Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 62. Hampir tertangkap


__ADS_3

Xi Mei, Zheng dan juga Rai sudah tiba di acara festival malam yang ditunjukkan oleh Zheng itu.


Mereka cukup terpukau melihat semua dekorasi serta persiapan atraksi disana yang cukup wah.


Zheng masih terus menggenggam tangan Xi Mei menggunakan tangan kanannya, itu membuat Rai selalu gagal fokus sedari tadi.


"Nah, ini dia tempatnya. Gimana Xi Mei, kamu ngerasa suka gak datang kesini?" ucap Zheng bertanya seraya menatap wajah Xi Mei.


"Eee suka kok, aku suka banget sama dekorasi disini. Semuanya kelihatan indah dan bikin aku terpukau, apalagi pas lihat persiapan buat atraksi disana itu. Aku jadi penasaran deh mereka pada mau ngapain nantinya," jawab Xi Mei.


"Iya sama, aku juga penasaran. Tapi, sebelum nonton gimana kalau kita main salah satu games disini dulu? Lihat deh tuh di depan, ada banyak permainan yang seru-seru!" ujar Zheng.


"Wah iya kamu bener!" ucap Xi Mei tersenyum.


Rai hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan melihat Zheng dan Xi Mei asyik berduaan tanpa memperdulikan dirinya.


"Tahu gini tadi aku mending gak ngikut aja," batin Rai merasa jengkel.


Namun, tiba-tiba Xi Mei menoleh ke arah Rai dan mengajak pria itu untuk memainkan salah satu permainan yang ada disana.


"Rai, ayo kita main kesana!" ucap Xi Mei.


"Ah iya, kalian duluan aja!" ucap Rai.


"Enggak lah, kan kita datangnya bertiga jadi kita harus sama-sama dong." kata Xi Mei.


"Ta-tapi..."


Xi Mei melepas genggaman tangan Zheng dan mendekat ke arah Rai seraya menggandeng tangan Rai di hadapan Zheng.


"Udah, ayo kita kesana!" ucap Xi Mei.


"Eee iya iya, aku mau kok." ucap Rai tersenyum.


Rai pun merasa senang sekaligus deg-degan saat digandeng seperti ini oleh Xi Mei, ia terus menatap ke bawah memastikan bahwa tangannya benar-benar digenggam oleh gadis itu.


"Mei, kok cuma dia sih yang digandeng? Tanganku nganggur loh ini," tanya Zheng merasa iri.


"Hah? Iya, sabar dong Zheng! Nanti kita kan masuknya bareng-bareng, jadi pasti sambil gandengan juga bertiga." jawab Xi Mei.


Zheng tersenyum senang menghampiri Xi Mei dan juga Rai, ia menggandeng tangan gadis itu hingga membuat Xi Mei berada di tengah-tengah antara kedua pria tersebut.


"Nah, kalo begini kan enak. Jadinya gak ada yang ngerasa gak adil diantara kita," ucap Zheng.


"Eee tapi aku yang ngerasa canggung jadinya, masa harus digandeng dua cowok sekaligus? Apalagi banyak orang yang ngeliatin kita tuh," ucap Xi Mei.


"Ya gapapa Xi Mei, biarin aja orang-orang mah mau bicara apa." kata Zheng.


"Iya, kamu gausah perduliin mereka!" sahut Rai.


"Yaudah, ayo buruan kita main permainan disana sebelum ramai orang yang antri!" ucap Xi Mei.


Zheng dan Rai mengangguk bersamaan, lalu melangkah menuju area permainan dengan Xi Mei berada diantara mereka.


Mereka pun mulai bermain permainan yang ada disana bersama-sama, tampak keceriaan di wajah mereka bertiga saat melakukan permainan itu.


"Hahaha, yes aku menang!" ucap Zheng penuh semangat.


"Halah selisih tipis aja bangga! Kita coba permainan lain deh, pasti aku yang bakal menang nanti!" ucap Xi Mei.


"Mau di permainan apapun, kamu pasti kalah sama aku Xi Mei!" ujar Zheng dengan sombong.


"Hey, udah lah jangan ribut! Kita kesini kan mau nonton festival, bukan main games. Kalau kita main terus, kapan mau nontonnya?" ucap Rai menengahi dua orang itu.


"Emangnya udah mau mulai ya festivalnya?" tanya Xi Mei.


"Tuh orang-orang udah pada ngumpul disana, berarti sebentar lagi dimulai." jawab Rai.


"Oh iya, yaudah yuk kita kesana!" ucap Xi Mei.


"Eh tunggu dulu! Gimana kalau kita beli makanan dulu sebelum kesana? Jadi, nanti pas nonton kita gak kelaparan." usul Zheng.


"Boleh tuh, aku setuju!" ucap Xi Mei.


"Iya, aku juga." sahut Rai.


Akhirnya mereka bertiga membeli makanan sejenak sebelum menonton festival yang diadakan disana.




Singkat cerita, mereka bertiga telah selesai menonton festival tersebut dan kini ketiganya pun bersiap untuk pulang.


Lagi-lagi Xi Mei masih berada di tengah kedua pria itu dengan dua tangannya digenggam tak dibiarkan menganggur begitu saja.


"Mei, gimana sama atraksinya tadi? Keren-keren kan?" tanya Zheng pada gadis itu.


"Bukan main kerennya Zheng, tadi sih keren banget tau! Aku sampe suka lihatnya dan pengen lihat lagi nanti, semoga ada festival kayak gini lagi deh!" jawab Xi Mei sambil tersenyum.


"Nah kan, aku udah yakin kamu pasti bakal ketagihan buat lihat festival itu lagi. Tadi aja awalnya kamu diajak gak mau, eh begitu selesai malah pengen lagi." ujar Zheng.


"Hehe, kan aku gak tahu kalau acaranya itu sebagus dan semeriah ini." kata Xi Mei.


"Yaudah, nanti kalau ada festival kayak gini lagi pasti aku bakal ajak kamu buat kesini lagi." ucap Zheng tersenyum lebar.


"Iya, aku gak sabar nunggunya!" ucap Xi Mei.

__ADS_1


Mereka berdua pun saling bertatapan selama beberapa detik hingga membuat Rai jengkel.


"Ehem ehem..." Rai berdehem pelan.


"Eh, ma-maaf Rai! Kamu jadi gak diajak ngobrol, maaf ya!" ucap Xi Mei merasa bersalah.


"Gapapa lah, wajar kok kalau kalian asyik berdua. Toh kalian kan emang sahabat dekat, jadi aku gak masalah." kata Rai.


"Ah gak juga, aku bukan dekat sama Zheng doang kok." elak Xi Mei.


Disaat mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja segerombolan orang datang mengitari mereka sambil tertawa keras dan membawa berbagai macam senjata di tangan mereka.


"Hahaha.... hahaha..."


"Si-siapa kalian?" tanya Xi Mei gugup dan takut.


"Hahaha, kau tidak perlu tau siapa kami! Cepat kamu ikut dengan kami, atau kami akan habisi kalian bertiga sekaligus!" ucap orang itu.


"Hey, jangan harap kalian bisa bawa Xi Mei dari kami!" ujar Zheng.


"Justru kalian yang tidak bisa menghalangi kami untuk membawa pergi gadis itu dari sini, dia harus ikut bersama kami!" ucap orang itu.


"Itu tidak akan terjadi!" ucap Zheng tegas.


Zheng langsung mengambil posisi menutup tubuh Xi Mei untuk melindungi gadis itu dari kemungkinan serangan orang-orang di depan mereka.


"Kamu hati-hati, aku gak mau kamu dibawa pergi sama mereka!" ucap Zheng.


"Iya, aku juga gak mau ikut mereka." ucap Xi Mei.


"Tenang aja! Kita pasti bakal lindungin kamu, jangan panik!" ucap Rai.


"Aku gak panik, cuma takut sedikit." elak Xi Mei.


"Yaudah, kamu gausah takut sedikit! Ada aku sama Rai disini buat kamu, jadi kamu tenang aja!" ucap Zheng tersenyum tipis.


"I-i-iya.." ucap Xi Mei gugup.


"Serang mereka!" perintah salah seorang yang mengerubungi mereka.


Orang-orang itu pun mulai maju menyerang Zheng serta Rai, perkelahian antara mereka pun tidak bisa dihindari.


Xi Mei memundurkan langkahnya menjauh dari mereka, ia sedikit panik karena Zheng dan Rai diserang oleh orang-orang itu.


"Aduh! Gimana ini ya?" ujar Xi Mei cemas.


Bugghhh... // Zheng berhasil memukul salah seorang yang menyerangnya hingga terjatuh.


Bugghhh... // Namun, orang-orang yang lain berhasil juga memukul dan menendang Zheng hingga dia terjatuh.


"ZHENG!!" teriak Xi Mei.




Para pelayan yang berjaga di depan kamarnya pun merasa heran, mereka akhirnya mengikuti sang ratu hingga sampai di halaman istana.


"Maaf ratu! Sebenarnya ratu mau pergi kemana?" tanya salah seorang pelayan itu.


"Kau diamlah! Kalian tetap disini, jangan ikuti aku! Aku mempunyai urusan penting yang harus segera aku selesaikan, jadi kalian tidak usah ikut campur!" tegas ratu Lien.


"Tapi ratu—"


"Sudah kubilang diam, kalian menurut saja denganku! Kalau kalian masih mengikutiku, aku tidak akan segan-segan membunuh kalian dengan pedangku ini!" potong ratu Lien.


"Ba-baik ratu, kami tidak akan mengikutimu lagi!" ucap pelayan itu ketakutan.


"Yasudah, jangan membuatku marah!" ujar ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap pelayan itu gemetar.


Ratu Lien pun kembali menghadap ke depan dan melanjutkan perjalanannya, meninggalkan para pelayannya yang masih berdiri disana.


"Aku harus temui Xiu sekarang, aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya!" batin ratu Lien.


Sementara para pelayan itu pun tampak bingung harus melakukan apa, hingga mereka memiliki ide untuk melapor pada Xavier selaku raja sekaligus suami dari sang ratu.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Tidak tahu, tapi ada baiknya kalau kita melapor pada yang mulia raja Xavier."


"Ah iya, kau benar!"


"Kalau begitu ayo kita melapor sekarang!"


"Baik!"


Mereka pun pergi menemui Xavier di tempatnya berada sekarang dengan tergesa-gesa.


Ratu Lien kini sudah berada di gerbang istana, ia hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk bisa keluar dari istana itu.


Namun, langkahnya terhenti saat prajurit penjaga disana menghalanginya untuk tidak pergi dari sana.


"Mohon maaf ratu! Hendak kemana ratu malam-malam begini?" ujar prajurit itu.


"Kalian jangan halangi aku! Aku ingin pergi sekarang, jadi menyingkir lah kalian dari hadapanku!" ujar ratu Lien.

__ADS_1


"Tidak bisa ratu, kami tidak akan membiarkan ratu pergi dari istana!" ucap prajurit itu.


"Ohh, jadi kalian ingin menghalangi aku?" ucap ratu Lien mulai emosi.


"Maaf ratu! Tapi, kalau ratu ingin pergi sebaiknya tunggu besok pagi saja! Sekarang ini sudah malam, sangat rawan jika ratu pergi sekarang." ucap prajurit itu.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan ku! Aku bisa menjaga diriku sendiri, jadi sebaiknya kalian pergi atau aku akan habisi kalian semua!" ucap Lien.


Ketiga prajurit penjaga itu tampak bingung, mereka takut dengan ancaman sang ratu namun juga tidak ingin terkena hukuman dari raja Xavier.


"Kenapa diam? Cepat menyingkir!" ucap ratu Lien.


Saat ratu Lien hendak melangkah maju, tiga prajurit itu kompak berdiri di hadapan sang ratu dan menempelkan tombak serta tameng milik mereka untuk menghalangi sang ratu.


"Maaf ratu! Sebaiknya ratu kembali ke dalam saja," ucap prajurit itu.


"Kalian benar-benar memancing amarahku!" ucap ratu Lien.


Sreekkk...


Akhirnya ratu Lien mengeluarkan pedangnya, membuat tiga prajurit itu tersentak kaget dan reflek menjauh dari sang ratu.


"Kalian masih ingin menghalangi jalanku?" tanya ratu Lien sembari menodongkan pedangnya.


"Ratu, tolong jangan seperti ini! Kami tidak mungkin melawan ratu!" ucap prajurit itu.


"Kalian yang memaksaku melakukan ini, jadi tanggung lah resikonya!" ucap ratu Lien.


"Hiyaaa..."


Ratu Lien bergerak maju dan mulai menyerang tiga prajurit itu.




Aaauuuu....


Suara lolongan serigala tiba-tiba muncul saat ketujuh orang bertopeng itu hendak mendekati Xi Mei dan menangkapnya.


Ya saat ini Zheng dan Rai sudah terkapar di tanah setelah kalah bertarung melawan tujuh orang itu, keduanya tak mampu berbuat apa-apa lagi saat ini.


Xi Mei yang sudah ketakutan, dibuat terkejut dengan kedatangan segerombolan serigala di dekatnya yang bersiap melawan orang-orang itu.


"Hah? Gawat ada serigala! Kita harus gimana ini?"


"Sudahlah, sebaiknya kita pergi dari sini! Aku tidak mau dimakan serigala!"


"Baik, kalo gitu aku ikut denganmu!"


"Aku juga,"


Akhirnya ketujuh orang itu pergi dari sana dengan terbirit-birit, mereka tampaknya takut dengan kemunculan para serigala dan tidak mau mati konyol di tangan serigala-serigala itu.


Xi Mei merasa sedikit lega karena orang-orang tadi sudah pergi, namun masalahnya belum selesai karena saat ini ada segerombolan serigala yang mendekatinya.


"Jangan mendekat! Aku masih mau hidup, tolong kalian menjauh!" ucap Xi Mei ketakutan.


"Aaaaa..." teriak Xi Mei sembari menutupi wajahnya saat satu serigala meloncat ke arahnya.


Akan tetapi, serigala itu justru berubah wujud menjadi manusia tampan dan langsung tersenyum menatap Xi Mei dari jarak dekat.


"Xi Mei, ini aku." ucapnya lembut.


Xi Mei pun terkejut mendengar suara berat yang muncul di dekatnya, ia seperti mengenali suara itu dan terasa tidak asing di telinganya.


"Lao?" ucap Xi Mei melongok tak percaya.


"Iya Xi Mei, kamu masih ingat kan denganku? Kamu tidak perlu takut lagi!" ucap Wein Lao.


"Ta-tapi, beneran ini kamu?" tanya Xi Mei ragu.


"Tentu saja tuan putri, aku benar-benar Wein Lao yang pernah membantumu waktu itu." jawab pria itu dengan senyum manisnya.


"Huh syukurlah!" Xi Mei merasa lega sekaligus senang, ia langsung memeluk Wein Lao dengan erat dan mengucapkan terima kasih. "Terimakasih Lao, karena kamu sudah menolongku!"


"Sama-sama tuan putri, itu sudah tugasku. Aku akan selalu menjaga kamu!" ucap Wein Lao.


"Sekali lagi terimakasih, andai tidak ada kamu tadi mungkin saja aku sudah dibawa oleh orang-orang itu!" ucap Xi Mei.


"Iya tuan putri, sudahlah tidak perlu mengucap terimakasih lagi padaku!" ucap Wein Lao.


"Ahaha, iya Lao.." ucap Xi Mei terkekeh kecil.


Xi Mei pun melepas pelukannya dan tersenyum ke arah Wein Lao dengan sedikit mendongakkan wajahnya.


"Aku senang deh bisa ketemu kamu lagi!" ucap Xi Mei sambil tersenyum renyah.


"Eee tolonglah tuan putri, jangan menatapku sambil tersenyum seperti itu!" pinta Wein Lao.


"Mengapa? Kamu tidak suka?" tanya Xi Mei.


"Bukan begitu, tapi aku tidak tahan dengan ekspresi mu yang menggemaskan itu. Rasanya aku selalu ingin mencubit pipi mu, setiap kali kamu menatapku seperti itu." jawab Wein Lao.


"Kenapa kamu tidak melakukan itu?" ujar Xi Mei seakan memberi kode pada Wein Lao.


Wein Lao melebarkan matanya, terkejut dengan pertanyaan Xi Mei barusan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2