranjang.


"Kamu mau ngapain sih? Harusnya kamu tetap duduk dulu, jangan maksa buat berdiri kalau masih gak kuat!" ujar Wein Lao.


"Iya pangeran, maaf! Aku cuma gak mau lama-lama disini, aku takut ngerepotin kalian semua," ucap Xiao Tien.


"Siapa bilang kamu ngerepotin kita? Kesembuhan kamu itu tanggung jawab kita, jadi kamu harus tetap disini sampai kamu sembuh!" ucap Wein Lao tegas.


"Aku udah sembuh kok, kata tabib tadi juga begitu. Makanya sekarang aku mau pulang, karena aku takut keluarga ku cemas," ucap Xiao Tien.


"Kamu emang udah baikan, tapi kamu belum pulih benar. Jadi, kamu harus tetap disini sampai kamu beneran udah sehat!" ucap Wein Lao.


"Tapi—"


"Ayolah Xiao, kamu menurut saja sama saya! Kalau kamu memaksa pergi, nanti siapa yang repot ha?!" potong Wein Lao.


Xiao Tien menunduk dan akhirnya menurut.




Sementara itu, An Ming masih terus memaksa bundanya untuk menikahkan ia dengan Feng Lian secepatnya.


Ya An Ming tidak mau menunggu lama karena ia khawatir jika Feng Lian nantinya berubah pikiran dan malah meninggalkan dirinya.


"Ayolah mom, aku hanya ingin dapat izin dari mommy untuk menikahi Lian!" ucap An Ming.


"Bukannya mommy tidak mengizinkan, tapi mommy khawatir kalau kamu kenapa-napa nantinya. Feng Lian itu kan baru kamu kenal, masa kamu langsung mau nikahin dia?" ucap ratu Lien.


"Iya An Ming, seenggaknya kamu harus kenal dia lebih dalam dulu sebelum nikah!" sahut Xiu.


"Untuk apa? Kakak dan kak Lao juga tidak saling mengenal jauh, lalu kenapa aku harus menunggu lama untuk menikahi Feng Lian? Aku cinta sama dia mom," ucap An Ming.


"Kamu beneran cinta sama gadis itu, atau hanya sekedar nafsuu?" tanya ratu Lien.


"Tentu saja aku cinta sama dia, kalau tidak mana mungkin aku mau menikah dengannya?" jawab An Ming bersemangat.


"Baiklah, mommy akan izinkan kamu menikahi gadis desa itu. Tetapi, kamu harus bawa dia kemari dan temui dia dengan mommy!" ucap ratu Lien.


"Baik mom! Aku akan segera bawa Feng Lian menemui mommy disini," ucap An Ming.


"Yasudah, kamu tidak perlu sedih atau ngambek lagi. Mommy tunggu kehadiran Lian disini untuk bicara dengan mommy," ucap ratu Lien.


"Iya mom, aku izin pergi sekarang! Aku mau menjemput Feng Lian di desanya," ucap An Ming.


"Kamu bisa pergi bersama Zheng, mommy selalu menunggu disini sampai kamu bisa membawa Lian menemui mommy," ucap ratu Lien.


"Tentu mommy!" ucap An Ming setuju.


An Ming langsung bangkit dari duduknya, bersiap untuk pergi menemui Feng Lian di rumahnya.


Sementara ratu Lien memanggil Zheng dan meminta pria itu untuk menemani putranya.


"Zheng, kamu temani putraku menuju tempat calon istrinya berada! Kamu jaga dia, dan jangan sampai dia kenapa-napa!" ucap ratu Lien pada Zheng.


"Baik ratu!" ucap Zheng patuh.


An Ming serta Zheng akhirnya pergi bersama keluar dari istana.


"Mom, kenapa mommy izinin An Ming buat nikahin wanita desa itu sih?" tanya Xiu cemas.


"Ada apa Xiu? Kamu tau sesuatu?" ucap ratu Lien.


"Ya enggak sih, aku cuma cemas aja. Aku takut An Ming dijebak sama wanita itu, karena kita kan gak tau siapa wanita itu. Apalagi dia tinggal di desa, wajar dong aku khawatir!" ucap Xiu.


"Kamu lupa ya sayang? Kita kan juga dulunya tinggal di desa," ucap ratu Lien tersenyum tipis.


"Eee.." Xiu terdiam seraya memalingkan wajahnya, ucapan sang mama memang ada benarnya.


Ratu Lien serta yang lain disana ikut terkekeh kecil melihat ekspresi Xiu, sedangkan Xiu sendiri terus berusaha menyembunyikan wajahnya dari mereka.


"Permisi ratu!" semua orang disana terkejut saat Wein Lao tiba-tiba datang kesana.


"Lao, kamu ngapain kesini? Emang urusan kamu sama cewek itu udah selesai?" tanya Xiu.


"Udah kok, gausah cemburu terus lah sayang! Aku sama Xiao gak ada apa-apa kok," jawab Wein Lao.


"Ya ya ya.." Xiu mengangguk saja dengan ekspresi kesalnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2