
Hari Minggu telah tiba, sayembara pun dimulai dan para pendekar hebat dari berbagai penjuru telah berdatangan di halaman istana.
Zheng yang merupakan salah satu peserta disana, sudah tiba dan memegang busur panahnya sembari melihat ke sekeliling.
Rupanya Zheng masih berharap Xi Mei dapat hadir disana dan mendukungnya, namun apa daya ia tak dapat menemukan keberadaan gadis itu.
"Xi Mei, dimana kamu? Apa kamu lupa dengan janji kamu kemarin?" batin Zheng.
Zheng pun merasa lesu dan tidak bersemangat dengan ketidakhadiran Xi Mei disana, hal itu disadari oleh salah satu peserta lainnya yang berada di dekatnya.
"Hey bocah ingusan! Kau pasti sudah takut akan kekalahan ya? Itu sebabnya kau tampak ragu begitu. Aku sarankan, sebaiknya kau pulang saja dan bantu ibumu mencuci beras untuk makan! Daripada kau terus disini, percuma saja karena kau tak akan bisa memenangkan sayembara ini!" ujarnya.
"Tidak paman, aku tidak akan pulang atau mengalah sebelum bertanding! Karena itu bukan sikap seorang kesatria," ucap Zheng dengan lantang.
"Hahaha... kau anggap dirimu ini kesatria, bocah ingusan? Dengarlah, bahkan mental mu saja sudah lemah sebelum bertanding. Bagaimana bisa kau sebut dirimu sebagai kesatria, ha?" ujarnya lagi.
"Mental ku tidak lemah paman, aku hanya bersedih karena aku terpaksa harus mengalahkan paman yang lebih tua dariku!" ucap Zheng.
"Waw, kau benar-benar menantang ku anak muda! Baiklah, kita buktikan saja nanti siapa yang terhebat diantara kita dan siapa yang dapat memenangkan sayembara ini!" ucapnya.
"Baik paman!" ucap Zheng tersenyum tipis.
Pria itu tampak kesal, ia masih memandangi wajah Zheng dengan tatapan tajam dan tangan terkepal.
Sementara Zheng santai saja, menatap lurus ke depan menanti dimulainya waktu untuk sayembara.
Gooongg....
Gong telah dibunyikan, Li Fan sang jenderal istana pun bersiap memulai sayembara kali ini.
"Baiklah, karena setiap peserta sudah hadir disini, maka tidak perlu berlama-lama lagi, kita akan langsung memulai sayembara ini. Beri tepuk tangannya untuk para pendekar ini!" ucap Li Fan.
Sontak seluruh warga yang hadir disana sebagai penonton mulai bersorak-sorai dan bertepuk tangan untuk memeriahkan istana.
Tampak juga Xavier dan Lien terduduk di kursi khusus mereka bersama An Ming juga para pelayan kerajaan.
"Kita langsung panggil saja peserta pertama kita, dia adalah pendekar dari gunung Fuji. Mari kita sambut, inilah pendekar Ng Tze Yong!" teriak Li Fan memanggil peserta pertama.
Sang pendekar urutan pertama pun naik ke atas panggung dengan membawa busur panahnya.
Namun, tiba-tiba saja seorang pemuda tampan muncul dan mendarat tepat di atas panggung.
Pemuda itu berdiri di samping sang pendekar gunung Fuji serta Li Fan, ia melepas masker yang dikenakannya lalu tersenyum ke arah mereka.
Para prajurit hendak menyerangnya, akan tetapi dicegah oleh Li Fan.
"Hey! Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba muncul dan mendarat disini? Apa kau tidak tahu kalau kamu sedang berada di area istana Quangzi?" tanya Li Fan dengan nada jengkel.
"Tenang saja paman! Namaku Bowen Yong, dan aku berasal dari hutan keramat di sebrang sana." ucap si pemuda mengenalkan diri.
"Lalu, apa maumu?" tanya Li Fan.
"Aku tidak ingin membuat kekacauan disini, aku hanya ingin mengikuti sayembara memanah yang diadakan istana. Sebenarnya aku sudah ingin mendaftar dari kemarin, tetapi jarak rumahku menuju istana itu sangat jauh paman, sehingga aku baru sampai sekarang. Maafkan aku!" jawab pemuda bernama Bowen itu.
"Baiklah, tidak apa. Kau masih bisa mengikuti sayembara ini, karena waktu pendaftaran belum tertutup. Dan kau bisa ambil bagian disini, tetapi tentu saja kau harus menunggu di paling belakang sampai giliran mu tiba!" ucap Li Fan.
"Baik paman! Kalau begitu aku permisi, sekali lagi aku meminta maaf karena sudah membuat kekacauan tadi!" ucap Bowen.
"Tak masalah, kami hanya terkejut tadi. Silahkan turun dan tunggu disana!" ucap Li Fan.
Pemuda bernama Bowen itu pun turun dari panggung, lalu berbaris seperti yang lainnya dan menunggu giliran untuk memanah.
•
•
Sementara itu, Chen bersama Xi Mei pergi secara sembunyi-sembunyi menuju istana untuk menyaksikan sayembara disana.
Chen sengaja mengajak Xi Mei pergi dengan kudanya, karena ia merasa tidak tega melihat gadis itu nampak murung setelah tak diperbolehkan untuk pergi ke istana oleh paman dan bibinya.
Xi Mei pun tentu saja sangat gembira karena ia dapat pergi ke istana dan melihat ibundanya.
"Kak Chen, makasih ya kakak udah baik sekali sama aku! Sampai-sampai kakak rela anterin aku buat datang ke istana, aku bahagia banget deh bisa kesana dan ketemu sama mommy! Makasih banyak ya kak!" ucap Xi Mei.
"Sama-sama Xi Mei, tapi ingat kamu harus tetap bersembunyi dan jangan terlalu mencolok ketika di istana nanti!" ucap Chen.
"Tentu kak, aku mengerti!" ucap Xi Mei tersenyum.
Mereka sama-sama tersenyum dan mempercepat laju kuda yang mereka tumpangi, Chen memang cukup ahli menumpangi kuda sehingga ia tidak perlu takut jika kudanya melaju kencang.
__ADS_1
"Kak, lebih cepat lagi! Aku tidak mau ketinggalan sayembara itu!" ucap Xi Mei.
"Apa? Ini sudah paling cepat loh Xi Mei, memangnya kamu tidak takut?" ujar Chen heran.
"Tentu saja tidak, kak. Ayo lebih cepat lagi, aku ingin cepat sampai di istana!" ucap Xi Mei.
"Baiklah, tapi kamu jangan lepas pegangan kamu ya!" pinta Chen pada Xi Mei.
"Iya kak.." ucap Xi Mei mengangguk pelan.
Chen mempercepat laju kudanya sesuai permintaan Xi Mei tadi, biarpun sebenarnya ia sendiri ragu untuk melakukan itu.
Akhirnya mereka berdua tiba di halaman istana, mereka turun dari kuda dan mengikat kuda itu disana sebelum masuk ke dalam.
"Waw lihat kak, ini sudah ramai sekali! Pasti mommy juga ada di dalam!" ucap Xi Mei.
"Iya Xi Mei, yuk kita cari tempat untuk menonton!" ucap Chen.
Xi Mei mengangguk pelan, kemudian mengikuti Chen pergi mencari tempat yang pas agar mereka bisa leluasa menonton tanpa harus khawatir akan ketahuan oleh Luan dan Ryu.
"Nah, kita lihat dari sini aja ya!" ucap Chen.
"Tapi kak, disini gak terlalu jelas tahu. Aku gak bisa lihat mommy dari sini, kita cari tempat yang lain aja ya!" ucap Xi Mei.
"Mau dimana lagi Xi Mei? Menurut aku, cuma disini yang paling aman. Udah lah, kelihatan kok ratu Lien dari sini." kata Chen.
"Enggak kak, kurang jelas. Aku maunya lihat mommy lebih jelas! Aku juga pengen nonton sayembaranya, karena Zheng ikutan tau!" ucap Xi Mei merengek.
"Ya ampun Xi Mei, kamu ini udah kayak anak kecil deh!" ujar Chen.
"Gapapa, yang penting aku mau lihat mommy!" ucap Xi Mei cemberut.
"Iya iya, ayo kita pindah tempat!" ujar Chen.
Chen kembali menarik tangan Xi Mei, lalu membawanya pergi dari sana dan mencari tempat yang lain agar gadis itu berhenti merengek.
•
•
Slaasshh...
Anak panah demi anak panah terus diluncurkan oleh para pendekar yang mengikuti sayembara disana.
Kini tiba saatnya bagi Zheng untuk melakukannya, ia menarik busur panahnya dan menatap lurus ke depan agar bisa mencapai target yang ia inginkan.
Semuanya tampak meremehkan Zheng, seakan mereka tak yakin kalau Zheng mampu mencapai nilai sempurna kali ini.
Zheng mengambil nafas sejenak, lalu mulai melepas anak panahnya meluncur ke arah yang sudah ditargetkan.
Slaasshh...
Diluar dugaan, anak panahnya itu berhasil menancap tepat di tengah target hanya dalam satu kali lesakkan saja.
Semua orang disana pun mulai bersorak-sorai memberi tepuk tangan untuk Zheng, mereka sungguh tak menyangka kalau Zheng bisa melakukan itu.
"Waw, kamu sungguh luar biasa pendekar Zheng! Itu sangat hebat!" ucap Li Fan memujinya.
"Terimakasih paman!" ucap Zheng singkat.
"Andai kamu ada disini dan lihat ini Xi Mei, pasti kamu juga bakal kagum sama aku!" batin Zheng.
"Baiklah, untuk sementara ini poinmu lebih unggul dibanding yang lain. Jika saja pendekar Bowen nantinya gagal mencapai angka sepuluh, maka kamu dapat dipastikan akan memenangkan sayembara ini!" ucap Li Fan.
Ucapan itu juga diikuti oleh tepuk tangan dari para penonton yang hadir, namun suara decakan kesal dari seluruh pendekar disana.
"Sekarang kau bisa kembali menunggu disana, pendekar Zheng. Dan aku akan panggil satu penantang lagi yang harus bisa mencapai nilai sepuluh, inilah dia pendekar Bowen!" ujar Li Fan.
Zheng pun turun dari panggung, tersenyum ke arah Bowen yang namanya dipanggil.
Terlihat Bowen cukup percaya diri untuk bisa mencapai angka sepuluh, biarpun ia tahu itu bukan hal yang mudah untuk dilakukan.
"Aku harus bisa melakukannya! Kalau tidak, pasti aku akan kalah!" batin Bowen.
Bowen mulai mengambil anak panahnya, menarik busur lalu mengeker ke arah target di depannya dengan tampak serius.
Para penonton terdiam bersiap menyaksikan apa yang akan terjadi kali ini, mereka dibuat penasaran apakah mungkin Bowen dapat mendapatkan nilai sepuluh dan pertarungan akan diperpanjang lagi.
Bowen melesakkan anak panahnya, begitu cepat dan tepat mengenai target nilai sepuluh.
__ADS_1
Semuanya kembali dibuat terkejut, karena kali ini skor berimbang diantara Bowen dan Zheng.
"Waw luar biasa! Sungguh diluar dugaan! Dengan ini maka kemenangan pendekar Zheng harus tertunda, dan pertandingan akan dilanjutkan ke sesi penentuan yakni duel antara pendekar Zheng menghadapi pendekar Bowen!" ucap Li Fan.
Bowen tersenyum smirk menatap ke arah Zheng seakan menebar ancaman, Zheng sama sekali tak gentar karena ia yakin pada kemampuannya untuk bisa memenangkan sayembara ini.
•
•
"Kak, aku curiga dengan pendekar satu itu. Tadi jelas-jelas aku lihat anak panahnya meleset, tapi kenapa bisa tiba-tiba tepat sasaran? Kan aneh!" ucap Xi Mei pada Chen.
"Iya benar, tapi mungkin itu faktor angin saja. Kamu jangan menuduh yang tidak-tidak begitu Xi Mei! Kita tonton saja pertandingannya dan doakan supaya Zheng bisa menang!" ucap Chen.
"Iya kak, semoga gak ada kecurangan dalam pertandingan kali ini!" ucap Xi Mei.
Chen mengangguk pelan dan mereka kembali fokus menonton pertandingan sayembara itu.
Kali ini pertandingan dilanjutkan ke pertarungan duel antara Zheng melawan Bowen, dimana mereka masing-masing harus memiliki poin tinggi dengan cara memanah pada target-target yang sudah dibuat.
Zheng menjadi yang pertama mencoba, ia diharuskan mengarahkan anak panah ke target yang berada di atas pohon besar itu.
Dengan sekuat tenaga Zheng melakukannya, ia lagi-lagi berhasil mendapat nilai sempurna dari percobaan pertamanya dan disambut dengan tepuk tangan oleh penonton.
Saat giliran Bowen, pemuda itu dengan mudahnya mendapat angka sepuluh dan terlihat menyombongkan diri di hadapan Zheng.
Xi Mei yang melihat itu semakin merasa curiga, ia pun berdiri dan terlihat geram dengan apa yang barusan disaksikannya itu.
"Kak, ini benar-benar aneh! Lihat saja, dia dengan mudahnya melesakkan anak panah ke angka sepuluh. Aku yakin dia pasti curang dan ini tidak adik untuk Zheng!" geram Xi Mei.
"Tahan lah Xi Mei! Ayo duduk dan kita nikmati saja pertandingannya!" ucap Chen.
"Tapi kak, aku gak terima kalau Zheng dicurangi!" ucap Xi Mei.
"Tenanglah! Kita saksikan saja dulu lebih lanjut!" pinta Chen coba menenangkan adiknya.
"Iya kak," ucap Xi Mei menurut.
Akhirnya Xi Mei kembali duduk disana dan menyaksikan ronde kedua pertarungan itu, yang mana mengharuskan Zheng serta Bowen memanah target pada lingkaran di tengah-tengah kolam istana.
Zheng kembali memulainya lebih dulu, ia mengarahkan anak panahnya pada lingkaran tersebut. Sayangnya, Zheng gagal mencapai angka sempurna dan hanya mendapat nilai delapan.
Namun, Bowen lagi-lagi cukup mudah untuk mendapat nilai sepuluh dan disambut dengan sorak-sorai dari para penonton disana.
Ronde ketiga dimulai, Zheng hanya mendapat nilai tujuh dan ia cukup menyesal karena gagal dalam ronde kali ini.
Sementara Bowen untuk yang ketiga kalinya secara beruntun berhasil meraih angka sepuluh dan tentu saja dengan ini perolehan nilai mereka mulai menjauh.
Pada ronde keempat dan kelima, alias dua ronde terakhir. Mereka sama-sama melesakkan anak panah secara bersamaan ke arah target yang terletak di atas istana.
Zheng hanya mendapat total nilai lima belas dari perolehan angka delapan dan tujuh, sedangkan Bowen mendapat sembilan belas dari hasil perolehan angka sepuluh dan sembilan.
"Ya, itulah dia pertarungan akhir dari kedua pendekar hebat ini!" ucap Li Fan.
"Kita sudah sama-sama tahu dan berhasil mendapatkan siapa pemenang sayembara kali ini!" sambungnya.
Sorak-sorai dan tepukan tangan terus diberikan oleh penonton kepada pendekar Bowen.
Zheng juga tampak murung, menundukkan kepala dan terus bersedih atas kegagalannya.
"Kemarilah pendekar Bowen! Kami perlu memberi penghargaan kepadamu karena kamu sudah berhasil memenangkan sayembara ini!" ucap Li Fan memanggil Bowen.
"Baiklah!" ucap Bowen singkat.
Bowen tersenyum, melirik sekilas ke arah Zheng disertai seringaian sinisnya.
Pria itu pun melangkah maju naik ke atas panggung dan berdiri di samping Li Fan.
"Hahaha, akhirnya aku bisa memenangkan sayembara ini. Sebentar lagi pasti aku akan dapat menyusup ke dalam istana dan merebut kembali istana ini dari Xavier!" batinnya.
Slaasshh...
Tiba-tiba saja sebuah anak panah meluncur dan hampir mengenai Bowen, semua orang tampak panik ketika panah itu dilesakkan.
"Apa-apaan ini?!" ujar Bowen terkejut.
Semua mata tertuju ke atas dinding istana, tampak seorang wanita berdiri disana mengenakan pakaian serba merah dan wajahnya yang tertutup oleh cadar.
"Siapa kau?" tanya Li Fan pada wanita itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...