
Slaasshh...
Tiba-tiba saja sebuah anak panah meluncur dan hampir mengenai Bowen, semua orang tampak panik ketika panah itu dilesakkan.
"Apa-apaan ini?!" ujar Bowen terkejut.
Semua mata tertuju ke atas dinding istana, tampak seorang wanita berdiri disana mengenakan pakaian serba merah dan wajahnya yang tertutup oleh cadar.
"Siapa kau?" tanya Li Fan pada wanita itu.
Wanita bercadar itu pun meloncat dari atas sana dan turun ke bawah menghampiri orang-orang yang ada disana.
Terlihat semua orang tampak ketakutan saat wanita itu muncul, bahkan semua penonton sedikit mundur karena tak ingin terluka.
Xavier serta ratu Lien pun kompak berdiri, mereka sangat bingung siapa wanita bercadar yang datang dan merusak acara itu.
"Kenapa ini? Siapa wanita itu?" ujar Xavier.
"Entahlah, tapi sepertinya dia juga pendekar yang sakit." ucap ratu Lien.
Wanita bercadar tadi melirik ke arah sang ratu, menatapnya cukup intens dan membuat ratu Lien merasakan ikatan yang kuat di dalam batinnya dengan wanita tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa begitu dia menatapku, aku seperti merasakan adanya ikatan antara diriku dengan dia? Siapa dia sebenarnya?" batin Lien.
Sementara Li Fan yang kesal mulai bergerak menghampiri wanita itu dan mengepalkan dua tangannya.
"Hey! Mau apa kau gadis bercadar?!" ujar Li Fan.
Sontak wanita itu mengalihkan pandangannya ke depan, menatap Li Fan serta kedua pendekar yang ada di dekatnya.
"Jangan diam saja, cepat jawab!" bentak Li Fan.
"Sepertinya dia hanya ingin merusak acara ini, kita serang saja dan habisi dia!" ujar Bowen.
"Jangan! Kita tidak boleh langsung menyerang dia, biar bagaimanapun dia ini seorang wanita! Apa kau tidak memiliki rasa malu? Pendekar mana yang ingin menyerang seorang wanita?" ucap Zheng.
"Diam kau bocah ingusan! Wanita seperti dia harus diberi pelajaran, karena dia sudah merusak acara penting ini!" bentak Bowen.
"Aku tak ingin merusak acara ini, justru kaulah yang merusaknya dengan menggunakan cara yang tidak benar!" ucap wanita itu mengarah pada Bowen.
"Apa maksudmu?" tanya Bowen tak mengerti.
"Kamu tidak usah berpura-pura terus seperti itu, pendekar Bowen! Aku tahu apa yang barusan kau lakukan, kau tidak bertanding secara sportif dalam pertandingan tadi!" jawab wanita itu.
"Kurang ajar! Beraninya kau memfitnah ku, dasar wanita tidak jelas!" umpat Bowen kesal.
"Aku tidak fitnah, aku akan buktikan kalau kau sebenarnya tidak bisa memanah!" ucap wanita itu.
"Silahkan saja! Memangnya apa yang bisa kau lakukan gadis payah?" ujar Bowen.
Wanita itu tersenyum smirk, kemudian mengangkat busurnya dan melesakkan anak panah dengan begitu cepat.
Slaasshh...
Anak panah itu berhasil menembus anak panah milik Bowen yang tertancap pada target di atas sana, dan seketika aksinya itu mengundang perhatian dari para penonton yang terpukau.
Bowen sendiri pun tak menyangka akan hal itu, sedangkan wanita tersebut hanya tersenyum lalu kembali menarik busurnya dan melesakkan cukup banyak anak panah.
Semua anak panahnya mengarah tepat ke target dan berhasil menembus anak panah milik Bowen hingga terkelupas.
"Apa-apaan ini? Siapa wanita ini? Kenapa dia sangat ahli memanah?" batin Bowen merasa cemas.
Semua orang terdiam membisu, mereka dibuat terpukau dengan kemampuan memanah dari si wanita yang tidak mereka kenali itu.
"Kalau hanya memanah secara asal dan berhasil mengenai target dengan tepat, aku juga bisa pendekar Bowen. Jadi, sebaiknya kau buktikan kemampuan mu dengan cara bertanding denganku saat ini juga!" ucap wanita itu mengajukan tantangan pada Bowen.
"Apa? Kau menantang ku wahai gadis aneh? Berani sekali kau berbuat seperti itu!" ujar Bowen.
"Kenapa? Kau takut?" ucap wanita itu.
"Tunggu dulu wanita bercadar! Kau tidak bisa sembarangan menantang pendekar Bowen begitu saja, kau harus tahu sekarang ini kau berada dimana!" ucap Li Fan.
"Aku tahu paman, aku sedang berada di istana Quangzi. Lantas mengapa? Apa sekarang istana ini sudah tidak perduli lagi dengan yang namanya kejujuran?" ucap wanita itu.
"Kau membicarakan apa? Kalau kau memang benar-benar ingin menantang pendekar Bowen, kau harus membuka cadar mu terlebih dahulu dan tunjukkan identitas aslimu terhadap kami semua!" ucap Li Fan.
Sontak wanita itu melongok dibuatnya, ia tak mungkin melepas cadar itu dari wajahnya karena khawatir identitasnya akan terkuak.
"Bagaimana ini? Aku sepertinya telah salah bertindak!" batin wanita itu.
...*Ilustrasi wanita bercadar...
•
•
Sementara itu, Chen menemui kedua orangtuanya dengan wajah panik.
__ADS_1
"Ibu, ayah ini gawat!" ucapnya.
"Chen? Bagaimana kamu bisa berada disini?" ujar Luan terheran-heran.
"Panjang ceritanya Bu, jadi tadi Xi Mei minta dianterin buat nonton sayembara. Yaudah, aku anterin aja dia kesini karena aku gak tega sama dia. Tapi, sekarang Xi Mei malah naik ke panggung dan bikin suasana kacau!" jelas Chen.
"Apa? Jadi, maksud kamu wanita bercadar yang ada di depan itu, Xi Mei?" ujar Luan terkejut.
"Iya Bu, tadi Xi Mei marah karena merasa Zheng dicurangi. Makanya Xi Mei menyamar dan mau buktikan kecurangan itu," jawab Chen.
"Ya ampun, Xi Mei nekat banget sih!" ujar Luan.
"Pak, gimana dong ini?" tanya Luan pada Ryu.
"Aku juga gak tahu, kita coba lihat saja apa yang akan Xi Mei lakukan!" jawab Ryu.
"Duh, bagaimana kalau Xi Mei sampai ketahuan oleh pihak istana? Ini gawat banget!" ujar Luan.
"Tenang Bu! Aku yakin Xi Mei tidak mungkin semudah itu melepas cadarnya, dia pasti sudah memikirkan semuanya!" ucap Ryu.
"Iya deh pak, semoga aja!" ucap Luan.
#Flashback
"Kak, ini udah gak bener sih. Aku yakin pendekar itu curang! Ini gak bisa dibiarin kak!" ucap Xi Mei.
Ya Xi Mei semakin merasa kesal dengan apa yang dilihatnya saat ini, yang mana pendekar Bowen dianggap berbuat curang karena anak panahnya tidak ada satupun yang meleset.
"Xi Mei, kamu sabar ya! Mungkin aja emang pendekar itu ahli memanah, jadi kamu gak boleh mikir begitu dong!" ucap Chen.
"Ahli apanya sih kak? Kelihatan jelas kok dia curang, masa anak panahnya bisa belok begitu?!" ucap Xi Mei.
"Ya mungkin aja itu keahliannya," ujar Chen.
"Ish, kakak itu terlalu positif deh! Jelas-jelas itu namanya curang, aku gak terima Zheng dicurangi kayak gitu!" geram Xi Mei.
"Terus kamu mau apa Xi Mei?" tanya Chen.
Xi Mei mengeluarkan cadar dari sakunya, lalu mengikat itu untuk menutupi wajahnya.
"Ngapain kamu pake itu?" tanya Chen heran.
"Aku harus turun kesana, dan buktikan kalau pendekar itu emang curang. Aku gak terima Zheng kalah karena dicurangi!" jawab Xi Mei.
"Tapi Xi Mei, itu sangat berbahaya buat kamu! Gimana kalau kamu ketahuan?" ucap Chen.
"Aku bisa atasi semuanya kak, intinya aku harus tunjukkan kebenaran!" ucap Xi Mei.
"Tenang aja kak! Aku pasti bisa lakuin semuanya!" ucap Xi Mei.
"Ta-tapi..." belum sempat Chen menyelesaikan ucapannya, namun Xi Mei sudah langsung memulai aksinya dan melesakkan anak panah ke atas panggung.
#Flashback end
•
•
"Kenapa kamu diam saja? Cepat buka cadar mu dan tunjukkan wajahmu pada kami!" ucap Li Fan.
Xi Mei yang masih memakai cadarnya itu terdiam kebingungan, ia tak tahu harus bagaimana untuk bisa menghindari semua itu.
"Sudahlah jenderal, kita tidak perlu ladeni dia! Karena dia ini hanya bicara omong kosong, sebaiknya kita segerakan saja prosesi kemenangan ku kali ini!" ucap Bowen.
"Baiklah, kau akan segera diberikan penghargaan atas kemenangan mu yang berhasil mengalahkan cukup banyak pendekar!" ucap Li Fan.
"Namun, wanita ini harus pergi lebih dulu dari sini! Prajurit, cepat seret wanita ini keluar!" sambung Li Fan memberi perintah pada prajurit istana.
"Baik jenderal!" ucap prajurit itu.
Tiga orang prajurit naik ke atas panggung, bersiap membawa Xi Mei turun dari sana.
"Tunggu!" Xi Mei menahan prajurit itu.
"Kenapa? Apa kau berubah pikiran dan ingin menunjukkan wajahmu di hadapan kami semua?" tanya Li Fan.
"Iya, aku akan buka cadar ku ini. Tapi, izinkan aku untuk menantang pendekar curang ini!" ucap Xi Mei.
"Kamu bisa menantangnya, dan apabila kau menang kau juga akan menggantikan pendekar Bowen untuk menjadi pemenang sayembara ini." kata Li Fan.
"Apa? Tidak bisa begitu dong, ini curang namanya! Wanita ini tidak mengikuti sayembara dari awal, jadi—"
Slaasshh...
Ucapan pendekar Bowen terpotong oleh Xi Mei yang langsung melesakkan anak panahnya menuju target di setiap bagian sayembara tadi hingga mengenai angka sempurna.
"Bagaimana? Apa kamu masih bilang aku curang? Aku sudah mendapat nilai yang sama denganmu, jadi aku berhak menantang mu sekarang dan kita akan bertarung untuk membuktikan siapa yang paling jago diantara kita!" ucap Xi Mei.
Kali ini giliran Bowen yang terdiam, ia syok dengan kemampuan Xi Mei dalam melesakkan anak panahnya.
__ADS_1
"Kurang ajar! Kenapa dia bisa sejago ini? Siapa dia sebenarnya?" batin Bowen cemas.
Sementara Li Fan tampak terpukau dengan kemampuan Xi Mei, ia memerintahkan prajuritnya untuk mundur dan membiarkan Xi Mei untuk tetap berada disana.
"Ternyata kau lumayan hebat, sungguh sangat menarik dan aku semakin tidak sabar untuk menantikan duel diantara kalian!" ucap Li Fan.
"Aku pun begitu, tapi entahlah dengan pendekar curang ini. Sepertinya dia tidak berani bertarung denganku," ucap Xi Mei tersenyum smirk.
"Hey, jaga bicara mu! Siapa bilang aku tidak berani? Aku akan mengalahkan mu, dan buktikan kalau aku tidak curang!" tegas Bowen.
"Baiklah, aku nantikan itu!" ucap Xi Mei santai.
Tanpa berlama-lama lagi, akhirnya Li Fan memulai duel diantara pendekar Bowen dengan wanita bercadar yang tak lain ialah Xi Mei itu.
Namun, tentunya Li Fan menagih janji Xi Mei untuk membuka cadarnya sebelum pertarungan itu dimulai.
"Ayolah wanita, buka cadar mu dan perkenalkan dirimu di hadapan kami semua!" pinta Li Fan.
Xi Mei mengangguk pelan dan mulai memegang cadar yang menutupi wajahnya, ia berniat membuka cadar itu dan menunjukkan wajahnya.
•
•
Chen, Luan, serta Ryu yang menyaksikan itu merasa was-was saat Xi Mei hendak membuka cadarnya.
Mereka khawatir jika nantinya pihak istana ada yang menyadari bahwa wanita itu ialah putri Xiu yang telah lama hilang.
"Bagaimana ini? Kenapa Xi Mei begitu nekat dan ingin melepas cadarnya?" ujar Luan cemas.
"Entahlah, aku rasa dia sudah punya rencana dengan semua yang ia lakukan ini. Kita cukup lihat saja apa yang akan dia lakukan selanjutnya!" ucap Ryu mencoba tenang.
Mereka pun terus menatap ke depan menyaksikan apa yang akan dilakukan oleh Xi Mei setelah ini, tentunya dengan perasaan cemas.
"Ryu, kita harus bersiap-siap! Barangkali nantinya Xi Mei ketahuan oleh raja Xavier, kondisi pasti akan gawat dan Xi Mei bisa langsung ditangkap olehnya!" ucap Luan masih panik.
"Tenang saja Luan! Kita doakan saja yang terbaik untuk Xi Mei!" ucap Ryu.
"Iya Bu, Xi Mei pasti tidak akan ketahuan! Aku yakin dia bisa mengatasi semuanya! Xi Mei anak yang pintar dan licik, dia juga pandai bersandiwara." sahut Chen ikut menenangkan ibunya.
"Ya semoga saja!" ucap Luan singkat.
Tampak di depan mata mereka saat Xi Mei perlahan-lahan mulai membuka cadarnya dan menunjukkan wajahnya di hadapan mereka semua.
Sontak mereka bertiga kompak menganga lebar, wajah Xi Mei nampak bersinar dan membuat seluruh orang disana terpukau oleh kecantikannya.
"Bu, itu benar Xi Mei?" tanya Chen terkejut.
"Iya Chen, memang benar itu Xi Mei." jawab Luan.
"Tapi, kenapa dia bisa jadi secantik ini?" tanya Chen heran.
"Entahlah, ibu juga bingung." jawab Luan.
Zheng, Bowen, Li Fan, bahkan raja dan ratu disana tampak terpesona dengan kecantikan wajah Xi Mei yang begitu bersinar.
Sementara Xi Mei sendiri terus menatap sekeliling dan merasa heran dengan reaksi dari orang-orang disana yang kompak terdiam.
"Ada apa?" tanya Xi Mei pada Li Fan.
"Eee kami semua hanya terkejut dengan wajahmu, kamu begitu cantik wanita!" jawab Li Fan gugup.
"Oh, terimakasih!" ucap Xi Mei singkat.
"Siapa namamu wanita?" tanya Li Fan padanya.
"Zhao Xi Mei, itulah namaku.." jawab Xi Mei mengenalkan dirinya sembari membungkuk.
"Nama yang indah!" ucap Li Fan memujinya.
"Sepertinya mereka semua tidak ada yang mengenali diriku, syukurlah!" batin Xi Mei merasa sedikit lega.
Zheng pun menghampiri Xi Mei dan berbisik di telinganya.
"Xi Mei, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Zheng padanya.
"Tenanglah Zheng! Disini aku akan membela mu, jadi kamu tidak perlu khawatir! Aku tahu pria itu berlaku curang tadi," jawab Xi Mei ikut berbisik.
"Baiklah, tapi kau berhati-hatilah! Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu!" ucap Zheng.
Xi Mei mengangguk pelan, kemudian Zheng pun memundurkan langkahnya dan membiarkan Xi Mei melakukan aksinya menantang pendekar Bowen seperti yang dikatakannya tadi.
"Baiklah, karena kita sudah mengetahui siapa sosok gadis dibalik cadar ini. Maka sudah saatnya kita mulai pertandingan selanjutnya pada sayembara kali ini, yang mempertemukan antara dua orang pendekar sakti, yakni Bowen dan Zhao Xi Mei!" ucap Li Fan cukup bersemangat.
Orang-orang disana pun kompak bertepuk tangan setelah Li Fan menyelesaikan ucapannya, mereka tampak gembira dengan kemunculan Xi Mei.
Xi Mei menatap ke arah sang ratu, lalu memberi senyuman tipis yang tentunya dibalas oleh ratu Lien dengan sebuah anggukan pelan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...