Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 115. Cinta atau tidak?


__ADS_3

"Aku akan membantumu," ucap In Lao.


Xiao Tien yang sedang terjatuh, mendongak ke arah lelaki di dekatnya. Ia terkejut melihat sosok raja serigala tersenyum sembari mengulurkan tangan ke depan wajahnya.


"Raja Lao?" Xiao menatap tak percaya, seketika luka di kakinya terasa hilang begitu saja.


"Kenapa? Ayo cepat saya bantu! Wein Lao gak bisa bantu kamu karena dia harus susul istrinya, jadi saya aja yang tolongin kamu ya," ucap In Lao.


"I-i-iya yang mulia, terimakasih!" ucap Xiao Tien.


Akhirnya gadis itu meraih tangan In Lao dan dengan bantuan sang raja serigala itu, kini Xiao berhasil berdiri seperti biasa.


"Awhh sshh!!" Xiao merintih menahan sakit di kakinya.


"Kaki kamu masih sakit?" tanya In Lao.


"Iya raja," jawab Xiao dengan wajah menunduk.


"Biar saya sembuhkan luka kamu, tapi kamu harus tahan sedikit ya!" ucap In Lao.


"Eee ta-tapi raja—"


"Tenang saja! Saya bisa sembuhkan kamu kok, percaya sama saya!" potong In Lao.


"Ba-baik raja Lao!" ucap Xiao Tien gugup.


"Tahan ya!" pinta In Lao.


Xiao Tien mengangguk kecil, lalu In Lao pun melepas rangkulannya dan bersiap menyembuhkan luka gadis itu menggunakan ilmu khas serigala.


"Ilmu ini sudah turun temurun dari leluhur ku, sudah dipastikan ini baik untukmu!" ucap In Lao.


Slaasshh...


"Kurang ajar! Apa itu?!" geram In Lao.


In Lao yang hendak menyembuhkan luka Xiao Tien, terkejut hebat saat tiba-tiba sebuah anak panah melesat dan menancap ke tanah.


Hampir saja raja serigala itu terkena tancapan anak panah tersebut, untungnya dia memiliki insting baik di atas rata-rata sehingga dapat menghindari anak panah itu.


Xiao Tien yang melihatnya juga ikut terkejut, dia terlihat khawatir pada sang raja.


"Yang mulia, apa yang mulia tidak apa-apa? Panah itu tidak melukai tubuh yang mulia kan?" tanya Xiao Tien sangat cemas.


"Ah aku baik-baik saja, untungnya tadi aku sempat menghindar sebelum panah itu menghujam tubuhku," jawab In Lao dengan santai.


"Syukurlah! Tapi, siapa kiranya yang berani melesakkan anak panah itu kesini ya raja? Apa sekarang Quangzi sudah tidak aman lagi?" ujar Xiao Tien.


"Kenapa kamu bicara begitu? Disini aman kok, kamu tidak perlu takut! Aku bisa tahu siapa pelakunya," ucap In Lao.


"Baiklah yang mulia," ucap Xiao Tien singkat.


"Yasudah, mari aku obati lagi lukamu! Maaf tadi ada halangan sebentar!" ucap In Lao.


"Ya yang mulia," ucap Xiao Tien.


In Lao kembali memegang kaki gadis itu, dan menggunakan kekuatannya untuk menyembuhkan penyakit Xiao Tien.


"Akh awhh sshh!" Xiao merintih menahan sakit saat kakinya tengah diobati In Lao.


"Tahan Xiao! Sebentar lagi lukamu akan sembuh, ini hanya perlu sedikit pengobatan," ucap In Lao.


"I-i-iya yang mulia, tapi ini sakit sekali, bahkan lebih sakit dari pengobatan tabib istana!" keluh Xiao Tien.


"Kamu harus bisa tahan jika mau sembuh!" ucap In Lao.


Xiao mengangguk lemah, sedangkan In Lao masih terus mengobati luka di kaki Xiao dengan kekuatannya.


Akhirnya pengobatan selesai, Xiao terlihat lebih berenergi dan kakinya terasa ringan untuk digerakkan.


"Wah lukaku sudah hilang, terimakasih yang mulia!" ucap Xiao Tien.




"Sabar tuan putri, tenanglah!" pinta Chen.


Xiu mendengus kesal dengan tatapan mata terus mengarah ke sosok Fey Chu, sedangkan Chen tampak sangat bingung saat ini.


"Tuan putri, mari duduk dulu!" ucap Chen.


"Tidak, aku pergi saja dari sini," tolak Xiu


"Mengapa begitu tuan putri?" tanya Chen heran.


Disaat Xiu hendak pergi, dia justru dikejutkan dengan kedatangan seorang pria disana.


"Xiu tunggu!" panggil si pria.


"Wein Lao?" ucap Xiu lirih saat mendapati suaminya datang kesana.


"Kamu mau apa kesini?" tanya Xiu.


Wein Lao langsung mencekal lengan Xiu untuk mencegah wanita itu agar tidak pergi.

__ADS_1


"Ih kamu apa-apaan sih?! Lepasin aku!" Xiu coba berontak dari pegangan Wein Lao, tetapi gagal.


"Sebentar sayang, aku mau bicara dulu sama kamu! Kamu ikut aku ya, kita ngobrol berdua supaya aku bisa jelasin semuanya!" ucap Wein Lao.


"Kamu gak bisa maksa aku dong, aku kan gak mau ngobrol sama kamu," ucap Xiu lantang.


"Aku tahu kamu lagi marah sama aku, gara-gara aku tolongin Xiao tadi. Makanya sekarang aku mau minta maaf sama kamu, sekalian jelasin kalau aku gak ada maksud apa-apa ke Xiao," ujar Wein Lao.


"Itu bukan masalah yang penting, jadi kamu gak perlu jelasin. Aku sekarang mau pulang ke istana, jangan halangi aku!" ucap Xiu.


"Oke, aku antar ya!" ucap Wein Lao.


Xiu menggeleng, menarik paksa tangannya hingga Wein Lao terpaksa melepaskannya.


"Aku bisa pulang sendiri," ketus Xiu.


"Janganlah sayang! Kamu sama aku aja ya, aku gak mau kamu pulang sendirian. Nanti kalau kamu kenapa-napa gimana?" ucap Wein Lao.


"Aku bakal baik-baik aja kok, aku bisa jaga diri aku sendiri!" ucap Xiu.


Xiu berbalik, hendak menaiki kudanya. Namun, lagi-lagi Wein Lao menahannya dengan memegangi dua pundaknya.


"Pokoknya aku mau antar kamu, titik!" tegas Lao.


"Kamu apa sih Lao?! Aku bilang enggak ya enggak, kamu jangan paksa aku kayak gini dong!" ujar Xiu.


"Aku gak perduli, aku gak akan lepasin kamu sebelum kamu mau diantar sama aku!" ucap Wein Lao dengan tatapan tajam.


Xiu berusaha menarik-narik tangannya agar lepas dari cengkraman Wein Lao, tetapi tidak berhasil.


"Tuan putri, pangeran!" sepasang suami-istri itu terkejut saat Chen tiba-tiba mendekat dan memanggil mereka.


"Ada apa Chen?" tanya Wein Lao.


"Maaf pangeran! Tapi, ada baiknya pangeran dan tuan putri tidak bertengkar disini. Jika sampai hal ini diketahui musuh, akan sangat berbahaya. Bisa saja mereka menganggap keluarga istana mudah dipecah belah," ucap Chen.


Wein Lao terdiam sejenak, menatap Xiu dan berpikir mengenai perkataan Chen.


"Benar juga yang kamu katakan Chen, memang tidak pantas kita bertengkar disini. Sudahlah Xiu, kamu menurut saja denganku dan kita pulang ke istana bersama!" ucap Wein Lao.


"Kamu selalu saja ingin dimengerti, tapi kamu tidak pernah mengerti perasaan aku Lao! Harusnya kamu tahu, aku gak suka lihat kamu dekat-dekat apalagi sampai sentuhan sama perempuan lain!" ucap Xiu kesal.


"Iya aku paham perasaan kamu, aku minta maaf! Aku janji gak akan mengulangi kesalahan aku itu, maafin aku ya Xiu!" rengek Wein Lao.


Xiu memalingkan wajahnya, namun dengan segera Wein Lao menariknya dan mencuri satu kecupan di bibir sang istri.


Cup!


Chen yang menyaksikan itu dengan mata kepalanya sendiri, merasa kaget sekaligus iri karena ini pertama kalinya dia melihat dua orang berciuman secara langsung.


"Maaf! Abisnya aku gemas banget sama bibir kamu, karena kamu itu kalau lagi ngambek kelihatan makin imut," ucap Wein Lao.


"Haish, dasar aneh!" ujar Xiu.


Xiu berbalik dan pergi mendekati kudanya, Wein Lao masih terkekeh menatap punggung wanita itu.


"Hey Xiu! Aku tidak diajak?" teriak Wein Lao.


"Cepatlah!" perintah Xiu yang sudah menaiki kudanya.


"Baiklah!" ucap Wein Lao patuh.




"Lian!!" suara teriakan seorang pria itu membuyarkan obrolan mereka.


Tampak Shi Yuqi alias sang ayah dari Feng Lian muncul disana, pria itu menatap wajah putrinya serta An Ming dengan nafas tersengal-sengal.


"Lian, mengapa kamu pergi begitu saja?" tanya Shi Yuqi pada putrinya.


"Ayah, maafkan aku! Aku tadi melihat pangeran An Ming sedang bertengkar dengan Tachi disini, maka dari itu aku datang membantunya. Sekali lagi aku minta maaf ayah!" jelas Feng Lian.


"Tidak apa-apa, sekarang ayo kamu pulang! Ajak saja pangeran An Ming!" ucap Shi Yuqi.


"Baik ayah!" Feng Lian menuruti perintah ayahnya. Ia kini melirik An Ming bermaksud mengajak pangeran kecil itu pergi bersamanya, "Pangeran, kamu ikut aja sekalian ke rumah aku!" ucapnya sambil tersenyum.


An Ming mengangguk disertai senyuman, dia melirik sekilas ke arah Tachi dan menggandeng lengan Feng Lian.


"Ayo sayang, aku tidak sabar ingin segera mengenalkan kamu pada ibu!" ucap An Ming.


"Sabar ya pangeran! Aku harus siap-siap dulu sebelum bertemu ratu, aku gak mau bikin pangeran kecewa nanti," ucap Feng Lian.


"Tentu, tapi aku yakin seperti apapun tampilan mu, pasti aku tidak akan kecewa!" ucap An Ming.


"Terimakasih pangeran!" Feng Lian menunduk menahan malu, sedangkan An Ming yang gemas tampak terus mencolek dagunya.


Mereka pun melangkah sama-sama menuju rumah gadis itu, dengan Shi Yuqi berada di depan dan Zheng di belakangnya.


Sesampainya di kediaman Feng Lian, gadis itu langsung memberikan minuman kepada An Ming dan juga Zheng.


"Pangeran, silahkan diminum!" ucap Feng Lian menaruh gelas minuman di meja. "Paman Zheng, ayo diminum dulu!" sambungnya.


"Terimakasih cantik!" ucap An Ming sambil tersenyum dan mengambil gelas itu.

__ADS_1


"Sama-sama, kalo gitu aku ke kamar dulu ya? Pangeran tunggu sebentar, aku gak akan lama kok!" ucap Feng Lian.


"Siap!" ucap An Ming singkat.


Setelahnya, gadis itu bangkit dan pergi ke kamarnya. Shi Yuqi kini muncul untuk menemani An Ming ngobrol selagi Feng Lian bersiap di dalam kamar.


"Eee pangeran, ini maaf sebelumnya! Tapi, ada alasan apa ya pangeran mau ajak putri saya ke istana?" tanya Shi Yuqi.


"Loh, paman ini bagaimana sih? Saya bawa Lian ke istana menemui ibu ratu, karena saya ingin segera menikahi dia," jawab An Ming mantap.


"Apa??!" Shi Yuqi terkejut bukan main.


"Kenapa paman? Kok paman terlihat kaget gitu? Apa paman tidak suka jika aku ingin membawa Lian ke istana?" tanya An Ming curiga.


"Eee bukan begitu pangeran, tapi apa ini tidak terlalu cepat?" jawab Shi Yuqi.


"Tentu tidak, pernikahan itu harus disegerakan supaya tidak terjadi sesuatu yang buruk. Kalau aku ingin menikahi Lian Minggu depan, apa paman keberatan?" ucap An Ming.


"Mi-minggu depan?" Shi Yuqi kembali terkejut mendengar perkataan pangeran kecil itu.


"Ya paman, aku sudah tidak sabar ingin segera menikah dengan putrimu. Dia itu sangat cantik, aku terpesona padanya!" ucap An Ming.


Shi Yuqi tersenyum saja, sedangkan Zheng tampak menggelengkan kepalanya melihat kelakuan An Ming yang dewasa sebelum waktunya itu.


"Pangeran!" An Ming terkejut saat suara lembut memanggilnya, ia mengerjapkan mata menatap Feng Lian yang baru keluar dari kamarnya.


"Aku sudah siap," ucap gadis itu yang membuat An Ming melongok lebar.




Keesokan harinya, Xiu menemui Feng Lian yang saat ini memang sudah tinggal di istana atas kemauan An Ming.


Xiu tersenyum dan mendekati calon iparnya itu bersama dua orang pelayan, dia mencoba untuk ramah dengan gadis disana.


"Lian!" Xiu menyapanya lembut.


"Eh tuan putri? Ada apa?" Feng Lian berbalik dan menatap Xiu sambil tersenyum.


"Kamu jangan memanggilku dengan sebutan tuan putri! Kita ini calon saudara, kamu panggil saja aku Xiu atau kak Xiu," pinta Xiu.


"Eee tapi aku tidak enak, tuan putri. Bagaimanapun juga, aku ini kan hanya gadis desa biasa," ucap Feng Lian menunduk.


"Tidak perlu merasa tidak enak padaku Lian! Kamu dan aku itu sama, kita semua disini juga sama. Jadi, panggil saja aku Xiu ya!" ucap Xiu.


"Ba-baik tuan putri!" ucap Feng Lian terbata-bata.


"Nah kan, masih aja begitu," cibir Xiu.


"Eee ma-maaf tuan putri! Aku belum terbiasa jika harus memanggil mu dengan sebutan nama, maafkan aku!" ucap Feng Lian.


"Baiklah, tidak apa. Untuk kali ini aku maafkan kamu, tapi lain kali jangan diulangi lagi ya!" ucap Xiu.


"Iya tuan putri, aku mengerti!" ucap Feng Lian.


"Kalau mengerti, ayo dong jangan panggil aku tuan putri terus!" ujar Xiu.


"Umm, iya tuan putri.. eh maksudku kak Xiu," ucap Feng Lian meralat ucapannya sendiri.


"Itu lebih baik, biasakan begitu ya!" ucap Xiu.


Feng Lian mengangguk saja, jantungnya berdegup kencang karena ini pertama kalinya dia menatap dan berinteraksi langsung dengan putri Xiu.


"Bolehkah aku bicara denganmu sebentar, Lian?" tanya Xiu mendekati gadis itu.


"Eee tentu saja tuan putri, maksudku kak Xiu.." Feng Lian menjawab dengan gugup.


Xiu menggeleng pelan disertai senyum manisnya, "Kalau begitu, mari kita duduk dan bicara disana!" ajak Xiu.


"I-i-iya kak.." Feng Lian menurut saja, mengikuti langkah kaki Xiu menuju tempat duduk di depan sana.


Kedua wanita itu pun duduk berdampingan, mereka saling menatap sambil tersenyum ramah.


"Apa yang kak Xiu ingin bicarakan denganku?" Feng Lian penasaran dan coba menanyakan langsung pada putri Xiu.


"Kamu tidak perlu takut! Aku hanya mau memastikan padamu, apakah kamu memang benar-benar bersedia untuk menikah dengan adikku atau kamu hanya terpaksa?" ucap Xiu menjelaskan maksudnya.


"Eee aku..." Feng Lian terlihat bingung, dia menundukkan wajahnya sembari berpikir sejenak sebelum menjawab.


"Kenapa? Kamu katakan saja yang sejujurnya, jangan takut!" ucap Xiu.


"I-i-iya kak, aku memang bersedia menikah dengan pangeran An Ming," jawab Feng Lian.


"Kamu yakin? Kamu cinta sama An Ming?" tanya Xiu sekali lagi.


Feng Lian kembali dibuat bingung, Xiu menyadari ada yang tidak beres dengan sikap gadis itu saat ditanyakan hal tadi.


"Lian, kamu—"


"Kak Xiu!" suara teriakan lelaki itu membuyarkan semuanya, Xiu dan Feng Lian pun menatap ke arah yang sama dimana terdapat An Ming disana.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2