Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 90. Alice tak terima


__ADS_3

Xiu dan Wein Lao langsung bergerak menuju meja makan untuk menemui ratu Lien juga An Ming.


Namun, Xiu masih heran pada sikap Wein Lao yang tiba-tiba berubah menjadi dingin itu.


"Lao, kamu itu kenapa sih?" tanya Xiu padanya.


"Kenapa apa?" ucap Wein Lao bingung.


"Daritadi aku perhatiin, sikap kamu ke aku kayak beda gitu. Kamu itu sebenarnya kenapa sih Lao? Kalau ada masalah atau aku punya salah sama kamu, kamu bilang aja dong!" ujar Xiu.


"Gak ada kok, aku perasaan biasa-biasa aja. Itu cuma perkiraan kamu aja kali sayang!" elak Wein Lao.


"Haish, kamu gak bisa ngeles dari aku! Kamu mending jujur deh sama aku, kenapa kamu jadi kayak gini ha?!" ucap Xiu.


"Ya kamu coba pikir aja sendiri!" ujar Wein Lao.


Pria itu melanjutkan langkahnya begitu saja meninggalkan putri Xiu.


"Ih tunggu!" Xiu berteriak kesal dan mencekal lengan Wein Lao dari belakang.


"Apa lagi sayangku, cantikku?!" tanya Wein Lao.


"Kamu kenapa main pergi aja? Terus sikap kamu juga jadi jutek gitu sama aku, aku salah apa sih sama kamu sayang?" ucap Xiu heran.


"Kamu masih tanya sama aku salah kamu apa? Masa kamu gak mikir sih sayang? Aku itu gak suka lihat kamu lama-lama ngobrol sama Zheng di ruang pengobatan tadi, mikir dong!" ujar Wein Lao.


"Hah??" Xiu terkejut bukan main mendengar jawaban Wein Lao.


Namun, setelahnya Xiu justru terkekeh geli dan membuat Wein Lao makin geram.


"Heh! Kurang ajar ya kamu! Berani banget ngetawain suaminya sendiri, awas kualat loh kamu!" ucap Wei Lao menegur istrinya.


"Maaf Lao maaf! Aku gak bermaksud ngetawain kamu, tapi kamu lucu aja gitu." ujar Xiu.


"Lucu apa sih? Aku ini lagi marah loh sama kamu, jangan kira aku main-main ya sayang!" ucap Wein Lao agak emosi.


Xiu terkejut dengan ucapan Wein Lao yang terdengar keras dan penuh amarah.


"Ka-kamu marah banget ya sama aku? Maafin aku ya Lao, suamiku yang tampan! Kamu jangan emosi gitu dong ah, nanti jadi tambah jelek loh!" ucap Xiu berusaha membujuk suaminya.


"Gimana aku gak emosi? Kamu dikasih tahu sama suaminya malah ketawa kayak gitu, itu sama aja kamu gak anggap aku!" tegas Wein Lao.


"Iya iya, udah dong jangan marah-marah terus! Aku kan udah minta maaf sama kamu, masa kamu belum mau maafin aku?" ucap Xiu.


"Emang belum," ucap Wein Lao singkat.


"Hah? Terus aku harus gimana supaya kamu bisa maafin aku? Kamu mau aku lakuin apa?" tanya Xiu dengan wajah cemas.


"Jangan bikin aku cemburu lagi kayak tadi! Kamu juga harus janji buat nurut sama aku dan gak ketawain aku lagi!" jawab Wein Lao.


"Iya iya Lao, aku janji deh bakal nurut sama kamu dan aku gak akan dekat-dekat sama Zheng supaya kamu gak cemburu lagi! Sekarang kamu maafin aku dong Lao!" ucap Xiu.


"Yaudah, aku maafin kamu. Tapi.." Lao sengaja menjeda ucapannya dan mendekat ke telinga istrinya.


Xiu berdegup kencang saat Wein Lao menyentuh telinga serta lehernya, deru nafas pria itu terasa di bagian tubuhnya dan membuat ia melenguh pelan.


"Tapi apa?" tanya Xiu menatap wajah Wein Lao.


"Malam ini kamu harus pimpin permainan kita!" jawab Wein Lao dengan senyum smirk nya.


"Hah??" Xiu terkejut disertai mulut terbuka lebar mendengar jawaban suaminya.




Kini Xiu dan Wein Lao telah tiba di meja makan tempat mereka akan melangsungkan makan siang bersama yang lainnya disana.


Tampak ratu Lien serta An Ming sudah berada disana lebih dulu, tentu saja mereka langsung menghampiri sang ratu sambil tersenyum.


"Hai mom! Hai An Ming!" sapa Xiu.


Ratu Lien dan An Ming kompak menoleh ke arah Xiu serta Wein Lao, mereka tersenyum dan berbalik menyapa wanita itu.


"Halo juga putriku Xiu yang cantik! Kamu darimana saja sih? Mommy sama adik kamu ini sudah nunggu lumayan lama loh, dia katanya mau ketemu dan bicara sama kamu." ujar ratu Lien.


"Oh ya? Maaf ya mom, An Ming! Tadi itu aku jenguk prajurit yang sakit dulu di ruang pengobatan, makanya aku telat deh datang kesininya." jelas Xiu.


"Gapapa kak, yang penting aku udah bisa lihat kak Xiu sekarang!" ucap An Ming.

__ADS_1


"Emangnya kamu mau bicara apa An Ming?" tanya Xiu dengan wajah penasaran.


"Kamu duduk saja dulu Xiu, kamu juga Lao!" perintah ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Wein Lao menurut.


Mereka pun duduk di hadapan ratu Lien dan An Ming, tak lupa juga Wein Lao menarik kursi untuk Xiu agar istrinya itu lebih muda duduk.


"Silahkan istriku!" ucap Wein Lao.


"Kamu paling bisa deh bikin aku klepek-klepek," ucap Xiu tersenyum lebar.


"Udah duduk aja buru!" ujar Wein Lao.


Xiu mengangguk kecil dan duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh suaminya tadi, Xiu pun kembali menatap ibunya dan juga adiknya di depan sana.


"An Ming, kamu mau bicara apa?" tanya Xiu pada adiknya disana.


"Aku cuma mau tanya sama kakak, ini soal dendam kakak ke Daddy aku. Kira-kira apa dendam kakak sudah hilang sekarang?" ujar An Ming.


Deg!


Xiu terkejut mendengar pertanyaan yang diajukan adiknya, begitupun dengan Wein Lao serta ratu Lien.


"Kenapa kamu tanya begitu sayang sama kakak kamu?" tanya ratu Lien pada putranya.


"Gapapa mom, emangnya salah ya kalau aku mau tahu kak Xiu masih punya dendam apa enggak sama Daddy? Aku cuma takut aja Daddy gak tenang di alam sana kalau kak Xiu masih dendam sama Daddy," ujar An Ming.


Ratu Lien pun melirik ke arah Xiu, sedangkan Xiu justru merunduk bingung berusaha mencari jawaban yang tepat.


"Xiu, kamu jawab aja pertanyaan pangeran An Ming! Kamu sudah gak dendam dengan Xavier kan? Dia juga udah terbunuh, jadi apa yang harus kamu dendamkan lagi?" bisik Wein Lao.


"Aku tahu Lao, tapi aku juga belum tahu apa aku ini benar-benar udah ikhlasin kepergian ayah atau belum." jawab Xiu pelan.


"Sudahlah sayang, ini demi keutuhan keluarga kalian dan istana Quangzi!" ucap Wein Lao seraya menggenggam tangan istrinya.


"I-i-iya.." ucap Xiu lirih.


Lalu, Xiu pun kembali mengangkat kepalanya menatap wajah sang ratu serta An Ming.


"Gimana kak?" tanya An Ming antusias.


An Ming pun tersenyum dan bangkit dari duduknya lalu menghampiri Xiu.


Tiba-tiba saja An Ming memeluk kakaknya dengan erat seraya berkata, "Terimakasih ya kak!"




Wein Lao mendekati tubuh istrinya yang tengah berbaring di ranjang menghadap ke samping.


Pria itu langsung saja menaiki ranjang yang empuk itu dan perlahan menyentuh tubuh istrinya.


Xiu pun terkejut dan spontan menoleh ke wajah suaminya, namun seketika itu juga ia mendapatkan kecupan manis di bibirnya.


Cupp!


Xiu langsung melongok lebar mendapatkan kecupan itu, sedangkan Wein Lao terkekeh saja melihat ekspresi menggemaskan istrinya.


"Kamu gemesin banget sih! Aku makin gak sabar buat makan tubuh kamu lagi seperti semalam! Aku pastikan kali ini kamu gak akan bisa istirahat sayangku!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


"Lao, kamu bicara apa sih? Aku lagi bingung tau, kamu malah mikirin itu aja!" ujar Xiu.


"Bingung apa sayang? Kamu masih mikirin tentang dendam kamu itu?" tanya Wein Lao.


"Enggak Lao, aku cuma takut aja kalau An Ming sebenarnya marah sama aku. Tapi, dia gak mau tunjukin itu di depan kita." jawab Xiu.


"Hus! Kamu gausah mikir yang enggak-enggak gitu ya!" ucap Wein Lao.


"Bukan mikir yang enggak-enggak, tapi emang itu selalu muncul di kepala aku. Aku takut An Ming gak terima dengan kematian ayahnya, terus dia punya rencana buat balas dendam sama aku!" ucap Xiu sangat cemas.


"Kamu bicara apa sih? Tadi kan kamu lihat sendiri gimana sikap An Ming sama kamu, dia baik-baik aja kan ke kamu? Malahan dia juga peluk kamu tadi sambil senyum," ujar Wein Lao.


"Ih itu gak menjamin kalau An Ming gak dendam sama aku, Lao." ucap Xiu.


"Yaudah, sekarang kamu lupain itu dulu ya! Aku pengen minta hak aku dari kamu, dan kamu harus lakuin kewajiban kamu untuk aku!" ucap Wein Lao.


"Ih kamu itu ya!" ujar Xiu geleng-geleng.

__ADS_1


"Abisnya kamu gemesin banget sih! Aku gak bisa tahan lihat wajah kamu yang menggemaskan ini, selalu bikin aku terpesona." ucap Wein Lao.


"Terserah kamu aja deh! Kamu bebas mau ngapain aja sesuka hati kamu!" ucap Xiu pasrah.


"Jangan dong sayang! Khusus kali ini kamu gak boleh cuma diem aja, kamu juga harus bantu aku puasin diri aku!" pinta Wein Lao.


"Apa? Kamu udah gila ya Lao? Aku gak mau ah, aku capek tau!" ucap Xiu menolak.


"Capek apa? Emangnya kamu abis ngapain sih? Udah ya sayang, jangan bantah permintaan suami dosa tau!" ujar Wein Lao.


"Ya iya aku tahu, tapi kan kamu bisa main sendiri tanpa bantuan aku. Udah ya Lao, lagian aku juga gak ngerti gimana caranya!" ucap Xiu.


"Aku bisa ajarin kamu, karena aku maunya kamu yang ada di atas aku!" ucap Wein Lao.


Xiu memalingkan wajahnya ke samping, tiba-tiba Wein Lao menarik tubuhnya hingga kini Xiu sudah berganti posisi berada tepat di atas tubuh Wein Lao suaminya.


"Hah? Kamu apa-apaan sih Lao? Lepasin aku, turunin aku!" ucap Xiu meronta-ronta.


"Kalau aku gak mau gimana? Kamu harus di atas malam ini sayang!" ucap Wein Lao.


"Haish, kamu nyebelin banget sih Lao! Aku kan udah bilang gak bisa, kenapa masih maksa?!" protes Xiu.


"Aku kan udah bilang, aku bakal ajarin kamu. Jadi, kamu harus nurut sama aku ya cantik!" ucap Wein Lao sambil tersenyum.


"Huh ngeselin!" keluh Xiu mendengus kesal.




Alice dan Wingki tengah berada di istana mereka dengan tubuh Terizla yang kini sudah tewas itu masih terus mereka pandangi.


Alice tampak tak terima dengan kematian Terizla di tangan In Lao kemarin, Alice pun amat bersedih serta membenci In Lao.


"Aku benar-benar tidak terima! Raja Lao yang kurang ajar itu harus menerima balasannya! Berani sekali dia membunuh suamiku, memang dia harus diberi pelajaran!" geram Alice.


"Ampun ratu! Tapi, raja Lao bukanlah orang sembarangan. Beliau adalah manusia serigala yang memiliki ilmu tinggi, kekuatannya jauh di atas kita para kaum iblis." ucap Wingki.


"Kamu tidak mengerti bagaimana perasaan ku Wingki! Aku sangat kehilangan suamiku! Mau sekuat apapun raja Lao, dia tetap harus aku habisi!" ujar Alice.


"Aku mengerti kesedihan dan kekesalan mu ratu, tapi sebaiknya kita jangan mencari masalah dengan raja Lao! Kita bisa saja mati terbunuh di tangannya ratu, itu sangat mengerikan!" ucap Wingki memberi usul.


"Dasar pengecut kau Wingki! Apa kau takut dengan raja Lao bodoh itu?!" geram Alice.


"Tidak ratu, hanya saja aku tahu bahwa raja Lao adalah makhluk yang kuat dan sangat sulit untuk bisa mengalahkannya." ucap Wingki.


"Aku tidak perduli dengan semua itu! Aku akan habisi raja Lao dan kirim dia ke neraka!" ucap Alice.


"Tahan ratu! Itu semua tidak bisa ratu lakukan begitu saja, karena raja Lao pasti juga tak mungkin menyerah dengan ratu. Sebaiknya ratu pikirkan dulu strategi yang pas untuk menyerang raja Lao!" usul Wingki.


"Apa kamu punya strategi?" tanya Alice.


"Eee untuk sekarang tidak ratu, tapi aku akan pikirkan lebih dulu." jawab Wingki.


Plaaakk...


"Yasudah, cepat kamu pikirkan strategi yang tepat untuk kita balas dendam pada raja Lao!" perintah Alice sembari menampar wajah Wingki.


"Ba-baik ratu! Aku permisi dulu!" ucap Wingki terbata-bata.


Wingki pun melangkah pergi dari sana meninggalkan Alice berdua dengan mayat Terizla yang sangat ia cintai.


Wanita itu mendekat ke tubuh Terizla dan mengusap wajahnya dengan lembut, tetesan air mata terus jatuh dari pipinya saat ia memandangi tubuh sang suami yang sudah tewas itu.


"Terizla, aku masih tak menyangka ini bisa terjadi padamu suamiku. Rasanya baru kemarin kita menikah dan bersenang-senang, tapi sekarang kamu sudah meninggalkan aku sendirian disini. Aku tidak terima dengan ini Terizla, aku janji akan membalaskan dendam kamu dan menghabisi raja Lao sialan itu!" ucap Alice.


"Apapun itu pasti akan kulakukan demi membuat kamu tenang di alam sana Terizla! Kamu tidak perlu khawatir, nyawa raja Lao pasti akan menjadi balasannya karena dia sudah berani menghabisi kamu suamiku!" tekad Alice.


Kedua tangannya sudah terkepal disertai getaran yang hebat akibat menahan emosi.


Tekad Alice memang cukup besar untuk bisa membalas dendam pada raja Lao.


Namun, ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya dan apakah ia bisa melakukan itu pada raja Lao.


"Sejujurnya aku pun bingung, aku tak yakin bisa mengalahkan raja Lao sialan itu. Benar yang dikatakan Wingki tadi, kekuatanku tak sebanding dengan kekuatannya." batin Alice merasa tidak pede.


Ia hapus air mata di pipinya, lalu bangkit dan pergi dari sana menemui Wingki.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2