Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 52. Tetap mengabdi


__ADS_3

"Jangan ikut campur, atau kamu akan saya habisi!" ucap prajurit itu.


"Hah??" Xi Mei menganga lebar dibuatnya.


Saat prajurit itu hendak menyerangnya, satu orang ninja lebih dulu menendang punggung prajurit itu hingga tersungkur ke tanah.


Bughh...


"Jangan ganggu dia!" teriak si ninja.


"Huh syukurlah!" ucap Xi Mei mengelus dada.


Ninja itu pun kembali menghadapi para prajurit milik raja Ling, sedangkan Xi Mei tetap disana memantau pertarungan tersebut sambil berjaga-jaga dengan memegang busurnya.


Bruuukkk...


Ryu terdorong ke belakang hingga terjatuh dengan posisi terlentang setelah terkena tebasan pedang milik raja Ling.


"Paman!" teriak Xi Mei langsung melotot lebat saat menyaksikan pamannya terjatuh.


"Uhuk uhuk.." Ryu terbatuk-batuk sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


Xi Mei bangkit dari posisinya, lalu bergerak cepat menghampiri Ryu yang sedang kesakitan setelah terkena serangan dari pedang milik raja Ling itu.


"Paman, paman gapapa kan?" tanya Xi Mei.


"Kamu gausah panik, paman baik-baik aja kok! Tadi paman cuma kaget dengan serangan pedang itu," jawab Ryu.


"Syukurlah! Tapi, apa paman masih kuat melawan raja Ling? Pedang miliknya itu sangat sakti, aku belum pernah melihat pedang seperti itu sebelumnya paman." ucap Xi Mei.


"Ya, itu adalah pedang naga suci. Siapapun yang berhasil mengendalikannya, maka bisa menjadi pendekar tersakti di muka bumi ini." ucap Ryu.


"Apa? Lalu, bagaimana caranya untuk dapat mengalahkan pedang itu paman?" tanya Xi Mei.


"Kamu tenang saja! Paman pasti bisa melakukan itu, kamu sebaiknya menjauh karena serangan pedang itu bisa merembet cukup jauh dan paman khawatir akan mengenai kamu!" ucap Ryu.


"Ba-baik paman!" ucap Xi Mei gugup.


Akhirnya Xi Mei melepas tangannya dari Ryu, membiarkan pamannya itu kembali mendekati Ling dan bersiap menyerang.


"Hahaha, bagaimana Ryu? Kau sudah tahu kan betapa hebatnya pedangku ini?" ujar raja Ling.


"Baiklah, aku akui kau memang hebat dan dapat mengendalikan pedang naga suci itu. Tapi, kau belum mampu mengalahkan ku raja Ling. Aku masih berdiri tegak di depanmu, dan aku akan bersiap untuk menumbangkan mu!" ucap Ryu.


"Waw aku takut! Sudahlah Ryu, tidak usah banyak bicara dan mari bertarung denganku! Aku sudah tidak sabar ingin segera menikahi Xi Mei, hahaha!" ucap raja Ling tertawa puas.


"Itu hanya akan terjadi di dalam mimpimu, Ling!" ucap Ryu.


Mereka kembali bertarung dan saling beradu pedang, Ryu cukup kewalahan menandingi kekuatan pedang milik raja Ling yang memang cukup dahsyat itu.


Xi Mei masih terus memandangi pamannya dari jarak jauh, ia khawatir Ryu tidak dapat memenangkan pertarungan ini dan justru malah terluka akibat serangan pedang raja Ling.


"Duh, bagaimana ini? Apa yang bisa aku lakukan untuk membantu paman Ryu? Aku tidak mungkin diam saja disini, disaat pamanku berjibaku menghadapi raja Ling. Ya Xiu, kamu harus bantu pamanmu itu!" gumam Xi Mei dalam hati.


Xi Mei mengangkat busurnya, mengarahkan pada tubuh raja Ling dan bersiap memanah dari jauh dengan harapan mampu mengani raja itu.


"Kali ini aku berharap padamu, panahku. Tolong jangan meleset!" ucap Xi Mei.


Slaasshh...


Anak panah itu melesat dengan cepat ke arah tubuh raja Ling, namun diluar dugaan hanya mampu menyentuh pedang milik raja Ling hingga terpental dan jatuh ke tanah.


Praaangg...


"Sial! Apa-apaan itu?!" geram raja Ling.


Sontak raja Ling langsung menoleh ke arah Xi Mei dengan wajah emosi dan dua tangan terkepal.


Ryu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, ia pun menyerang raja Ling dengan pedangnya.


Sraaakk...


Tebasan pedangnya itu mampu merobohkan tubuh raja Ling, tak berhenti sampai disitu Ryu kembali menusukkan pedangnya pada perut bagian kiri raja Ling hingga raja itu memekik kesakitan.


"Aakkkhhh!!" Ling langsung terkapar begitu Ryu mencabut kembali pedangnya.


"Terimalah kekalahan mu, raja Ling!" ucap Ryu memandangi tubuh raja Ling sambil tersenyum.




Ratu Lien tidak sengaja berpapasan dengan rombongan Xavier yang hendak mencarinya saat dalam perjalanan kembali menuju istana.


Tentu saja ratu Lien merasa bingung sekaligus panik ketika melihat Xavier disana, ia khawatir Xavier akan mencurigainya.


"Mungyi, kenapa berhenti?" tanya ratu Lien.


"Maaf ratu! Sepertinya pasukan raja Xavier itu telah mengetahui jika ratu bersama saya, buktinya mereka mencegat perjalanan kita. Apa yang harus saya lakukan ratu?" ucap Mungyi.

__ADS_1


"Yasudah, terpaksa aku harus temui mereka. Kita tidak memiliki jalan lain," ucap ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Mungyi.


Xavier langsung turun dari kudanya, berjalan mendekati kereta kuda yang membawa sang ratu alias istrinya.


"Mungyi, dimana istriku?" tanya Xavier.


"Eee ratu..."


"Aku disini Xavier," potong ratu Lien yang langsung muncul dari dalam kereta itu.


"Lien, syukurlah aku dapat menemukanmu! Mengapa kamu pergi tanpa memberitahuku? Apa kau tidak tahu betapa paniknya aku?" ucap Xavier.


"Maafkan aku Xavier! Aku hanya ingin menikmati sore hari di luar istana, itu sebabnya aku meminta Mungyi mengantarku. Aku tidak bilang padamu, karena aku takut kau akan melarangku untuk pergi keluar." ucap ratu Lien berbohong.


"Tentu saja aku akan melarangmu, apa kau tidak ingat kejadian sebelumnya saat kau pergi dari istana? Seharusnya kamu lebih berhati-hati lagi Lien, bukan malah mengulanginya!" ujar Xavier.


"Iya yang mulia, aku minta maaf! Aku benar-benar bosan berada di istana." ucap ratu Lien.


"Yasudah, kamu ikut pulang bersamaku! Kita berkeliling sebentar di sekitar sini agar kamu tidak bosan, baru nanti kita kembali ke istana dan berendam di kolam pelangi." kata Xavier.


"Baiklah, aku setuju dengan usulmu. Tapi, kamu tidak marah kan denganku?" ucap ratu Lien memasang wajah imutnya.


"Kamu tidak perlu khawatir, biar gimanapun aku tak mungkin bisa marah padamu! Sudahlah, ayo kita pergi sekarang!" jawab Xavier sembari mencolek dagu istrinya.


"Iya yang mulia.." ucap ratu Lien menurut.


Xavier menggandeng tangan Lien dan membawa istrinya itu ke atas kuda, tak lupa ia juga menyuruh Mungyi kembali ke istana.


"Mungyi, kau kembalilah ke istana bersama para prajurit! Sedangkan kau Zheng, temani aku dan ratu berkeliling di sekitar sini!" perintah Xavier kepada pasukannya itu.


"Baik ratu!" ucap mereka semua serentak.


Setelahnya, Mungyi pun pergi menuju istana dengan kudanya.


"Sayang, kamu mau kemana dulu?" tanya Xavier.


"Eee terserah kamu ajalah, sayang! Aku mah ngikut aja sama kamu, karena aku juga kurang tahu daerah sini." jawab ratu Lien sambil tersenyum.


Xavier pun mengeratkan pelukannya, mencium ceruk leher ratu Lien yang membuat wanita itu terpejam dan membenamkan wajahnya pada bahu sang suami.


"Masa sih kamu gak tahu daerah sini? Kamu itu kan ratu Quangzi, gimana sih?" ujar Xavier.


"Hehe, aku emang kurang ngerti daerah sini sayang. Wajarlah kan aku seringnya di dalam istana, aku jarang keluar." kata ratu Lien.


"Yaudah, kalo gitu kita jalan sekarang ya?" ujar Xavier sambil tersenyum genit.


"Hahaha, duh bisa aja nih istriku yang cantik dan gemesin!" ujar Xavier sembari mencubit pipi sang ratu dengan gemas.


"Biar gak tegang terus sayang," ucap ratu Lien.




Xi Mei, Ryu, beserta tiga ninja anak buahnya telah berhasil keluar dari wilayah Sidhagat.


Mereka tampak merasa lega karena tidak ada lagi pasukan Sidhagat yang mengejar mereka.


Xi Mei pun amat senang, ia tersenyum memandangi wajah pamannya yang saat ini tengah menuntunnya berjalan.


"Kenapa Xi Mei? Kamu terpesona ya sama ketampanan paman?" tanya Ryu bergurau.


"Hah? Ih paman ternyata bisa narsis juga ya, aku kira paman itu orangnya kalem." ujar Xi Mei.


"Hahaha, bercanda doang sayang. Emang kenapa sih kamu ngeliatin paman terus begitu?" ujar Ryu.


"Gapapa kok paman, aku cuma kagum aja sama paman. Makasih ya karena paman udah perduli banget sama aku! Kalau bukan karena paman, aku pasti gak bakal bisa lepas dari tangan raja Ling dan mungkin aku udah dinikahin sama dia." kata Xi Mei.


"Biasa aja sayang, itu sudah tugas paman untuk menjaga kamu sesuai amanat dari ibu kamu. Lagipun, keselamatan kamu ini juga buah dari keahlian memanah kamu itu." ujar Ryu.


"Ya tetap aja paman hebat!" ucap Xi Mei.


"Yaudah, biar adil kita berdua hebat deh." ucap Ryu.


"Ahaha, iya paman." Xi Mei tertawa kecil.


"Eee maaf tuan! Lalu, bagaimana nasib kami sekarang? Apa kami sudah bisa kembali ke tempat asal kami?" tanya seorang ninja.


"Oh iya, saya sampai lupa kalau ada kalian. Yasudah, semuanya terserah kalian. Kalau kalian mau pergi ya silahkan, kalau mau tetap ikut sama saya juga terserah!" jawab Ryu.


"Memangnya boleh kalau kita tetap mengabdi sama tuan?" tanya ninja itu.


"Boleh boleh aja, justru saya senang kalau kalian mau tetap jadi anak buah saya." jawab Ryu.


"Wah! Kalau begitu, kami putusin buat tetap ikut sama tuan deh. Kita bakal jaga dan lindungin tuan kapanpun dimanapun," ucap ninja itu.


"Bagus, terimakasih ya!" ucap Ryu.

__ADS_1


"Sama-sama, tuan." ucap ninja.


"Paman ninja, kenapa paman mau ikut terus sama aku dan paman Ryu? Emang kalian gak pengen balik ke tempat kalian?" tanya Xi Mei heran.


"Ya sebenarnya sih kita mau balik ke tempat asal kita, tapi gak tahu kenapa rasanya berat banget buat tinggalin tuan Ryu dan non Xi Mei." jawab ninja itu.


"Hahaha, itu artinya kalian memang harus menjadi pengawal setia kami. Sudahlah, kalian ikut saja dengan kami sampai tiba di lembah parabuan nanti!" ucap Ryu.


"Apa? Lembah parabuan?" ujar ninja itu terkejut.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Ryu heran.


"Untuk apa tuan dan nona ingin datang kesana?" ucap ninja itu bertanya-tanya.


"Saya ingin menemui sahabat saya disana, dia adalah ahli beladiri yang dapat mengajarkan keponakan saya ini berbagai macam ilmu. Memang ada apa sih? Kenapa kalian kaget begitu?" ujar Ryu masih terheran-heran.


"Tidak tuan, kami hanya bingung mengapa tuan sampai harus pergi ke tempat yang jauh dan berbahaya hanya untuk mengemban ilmu." ucap ninja itu.


"Ya begitulah, Xi Mei yang memintanya dan saya tidak mungkin menolaknya." ucap Ryu.


"Oh gitu.." ujar si ninja.


"Eee ngomong-ngomong nama kalian bertiga siapa sih? Kenalan dong, biar aku gak ribet kalau mau manggil kalian." ucap Xi Mei.


"Ah iya non, kenalkan nama saya Rube. Yang ini Ah Shin, dan yang itu Rulli." jawab ninja itu.


Xi Mei manggut-manggut sambil tersenyum manis menatap ketiga ninja itu.




Singkat cerita, perjalanan Xi Mei dan yang lainnya sudah semakin dekat dengan tujuan mereka yakni lembah parabuan.


Akan tetapi, suasana yang sudah mulai gelap membuat Ryu memutuskan untuk beristirahat sejenak disana sebelum kembali melanjutkan perjalanan mereka esok hari.


"Xi Mei, kita istirahat dulu ya malam ini disini?! Kamu juga kan harus istirahat!" ucap Ryu.


"Iya paman, aku juga kasihan sama paman yang terus-terusan tuntun aku!" ucap Xi Mei.


"Hahaha, gapapa lah sayang paman kuat kok kalau cuma tuntun kamu." ujar Ryu.


"Tuan, kalau tuan capek biar saya aja yang gantian tuntun non Xi Mei." celetuk Rulli.


"Hus! Kamu jangan ngomong begitu, Rulli! Emang kamu mau dihajar sama tuan Ryu?" tegur Rube.


"Hehe bercanda loh.." ujar Rulli nyengir.


Ryu menggeleng saja melihat tingkah ketiga ninja pasukannya, sedangkan Xi Mei justru terkekeh dengan kelucuan ninja-ninja itu.


"Xi Mei, kamu makan dulu ya! Habis itu baru kita semua tidur disini, supaya perut kita juga gak kosong sebelum tidur." ucap Ryu.


"Iya paman, aku kebetulan lapar nih." kata Xi Mei.


"Yasudah, ini makanan untuk kamu!" ucap Ryu.


"Makasih paman!" ucap Xi Mei tersenyum.


Gadis itu mulai memakan makanannya, begitupun dengan Ryu dan para ninja disana.


Setelah selesai, Xi Mei langsung menguap dan merasa mengantuk. Ia pun bersandar pada pohon besar di belakangnya dan meluruskan kedua kakinya secara perlahan.


"Eee paman, aku tidur duluan ya? Aku ngantuk banget nih, lagian udah malam juga." ucap Xi Mei sembari mengucek-ngucek matanya.


"Ah iya sayang, kamu tidur aja! Ini biar ninja-ninja itu yang bereskan, jadi kamu bisa tidur nyenyak nanti." ucap Ryu terkekeh.


"Oke paman!" ucap Xi Mei tersenyum renyah.


Xi Mei pun memejamkan matanya dan lambat laun mulai tertidur pulas, begitupun dengan pamannya yang juga ikut tertidur sesudah selesai makan.


Sementara ketiga ninja itu memutuskan untuk berjaga disana, mereka tidak mau ada bahaya yang menimpa Ryu ataupun Xi Mei.


"Rube, apa kau tidak mengantuk? Mataku saja sudah perih banget ini," ujar Rulli.


"Tidak, aku akan tetap terjaga malam ini demi menjaga tuan Ryu dan non Xi Mei. Kalau kau ingin tidur, silahkan saja! Biar aku bersama Ah Shin yang berjaga disini," ucap Rube.


Ngoookk ngoookk...


Terdengar suara orang ngorok yang berasal dari samping, keduanya pun menoleh ke asal suara tersebut dan melihat Ah Shin sudah tertidur.


"Ahaha, tuh liat Ah Shin aja udah tidur!" ujar Rulli.


"Hadeh, emang kurang ajar!" umpat Rube.


"Yaudah ah, aku mau tidur juga. Kamu yang benar ya jaganya!" ucap Rulli terkekeh.


"Iya iya.." ucap Rube pasrah.


Rulli pun ikut terbaring dan tertidur disana, sedangkan Rube tetap memaksa untuk berjaga walaupun matanya sudah tidak kuat.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2