Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 26. Berkeliling desa


__ADS_3

Xi Mei pulang sekolah bersama Jason, gadis itu berniat mengenalkan desa Fuxiu tempat tinggalnya itu kepada Jason yang merupakan pindahan dari luar negeri.


Jason tampak senang dapat pergi bersama Xi Mei, memang sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu, Jason sudah cukup tertarik padanya.


Kebaikan Xi Mei dan juga keramahan gadis itu membuat siapapun lelaki yang dekat dengannya pasti akan tertarik, tapi tidak untuk Xi Mei sendiri karena gadis itu hanya ingin berteman.


"Jason, ini namanya desa Fuxiu. Disini itu desanya para jagoan, hampir semua warga disini bisa beladiri. Jadi, gak ada penjahat yang berani masuk kesini karena mereka cuma cari mati aja kalau datang ke tempat ini." ucap Xi Mei.


"Waw keren banget ya! Berarti kamu juga jago beladiri dong?" ujar Jason terpukau.


"Umm... aku belum dibolehin buat latihan beladiri sama pamanku, padahal dia itu guru Wushu paling terkenal di desa ini. Aku juga gak tahu apa alasan dia larang aku," jawab Xi Mei.


"Oh begitu, mungkin paman kamu gak pengen kamu terkena masalah. Atau bisa jadi, kamu kan masih sekolah jadi harus fokus dulu sama sekolah kamu sampai selesai." kata Jason.


"Iya sih, tapi banyak kok anak-anak sekolah yang sambil belajar beladiri. Cuma aku yang gak dibolehin sama paman," ucap Xi Mei.


"Sabar aja! Paman kamu pasti punya rencana yang terbaik buat kamu, jangan salah paham dulu ya!" ucap Jason menenangkan gadis itu.


Xi Mei tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, mereka pun lanjut berjalan memasuki desa Fuxiu yang dikenal sebagai tempatnya para pendekar tersebut.


Begitu masuk kesana, Jason cukup terkejut lantaran sudah berhasil menemui orang-orang yang tengah melatih kemampuan bela dirinya dan membuat Jason terpukau.


"Wah benar ya kata kamu! Disini emang banyak banget jagoan," ujar Jason.


"Iya, itu namanya bik Yun Shin. Dia guru beladiri wanita disini, paling jago diantara para wanita yang ada di desa ini." kata Xi Mei.


"Keren keren!" ucap Jason terpukau.


"Hai bibik selamat siang!" ucap Xi Mei menyapa orang yang sedang berlatih itu.


"Eh kamu Xi Mei, siang juga! Baru pulang sekolah ya?" ucap wanita bernama Yun Shin itu.


"Iya bik, oh ya kenalin ini teman aku pindahan dari Eropa namanya Jason." kata Xi Mei.


"Wah keren ada orang Eropa masuk ke desa kita! Selamat datang ya Jason, semoga kamu suka sama desa ini!" ucap Yun Shin.


"Apa kata dia Xi Mei?" bisik Jason di telinga Xi Mei.


"Bibik bilang semoga kamu suka ya disini!" jawab Xi Mei sambil terkekeh.


"Ohh terimakasih ya bik!" balas Jason pada Yun Shin.


"Maaf ya bik! Jason ini baru beberapa hari tinggal disini, jadi dia belum terbiasa dengan bahasa kita." kata Xi Mei.


"Iya Xi Mei, bibik paham kok." ucap Yun Shin.


"Yaudah ya bik, aku sama Jason lanjut jalan dulu. Permisi!" ucap Xi Mei.


"Silahkan!" ucap Yun Shin tersenyum.


Xi Mei dan Jason pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Luan.




Zhao masih merasa bersalah karena telah membuat Xi Mei marah padanya.


Oleh karena itu, Zhao pun mendatangi rumah Luan untuk bisa bertemu dengan Xi Mei sekaligus meminta maaf pada gadis itu sembari membawa makanan di tangannya.


TOK TOK TOK...


"Permisi!" ucap Zhao sedikit berteriak sembari mengetuk pintu rumah tersebut.


Ceklek...


Pintu terbuka, Luan muncul dari dalam rumah dan sedikit terkejut melihat kehadiran Zhao di depan rumahnya.


"Eh Zhao, ada apa kamu kesini?" tanya Luan penasaran.


"Eee begini bik, aku mau minta izin ketemu sama Xi Mei. Boleh kan bik?" jawab Zhao.


"Loh, Xi Mei daritadi belum pulang. Emang kamu gak ketemu dia di sekolah?" ucap Luan.


"Apa? Belum pulang bik? Tapi, tadi aku cari dia di sekolah udah gak ada kok." ujar Zhao.


"Waduh, terus Xi Mei kemana ya? Soalnya daritadi bibik di rumah dan dia belum datang juga, duh bibik jadi khawatir sama Xi Mei!" ucap Luan cemas.


"Tenang bik! Biar aku bantu buat cari Xi Mei, siapa tahu dia udah ada di sekitar sini!" ucap Zhao.


"Ah iya, terimakasih ya Zhao! Kabarin bibik kalau kamu sudah ketemu sama dia! Atau sekalian aja kamu bawa dia kesini ya!" ucap Luan.

__ADS_1


"Siap bik! Aku permisi dulu!" ucap Zhao.


"Silahkan!" ucap Luan.


Zhao berbalik dan pergi dari sana, sedangkan Luan masih tampak cemas memikirkan dimana Xi Mei.


"Aduh Xi Mei! Kamu kemana sih nak?" ujarnya.


Tak lama kemudian, Ryu datang membawa hasil kebun yang baru saja ia panen.


"Wah! Kamu ternyata perhatian banget ya sama aku, sampai ditungguin begini di depan. Udah, kamu gak perlu cemasin aku kayak gitu! Aku kan sekarang udah pulang nih," ucap Ryu.


"Hah? Kamu apa-apaan sih? Aku bukan nungguin kamu, tapi aku lagi cemas karena Xi Mei belum datang juga. Tadi Zhao datang kesini, dia bilang kalau Xi Mei udah gak ada di sekolah. Aku takut Xi Mei tertangkap prajurit istana!" ujar Luan panik.


"Tenang dulu Luan! Kamu gak perlu panik begitu! Belum tentu juga kan Xi Mei ditangkap prajurit istana, bisa jadi dia lagi main." kata Ryu.


"Main kemana? Xi Mei gak pernah pergi kemanapun sebelum pulang ke rumah dulu, dia itu anak yang baik loh! Aku harus cari dia, aku gak mau sesuatu terjadi sama dia!" ucap Luan.


"Eh eh eh sabar dulu! Biar aku aja yang cari Xi Mei, kamu disini tunggu siapa tahu dia pulang nanti!" ucap Ryu menahan Luan.


"Tapi, aku juga mau cari Xi Mei!" ujar Luan.


"Jangan Luan! Kamu disini aja, aku akan cari Xi Mei sampai ketemu ya!" bujuk Ryu.


"Huft, yasudah terserah kamu! Temukan Xi Mei ya!" ucap Luan cemas.


"Iya Luan," ucap Ryu mengangguk.


Ryu pun pergi mencari Xi Mei di sekeliling desa tersebut, sedangkan Luan menunggu disana sembari berharap Xi Mei akan pulang.




Zhao tanpa sengaja melihat Xi Mei sedang bersama Jason di depan matanya.


Sontak pria tersebut langsung bergerak cepat menghampiri mereka berdua dengan sedikit jengkel.


"Xi Mei!" ucap Zhao memanggil gadis itu.


Xi Mei pun menoleh saat namanya disebut, begitu juga dengan Jason yang berada di sampingnya.


"Zhao? Ada apa?" tanya Xi Mei heran.


"Kenapa gitu? Perasaan aku baru pergi sebentar, seharusnya bibik gak perlu cemas!" ujar Xi Mei.


"Mungkin itu perasaan seorang bibik sama ponakannya, jadi lebih kamu segera pulang sekarang dan temuin bibik kamu!" ucap Zhao.


"Baiklah, terimakasih ya Zhao!" ucap Xi Mei.


"Jason, kita pergi ke rumah bibik aku yuk! Aku akan kenalin kamu sama bibik aku," ucap Xi Mei pada Jason.


"Oke!" jawab Jason setuju.


Zhao merasa bingung tak mengerti apa yang dibicarakan Xi Mei dan Jason.


"Eh tunggu! Kalian mau kemana?" tanya Zhao.


"Oh, ini kita mau ke rumah bik Luan. Tadi kan kamu bilang kalau bibik tuh cariin aku, makanya aku mau ajak Jason sekalian kesana." jawab Xi Mei.


"Hah? Buat apa? Kenapa gak kamu sendiri aja? Terus biarin si bule ini pulang ke rumahnya," ujar Zhao kesal.


"Emang kenapa sih, Zhao? Aku mau ajak Jason ke rumah bibik atau enggak, itu kan bukan urusan kamu. Suka-suka aku dong!" ucap Xi Mei.


"Ya iya sih, tapi kan..."


"Sudahlah Zhao, aku harus pergi sekarang! Kan kata kamu bibik lagi nyariin aku, jadi aku harus pulang ke rumah sekarang!" potong Xi Mei.


"Iya Xi Mei, kamu hati-hati ya di jalan!" ucap Zhao tampak bersedih.


Xi Mei mengangguk saja, kemudian melangkah pergi bersama Jason meninggalkan Zhao disana sendirian.


Zhao terus memandang ke arah punggung Xi Mei yang perlahan menjauh, entah mengapa rasanya ia tak suka melihat Xi Mei berjalan dengan lelaki lain.


"Padahal aku kan mau minta maaf sama Xi Mei, tapi dia malah ajak Jason buat pergi." kata Zhao.


Akhirnya Zhao memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan perasaan bersedih, makanan yang ia bawa pun tidak jadi diberikan kepada Xi Mei dan malah ia makan sendiri di jalan.



__ADS_1


Di istana, ratu Lien melihat raut kecemasan di wajah Xavier saat hendak memberikan minuman untuk raja sekaligus suaminya itu.


"Permisi yang mulia! Ini ada minuman untukmu, semoga kamu bisa suka dan lebih tenang!" ucap ratu Lien menyodorkan minuman tersebut.


"Ah iya, terimakasih Lien!" ucap Xavier singkat.


"Kamu sedang apa, yang mulia? Mengapa kamu terlihat cemas seperti itu? Apa yang kamu pikirkan sekarang ini? Ada masalah?" tanya Lien bingung.


"Tidak kok, tidak ada apa-apa. Aku hanya memikirkan bagaimana caranya untuk bisa bertahan di posisiku sekarang ini, karena sebentar lagi aku bisa saja digusur." jawab Xavier.


"Maksud yang mulia? Memang siapa yang akan menggusur kamu?" tanya ratu Lien heran.


"Terizla. Dia akan kembali sesaat lagi bersama ratunya, Alice. Aku khawatir kembalinya mereka akan berpengaruh terhadap kedudukan kita di istana ini sayang, mereka bisa saja mengusir kita atau menempatkan kita di posisi yang lain." jelas Xavier.


"Apa? Jadi, Terizla dan ratu iblis itu akan kembali ke istana ini? Bukankah kamu bilang mereka tak akan pernah kembali?" tanya ratu Lien heran.


"Eee sebenarnya waktu itu aku berbohong padamu sayang, aku melakukan itu karena aku tidak mau kamu cemas! Aku ingin kita menikah sayang, kalau aku tak mengatakan itu pasti kamu tidak akan mau menikah denganku." kata Xavier.


"Seharusnya kamu tidak seperti itu yang mulia! Kamu benar-benar membuatku tambah kecewa! Sekarang yang kamu pikirkan bukan hanya tahta mu ini, tapi juga nasib putra kita An Ming!" ujar ratu Lien tampak emosi.


"Aku tahu sayang, pasti aku akan memikirkannya itu. Aku juga akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan kedudukan ku disini, Terizla tidak boleh kembali kesini!" ucap Xavier.


"Apa yang bisa kamu lakukan yang mulia? Tak mungkin kamu dapat melawan Terizla!" ujar Lien.


"Kata siapa? Aku ini raja Xavier, aku memiliki kekuatan yang dapat mengalahkan siapapun termasuk Terizla!" ujar Xavier tegas.


"Baiklah, aku percayakan semuanya padamu Xavier! Asal kamu bisa buktikan padaku, kalau kamu akan dapat mempertahankan istana ini dari tangan Terizla!" ucap ratu Lien.


"Tentu saja sayang, demi kamu dan An Ming apapun pasti kulakukan!" ucap Xavier yakin.


"Yasudah, aku mau ke kamar sekarang. An Ming juga sebentar lagi pulang, dia pasti mencari ku." kata ratu Lien.


"Silahkan sayangku!" ucap Xavier tersenyum.


Ratu Lien mengangguk pelan, kemudian perlahan menuruni tangga singgasana dan meninggalkan suaminya disana.


Xavier kembali berpikir keras untuk dapat mengalahkan Terizla, ia mengerutkan kening sembari meminum minuman pemberian ratu Lien.


***


Ratu Lien pun tampak bimbang, ia khawatir jika Terizla dan Alice kembali ke istana lalu kehadirannya akan tersingkir dari sana.


"Bagaimana ini? Kalau benar Terizla akan kembali, bisa jadi aku juga dimasukkan ke dalam penjara seperti sebelumnya. Dan aku tak akan bisa bertahan di istana ini," batin ratu Lien.


"Ratu, ada apa denganmu? Apa yang sedang ratu pikirkan?" tanya Lusi (pelayan sang ratu).


"Ah tidak ada, aku hanya rindu dengan putriku. Kau tahu kan kalau aku memiliki seorang putri yang hilang, dia masih belum dapat ditemukan hingga sekarang. Aku cemas padanya! Aku takut dia kenapa-napa!" jawab ratu Lien.


"Oh begitu ratu, kalau begitu ratu harus banyak bersabar lebih dulu! Hamba yakin tuan putri pasti dapat ditemukan nantinya!" ucap Lusi.


"Terimakasih Lusi! Aku memang sangat berharap untuk dapat bertemu lagi dengan dia nantinya, tapi aku juga realistis saja kalau putriku tak mungkin dapat kembali kesini." kata ratu Lien bersedih.


"Tenang ratu! Jangan dulu berpikir seperti itu! Berpikir saja yang positif kalau tuan putri pasti akan ditemukan!" ucap Lusi.


"Iya, kau benar!" ucap ratu Lien tersenyum tipis.


Disaat mereka sedang berjalan menuju kamar sang ratu, tiba-tiba saja An Ming sudah muncul dan langsung menghampiri ratu Lien disana.


"Mommy!" An Ming berteriak kencang, kemudian menabrak tubuh ratu Lien dan memeluknya.


"Sayang, kamu sudah pulang nak? Gimana sekolahnya hari ini? Seru gak?" ujar ratu Lien.


"Seru dong mom! Tapi, kapan-kapan aku pengen dong sekolah ditemenin sama mommy dan daddy. Soalnya tadi teman-teman aku banyak yang diantar sama orang tua mereka," ucap An Ming.


"Eee kalau itu nanti biar mommy bahas sama Daddy kamu dulu ya, kamu berdoa aja supaya Daddy kamu gak sibuk oke!" ucap ratu Lien.


"Oke mom!" ucap An Ming tersenyum renyah.


"Oh ya, anak mommy yang ganteng ini udah makan apa belum?" tanya ratu Lien.


"Belum mom," jawab An Ming menggeleng.


"Wah pasti kamu lapar ya? Kalau begitu, kita makan siang sama-sama dulu yuk! Mommy juga mau makan nih," ucap ratu Lien.


"Iya mom, aku mau." kata An Ming setuju.


"Yaudah, yuk ikut mommy!" ujar ratu Lien.


Setelahnya, ratu Lien dan An Ming pun melangkah menuju tempat makan istana bersama pelayan mereka di belakangnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2