Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 67. Malam penuh penjagaan


__ADS_3

Malam ini Xi Mei tidak lagi tidur bersama dua temannya di kamar yang sempit itu, ya ia sekarang ada di kamar yang lebih luas dan memang dikhususkan untuk sang ratu alias ibunya.


Kebetulan kamar itu juga baru saja dirapihkan oleh para pelayan guru Felix, sehingga disana tampak indah dan bersih.


Xi Mei pun mengajak ibunya masuk ke dalam sesudah mereka menikmati makan malam bersama, Xi Mei ingin segera tertidur di samping ibunya sambil mendengarkan cerita seperti dulu.


"Mom, aku mau dibacain dongeng lagi dong sama mommy. Boleh kan?" ucap Xi Mei.


"Ah sayang, kamu ini sudah besar tapi tingkahnya masih seperti anak kecil saja. Masa kamu pengen didongengin lagi kayak dulu?" ujar ratu Lien.


"Gapapa dong mom, aku kan kangen tidur sambil dengar cerita dari mommy." ucap Xi Mei.


"Iya deh iya, mommy bakal dongengin kamu lagi sekarang. Yaudah, kamu tidur gih sana!" ucap ratu Lien.


"Mommy juga dong," ucap Xi Mei manja.


"Mommy kan nanti di sebelah kamu, katanya mau didongengin sebelum tidur." kata ratu Lien.


"Oh iya," ucap Xi Mei sambil tersenyum renyah.


Gadis itu pun naik terlebih dahulu ke atas ranjang, ia berbaring terlentang dengan kedua tangan ditaruh di atas perut.


Sementara ratu Lien juga ikut naik, duduk bersandar meluruskan kakinya sambil mengusap kening Xi Mei dengan lembut.


"Mommy kangen sekali momen seperti ini, mommy gak nyangka ini bisa terjadi lagi." ucap ratu Lien.


"Bukan cuma mommy, tapi aku juga. Udah lama banget aku pengen rasain momen ini lagi, aku ngerasa nyaman banget kalau ada di sebelah mommy kayak gini!" ucap Xi Mei.


Xi Mei terus merapatkan tubuhnya dengan sang ibu, membuat ratu Lien teramat bahagia.


"Asal kamu tahu aja Xiu, mommy datang kesini karena ingin melindungi kamu dari kejaran Xavier dan pasukannya. Kalau kamu tahu itu, mungkin kamu gak akan setenang ini sayang." batin ratu Lien.


Xi Mei menyadari ibunya terdiam saja tak berbicara sepatah katapun padanya, ia pun mendongak menatap wajah sang ratu dengan heran.


"Mom, mommy kenapa bengong? Ada yang lagi mommy pikirin ya?" Cerita aja sama aku mom, siapa tahu aku bisa bantu." tanya Xi Mei.


"Ah enggak sayang, mommy gak ada mikirin apa-apa kok. Udah kamu tidur aja, jangan cemas soal mommy! Oh ya, kamu mau didongengin apa sayang?" jawab ratu Lien berbohong.


"Gak jadi deh mom, mending mommy ikut tidur aja di samping aku sini!" ucap Xi Mei.


"Yakin nih gak jadi? Katanya tadi kangen pengen didongengin sama mommy, padahal mommy udah siapin cerita yang paling seru loh." ujar ratu Lien.


"Ah yang bener mom? Cerita apa?" tanya Xi Mei.


"Tadi bilangnya gak jadi, kok sekarang pake nanya kayak gitu sih?" goda ratu Lien.


"Ih mommy mah!" cibir Xi Mei.


"Hahaha, yaudah mommy ceritain ya?" ujar ratu Lien.


Xi Mei mengangguk pelan disertai senyuman manisnya, ia sudah tidak sabar ingin segera mendengar cerita dari ibunya.


Lalu, ratu Lien pun mulai menceritakan kisah dongeng tentang sebuah kerajaan yang hancur akibat perebutan kekuasaan.


Xi Mei cukup bergidik ngeri saat mendengarnya, namun lambat laun ia justru dapat menikmati cerita tersebut dan tertidur di pangkuan ibunya.




Ryu menemui Felix di luar, ia nampak tengah berjaga-jaga di sekitar sana khawatir kalau ada penyusup yang masuk ke tempat mereka.


Terlebih ratu Lien juga telah memberitahu padanya bahwa alasan dia datang kesana adalah ingin melindungi Xi Mei dari kejaran Xavier.


"Felix, sebaiknya kita jangan tidur malam ini! Aku khawatir pasukan raja Xavier masuk ke dalam sini disaat kita terlelap, kita tidak boleh kecolongan!" ucap Ryu tegas.


"Ya kau benar, aku daritadi juga menahan kantuk ku demi menjaga ratu dan tuan putri!" ucap Felix.


"Baguslah! Tapi, kamu sudah perintahkan juga kan murid-murid mu yang lelaki untuk ikut berjaga di sekitar sini?" tanya Ryu.


"Tentu saja, aku sudah melakukan itu." jawab Felix santai sembari meneguk minumannya.


"Syukurlah! Kita tidak boleh biarkan satu wilayah pun kosong, semuanya harus dijaga agar tak ada celah bagi pasukan raja Xavier untuk bisa masuk ke dalam sini!" ujar Ryu.


"Ya, itu benar Ryu." ucap Felix mengangguk kecil.


Ryu merasa sedikit lega, walau tetap saja ia tidak bisa tenang dan masih terus ingin berjaga disana untuk memastikan putri Xiu aman.


"Hey Ryu! Kau ingin minum juga? Biar aku perintahkan anak muridku untuk membuatkan satu minuman lagi," ucap Felix.


"Boleh, kebetulan aku juga haus daritadi terus berkeliling." jawab Ryu.


"Baiklah, tunggu sebentar ya!" ucap Felix.

__ADS_1


Ryu mengangguk pelan, sedangkan Felix beranjak dari duduknya dan berjalan pergi menghampiri salah seorang anak muridnya yang berjaga di dekat mereka.


"Semoga saja malam ini aman dan tidak ada serangan dari pihak raja Xavier!" batin Ryu.


Tak lama kemudian, Zheng serta Wein Lao muncul disana. Mereka berdua terlihat bingung saat mengetahui cukup banyak orang tengah berjaga-jaga disana.


"Paman, maaf kalau aku lancang! Tapi, ini ada apa ya? Kenapa semua orang belum pada tidur?" tanya Zheng penasaran.


"Zheng, Lao? Syukurlah kalian datang! Jadi begini, kami disini semuanya sedang berjaga malam. Kami tidak mau terjadi sesuatu yang buruk pada ratu Lien maupun tuan putri, maka dari itu kami memutuskan untuk berjaga-jaga di sekitar sini." jawab Ryu menjelaskan.


"Hah? Memangnya ada kemungkinan perguruan ini bakal diserang, paman?" tanya Zheng terkejut.


"Tidak juga, tapi tadi ratu sudah menitip pesan padaku untuk bantu melindungi tuan putri. Beliau juga mengatakan, kalau saat ini raja Xavier sudah mengetahui keberadaan putri Xiu dan sedang mengincarnya untuk ditangkap." jawab Ryu.


"Duh, kasihan juga putri Xiu! Kalau begitu izinkan aku untuk membantu berjaga disini paman! Aku juga mau melindungi tuan putri!" pinta Zheng.


"Iya tuan Ryu, begitu juga denganku." sahut Wein Lao.


"Kalian tak perlu memintanya, aku memang ingin kalian berdua untuk ikut berjaga. Kalian bisa berjaga di bagian belakang, karena kebetulan disana masih kurang orang." ucap Ryu.


"Baik paman! Tapi, disana kami juga dapat minuman gratis kan paman?" ujar Zheng.


"Hadeh, kamu ini niatnya mau melindungi tuan putri atau incar minuman gratis sih?" ujar Ryu.


"Eee maaf paman, aku hanya bergurau!" ucap Zheng sambil tersenyum renyah.


"Yasudah, sana pergi!" ujar Ryu.


"Ba-baik paman!" ucap Zheng gugup.


Zheng langsung berbalik dan pergi begitu saja dari sana meninggalkan Wein Lao.


"Baiklah tuan Ryu, kalau begitu aku juga ikut ke belakang." ucap Wein Lao.


"Ya pangeran, silahkan!" ucap Ryu tersenyum.




Xi Mei kembali terbangun pada tengah malam, ia menoleh ke samping melihat ibunya yang masih tertidur pulas di sebelahnya.


Perlahan Xi Mei menggeser posisinya menjauh dari tubuh ratu Lien, ia pun terduduk di ranjang dan mengatur nafasnya sejenak.


Ya lagi dan lagi Xi Mei bermimpi mengenai Xavier yang ingin menangkapnya, entah mengapa ia selalu bermimpi seperti itu belakangan ini.


Xi Mei kembali menatap ke arah ibunya, ia tiba-tiba meneteskan air mata yang langsung saja jatuh ke sprei tempat tidurnya itu.


"Enggak, aku gak boleh cengeng! Mommy juga pasti bakalan lindungin aku kok," batin Xi Mei.


Akhirnya Xi Mei memutuskan keluar kamar sejenak untuk menenangkan dirinya, perlahan-lahan ia beranjak dari kasur dan melangkah menuju pintu meninggalkan ibunya disana.


Saat keluar dari kamar, Xi Mei terkejut lantaran terdapat dua orang teman seperguruannya yang tengah berdiri di depan pintu kamar itu.


"Loh, kalian ngapain disini?" tanya Xi Mei.


"Eh tuan putri, kami ditugaskan oleh paman guru untuk berjaga di depan sini." jawab Liu Kai.


"Hah? Untuk apa?" tanya Xi Mei heran.


"Tentu saja untuk melindungi mu tuan putri, paman guru tidak ingin ada sesuatu yang menimpa tuan putri. Maka dari itu, kami ditugaskan berjaga disini." jawab Liu Kai.


"Terimakasih ya! Tapi, apa kalian tidak lelah terus berdiri disini sepanjang malam?" ucap Xi Mei.


"Tentu tidak tuan putri, kami ini justru bangga karena bisa menjaga dan melindungi tuan putri kerajaan Quangzi." ucap Liu Kai.


"Ah kalian terlalu lebay!" ucap Xi Mei.


"Gak dong tuan putri, memang kebanggan setiap orang di wilayah ini adalah dapat menjaga dan melindungi keluarga kerajaan." ucap Liu Kai.


"Benar itu, apalagi mimpi kami adalah bisa menjadi salah satu prajurit istana nantinya. Jadi, mungkin kami dapat mewujudkan mimpi itu dengan menjaga tuan putri saat ini." sahut Xen Lu.


"Oh ya? Waw luar biasa!" ucap Xi Mei.


"Eee tuan putri ini mau kemana ya tengah malam begini? Kenapa tuan putri tidak tidur saja di dalam dan beristirahat?" tanya Liu Kai.


"Aku hanya ingin memandangi langit, langit malam itu kan sangat indah." jawab Xi Mei.


"Tapi, tuan putri tidak mengantuk? Ini kan sudah tengah malam, sebaiknya tuan putri tidur saja dulu!" ucap Liu Kai.


"Aku sudah tidur tadi, tapi kebangun gara-gara mimpi kurang enak. Makanya aku mau keluar aja, sekalian cari udara segar." jelas Xi Mei.


"Hah? Tuan putri mimpi buruk? Waduh, kalo gitu tuan putri harus lapor sama guru Felix biar dikasih ramuan anti mimpi buruk!" ujar Liu Kai.

__ADS_1


"Hahaha, iya nanti aku bilang ke guru. Yaudah, aku mau ke belakang dulu ya?" ucap Xi Mei.


"Ah iya tuan putri, mau kita temani?" tanya Liu Kai.


"Tidak perlu, biar aku sendiri saja. Lagipun, kelihatannya di sekitar sini ramai sekali dan orang-orang belum pada tidur." ucap Xi Mei.


"Tentu saja ratu, mereka juga ditugaskan oleh paman guru untuk menjaga daerah sekitar sini dari segala macam bahaya yang kemungkinan akan terjadi." kata Liu Kai.


"Duh, aku jadi ngerasa gak enak. Gara-gara aku, mereka jadi harus begadang begini." ucap Xi Mei.


"Enggak kok tuan putri, mereka itu justru senang sama kayak kita." ujar Liu Kai.


"Yaudah deh, aku pergi dulu ya? Kalian boleh duduk kok kalo capek," ucap Xi Mei.


"Baik tuan putri!" ucap mereka bersamaan.


Xi Mei pun melangkah pergi dari sana meninggalkan kedua pria yang masih fokus berjaga itu.




Singkat cerita, Xi Mei telah berada di belakang dan melihat kedua sahabatnya yakni Zheng serta Wein Lao tengah duduk di gazebo dekat sana.


Xi Mei langsung menghampiri mereka sambil tersenyum, ia merasa senang karena seluruh wilayah perguruan kini dijaga oleh orang-orang.


Sebenarnya Xi Mei juga merasa cemas jika ada orang yang ingin jahat padanya lagi, maka dari itu ia senang saat guru Felix meminta seluruh murid lelakinya berjaga di sekitar sana.


"Zheng, Lao!" ucap Xi Mei menyapa dua pria itu.


"Hah? Tuan putri??" Zheng dan Wein Lao kompak menoleh ke arah Xi Mei lalu berdiri secara bersamaan menghadap gadis itu.


"Tu-tuan putri, kenapa kamu keluar kamar?" tanya Zheng gugup.


"Kamu kok jadi panggil aku begitu sih? Gausah pake kata tuan putri segala lah, panggil aku Xi Mei aja kayak biasa!" ucap Xi Mei.


"Gak bisa lah tuan putri, aku gak enak kalau panggil tuan putri kayak biasanya. Ini aja jujur aku masih agak gimana gitu sama kamu," ucap Zheng.


"Maksud kamu?" tanya Xi Mei tak mengerti.


"Iya Xi Mei, begitulah... selama ini kan aku selalu bertindak kurang ajar sama tuan putri, maafin aku ya!" ucap Zheng menunduk.


"Kurang ajar gimana?" tanya Xi Mei.


"Eee ya banyak pokoknya, contoh biasanya aku kan suka peluk sama pegang tangan tuan putri sembarangan." jawab Zheng.


"Ahaha, sudahlah tidak usah dipikirkan lagi! Anggap aja aku sebagai teman kalian, jadi jangan canggung begitu!" pinta Xi Mei.


Zheng menoleh ke arah Wein Lao, mereka sama-sama bingung harus apa saat ini.


"Huh yaudah, terserah kalian aja deh! Aku kesini cuma mau tenangin pikiran, karena daritadi aku selalu gak bisa tenang." ucap Xi Mei.


"Tuan putri butuh bantuan?" ujar Wein Lao.


"Ya, aku pengen kalian berdua jangan panggil aku tuan putri lagi!" pinta Xi Mei.


"Ta-tapi tuan putri, kami tidak bisa lakukan itu." ucap Wein Lao.


"Iya putri, itu benar-benar tidak sopan." sahut Zheng.


"Haish, kalo gitu aku mau lihat bintang-bintang di langit dulu. Kalian lanjut aja jaga disini!" ucap Xi Mei.


"Baik tuan putri! Pasti kami akan berjaga dengan baik agar tuan putri tidak terluka! Jika tuan putri butuh bantuan, katakan saja pada kami!" ucap Wein Lao.


"Eee kamu mau kan temani aku kesana? Ada yang mau aku bicarakan sama kamu Lao," ucap Xi Mei.


"Tentu saja tuan putri, aku bersedia jika memang itu keinginan tuan putri." jawab Wein Lao.


"Eee putri Xiu, lalu bagaimana dengan aku?" tanya Zheng pada Xi Mei.


"Kamu disini saja Zheng, aku hanya ingin bicara berdua dengan Wein Lao." jawab Xi Mei.


"Baik tuan putri!" ucap Zheng menurut.


"Yasudah, ayo Lao!" ucap Xi Mei.


"Iya tuan putri, silahkan!" ucap Wein Lao.


Xi Mei pun melangkah lebih dulu, diikuti Wein Lao dari belakang dengan perlahan.


Sementara Zheng tetap disana, namun ia merasa tidak senang dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa putri Xiu hanya mengajak Wein Lao sih?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2