Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 30. Pencuri makanan


__ADS_3

Keadaan istana semakin membaik, tidak ada lagi kejahatan di dalamnya dan cukup banyak warga desa yang senang dengan cara kepemimpinan raja Xavier disana.


Namun, tetap saja itu tak membuat ratu Lien merasa tenang. Ia masih bimbang untuk mengajak putrinya datang ke istana, karena ia khawatir Xavier nantinya malah akan melukai putri Xiu.


Saat ini pangeran An Ming sudah berusia 11 tahun, ilmu pedangnya pun semakin matang karena ia diajari langsung oleh sang pendekar pedang bernama Lu Ching Yao.


Sliingg sliingg sliingg...


Suara adu pedang diantara murid dan guru itu terus terdengar di halaman istana.


An Ming semakin mahir menguasai gerakan pedang miliknya dan membuat Lu Ching Yao cukup kesulitan mengimbanginya.


Sreekkk...


Tanpa diduga, An Ming bahkan berhasil merobek baju lengan panjang yang dikenakan Lu Ching Yao dan membuat sang guru tersenyum puas.


"Maaf paman, aku benar-benar tidak sengaja telah merobek baju mu!" ucap An Ming merasa bersalah.


"Tidak apa-apa. Paman justru merasa senang karena pangeran saat ini sudah semakin hebat dalam menguasai ilmu pedang, paman yakin suatu saat nanti pangeran akan menjadi raja terkuat di muka bumi!" ucap Lu Ching Yao.


"Ah paman terlalu berlebihan! Aku saja baru 11 tahun, aku belum bisa menjadi pemimpin di istana ini." kata An Ming sambil terkekeh.


"Ya memang untuk sekarang belum, tapi kan gak ada salahnya kalau kamu belajar supaya suatu hari nanti jika kamu menjadi seorang raja kamu sudah siap!" ucap Lu Ching Yao.


"Iya paman, aku paham!" ucap An Ming.


Tak lama kemudian, ratu Lien muncul bersama para pelayannya dan menghampiri mereka yang sedang berlatih disana.


"An Ming!" ratu Lien memanggil putranya sembari melangkah dengan perlahan.


An Ming dan Lu Ching Yao kompak menoleh saat sang ratu menyebut nama putranya.


"Mommy, ada apa?" tanya An Ming heran.


"Salam hormat ratu!" Lu Ching Yao langsung memberi hormat kepada ratu Lien begitu sang ratu tiba di dekatnya.


Ratu Lien tersenyum tipis ke arah Lu Ching Yao, kemudian beralih menatap putranya.


"Sayang, kamu sudah selesai belum latihannya nak?" tanya ratu Lien kepada putranya.


"Eee sudah kok ratu, aku baru saja selesai latihan. Iya kan paman?" jawab An Ming sambil menoleh ke arah gurunya.


"Benar ratu, baru saja kamu selesai latihan." sahut Lu Ching Yao.


"Guru Yao, terimakasih ya sudah bantu mengajari putraku ini memegang pedang! Kau itu sungguh luar biasa dalam seni pedang, dan aku bangga putraku dapat berlatih denganmu!" ucap ratu Lien.


"Biasa saja ratu, hamba ini bukan seorang ahli karena hamba hanya rakyat kecil biasa, dan hamba datang kesini untuk melatih pangeran An Ming sesuai perintah dari sang raja." kata Lu Ching Yao


"Kamu ini selalu suka merendah, guru Yao. Padahal aku tahu sekali kalau kau adalah yang paling terhebat di seluruh wilayah Quangzi," ucap ratu Lien.


"Terimakasih ratu atas pujiannya terhadap hamba! Hamba juga berharap kalau pangeran An Ming bisa menjadi pendekar terkuat nantinya!" ucap Lu Ching Yao.


"Aku pun berharap sama sepertimu," ucap ratu Lien.


"Yasudah nak, kita masuk yuk! Kamu masih harus belajar yang lainnya! Biarkan guru Yao pulang dulu dan beristirahat di rumahnya, besok baru kamu akan kembali berlatih pedang supaya kamu bisa semakin hebat!" ucap ratu Lien pada putranya.


"Iya bunda ratu, aku masuk duluan ya?" ucap An Ming pamit kepada sang ratu.


Ratu Lien mengangguk pelan, sedangkan An Ming terlihat sudah melangkah pergi masuk ke dalam istana sesuai perintah sang ratu.


Lu Ching Yao pun melakukan hal yang sama, ia pamit kepada ratu Lien dan pergi dari istana menggunakan kuda miliknya.




Ratu Lien telah berada kembali di dalam istana, ia bertemu dengan Xavier saat hendak masuk ke kamarnya.


"Lien, darimana kamu?" tanya Xavier.


"Eee aku habis dari depan lihat latihan pedang An Ming, aku senang banget karena putra kita itu sudah mulai mahir belajar pedang dan aku harap dia nantinya bisa jadi seperti guru Yao yang jago bermain pedang." jawab ratu Lien tampak senang.

__ADS_1


"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya! Tapi, kamu apa masih belum mau mengajak putrimu untuk tinggal disini bersama kita? Dengar Lien, aku kan sudah bilang sama kamu kalau aku akan menyayangi Xiu seperti aku menyayangimu. Lagipun, saat ini Terizla sudah tidak ada di istana dan Xiu pasti aman!" ucap Xavier.


"Aku sudah bilang berkali-kali padamu Xavier, aku tidak tahu dimana putriku saat ini. Kalau kamu memang bisa menyayangi dia, kenapa kamu tidak perintahkan lagi anak buah kamu untuk temukan putri Xiu?" ucap ratu Lien.


"Percuma saja Lien, sudah kucari Xiu ke seluruh penjuru negeri ini. Tapi, aku tidak bisa menemukan keberadaan Xiu dimanapun. Aku rasa mungkin saja dia sudah pergi jauh dari daerah ini," ucap Xavier.


Ratu Lien terdiam memalingkan wajahnya, ia tampak memasang wajah sedih di depan Xavier.


"Hey, jangan bersedih! Baiklah, aku akan upayakan lagi pencarian terhadap putri Xiu sampai dia bisa ditemukan dan tinggal bersama kita disini! Aku tahu kalau putri Xiu memiliki hak atas istana ini, karena dia adalah putri dari raja Feng." kata Xavier.


"Lupakan saja dia, Xavier! Aku tidak yakin bahwa putriku itu masih bisa ditemukan, karena sudah bertahun-tahun kita coba mencarinya dan selalu saja gagal untuk bisa menemukannya. Apalagi sekarang?" ucap ratu Lien.


"Sabarlah Lien! Aku ada disini untukmu, aku akan terus berusaha menemukan putri Xiu agar kamu tidak bersedih lagi!" ucap Xavier sembari mengusap wajah istrinya.


"Terimakasih Xavier!" ucap ratu Lien singkat.


"Yasudah, pelayan mu kemarin ada beberapa yang mengundurkan diri bukan? Aku akan carikan pengganti mereka untukmu," ucap Xavier.


"Tidak usah Xavier, aku masih memiliki dua orang pelayan. Aku rasa mereka sudah cukup kok untuk membantuku, jadi tidak perlu ada penambahan pelayan di istana ini." kata ratu Lien.


"Tidak ada kata cukup untuk bisa melayani ratu secantik dirimu, Lien!" ucap Xavier tersenyum.


Ratu Lien tersipu dan berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Xavier, namun lelaki itu malah menarik dagunya lalu menciumnya.


Mereka pun berciuman disana, tepat di hadapan dua orang pelayan yang setia menemani kemanapun sang ratu pergi.




Mungyi datang ke dapur istana, seperti biasa ia akan membawa beberapa makanan dari sana untuk ia berikan kepada putri Xiu serta Luan di rumahnya.


Akan tetapi, tiba-tiba seorang pekerja wanita muncul disana dan memergoki Mungyi yang tengah mengambil makanan.


"Beberapa hari ini kau selalu mengambil cukup banyak makanan Mungyi, memangnya kau hendak berikan makanan itu untuk siapa? Kalau untukmu sendiri, aku rasa tak perlu kau memakai kantong itu. Kau kan bisa memakannya saat ini juga disini," ujar pekerja bernama Wei Xi itu.


"Ini bukan untukku, tapi aku akan berikan ini kepada anak-anak ku di kampung. Mereka sangat menyukai makanan istana, karena katanya rasanya enak dan bikin ketagihan. Tolong kamu jangan laporkan ini ke raja atau panglima ya!" ujar Mungyi.


"Baiklah, aku tak akan melaporkan mu. Aku ikut senang kalau anak-anak mu senang!" ucap Wei Xi.


Mungyi terus mengambil beberapa makanan disana dan memasukkannya ke dalam kantong yang sudah ia siapkan.


Setelahnya, Mungyi pun berpamitan kepada Wei Xi karena ia harus segera pergi menuju desa Fuxiu dan mengantarkan makanan itu.


"Yasudah, kalau begitu aku pamit dulu ya? Ingat, jangan sampai kamu keceplosan! Aku bisa dimarahin nantinya kalau ketahuan mengambil makanan disini secara diam-diam!" ucap Mungyi.


"Iya, aku akan tutup mulut kok. Kamu tidak perlu takut Mungyi!" ucap Wei Xi.


Mungyi tersenyum, kemudian melangkah keluar istana membawa makanan di kantongnya.


Sementara Wei Xi tetap disana, tersenyum smirk ke arah Mungyi dan menatapnya seakan ia sedang merencanakan sesuatu.




Singkat cerita, Mungyi telah tiba di rumah Luan seperti biasanya. Ia akan turun dan menemui Xi Mei di dalam sana, lalu tentunya Mungyi akan memberikan makanan yang tadi ia ambil dari dapur istana kepada Xi Mei.


Mungyi disambut oleh Luan yang muncul dari dalam rumahnya, Luan tersenyum saat melihat kedatangan Mungyi disana karena memang pria itu lah yang sedang ia tunggu-tunggu sedari tadi.


"Akhirnya kau datang juga Mungyi. Xi Mei sudah menunggumu di dalam, mari masuk!" ujar Luan.


"Baik Luan!" ucap Mungyi tersenyum singkat.


Lalu, keduanya pun melangkah masuk ke dalam rumah sederhana itu.


"Terimakasih ya Mungyi! Kalau tidak ada kau, aku tidak tahu harus bagaimana caranya untuk menyenangkan hati Xi Mei. Dia benar-benar rindu dengan masakan istana!" ucap Luan.


"Tidak perlu berterimakasih Luan, aku justru senang dapat membantu tuan putri Xiu untuk mengingat lagi masakan ini!" ucap Mungyi.


"Aku yakin dia pasti senang karena kau sudah datang dan membawakan masakan istana!" ucap Luan tersenyum.

__ADS_1


"Aku akan ikut senang jika melihat tuan putri senang, karena bagiku kesenangan keluarga istana adalah yang paling utama!" ucap Mungyi.


Mereka akhirnya menghentikan langkah saat Xi Mei menghampiri mereka.


"Xi Mei, kamu lihat siapa yang datang! Ini paman Mungyi sudah bawakan makanan istana untuk kamu, jadi kamu tidak perlu sedih lagi ya cantik!" ucap Luan.


"Bik, aku..." ucap Xi Mei menggantung.


"Kamu kenapa sayang? Ada masalah?" tanya Luan keheranan.


"Entahlah bik, daritadi perasaan ku gak enak. Lebih baik paman Mungyi jangan bawakan aku makanan istana ini lagi!" jawab Xi Mei.


"Loh, kenapa tuan putri? Katanya tuan putri rindu dengan masakan istana, ini saya sudah bawakan loh makanannya." ujar Mungyi.


"Iya paman, terimakasih ya! Tapi, ini yang terakhir kalinya paman bawain makanan istana buatku. Aku punya firasat yang gak enak sama paman, aku gak mau paman diusir dari istana hanya karena membawakan aku makanan." kata Xi Mei.


"Mengapa kamu bisa berpikir begitu Xi Mei?" tanya Luan tak mengerti.


"Aku juga tidak tahu bik, tapi sebaiknya paman menurut saja denganku! Ini semua demi kebaikan paman, supaya paman bisa tetap bekerja di istana!" jawab Xi Mei.


"Baiklah tuan putri, paman akan ikuti perintah tuan putri!" ucap Mungyi.


"Baguslah paman!" ucap Xi Mei tersenyum.


"Oh ya Luan, kemarin cukup banyak pelayan istana yang mengundurkan diri dengan alasan tidak jelas. Sekarang di istana hanya tersisa dua orang pelayan ratu, kenapa kau tidak coba datang kembali ke istana dan menjadi pelayan ratu?" ujar Mungyi pada Luan.


"Kembali ke istana? Entahlah Mungyi, aku masih belum terpikirkan kesana. Aku rasa bekerja sebagai seorang pedagang itu lebih baik, dibanding aku harus kembali kesana. Apalagi saat ini kan yang memimpin istana bukanlah pewaris tahta sesungguhnya," jawab Luan.


"Betul sih, seharusnya yang memimpin istana Quangzi saat ini adalah ratu Lien, bukan raja Xavier yang tidak punya hubungan apa-apa dengan kerajaan Quangzi!" ucap Mungyi.


"Dan seharusnya juga, putri Xiu bisa tinggal di istana bersama sang ratu dan hidup bahagia selama-lamanya!" sambung Mungyi.


"Paman tidak perlu cemas! Sebentar lagi tuan putri mu yang cantik ini akan merebut haknya, aku pastikan istana Quangzi akan jatuh ke tanganku paman! Dan aku akan mengusir raja Xavier beserta antek-anteknya dari istana!" ucap Xi Mei.


Sontak Luan dan Mungyi kompak terkejut dengan apa yang diutarakan Xi Mei barusan.




"Apa? Jadi, selama ini Mungyi yang sudah mengambil makanan di dapur tanpa seizin ku? Pantas saja makanan untuk para prajurit selalu kurang, ternyata dia pelakunya!" geram Zhen Yi selaku kepala pekerja di dapur istana.


"Benar, begitulah adanya. Tadi aku sendiri yang memergoki Mungyi sedang mengambil makanan di dapur, dan dia mengaku kalau dia melakukan itu demi menyenangkan anaknya." kata Wei Xi.


"Apapun alasannya, tetap saja Mungyi tidak boleh mengambil apa yang bukan menjadi haknya! Urusan anaknya itu bukan urusan pihak istana, harusnya dia bisa menyenangkan anaknya tanpa harus merugikan Isyana!" ujar Zhen Yi.


Wei Xi hanya tersenyum lalu menundukkan kepala, ia merasa senang karena telah berhasil membuat Zhen Yi marah kepada Mungyi.


Tak lama kemudian, panglima Gusion muncul setelah mendengar suara kegaduhan disana akibat suara Zhen Yi tadi.


"Ada apa ini ribut-ribut? Suara kalian terdengar sampai keluar istana!" tanya Gusion pada mereka.


"Eee maafkan kami panglima! Kami tidak bermaksud mengganggu prajurit yang sedang berlatih!" ucap Zhen Yi.


"Ya, apa masalahnya?" tanya Gusion.


"Begini panglima, tadi Wei Xi memberi laporan padaku kalau Mungyi mengambil makanan secara diam-diam dari dapur dalam jumlah banyak. Makanya aku marah karena itu merugikan istana, panglima." jawab Zhen Yi menjelaskan.


"Hah? Kenapa Mungyi bisa melakukan itu? Bukankah dia pegawai istana yang paling setia?" tanya Gusion terkejut.


"Entahlah panglima, namun Wei Xi bilang kalau ini demi kebaikan anak-anak Mungyi." jawab Zhen Yi.


"Ini tidak bisa dibiarkan, dimana dia sekarang?!" ujar Gusion tampak kesal.


"Sekarang Mungyi sedang pergi memberikan makanan itu untuk anak-anaknya, panglima. Mungkin sebentar lagi dia akan kembali," jawab Wei Xi.


"Baiklah, suruh dia temui saya begitu dia sudah kembali! Saya ingin bicara empat mata dengan dia!" pinta Gusion.


"Baik panglima!" ucap Zhen Yi.


Gusion pun pergi dari sana meninggalkan Zhen dan juga Wei Xi.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2