
"Mommy!" panggil An Ming sambil tersenyum.
"Ah An Ming, Xiu! Kalian ini darimana aja sih? Mommy khawatir tau!" ujar ratu Lien.
"Maaf mom! Aku tadi ada urusan sebentar, tapi emangnya panglima Gusion gak bilang sama mommy kalau aku dan Lao udah mau pulang?" ucap Xiu.
"Bilang kok sayang, tapi tetap aja mommy khawatir karena kamu gak bilang-bilang!" ucap ratu Lien.
"Iya mom, maafin aku ya!" ucap Xiu.
"Gapapa, emangnya kamu abis ngurusin apa sih sayang? Perasaan lama banget pergi keluarnya," tanya ratu Lien penasaran.
"Eee iya gini mom, jadi tadi tuh aku ketemu sama raja Ling dan selesaiin urusan aku sama dia. Sekarang gak ada kesalahpahaman lagi deh antara aku dan dia," jelas Xiu.
"Oh ya? Berarti raja Ling sudah tau kalau kamu bukan pembunuh ayahnya?" tanya ratu Lien.
"Benar mom! Aku senang banget, sekarang aku sama raja Ling udah baikan! Jadinya aku gak punya musuh lagi deh mom," jawab Xiu.
"Baguslah sayang!" ucap ratu Lien.
Mereka berpelukan sejenak disana sambil saling tersenyum dan mengusap satu sama lain.
Sementara An Ming berdiam di tempatnya dan terus memandangi wajah ibu serta kakaknya.
"Oh ya, An Ming juga mau bicara loh sama mommy." ucap Xiu yang kini telah melepas pelukannya.
"Hah? Bicara?" ratu Lien terkejut dan beralih menatap putranya. "Kamu mau bicara apa sama mommy, sayang?" tanyanya pada An Ming.
"Begini mom, aku pengen minta izin sama mommy kalau aku mau bawa calon istri aku ke istana buat ketemu sama mommy dan tinggal disini." jelas An Ming.
"Hah? Apa?? Calon istri kamu? Maksudnya gimana?" tanya ratu Lien terkejut bukan main.
An Ming senyum-senyum saja menatap wajah ibunya, ia sudah tidak sabar ingin segera membawa Feng Lian ke istana dan bertemu dengan ibunya disana.
"An Ming, kamu jelasin ke mommy sekarang! Siapa calon istri kamu yang kamu maksud itu?" tanya ratu Lien penasaran.
"Iya mom, dia itu..."
"Permisi ratu!" ucapan An Ming terjeda saat Gusion tiba-tiba muncul dengan wajah panik.
Sontak ratu Lien serta yang lainnya kompak menoleh ke arah Gusion dengan penasaran.
"Gusion? Ada apa?" tanya ratu Lien.
"Maaf ratu atas kelancangan hamba! Tapi, di depan ada seseorang yang datang dan ingin menemui ratu." jawab Gusion.
"Menemui ku? Siapa dia?" tanya ratu Lien.
"Hamba tidak tahu dia siapa, tetapi dia perempuan dan dia memaksa untuk masuk." jelas Gusion.
"Baiklah, suruh dia kemari!" perintah ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Gusion.
Gusion pun berbalik dan pergi ke depan untuk menyuruh perempuan yang ingin menemui ratu Lien masuk ke dalam.
Sementara Xiu tampak penasaran dengan siapa orang yang ingin menemui ibunya, ia khawatir kalau orang itu adalah musuhnya.
"Mom, kenapa orang itu malah disuruh masuk? Kalau dia macam-macam gimana?" tanya Xiu.
"Tenanglah putriku! Dia tidak mungkin bisa berbuat apa-apa disini, kamu tenang saja!" ucap ratu Lien.
"Baiklah mom! Tapi, siapa ya kira-kira orang yang cari mommy?" ujar Xiu.
"Aku juga tidak tahu, kita tunggu saja sampai Gusion kembali!" ucap ratu Lien.
"Ya mommy," ucap Xiu menurut.
•
•
"Hey kamu, ayo masuk dan ikuti aku!"
Gusion yang telah kembali ke depan itu meminta pada sosok perempuan tersebut untuk masuk mengikutinya.
Wanita itu pun tersenyum, lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam istana Quangzi melewati Zheng yang berjaga disana.
Namun, Zheng dengan keberaniannya berusaha mencegah wanita itu karena ia khawatir akan terjadi sesuatu di dalam sana.
"Panglima, apa ini atas perintah ratu?" tanya Zheng.
"Kau pikir aku akan bertindak sendiri tanpa perkataan ratu?" Gusion justru balik bertanya.
"Ah tidak, aku hanya bertanya." ucap Zheng.
"Tentu saja ratu yang memintanya, biarkan dia masuk karena itu perintah ratu!" ucap Gusion.
"Baik panglima!" ucap Zheng.
Zheng akhirnya menyingkir dari hadapan wanita itu, membiarkan dia masuk ke dalam istana bersama Gusion.
"Aku heran dengan wanita itu, siapa sebenarnya dia dan mau apa dia datang kesini?" gumam Zheng.
"Kamu jangan terlalu khawatir begitu Zheng!" ucap Lu Ching Yao yang mendekat ke arah pria itu.
"Ah guru, aku hanya cemas dia akan berbuat yang tidak-tidak di dalam sana!" ucap Zheng.
"Kalau begitu, kenapa kamu tidak susul mereka ke dalam untuk berjaga-jaga?" tanya guru Yao.
"Tapi, panglima tidak memintaku masuk. Aku takut salah langkah guru," jawab Zheng.
__ADS_1
"Tenang saja! Niatmu itu kan baik, jadi tidak mungkin salah!" ucap guru Yao.
"Baiklah guru, kalau begitu aku ke dalam dulu? Permisi guru!" ucap Zheng cemas.
Guru Yao mengangguk pelan, sedangkan Zheng langsung melangkah pergi ke dalam istana menyusul Gusion serta wanita tadi.
Tak lama kemudian, Ryu muncul dengan wajah herannya setelah melihat kecemasan di wajah Zheng barusan.
"Maaf guru Yao! Ada apa ini?" tanya Ryu.
"Eh Ryu, tidak kok tidak ada apa-apa. Tadi hanya ada seorang wanita datang kesini dan dia ingin bertemu dengan ratu, tapi sekarang wanita itu sudah dibawa masuk oleh panglima." jelas Yao.
"Wanita? Siapa wanita yang ingin bertemu ratu malam-malam begini?" tanya Ryu.
"Entahlah, dia tidak mau menyebutkan namanya. Aku juga tidak tau dia siapa," jawab guru Yao.
"Lalu, kenapa Zheng sangat cemas tadi?" tanya Ryu penasaran.
"Dia khawatir jika wanita itu berbuat macam-macam di dalam sana," jawab guru Yao.
"Aku jadi ikut khawatir," ucap Ryu.
"Hahaha, sebenarnya aku pun juga begitu. Tapi, kita percaya saja kalau wanita itu tidak akan berani berbuat macam-macam saat ini!" ucap guru Yao.
"Apa tidak sebaiknya kita ikut masuk ke dalam guru?" tanya Ryu.
"Jangan! Gerbang depan tidak boleh kosong, itu sangat berbahaya!" ucap guru Yao.
"Ah iya, kau benar guru!" ucap Ryu.
•
•
Ratu Lien tengah menatap tajam ke arah wanita yang saat ini berdiri di hadapannya itu.
Ia tampak curiga dengan wanita tersebut, karena wajahnya sangat asing di mata sang ratu.
"Kamu siapa?" tanya ratu Lien singkat.
"Aku Ingyi, salam kenal ratu!" jawab wanita itu.
"Ingyi? Ada urusan apa kamu datang ke istanaku dan ingin menemui ku?" tanya ratu Lien tampak penasaran.
"Aku hanya ingin berkenalan denganmu ratu, aku kan juga salah satu masyarakat Quangzi." jawab wanita bernama Ingyi itu.
"Sebaiknya kamu katakan yang sejujurnya, apa maksud dan tujuan kamu datang ke istana ini! Aku tidak suka orang yang sering berbohong dan tak mau berkata jujur!" tegas ratu Lien.
"Semua yang keluar dari mulut hamba adalah kejujuran, ratu." ucap Ingyi dengan berani.
"Hey! Kamu itu bukan malaikat, mana bisa kami percaya kalau kata-kata kamu semuanya jujur!" ucap Xiu emosi.
"Maafkan hamba, tuan putri! Memang hamba bukan malaikat, tetapi hamba adalah wanita suci yang tidak pernah berbuat dosa. Kalian semua bisa mempercayai perkataan ku!" ucap Ingyi.
"Baiklah, sekarang kamu sudah berkenalan denganku, lalu apa lagi yang kamu inginkan?" tanya ratu Lien.
"Tidak ada ratu, itu saja yang hamba ingin lakukan disini malam ini." jawab Ingyi.
"Ingyi, kamu sebenarnya tinggal dimana dan apakah benar kalau kamu adalah warga Quangzi?" tanya ratu Lien.
"Ya ratu, hamba ini warga Quangzi yang sering merantau ke tempat-tempat jauh di luaran sana. Memangnya kenapa ratu?" jawab Ingyi.
"Aku hanya penasaran denganmu," ucap ratu Lien.
"Wajar saja ratu begitu, memang banyak orang yang penasaran denganku. Tapi begitu mereka tahu yang sebenarnya, mereka menyesal sudah penasaran denganku." ucap Ingyi.
Ratu Lien terdiam heran, sedangkan wanita itu beranjak dari tempat duduknya sambil tersenyum.
"Yasudah ratu, itu saja yang ingin hamba sampaikan. Hamba mohon pamit, selamat malam ratu!" ucap Ingyi.
"Ya ya, malam Ingyi!" balas ratu Lien.
Ingyi pun berbalik dan pergi begitu saja tanpa sepatah katapun lagi.
"Gusion, kawal dia!" perintah ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Gusion menurut.
Gusion pun mengejar Ingyi yang sudah melangkah lebih dulu itu.
Ingyi tampak tersenyum begitu melewati Zheng yang tengah menatap sinis ke arahnya.
Sementara ratu Lien masih penasaran dengan sosok Ingyi tersebut.
"Siapa dia sebenarnya?" batin sang ratu.
"Mom, apa mommy tidak curiga dengan wanita itu? Dia terlihat memiliki rencana yang buruk pada istana kita," ucap Xiu.
Ratu Lien hanya terdiam sembari menatap wajah putrinya itu.
"Mungkin aja dia emang orang jahat kak," celetuk An Ming.
•
•
Hari telah berganti, raja Ling serta pasukannya sudah mulai mencari keberadaan Reiner dan juga istrinya yang kini menjadi buronan istana.
Raja Ling amat geram dan sudah tidak sabar ingin segera menghabisi kedua orang itu, namun ia juga belum bisa menemukan keberadaan mereka.
"Ampun yang mulia! Kita harus mencari panglima Reiner kemana lagi saat ini?" tanya Akai (salah satu punggawa istana Sidhagat).
__ADS_1
"Jangan pernah kamu panggil si pembunuh itu dengan sebutan panglima! Dia tidak pantas mendapat jabatan itu lagi!" ujar raja Ling.
"Maaf yang mulia!" ucap Akai ketakutan.
"Ya, jangan kau ulangi itu lagi! Dia sekarang sudah bukan panglima Sidhagat, statusnya sudah berubah menjadi buronan istana dan dia harus segera kita temukan!" ucap raja Ling.
"Baik raja Ling!" ucap Akai patuh.
"Kita berpencar, bagi pasukan menjadi dua dan pergilah ke arah yang berlawanan! Aku yakin kita pasti bisa menemukan Reiner!" titah raja Ling.
"Baik yang mulia! Hamba akan melakukan apa yang anda perintahkan!" ucap Akai.
Raja Ling mengangguk kecil, sedangkan Akai langsung pergi menemui para prajurit dan mengatakan apa yang disampaikan raja Ling tadi.
Seluruh prajurit kini telah terbagi dua, mereka akan pergi mencari Reiner ke arah yang berlawanan sesuai instruksi sang raja.
Satu kelompok dipimpin oleh Wann, kepala prajurit yang memang kini lebih dipercaya raja Ling setelah Reiner berkhianat padanya.
Sedangkan kelompok lainnya dipimpin sendiri oleh raja Ling bersama Akai, mereka pergi ke arah barat untuk menemukan keberadaan Reiner.
"Aku akan temukan kamu Reiner! Ke ujung dunia pun, pasti akan kucari!" ucap raja Ling.
Tiba-tiba saja seorang wanita berdiri di hadapan mereka dengan membelakangi mereka semua dan membuat raja Ling kesal.
"Hah? Siapa kau?!" geram raja Ling.
Perlahan wanita itu berbalik dan menunjukkan wajahnya yang masih tertutup topeng berwarna biru muda.
"Kamu tidak perlu tau siapa aku! Aku kesini hanya ingin memperingati kalian semua, termasuk kau raja Ling sang penguasa Sidhagat!" jawab wanita itu seraya menunjuk ke arah sang raja.
"Apa maksudmu? Peringati soal apa?" tanya raja Ling tak mengerti.
"Aku akan meratakan seluruh istana di negeri ini, termasuk Sidhagat. Hanya itulah yang ingin ku sampaikan pada kalian semua," jawab wanita itu.
"Hey! Maksudnya apa kamu bicara seperti itu? Memangnya kamu siapa, ha?" ujar raja Ling.
Bukannya menjawab, wanita itu justru menaburkan sebuah bubuk yang menimbulkan asap di sekitarnya hingga pandangan raja Ling serta yang lainnya terhalang.
"Aaarrgghh sial! Dia melarikan diri disaat aku sedang bertanya, dasar kurang ajar!" umpat raja Ling.
"Siapa wanita itu kira-kira...??" batinnya.
•
•
Disisi lain, Wein Lao tengah membawa Xiu menuju tempat yang rahasia dan belum pernah wanita itu kunjungi sebelumnya.
Xiu tampak penasaran sekali kemana Wein Lao akan membawanya pergi, apalagi saat ini matanya ditutup oleh kain sehingga ia tak bisa melihat apapun.
"Lao, kamu itu mau bawa aku kemana sih? Aku buka ya penutupnya?" tanya Xiu.
"Eh jangan sayang! Kita belum sampai tahu, kita masih setengah jalan ini." larang Wein Lao.
"Ayolah Lao, aku sudah tidak sabar ingin melihat tempatnya!" pinta Xiu.
"Sabar ya istriku yang cantik! Begitu sampai nanti, aku pasti langsung buka penutup mata kamu supaya kamu bisa lihat sendiri!" ucap Wein Lao.
"Yaudah tapi buruan, jangan lama-lama! Kamu kan tau aku orangnya gak sabaran," ucap Xiu.
"Iya iya.." Wein Lao menurut saja dan memacu kudanya semakin cepat.
Setibanya di lokasi, Wein Lao langsung menghentikan kudanya dan melingkarkan satu tangannya di leher sang istri.
"Lao, kenapa berhenti? Kita sudah sampai?" tanya Xiu penasaran.
Cup!
"Iya sayang, kita baru aja sampai." jawab Wein Lao seraya mengecup pipi wanita itu.
"Eee boleh aku lihat sekarang?" tanya Xiu.
"Tentu saja, sini biar aku bantu buka kainnya ya!" jawab Wein Lao sembari membuka kain penutup tersebut dari mata istrinya.
Xiu mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menetralkan pandangannya, ia langsung syok berat begitu menyaksikan apa yang ada di depan matanya.
Sebuah taman bunga yang indah nan cantik itu sangat menyejukkan matanya, kupu-kupu yang terbang di sekitarnya serta kicauan burung-burung menambah kesan damai disana.
"Hah? Ini tempat apa Lao? Indah sekali seperti di surga, aku benar-benar kagum dengan tempat ini!" ucap Xiu terpesona.
"Ini kebun bunga milikku, aku sengaja mendesain semua ini untuk kamu sayangku." ucap Wein Lao.
Wanita itu tersentak kaget mendengar ucapan yang dilontarkan suaminya, ia reflek menoleh menatap wajah Wein Lao seakan tak percaya.
"Serius??" tanya Xiu memastikan.
"Iya cantik, kalo gak percaya tanya aja sama semua prajurit serigala!" jawab Wein Lao.
"Iya iya, aku percaya kok! Makasih ya sayang, kamu selalu bisa bikin aku bahagia!" ucap Xiu sembari membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Sama-sama sayang, aku kan gak mau istri kecil aku ini sedih walau sekali!" ucap Wein Lao.
Xiu tersenyum lebar dan semakin membenamkan wajahnya disana, sedangkan Wein Lao juga merapatkan dekapannya seolah tak mau wanita itu terlepas darinya.
"Senang sekali ya kalian berdua? Peluk-pelukan di atas kuda, sungguh romantis!"
Suara itu mengejutkan keduanya yang tengah asyik berpelukan, mereka menoleh ke samping dan menangkap seorang wanita berdiri disana.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1