Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 104. Tertusuk


__ADS_3

"Heh! Kamu siapa? Lagi apa disini?" Felix terkejut hebat ketika suara parau terdengar di telinganya.


"Eee sa-saya.." Felix terlihat gugup dan bingung saat hendak menjelaskannya.


"Kalau kamu mau macam-macam, saya akan teriak supaya warga disini langsung hajar kamu!" ancam pria itu.


"Ja-jangan pak! Saya bukan penjahat kok, saya ini pasukan istana Quangzi." ucap Felix gemetar.


"Punggawa istana? Lalu, mau apa kamu ada disini dan mengendap-endap begitu?" tanyanya lagi.


"Eee aku hanya ingin memastikan pangeran An Ming baik-baik saja, itu dia sedang ada di depan sana bersama seorang wanita." jawab Felix.


Sontak pria itu mengarahkan pandangan ke arah yang ditunjuk Felix.


"Oh begitu, maaf deh tadi saya sudah salam paham sama kamu! Abisnya gerak-gerik kamu mencurigakan sih, jadinya saya kira kamu itu mau macam-macam disini." ucap pria itu.


"Hahaha, tidak apa-apa pak! Saya begini karena saya gak mau pangeran An Ming tahu bahwa saya mengikutinya," ucap Felix.


"Baiklah, kalau begitu teruskan saja memantaunya ya tuan!" ucap pria itu.


"Eh tunggu tunggu! Saya bisa tanya sesuatu sama kamu?" ujar Felix menahan pria itu.


"Iya bisa tuan, memangnya kamu mau tanya apa sama saya?" ucap pria itu penasaran.


"Kamu tahu wanita yang disana itu?" tanya Felix seraya menunjuk ke arah Feng Lian.


"Ah iya, saya tahu. Ada apa ya sama dia tuan?" jawab pria itu kebingungan.


"Pangeran An Ming mengatakan ingin menikahi gadis itu, lalu saya ditugaskan ratu untuk mencari tahu siapa dia. Jika kamu tahu sesuatu tentang dia, tolong beritahu saya sekarang juga!" jelas Felix.


"Ohh, iya iya saya tahu kok tuan. Gadis itu namanya Feng Lian, dia kembang desa di kampung ini. Banyak lelaki yang mengejar-ngejar dia dan berharap citanya, saya gak nyangka kalau pangeran ternyata juga tertarik sama dia." ucap pria itu.


"Pantas saja dia sangat cantik, ternyata memang dia incaran banyak pria. Lalu, apa kamu tahu mengenai keluarganya?" tanya Felix kembali.


"Tentu saja tuan, saya kenal dekat sama orang tua Feng Lian!" jawabnya.


"Baguslah! Kalau begitu, kamu jelaskan padaku mengenai keluarga gadis itu!" pinta Felix.


"Baik tuan! Jadi begini, Feng Lian itu memiliki orang tua yang bernama Natalia dan Shi Yuqi. Namun, sekarang gadis itu hanya tinggal bersama ayahnya setelah ibunya pergi entah kemana." jelas pria itu.


"Ohh, berarti Feng Lian ini benar-benar orang sini kan? Dia asli masyarakat desa ini kan?" tanya Felix memastikan.


"Iya tuan, itu benar!" jawab pria itu.


"Baiklah, terimakasih atas infonya ya! Eee omong-omong bapak ini siapa ya?" ujar Felix.


"Saya Lee Wei, warga asli sini juga. Saya cukup dekat dengan ayahnya Feng Lian," jawab pria itu.


"Oh begitu, sekali lagi terimakasih ya!" ucap Felix.


"Sama-sama tuan, apa ada yang ingin tuan tanyakan lagi pada saya?" ujar pria itu.


"Ah tidak, itu saja untuk kali ini." ucap Felix.


"Yasudah, kalau begitu saya permisi dulu ya!" ucap pria itu pamit pada Felix.


"Silahkan!" ucap Felix tersenyum singkat.


Pria bernama Lee Wei itu pun pergi dari sana, sedangkan Felix tetap berdiam pada tempatnya.




"Ada apa yang mulia?" tanya Akai penasaran.


"Tidak, aku hanya kepikiran dengan perkataan ratu Alice tadi. Aku khawatir jika semua yang dia katakan benar adanya," jawab raja Ling.


"Tenanglah yang mulia! Aku yakin, putri Xiu tidak mungkin seperti itu! Ratu Alice pasti sengaja ingin mengadu domba Quangzi dan Sidhagat, supaya kita bermusuhan lagi." ucap Akai.


"Kau benar juga Akai! Dasar iblis licik! Memang yang dia katakan selalu berhasil membuat orang merasa yakin!" ujar raja Ling.


"Begitulah yang mulia, kita memang tidak boleh mempercayai perkataan iblis! Mereka semua tidak bisa dipercaya," ucap Akai.


"Iya juga, yasudah aku tidak akan memikirkan lagi apa yang dia katakan." ucap raja Ling.


"Benar begitu yang mulia! Kita sebaiknya fokus saja mencari keberadaan Reiner, karena itu tujuan utama kita!" ucap Akai.


"Ya ya ya, tapi kemana lagi kita harus mencari?" tanya raja Ling bingung.


"Eee ikuti saja jalan lurus ini yang mulia, siapa tahu kita bisa mendapat petunjuk di depan sana!" jawab Akai memberi masukan.


"Baiklah, aku ikuti usul kau!" ucap raja Ling.


"Ayo semuanya, kita lanjutkan pencarian ini dan temukan Reiner sampai dapat!" ucap raja Ling pada seluruh pasukannya.


"Siap yang mulia!" sahut seluruh prajurit disana.


Mereka pun kembali bergerak maju demi menemukan Reiner si pengkhianat itu.


Namun, tiba-tiba saja mereka dicegat oleh sekelompok orang bertopeng hitam.


"Hati-hati semuanya!" teriak raja Ling.


Orang-orang bertopeng itu kini berada di hadapan raja Ling dan menatap tajam ke arahnya.


"Siapa kalian?" tanya raja Ling.


"Bukan urusanmu, ayo serang!" ucap orang itu.


Tanpa basa-basi, sekumpulan orang itu langsung menyerah ke arah raja Ling dan para pasukannya secara membabi buta.

__ADS_1


Raja Ling yang tak siap, akhirnya tampak kesulitan menghadapi serangan mendadak dari orang-orang di hadapannya itu.


Sampai raja Ling akhirnya berhasil menahan pedang salah satu orang yang menyerangnya, ia menatap tajam ke arah orang itu.


"Kamu siapa dan mau apa menyerang kami, ha?" tanya raja Ling tegas.


"Itu bukan suatu hal yang patut dijawab, kamu tidak perlu tahu tentang itu!" ucap orang itu.


"Hahaha, kamu terlalu berambisi untuk mengalahkanku, baiklah nanti kamu akan rasakan akibatnya!" ujar raja Ling.


"Jangan bicara kau!" wanita yang menyerang raja Ling itu berhasil menarik pedangnya, ia bergerak cepat menusukkan pedang miliknya ke arah perut raja Ling sampai tembus.


Jlebb...


"Aakhhh!!" raja Ling memekik kesakitan, terlebih saat wanita itu mencabut pedangnya.


Perlahan raja Ling tersungkur di tanah dengan tangan memegangi perutnya.


"Yang mulia!" teriak Akai panik.


Si wanita pun pergi bersama pasukannya.




Ryu pun menyusul pergi untuk kembali berjaga di gerbang istana.


Tampak Gusion juga masih berada disana, ia seperti sedang kebingungan saat ini.


"Panglima, sedang apa?" tanya Ryu heran.


"Aku bingung paman, aku tidak tahu harus mencari pengirim surat ini kemana. Gak ada petunjuk sama sekali yang bisa aku dapatkan, ini sangat sulit!" jawab Gusion gelisah.


"Sabarlah panglima! Bagaimana dengan panah yang dikirim oleh orang itu sebelumnya? Siapa tahu kita bisa dapatkan petunjuk disana," ucap Ryu.


"Ah iya, kau betul paman! Tapi, dimana ya anak panah itu?" ujar Gusion.


"Bukankah sebelumnya kamu menyuruh prajurit untuk mencabut panah itu?" tanya Ryu.


"Iya benar, tapi aku gak tahu kemana prajurit itu membuang anak panahnya. Aku juga lupa sudah menyuruh siapa," jawab Gusion.


"Kita tanyakan saja pada mereka yang berjaga disini," ucap Ryu.


"Baiklah paman!" ucap Gusion menurut.


Mereka berdua pun sama-sama menanyakan hal itu kepada seluruh prajurit disana.


"Jadi, kau yang mencabut anak panah itu?" tanya Gusion.


"Benar panglima!" jawab prajurit itu.


"Lalu dimana kau meletakkan anak panah itu?" tanya Gusion lagi.


"Sial! Sekarang kamu cepat pergi kesana dan ambil anak panah itu!" perintah Gusion.


"Ba-baik panglima!" ucap prajurit itu menurut.


Prajurit itu pun bergerak cepat menuju hutan untuk mengambil anak panah sesuai perintah dari Gusion.


Sementara Gusion tetap menunggu disana dengan wajah cemas, ia berharap anak panah itu masih ada dan ia bisa menemukan petunjuk dari sana.


"Sabar panglima! Pasti prajurit itu berhasil membawa anak panah itu kemari!" ujar Ryu.


"Iya paman, tapi bagaimana jika tidak ada petunjuk di panah itu?" tanya Gusion.


"Kita coba saja lihat dulu panglima! Siapa tahu kita bisa mengenali darimana anak panah itu berasal, kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak terus panglima!" jawab Ryu.


"Ah iya paman, aku menurut saja!" ucap Gusion.


Tak lama kemudian, prajurit itu kembali dengan membawa anak panah yang sebelumnya menusuk salah seorang prajurit disana.


"Lapor panglima! Hamba sudah menemukan anak panah ini," ucap prajurit itu.


"Iya, terimakasih ya prajurit!" ucap Gusion sembari mengambil panah tersebut.


Gusion pun memeriksa anak panah itu untuk mencari tahu darimana asal panah tersebut dan menemukan siapa pemiliknya.


"Bagaimana ini paman? Aku sudah periksa sekeliling panah ini, tapi gak ada apa-apa." ucap Gusion.


"Sepertinya ini cuma panah biasa, orang itu tidak berasal dari istana manapun." ucap Ryu.


"Maksud paman? Berarti pemiliknya ini bukan orang kerajaan?" tanya Gusion.


"Ya begitulah," jawab Ryu.




Alice dan Wingki tampak membuka topeng yang mereka kenakan itu bersamaan.


Mereka kini sudah menjauh dari rombongan raja Ling yang sebelumnya mereka serang.


Tampak senyum tipis terpampang di wajah Alice setelah ia berhasil mengalahkan raja Ling.


"Hahaha, begitu mudah ternyata mengalahkan raja yang sombong itu!" ucap Alice.


"Iya ratu, semuanya memang betul. Raja Ling itu tidak ada apa-apanya dibanding ratu, dia hanya sekelas raja rendahan yang tidak bisa melakukan apapun." ucap Wingki.


"Kalau sudah begini, aku bisa pastikan raja Ling tidak mungkin bisa menemukan keberadaan Reiner ataupun istrinya!" ucap Alice.

__ADS_1


Wingki mengangguk disertai senyum tipisnya.


"Hey ratu iblis!" tiba-tiba Reiner bersama istrinya datang kesana menyapa Alice.


"Reiner? Kenapa kamu ada disini? Sudah kubilang, kamu tunggu saja di tempat itu!" ujar Alice.


"Maaf Alice! Kami hanya penasaran, apa rencana yang kau jalankan itu berhasil?" ucap Reiner.


"Tentu saja, semuanya berhasil dan aku dapat mengalahkan raja Ling dengan mudah." ucap Alice.


"Benarkah? Apa aku bisa mempercayai kata-kata mu itu?" tanya Reiner memastikan.


"Apa maksudnya? Kamu meragukan ku, ha?!" geram Alice.


"Bukan begitu, aku hanya butuh bukti jika kamu telah berhasil mengalahkan raja Ling!" ujar Reiner.


"Terserah kamu saja, jika kamu ingin bukti silahkan kamu jenguk raja Ling sana!" ucap Alice.


"Baiklah, dia dimana sekarang?" tanya Reiner.


"Tadi sih dia masih di sebelah sana, luka tusukan di perutnya cukup parah dan aku pastikan dia tidak bisa mencari kamu." jawab Alice.


"Yasudah, aku akan cek dia dulu. Ayo sayang, kita periksa semuanya!" ujar Reiner.


Emy sang istri pun setuju saja dengan perkataan Reiner, mereka berdua akhirnya pergi menuju tempat raja Ling berada untuk memastikan semua perkataan Alice itu benar adanya.


"Ratu, mengapa mereka dibiarkan pergi? Jika mereka tidak kembali, bagaimana?" tanya Wingki.


"Biarkan saja, aku yakin mereka pasti kembali! Kalaupun tidak, maka bukan hal yang sulit bagiku untuk menemukan mereka." jawab Alice.


"Baiklah ratu!" ucap Wingki.


"Sekarang kita kembali ke tempat kita, aku cukup lelah setelah bertarung tadi!" ucap Alice.


"Ya ratu," ucap Wingki singkat.


Alice dan Wingki akhirnya pergi dari sana, mereka kembali menuju istana iblis sesuai kemauan Alice sendiri.


Sementara Reiner dan Emy kini sudah tiba di tempat raja Ling berada, mereka memantau raja Ling dari jauh untuk memastikan semuanya.


"Raja, bangun raja! Bertahanlah!" suara Akai terdengar jelas di telinga mereka.


Sontak Reiner pun tersenyum lebar saat melihat kondisi raja Ling saat ini, ia kini percaya bahwa perkataan Alice itu benar.


"Hahaha, raja Ling ternyata lemah!" ujar Reiner.




An Ming masih bersama dengan Feng Lian di rumahnya, terdapat sang ayah dari gadis itu juga yang sedang berbicara dengannya.


Shi Yuqi selaku ayah Feng Lian itu terkejut hebat mendengar perkataan An Ming, apalagi An Ming mengatakan jika ia ingin melamar Feng Lian.


"Apa pangeran serius mengatakan itu? Pangeran mau melamar putriku?" tanya Shi Yuqi.


"Tentu saja paman, atau aku harus mulai memanggil mu ayah?" jawab An Ming.


Shi Yuqi terdiam seraya menatap ke arah putrinya, ia tak tahu harus berkata apa untuk saat ini karena semuanya benar-benar membuat ia bingung.


"Jadi, bagaimana ayah? Apa aku bisa melamar putrimu ini?" tanya An Ming.


"Eee apa ini tidak terlalu cepat pangeran? Kalian kan baru kenal, nanti pangeran nyesel loh kalau langsung menikah dengan putri saya. Sebaiknya pangeran pikir-pikir dulu deh!" ucap Shi Yuqi.


"Aku tidak akan menyesal ayah, justru aku takut jika terlalu lama, maka aku bisa kehilangan anak gadismu ini. Aku tahu kalau Lian ini diincar oleh banyak pria disini, aku gak mau dong kalau sampai dia dimiliki orang lain." ujar An Ming.


"Tenang saja pangeran! Memang benar banyak pria yang ingin melamar putriku, tapi jika pangeran bersungguh-sungguh ingin menikahi dia, pasti saya akan jaga dia untuk pangeran." ucap Shi Yuqi.


"Iya pangeran, aku juga gak mungkin kecewain pangeran dan beralih ke lain hati." sahut Feng Lian.


"Tapi, aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan kamu Lian!" ucap An Ming.


"Sabar pangeran! Pernikahan itu tidak bisa dilakukan secara mendadak," ucap Feng Lian.


"Kenapa tidak bisa? Aku akan bawa bunda ratu kemari untuk membahas ini besok," ucap An Ming.


"Hah? Pangeran serius?" tanya Feng Lian.


"Iya Lian, aku tidak pernah seserius ini sebelumnya! Aku mencintaimu dan aku ingin kita menikah!" jawab An Ming tegas.


Feng Lian terlihat kebingungan, ia menatap wajah sang ayah seakan meminta bantuan.


"Baiklah pangeran, saya menurut saja dengan apa yang ingin pangeran lakukan. Jika memang pangeran mau menikahi putri saya, silahkan saja!" ucap Shi Yuqi.


"Ayah, tapi aku—"


"Sudahlah Lian, ini nasib baik loh untuk kamu!" potong Shi Yuqi.


"Itu benar Lian!" sahut An Ming.


Akhirnya mau tidak mau, Feng Lian pun terpaksa mengangguk dan menuruti kemauan An Ming.


"Baiklah pangeran, aku bersedia!" ucap Feng Lian.


"Itu bagus gadisku!" ucap An Ming.


Disaat An Ming hendak bangkit dan mendekati Feng Lian, tiba-tiba saja Zheng muncul mengagetkan mereka semua.


"Pangeran, gawat pangeran!" teriak Zheng.


"Hah? Paman Zheng??" An Ming terkejut dan spontan menoleh ke arah Zheng.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2