Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 71. Bukan raja lagi


__ADS_3

Putri Xiu masih terlibat perkelahian dengan raja Ling disana, ia berkali-kali berhasil menghindari serangan pedang milik raja Ling walau harus dengan bersusah payah.


Raja Ling semakin emosi karena setiap serangannya berhasil dihindari atau ditangkis oleh putri Xiu, ia pun menambah intensitas serangan agar putri Xiu bisa segera dihabisi.


Raja Ling melesakkan pedangnya ke arah pinggang putri Xiu, tetapi masi dapat ditahan oleh Xiu dengan telapak tangannya.


Raja Ling cukup terkejut melihatnya, namun ia langsung mengubah arah serangan melalui atas dan tepat di kepala Xiu.


Ctaaashh...


Beruntung Xiu dengan cekatan menahan pedang yang hendak membelah kepalanya itu menggunakan busur panahnya.


"Hahaha, mau sampai kapan kamu terus bertahan seperti ini Xiu? Menyerah lah, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu perbuat pada ayahku!" ucap raja Ling.


"Aku pasti akan tanggung jawab, jika aku memang melakukan itu. Tapi, nyatanya aku tak pernah membunuh ayahmu raja Ling." ucap Xiu.


"Kamu masih saja mengelak disaat seperti ini, baiklah jika memang kamu ingin mati saat ini juga Xiu!" geram raja Ling.


"Hiyaaa..."


Raja Ling menambah kekuatannya menekan busur itu lebih kuat.


Xiu semakin kewalahan menahannya, bahkan ia dapat merasa bahwa busurnya akan patah akibat tekanan itu.


"Gawat, aku gak bisa bertahan lebih lama lagi!" batin Xiu.


Raja Ling tersenyum smirk, ia tahu bahwa Xiu sudah mulai lelah dan tidak kuat lagi menahan tekanan darinya.


Saat Xiu sedang fokus menahan pedang itu, raja Ling menyerang perut Xiu dengan tenaga dalamnya.


Slaasshh...


"Akh!" Xiu memekik keras saat perutnya terkena serangan mendadak dari raja Ling.


Pertahanan Xiu pun goyah, ia terhuyung ke belakang sembari memegangi perutnya yang sakit.


Raja Ling memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang Xiu dengan pedang miliknya.


"RASAKAN INI XIU!" teriak raja Ling.


Slaasshh...


Raja Ling mengibaskan pedangnya hingga timbullah sebuah cahaya yang langsung tepat mengenai tubuh Xiu.


"Aakhhh!!"


Xiu terhempas dan jatuh ke tanah dengan posisi terlentang, busurnya juga terlepas dari genggaman tangannya karena keadaan Xiu benar-benar lemas saat ini.


"Awhh sshh akh!" Xiu terus meringis menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.


"XIUUU...!!" ratu Lien yang sedari tadi menyaksikan pertarungan itu dari jauh, langsung terkejut melihat putrinya terkapar akibat oleh raja Ling.


Ratu Lien pun hendak berlari menghampiri Xiu, namun ditahan oleh raja Ling.


"Berhenti! Kamu tidak boleh ikut campur dalam pertarungan ini, tetaplah disana atau aku akan perintahkan prajurit ku untuk membawa kamu pergi dari sini!" ujar raja Ling.


"Kamu benar-benar kelewatan raja Ling! Xiu itu tidak bersalah, dia bukan pembunuh. Kenapa kamu selalu menyalahkannya?!" ucap ratu Lien.


"Karena dia memang salah, dan dia pantas mendapat ini semua ratu!" ucap raja Ling.


Ratu Lien menggeleng pelan, air mata telah lolos membasahi pipinya karena ia tak tega melihat kondisi putrinya saat ini.


"Uhuk uhuk.."


Xiu terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.


"Akh!" ia memekik pelan melihat itu, ia benar-benar sudah tak mampu berbuat apapun lagi saat ini.


Raja Ling kini kembali menghampiri Xiu yang masih tergeletak lemas di depannya, sedangkan ratu Lien terpaksa diam di tempatnya karena ada para prajurit Ling yang mengawasinya.


"Hey putri Xiu! Kenapa kamu diam saja disitu? Ayo bangkit cantik, kita bertarung lagi seperti yang kamu inginkan tadi!" ucap raja Ling.


"Eheg eheg.."


Xiu kembali terbatuk-batuk, tubuhnya juga semakin terasa lemas dan ia tak mampu menggerakkan anggota tubuhnya seperti biasa.


"Aw kasihan sekali kamu Xiu! Pasti kamu sangat kesakitan ya?" ledek raja Ling.


"Jelas saja kamu pasti kesakitan, karena pedangku ini memang sangat luar biasa. Siapapun yang terkena tebasannya, tak akan mungkin bertahan lama. Jadi, sebaiknya kamu akui perbuatan mu itu sebelum waktu kematian mu tiba!" sambungnya.


"Mau kamu paksa aku sekeras apapun, aku gak akan mungkin mengakui perbuatan itu. Aku bukan pembunuh ayah kamu, aku gak bohong!" ucap Xiu dengan susah payah.


"Disaat seperti ini saja kamu masih terus berbohong, memang kamu ini sangat keras kepala dan minta untuk dihabisi. Baiklah, kamu hanya tinggal menunggu waktu saja sampai kamu mati nanti." ucap raja Ling.


"XIU!! BERTAHAN SAYANG!" teriak ratu Lien dari tempatnya.


Sontak Xiu melirik ke arah sang ratu dan merasa sedih melihat ibunya itu tengah menangis disana karenanya.

__ADS_1


"Mom-mommy.." ucapnya lirih.


"Xiu, kamu pasti bisa sayang! Kamu harus jadi wanita kuat!" ucap ratu Lien menyemangati Xiu.


"Hahaha, aku jadi terharu melihat kalian berdua. Sayangnya sebentar lagi momen ini akan berakhir, setelah putri Xiu harus menerima kematiannya di tanganku." ucap raja Ling tersenyum smirk.


Raja Ling kembali mengangkat pedangnya, tampaknya ia sudah tidak sabar ingin segera menghabisi Xiu saat ini juga.


"TIDAAAKKK!!" teriak ratu Lien cukup kencang.


"Tolong yang mulia, jangan lakukan itu pada putriku! Dia tidak bersalah dalam hal ini, kamu telah salah menuduh orang! Yang membunuh ayahmu bukan putriku, tetapi aku. Jadi, yang seharusnya kamu hukum itu aku bukan dia!" ucap ratu Lien.


"Apa?" raja Ling terkejut mendengar itu, ia menurunkan pedangnya dan menatap ke arah sang ratu.


Tak hanya raja Ling, bahkan putri Xiu pun ikut terkejut dengan apa yang disampaikan oleh ibunya barusan.


"Iya, akulah yang sudah membunuh ayahmu. Aku sengaja melakukan itu, karena aku tidak ingin ayahmu terus-menerus membuat wilayah Sidhagat menjadi maju dan makmur." ucap ratu Lien.


Raja Ling sudah tampak emosi, tangannya mengepal kuat disertai tubuh yang bergetar.


"Jadi, jika kamu mencari pembunuh ayahmu dan ingin membalas dendam, kamu bunuh saja aku bukan putriku!" ucap ratu Lien.


"Baiklah, akan kuturuti permintaan mu itu. Aku akan membunuhmu ratu, tetapi aku juga akan membunuh Xiu sekalian." ucap raja Ling.


"Kenapa begitu? Yang membunuh ayahmu itu aku, bukan Xiu. Kamu bunuh saja aku, lalu lepaskan putriku!" ucap ratu Lien.


"Tidak mommy, jangan bicara seperti itu! Mommy bukan pembunuh, aku tau itu. Mommy jangan berbohong hanya demi menyelamatkan aku! Aku bisa melewati ini semua, mommy tidak perlu khawatir!" ucap Xiu.


Ratu Lien dan raja Ling kompak menatap ke arah Xiu dengan wajah keheranan.


Pasalnya, Xiu berbicara seolah-olah dia tidak merasakan sakit lagi saat ini.


Benar saja, gadis itu berhasil bangkit dengan mudahnya dan tak ada luka apapun di tubuhnya.


"Apa? Bagaimana mungkin?" ujar raja Ling.


"Xiu! Kamu baik-baik saja nak?" ucap ratu Lien.


"Aku sudah bilang mom, aku bisa atasi ini semua sendiri. Aku tidak apa-apa, pedang itu sama sekali tak terasa di tubuhku." ucap Xiu sambil tersenyum.


"Kurang ajar! Beraninya kamu merendahkan pedang milikku ini, apa kau sudah bosan hidup ha?!" geram raja Ling.


"Kenapa yang mulia? Aku sekarang sudah sehat kembali, dan kata-katamu tadi ternyata tak berlaku untukku. Pedangmu itu terlalu lemah bagiku, itu saja tidak cukup untuk membunuhku." ucap Xiu.


"Kamu benar-benar ingin dihabisi, baiklah jika itu maumu Xiu!" ujar raja Ling.




Bruuukkk...


Xavier terpental hingga jatuh ke tanah dengan posisi terlentang dan tangan berada di dadanya.


Wein Lao menatapnya sambil tersenyum, ia senang melihat Xavier tak berdaya di bawahnya.


"Bagaimana Xavier? Kamu masih mengatakan jika aku ini hanyalah serigala lemah dan aku tak mungkin bisa mengalahkan mu?" ucap Wein Lao.


"Kamu jangan senang dulu serigala bodoh! Aku belum kalah darimu, dan aku masih bisa menghadapi kamu!" ucap Xavier.


Xavier mencoba bangkit kembali, tetapi sangat sulit karena rasa sakit di tubuhnya.


"Awhh akh!" Xavier justru memekik kesakitan dan tubuhnya kembali terkapar di tanah seperti sebelumnya.


"Hahaha, ayo bangkit Xavier! Aku masih belum puas menghajar mu, jangan jadi lemah seperti itu Xavier!" ucap Wein Lao.


"Kamu benar-benar kurang ajar! Lihat saja, lain kali akan kubalas perbuatan mu ini dengan yang lebih perih!" ucap Xavier.


"Kamu pikir kamu bisa pergi dari sini Xavier? Tentu saja aku tidak akan membiarkan kamu pergi begitu saja, kamu harus bertanggung jawab dan menanggung semua perbuatan yang sudah kamu lakukan sebelumnya terhadap Quangzi!" ujar Wein Lao.


"Apa maksudmu?" tanya Xavier ketakutan.


"Ya Xavier, kamu harus meminta maaf pada ratu Lien dan putri Xiu! Berlututlah di hadapan mereka dan cium kaki mereka! Jika mereka tidak memaafkan mu, maka kamu akan dihukum lebih berat lagi!" jelas Wein Lao.


"Sial! Aku tidak sudi melakukan itu, apalagi harus mencium kaki wanita yang lebih muda daripada aku!" ucap Xavier.


"Itu terserah kamu, tapi pastinya kamu akan langsung dijebloskan ke ruang tahanan di Quangzi nantinya setelah perang ini usai. Kamu tidak bisa pergi kemana-mana, Xavier!" ucap Wein Lao.


Xavier merasa cemas dan ketakutan, ia tentunya tidak ingin masuk penjara.


"Bagaimana Xavier? Apa kamu ingin hidup di penjara selama beberapa tahun ke depan?" tanya Wein Lao sambil tersenyum.


"Aku tidak akan mau ada disana!" ucap Xavier.


"Yasudah, kalau begitu kamu lakukan apa yang aku perintahkan tadi. Kamu harus meminta maaf pada sang ratu dan putri Xiu!" ucap Wein Lao.


"Itu tidak akan pernah terjadi!" ujar Xavier.

__ADS_1


Wein Lao makin dibuat jengkel dengan perkataan Xavier, ia akhirnya menatap sekeliling melihat seluruh manusia yang sedang bertarung satu sama lain di sekitarnya.


"SEMUANYA BERHENTI BERTARUNG!" teriak Wein Lao dengan lantang.


"Raja kalian sudah kalah, dia juga tidak mampu melawanku lagi. Pertarungan ini telah usai, kalian semua berhenti!" sambungnya.


Sontak saja mereka semua menghentikan pertarungan itu dan menatap ke arah Wein Lao secara bersama-sama.


"Hah? Yang mulia? Bagaimana mungkin?" ujar Gusion terkejut bukan main.


"Prajurit, tolong aku!" ucap Xavier meminta bantuan para prajuritnya.


Namun, Wein Lao dengan sigap menahan prajurit yang hendak membantu Xavier dan meminta mereka tetap pada tempatnya.


"Stop! Diam kalian disitu!" ujar Wein Lao.


"Xavier saat ini bukan lagi raja Quangzi, dia juga sudah menjadi tahanan sang ratu. Kalian semua para prajurit Quangzi, tidak berhak lagi mengikuti perintah darinya! Biar aku yang mengurusnya, kalian semua pergi dari sini!" sambungnya.


Mereka terlihat bingung, tapi pada akhirnya mau mengikuti apa yang dikatakan Wein Lao.


Seluruh prajurit yang masih hidup, memutuskan pergi dari sana dan kembali ke istana.


Akan tetapi, Gusion masih tetap disana menatap Wein Lao dengan tajam.


"Ada apa panglima Gusion? Apa kamu juga ingin melawanku dan berakhir sama seperti raja mu yang lemah ini? Kalau memang iya, ayo maju dan hadapi aku!" ujar Wein Lao.


Xavier berharap lebih pada sosok Gusion untuk dapat menolongnya kali ini.


"Bagus Gusion, ayo maju dan serang dia! Kamu harus bisa selamatkan aku, aku ini raja dan pemimpin mu!" ucap Xavier.


"Maafkan hamba, yang mulia! Tapi, sekarang ini anda bukan lagi pemimpin Quangzi. Mahkota anda sudah terlepas dari kepala anda, itu artinya masa kepemimpinan anda sudah berakhir." ucap Gusion.


"Nah, apa kau dengar itu Xavier? Panglima mu saja sudah tidak menganggap kamu sebagai raja, lalu kenapa kamu masih mengaku bahwa kamu adalah raja Quangzi?" ujar Wein Lao.


"Kurang ajar! Apa yang kau katakan itu Gusion? Aku memang sudah tidak mengenakan mahkota, tetapi aku tetap raja Quangzi!" ucap Xavier.


"Sudahlah Xavier, terima saja kenyataan kalau kau sudah bukan lagi raja Quangzi! Jadi, sekarang kamu akan berakhir di penjara." ucap Wein Lao.


"Hahaha, itu tidak akan pernah terjadi. Aku ini adalah pendekar yang kuat dan hebat, kamu gak mungkin bisa memaksaku untuk masuk ke penjara!" ucap Xavier.


"Apa kau yakin, Xavier?" ujar Wein Lao.


Xavier berusaha bangkit dari posisinya, Wein Lao dan Gusion hanya diam saja disana menyaksikan usaha yang dilakukan oleh Xavier.


"Kamu mau apa, ha?" tanya Wein Lao mengejek.


Gusion melirik ke arah Wein Lao, "Maaf pangeran Lao! Tapi, putri Xiu sedang dalam bahaya. Dia butuh bantuan mu untuk menghadapi serangan raja Ling." ucapnya.


"Hah? Putri Xiu diserang oleh raja Ling? Bagaimana bisa?" ujar Wein Lao terkejut.


"Benar pangeran, saat ini putri Xiu sedang bertarung disana. Sebaiknya anda pergi kesana untuk membantunya, karena saya lihat sepertinya putri Xiu cukup kesulitan menghadapi raja Ling." ucap Gusion.


"Itu pasti, mereka tidak seimbang. Baiklah, biar aku kesana menyusulnya. Kamu tetap disini dan jaga Xavier si pembunuh ini!" ujar Wein Lao.


"Baik pangeran!" ucap Gusion.


Wein Lao berbalik dan hendak pergi, namun entah mengapa ia merasa ragu untuk meninggalkan Xavier bersama Gusion.


"Aku jadi ragu buat pergi, apa Gusion bisa dipercaya?" batin Wein Lao.


Akhirnya Wein Lao tetap pergi, tetapi ia meminta anak buahnya untuk menjaga Xavier bersama Gusion disana.



Wein Lao melihat pertarungan antara Xiu melawan raja Ling disana, ia pun merasa tidak tega karena Xiu cukup kesulitan.


"Aku harus segera bantu putri Xiu!" ucap Wein Lao.


Disaat ia hendak maju membantu Xiu, tiba-tiba tiga orang prajurit bawaan raja Ling menahannya.


"Kamu tidak boleh ikut campur!" ucap prajurit itu.


"Kalian tidak bisa menghalangi ku! Aku akan menolong putri Xiu, dia bukan lawan yang seimbang bagi raja Ling." ucap Wein Lao tegas.


"Maaf! Tapi, kamu tidak bisa membantunya!" ucap prajurit itu.


"Kalian mau apa? Mau melawanku, ha? Baiklah, akan kuhadapi kalian lebih dulu!" ujar Wein Lao.


Wein Lao pun terpaksa menghadapi ketiga prajurit yang menghalanginya, walau sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin segera membantu Xiu.


Suara pertarungan itu juga didengar oleh ratu Lien, ia menoleh dan melihat Wein Lao tengah bertarung dengan tiga prajurit disana.


"Wein Lao...??" ucap sang ratu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2