
Ratu Lien berhasil ditangkap oleh Wingki dan para prajuritnya, bahkan kini sang ratu telah diikat dan ditunjukkan di hadapan Terizla serta Alice.
Sontak saja mereka langsung tertawa puas melihat ratu Lien yang sudah tak berdaya di hadapannya, sang ratu duduk bersimpuh dengan kondisi dua tangan terikat.
"Hahaha, apa kabar ratu? Sepertinya kamu sedang bersedih ya?" ucap Terizla.
Xavier turut hadir disana menyaksikan bagaimana wanita tercintanya itu telah ditangkap oleh para penjahat tersebut, Xavier merasa tak tega melihat ratu Lien seperti itu. Namun, bagaimanapun ia cukup sulit untuk bisa menolong ratu Lien dari jeratan Terizla dan pasukan iblis nya.
"Kenapa kamu hanya diam begitu? Bukannya selama ini kamu selalu banyak bicara, ratu Lien yang agung dan cantik!" Terizla kembali bersuara dan bangkit dari singgasananya.
"Oh aku tau, apa ini semua berhubungan dengan kematian Feng Ying? Aku turut berdukacita ya ratu, aku tidak percaya dia bisa mati secepat ini. Apalagi dia mati di tangan orang kepercayaannya sendiri, sungguh tragis!" ujar Terizla melirik Xavier.
"Cukup Terizla! Sebaiknya kamu tidak usah banyak bicara lagi, kamu bunuh saja aku sekarang juga!" ratu Lien berteriak meminta Terizla membunuhnya.
Xavier cukup terkejut mendengarnya, ia spontan melebarkan mata menatap ke arah ratu Lien.
Wingki yang kebetulan tepat berada di samping Xavier, merasa bingung ketika Xavier terkejut seperti itu saat ratu Lien minta untuk dibunuh.
"Ada apa panglima? Mengapa kau kaget begitu?" tanya Wingki berbisik dan tersenyum smirk.
"Tidak, saya biasa aja kok." Xavier mengelak dan langsung membuang muka menghindari tatapan mata Wingki, walau sesekali ia masih melirik ke arah ratu Lien.
Wingki tersenyum tipis lalu berkata, "Kau tidak bisa bohong dariku, Xavier. Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini. Pasti kau tidak rela bukan jika ratu Lien tercintamu itu dibunuh oleh yang mulia raja Terizla."
"Terserah apa katamu!" ucap Xavier singkat.
Terizla kembali tertawa dan kini melangkah mendekati ratu Lien.
"Hahaha, kau pikir akan semudah itu aku mengirim kamu ke neraka? Tentu tidak ratu Lien, aku masih butuh kamu untuk bisa mendapatkan putrimu yang menggemaskan itu!" ucap Terizla.
__ADS_1
Ratu Lien pun mendongak membulatkan matanya ke arah Terizla, ia mulai emosi ketika Terizla berkata ingin mengambil putri Xiu darinya.
"Tolong jangan ikut sertakan anakku dalam urusan ini! Aku mohon padamu Terizla! Putriku tidak tahu menahu soal ini, dia tidak bersalah. Bagaimana bisa kamu melibatkan seorang anak kecil yang tidak berdosa itu ha?" ujar ratu Lien.
"Putrimu memang tidak salah, tapi aku sudah bertekad untuk menghabisi seluruh keturunan Feng Ying! Karena aku tidak mau nantinya dia akan membalas dendam padaku," ucap Terizla.
"Kau takut Terizla?" ujar ratu Lien.
"Untuk apa aku takut? Aku bisa menghabisi siapapun itu, termasuk putrimu. Hanya saja aku ingin mencegah itu terjadi, agar aku tak perlu membuang-buang energi untuk menghadapi dendam putrimu nanti!" ucap Terizla tersenyum.
"Kau tidak bisa berbohong Terizla! Aku lihat sendiri ada raut kecemasan di wajahmu, kau takut bukan jika putriku benar-benar membalaskan dendam ayah dan ibunya nanti? Tenang saja Terizla, kau tidak perlu takut! Putriku itu masih kecil, dia baru berusia tujuh tahun dan adalah sesuatu hal yang tidak mungkin kalau dia akan menyerang kamu!" ucap ratu Lien.
Terizla terdiam memalingkan wajahnya, melirik sejenak ke arah Alice sebelum memerintahkan anak buahnya untuk membawa Lien pergi.
"Hey kalian, bawa ratu sialan ini pergi dari sini! Kurung dia di penjara bawah tanah bersama para punggawa istana yang lainnya, pastikan dia tidak akan kabur!" perintah Terizla.
"Baik yang mulia!" dua orang prajurit bergerak maju membawa tubuh sang ratu menuju penjara.
Alice bergerak maju menghampiri Terizla dan berkata, "Terizla, kenapa kau tidak bunuh saja ratu itu sekarang juga? Untuk apa ditunda-tunda seperti ini?"
"Kamu tidak mengerti Alice, ini semua kulakukan agar aku bisa mendapatkan putri Xiu. Aku harus memastikan bahwa seluruh keturunan Feng Ying musnah, tanpa ada yang tersisa satupun!" ucap Terizla menjelaskan pada Alice.
"Kenapa kau begitu takut Terizla? Kita bisa habisi putri Xiu kapanpun kita mau, yang terpenting sekarang kau habisi dulu ratu itu!" ujar Alice.
"Tidak Alice, ratu Lien hanya akan aku habisi setelah aku mendapatkan putri Xiu! Kau lebih baik menurut saja denganku, aku lebih pintar darimu perihal menyusun rencana!" ucap Terizla.
"Terserah apa katamu!" Alice kesal dan memilih kembali singgasananya.
•
__ADS_1
•
Disisi lain, putri Xiu masih bersama dengan Luan serta keluarganya di rumah yang sederhana dan tidak terlalu besar itu. Gadis kecil manis itu pun terduduk di kursi dengan Luan dan juga putrinya berada disana menemaninya.
"Eee tuan putri, diminum dulu minumannya! Itu aku buatnya pakai rasa hormat dan perhatian loh, kan kita sekarang udah jadi sahabat." kata Chen.
Putri Xiu mengangguk saja disertai senyum tipis di bibirnya, lalu Luan pun menawarkan diri untuk membantu Xiu meminum minumannya, seperti yang dia lakukan selama ini.
"Non putri, mau bibik bantu minumnya seperti di istana?" tanya Luan.
"Boleh bik, tapi nanti Chen cemburu apa enggak?" ucap putri Xiu sembari melirik ke arah Chen.
"Ahaha, kamu gemesin banget sih putri! Tenang aja, Chen gak mungkin cemburu kok! Iya kan Chen?" ucap Luan.
"Iya ibu, buat apa juga aku cemburu kan? Tuan putri gak perlu cemas, ibu aku kan kerja di istana sebagai pelayan tuan putri. Jadi, mana mungkin aku cemburu?" ucap Chen.
"Bagus deh! Oh ya, kamu bisa gak jangan panggil aku pake sebutan tuan putri lagi? Kita ini kan sahabat, kamu panggil aku Xiu aja ya?" pinta putri Xiu.
"Eee gimana ya... aku sulit buat ngelakuin itu, karena kan semua orang tahu kalau kamu tuan putri kerajaan. Sedangkan aku ini kan cuma warga desa biasa, kita beda kasta putri. Aku juga gak mau dianggap kurang sopan nantinya," ucap Chen.
"Gapapa kali Chen, anggap aja aku ini orang biasa bukan dari kerajaan!" ucap putri Xiu.
Chen beralih menatap ibunya dan bertanya, "Bu, ini gimana dong? Aku bingung harus apa."
Luan tersenyum mengusap rambut putrinya sembari juga mengambilkan gelas minum untuk putri Xiu dari meja dan membantu gadis kecil itu meminum minumannya.
"Kamu gak perlu cemas Chen! Putri Xiu datang ke rumah kita ini sebagai gadis biasa kok, dia juga akan merubah identitasnya. Justru kamu emang harus melupakan sejenak identitas asli putri Xiu sebagai putri kerajaan!" ucap Luan.
"Maksud ibu apa?" tanya Chen tak mengerti dengan mulut terbuka sedikit.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...