
Xi Mei kembali ke rumah bibinya diantar oleh Zhao setelah hari mulai gelap.
Suasana di desa mereka juga sudah mulai sepi, orang-orang istana sudah pergi dari sana dan banyak warga desa pun telah kembali ke rumah mereka masing-masing.
"Zhao, makasih ya udah anterin aku sampai kesini! Kalau kamu mau pulang, boleh kok." ucap Xi Mei kepada Zhao.
"Ah iya Xi Mei, kamu masuk aja dulu! Aku mau sekalian bicara sama paman kamu," ucap Zhao.
"Loh, bicara soal apa?" tanya Xi Mei penasaran.
"Ada deh, intinya kamu sekarang masuk ke dalam terus aku minta tolong panggilin paman kamu ya! Bilang kalau aku nunggu di depan sini dan mau bicara gitu!" pinta Zhao.
"Oh oke! Tunggu sebentar ya!" ucap Xi Mei.
Zhao mengangguk dan tersenyum, membiarkan Xi Mei melangkah ke dalam rumah itu untuk memanggil pamannya.
Tak lama kemudian, Xi Mei kembali keluar bersama Ryu di sampingnya menghampiri Zhao yang masih menunggu disana.
"Zhao, benar kamu ingin bicara dengan saya?" tanya Ryu kepada Zhao.
"Benar guru! Eee tapi, kenapa kamu malah ikut keluar lagi Xi Mei? Harusnya kamu istirahat aja di dalam, besok kan masih sekolah." kata Zhao saat melihat Xi Mei muncul kembali.
"Emangnya kenapa? Aku gak boleh ya ikut dengar obrolan kamu sama paman? Penting banget ya?" tanya Xi Mei penasaran.
"Ya begitulah..." ucap Zhao tersenyum.
"Yaudah deh, kalo gitu aku masuk dulu ya? Selamat malam Zhao!" ucap Xi Mei melambaikan tangan.
"Selamat malam juga Xi Mei!" balas Zhao.
"Paman, aku ke dalam duluan ya?" ucap Xi Mei pada Ryu.
"Iya Xi Mei, istirahatlah!" ucap Ryu tersenyum.
Xi Mei mengangguk pelan, lalu berbalik dan masuk ke dalam rumah itu meninggalkan Zhao beserta pamannya berdua disana.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku Zhao?" tanya Ryu penasaran.
"Begini guru, apa guru tidak bisa memberi izin saja pada Xi Mei untuk ikut berlatih dengan murid-murid guru di tempat latihan? Menurut saya, itu sangat penting loh bagi Xi Mei agar dia bisa menjaga diri dengan baik." kata Zhao.
"Untuk apa kamu mengurusi urusan Xi Mei? Kau itu kan hanya temannya, bukan keluarga atau saudara Xi Mei. Disini aku pamannya dan aku lebih tahu yang terbaik untuk Xi Mei," ucap Ryu.
"Iya guru, saya tahu. Tapi, kasihan loh guru kalau Xi Mei tidak dibolehkan berlatih. Soalnya yang saya lihat dia begitu tertarik dengan Wushu, dan saya rasa dia memiliki bakat untuk itu." kata Zhao.
"Untuk saat ini tidak perlu, lebih kamu pulang karena ini sudah malam!" ucap Ryu dingin.
"Tapi guru, saya—"
"Aku tak punya waktu untuk meladeni ucapan mu itu, jadi aku harus pergi sekarang!" potong Ryu dan langsung berbalik badan.
Zhao tak bisa berbuat apa-apa lagi, keinginannya untuk dapat satu perguruan dengan Xi Mei pun kandas setelah Ryu tampak tidak menyetujui perkataannya tadi.
"Huft, harus gimana lagi ya supaya guru Ryu mau terima Xi Mei jadi muridnya?" gumam Zhao.
Akhirnya Zhao berbalik, lalu pergi dari sana kembali ke rumahnya karena Ryu juga sudah tak terlihat lagi.
***
Setibanya di dalam rumah, Ryu langsung menemui Xi Mei di kamarnya.
Terlihat gadis itu tengah berbaring dengan posisi tengkurap sembari membaca buku tentang Wushu.
Melihat itu, Ryu kini tahu bahwa Xi Mei memang sangat tertarik dengan ilmu beladiri yang dia ajarkan itu.
"Xi Mei.." ucap Ryu memanggilnya.
"Ah iya paman, ada apa?" tanya Xi Mei mendongak dan menutup bukunya.
Gadis itu juga bangkit, duduk di atas kasur untuk bicara pada Ryu.
"Maaf ya kalau paman ganggu dan gak ketuk pintu dulu! Paman mau bicara sama kamu," ucap Ryu.
"Gapapa paman, emang paman mau bicara soal apa?" tanya Xi Mei penasaran.
"Eee mengenai Zhao, sebenarnya paman sudah curiga dari awal kalau pria itu ada rasa suka sama kamu. Makanya paman sekarang mau tanya ke kamu, kira-kira sudah sedekat apa hubungan antara kalian berdua?" ucap Ryu.
"Hah? Tapi paman, antara aku sama Zhao itu gak ada apa-apa kok. Kami cuma temenan aja, Zhao juga sering temenin aku ke hutan buat latihan panah dan berburu." kata Xi Mei.
"Paman tahu, tapi dari gelagat dan cara bicara Zhao saat bersama kamu itu paman curiga, kalau sebenarnya Zhao suka sama kamu Xi Mei. Dia memiliki perasaan sama kamu, karena dia begitu perduli dengan kamu." kata Ryu.
"Eee kalau soal itu aku gak tahu sih, paman. Aku juga gak terlalu perhatiin, tapi kalau emang iya dia suka sama aku, nanti aku bakal bilang deh ke dia buat hilangin rasa sukanya itu." ucap Xi Mei.
__ADS_1
"Kenapa gitu?" tanya Ryu heran.
"Loh, bukannya paman gak suka kalau Zhao suka sama aku?" ujar Xi Mei.
"Kata siapa?" Ryu semakin bingung dibuatnya.
"Paman ini gimana sih? Itu tadi buktinya paman nada bicaranya kayak judes gitu pas bahas soal Zhao," ucap Xi Mei.
Ryu justru tersenyum tipis, kemudian duduk bersandar pada nakas yang tersedia disana.
"Bukan paman gak suka, paman kan cuma mau pastiin aja ke kamu. Ya siapa tahu kalian ternyata sudah jadian, tapi paman gak tahu." kata Ryu.
"Oh gitu, ya enggak lah paman. Aku aja cuma anggap Zhao sebagai teman aku," ucap Xi Mei.
"Baguslah! Karena kamu itu seorang putri kerajaan, jadi kamu gak bisa sembarangan menjalin hubungan dengan lelaki. Ya paman gak mau aja kalau sampai ratu Lien tahu, dan beliau tidak suka dengan itu." kata Ryu.
"Iya paman, aku juga ngerti kok." ucap Xi Mei.
"Yasudah, kamu bisa lanjut baca bukunya! Kalau sudah mengantuk, kamu tidur ya Xi Mei! Paman keluar dulu, selamat malam!" ucap Ryu.
"Iya paman, selamat malam juga!" ucap Xi Mei tersenyum.
Ryu pergi dari kamar Xi Mei, tak lupa pria itu menutup pintu rapat-rapat dan menuju ruang tamu untuk menonton serial di televisi.
Sementara Xi Mei masih terlihat bingung karena tiba-tiba Ryu datang ke kamarnya dan berkata seperti tadi.
"Kira-kira apa ya yang diomongin Zhao ke paman Ryu tadi? Kok paman langsung bilang begitu ke aku? Aku coba tanya aja deh besok ke Zhao, takutnya dia bicara yang aneh-aneh lagi!" gumam Xi Mei.
***
Di istana, An Ming coba masuk ke kamar sang ratu karena ia tidak bisa tertidur malam ini.
An Ming perlahan membuka pintu setelah berhasil melewati para penjaga di depannya.
Ia melihat ibunya masih terjaga disana, tengah memandangi langit melalui jendela kamar dan tampak bersedih.
Sontak An Ming penasaran apa yang membuat ibunya begitu sedih.
Pangeran kecil itu pun bergegas masuk, menghampiri ratu Lien untuk bertanya secara langsung.
"Mommy," ucap An Ming mendongak.
Ratu Lien sangat terkejut mendengar ada suara di kamarnya, ia menoleh dan mendapati An Ming berada di belakangnya.
"Sayang, kamu kenapa kesini? Sekarang itu sudah waktunya tidur, harusnya kamu di kamar dan tidur dong sayang!" ucap ratu Lien lembut.
"Aku gak bisa tidur mom, aku kepengen sama mommy terus. Boleh kan mom kalau malam ini aku tidur disini sama mommy?" ucap An Ming.
"Tapi sayang, kamu itu kan sudah besar. Masa kamu masih mau tidur sama mommy?" ucap Lien.
"Gapapa dong mom, sekali ini aja kok. Boleh ya mom? Soalnya aku gak bisa tidur kalau gak ada mommy di samping aku," rengek An Ming.
"Umm... oke deh, kamu boleh tidur disini! Tapi, kamu harus janji sama mommy kalau kamu bakal tidur dan gak main-main lagi!" ucap ratu Lien.
"Iya mom, aku janji!" ucap An Ming tersenyum.
"Yaudah, yuk kita ke kasur sekarang!" ucap ratu Lien menggandeng tangan putranya.
An Ming mengangguk setuju, ratu Lien menutup jendelanya dengan tirai dan lalu melangkah menuju kasur bersama An Ming di sampingnya.
Mereka pun merebahkan tubuh di atas ranjang dengan berdampingan, An Ming terus tersenyum menghadap ke arah ibunya.
"Kenapa sayang? Kok kamu lihatin mommy terus sambil senyum begitu?" tanya ratu Lien.
"Mommy cantik, aku suka ngeliat wajah mommy!" jawab An Ming tersenyum renyah.
"Bisa aja anak mommy yang ganteng ini!" ujar ratu Lien sembari mencubit pipi An Ming.
"Oh ya, tadi mommy kenapa sedih pas di jendela? Emangnya mommy lagi mikirin apa?" tanya An Ming baru teringat.
"Eee mommy..."
Ceklek...
Suara pintu terbuka membuat ratu Lien dan An Ming kompak terkejut, mereka menoleh ke arah pintu untuk memastikan siapa yang datang.
Dan ternyata itu adalah Xavier, sang raja yang entah mengapa tiba-tiba masuk ke kamar ratunya sambil tersenyum.
"Daddy? Pasti Daddy mau tidur bareng mommy juga ya?" celetuk An Ming.
Xavier langsung menganga dengan mata melotot begitu menyadari keberadaan putranya disana.
__ADS_1
"An Ming? Kenapa kamu ada disini?" ujar Xavier.
"Dia mau tidur denganku, kamu sendiri untuk apa datang ke kamarku? Sekarang bukan saatnya kamu ada disini," ucap ratu Lien.
"Memang bukan, tetapi aku..." Xavier tidak melanjutkan ucapannya karena sadar ada An Ming yang masih kecil disana.
"Baiklah, aku tidak jadi. Selamat tidur ya buat kalian!" ucap Xavier.
"Iya, kau juga." kata ratu Lien singkat.
Xavier pun berbalik, kemudian pergi dari kamar istrinya itu dengan perasaan jengkel.
An Ming masih merasa bingung mengapa Xavier tidak jadi tidur di kamar ibunya.
"Mom, Daddy kenapa balik lagi?" tanya An Ming.
"Mungkin Daddy kamu itu sakit perut sayang. Udah yuk kita lanjut bobok!" ucap ratu Lien.
"Oke mom!" An Ming mengangguk dan kembali berbaring di samping ibundanya.
***
Keesokan paginya, Xavier mendapat kabar kurang mengenakkan mengenai kepulangan Terizla dan juga Alice.
Tentu saja Xavier tidak menyukai itu, karena bagaimanapun Terizla pasti akan merebut kembali tahtanya dan menyingkirkan Xavier.
"Apa? Benarkah itu Wingki? Terizla dan Alice akan kembali kemari?" ujar Xavier kaget.
"Tentu saja yang mulia, apa yang mulia lupa kalau merekalah raja dan ratu sesungguhnya di istana ini, bukan kau ataupun Lien. Jadi, mereka pasti kembali untuk menduduki tahta raja disini." kata Wingki tersenyum smirk.
"Sial! Aku tak bisa biarkan itu terjadi!" geram Xavier.
"Mengapa begitu yang mulia? Kau takut kalau Terizla akan menyingkirkan mu? Oh dasar Xavier yang licik, ternyata kau masih memiliki rasa takut juga ya!" ujar Wingki.
"Diam lah kau antek-antek iblis! Harusnya dari awal aku sudah menyingkirkan mu dari sini, agar kau tidak tumbuh sebagai pengkhianat!" ujar Xavier.
"Apa katamu yang mulia? Pengkhianat? Bukan kau yang sudah mengkhianati raja Terizla dan ratu Alice dengan merebut tahta mereka disaat mereka sedang pergi? Kau sungguh tidak pernah berkaca Xavier!" ucap Wingki.
"Cukup Wingki! Aku perintahkan kau untuk pergi dari sini dan jangan ganggu aku!" bentak Xavier.
"Baiklah, untuk saat ini aku masih akan menurut padamu. Tapi, setelah raja Terizla tiba nanti aku pastikan kau tidak mungkin bisa memberi perintah padaku seperti ini lagi!" ucap Wingki.
Wingki berjalan pergi meninggalkan Xavier disana, tampak jelas kalau Xavier merasa geram dan terus mengepalkan tangannya.
"Aaarrgghh! Aku tidak boleh membiarkan Terizla dan Alice kembali menguasai istana ini!" geram Xavier.
Xavier pun tampak berpikir keras, ia tidak mau begitu saja menyerahkan tahta yang sudah ia duduki selama ini kepada Terizla atau Alice.
Namun, tentu sulit bagi Xavier memikirkan itu karena bagaimanapun Terizla pasti tidak mungkin membiarkan tahtanya diduduki oleh Xavier.
•
•
Xi Mei menemui Zhao di sekolahnya, gadis itu masih penasaran apa yang dibicarakan oleh Zhao kepada Ryu semalam.
"Zhao," ucap Xi Mei memanggil pria tersebut.
Zhao yang sedang duduk bersama teman-temannya pun terkejut dengan kemunculan Xi Mei disana, pria itu langsung bangkit dari duduknya menatap Xi Mei sambil tersenyum.
"Ada apa Xi Mei? Kau mencari ku?" tanya Zhao penuh harap.
"Iya Zhao, aku ingin bicara sama kamu." jawab Xi Mei dingin.
"Bicara? Soal apa?" tanya Zhao penasaran.
"Semalam kamu bicara apa sama paman Ryu?" ucap Xi Mei langsung to the point.
"Ohh bukan apa-apa kok, cuma soal latihan beladiri. Memangnya kenapa Xi Mei?" ucap Zhao.
"Yakin? Tapi, kenapa paman semalam kelihatan gak suka gitu ya abis bicara sama kamu? Udah deh, kamu jujur aja apa yang kamu bilang ke paman Ryu semalam!" ujar Xi Mei.
"I-i-iya Xi Mei, sebenarnya aku bicara soal keinginan kamu untuk latihan Wushu di tempat guru Ryu. Aku ngerasa kasihan aja sama kamu, karena kamu sangat ingin menguasai ilmu beladiri itu. Tapi, sayangnya guru Ryu tidak mau mendengarkan perkataan ku." jelas Zhao.
"Haduh, untuk apa sih kamu bilang begitu sama paman? Harusnya kamu gak perlu ikut campur urusan hidup aku!" ucap Xi Mei.
"Xi Mei, aku kan—"
"Udah ya Zhao, pokoknya aku gak mau dengar kamu ikut campur lagi ke dalam urusan aku! Kita ini cuma teman dan gak ada hubungan spesial atau apalah itu, jadi kamu harus tahu diri!" potong Xi Mei tampak kesal.
Setelah mengatakan itu, Xi Mei pun pergi begitu saja meninggalkan Zhao yang masih tak mengerti mengapa Xi Mei bisa sampai semarah itu padanya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...