Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 105. Rombongan demo


__ADS_3

"Jangan cemberut gitu lah sayang! Aku kan cuma minta hak aku sebagai suami, apa salah?" bujuk Wein Lao.


Xiu menatap ke arah Wein Lao dengan wajah kesal yang tampak imut di mata pria itu.


"Kamu kenapa? Marah sama aku? Kamu itu kalo lagi marah begini malah kelihatan tambah imut tau, aku terkam juga nih disini." goda Wein Lao.


"Ish, imut imut apanya!" cibir Xiu.


"Hahaha, tuh kan makin imut! Istriku ini emang dah gak ada lawan!" ucap Wein Lao.


"Gausah ngerayu, aku lagi kesel sama kamu!" ujar Xiu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Yah jangan gitu dong cantik!" bujuk Wein Lao.


"Suka-suka aku lah, makanya kamu jangan nyebelin jadi cowok! Kasih hadiah ke aku ternyata ada maunya, dasar mesum!" cibir Xiu.


"Mesum sama istri sendiri mah gapapa dong?!" ujar Wein Lao sambil terkekeh kecil.


Xiu terdiam saja, ia benar-benar kecewa pada kelakuan suaminya itu yang menurutnya sangat menyebalkan.


Tiba-tiba saja, seorang wanita terlempar dan mendarat tepat di hadapan mereka dengan kondisi luka yang cukup parah.


Bruuukkk...


"Akh! To-tolong!!" ringis wanita itu.


"Hah??" Xiu terkejut melihatnya.


Xiu pun menoleh ke arah suaminya dengan wajah bingung, pasalnya di hadapan mereka saat ini ada seorang wanita yang tergeletak dengan luka cukup parah.


"Lao, bagaimana ini? Siapa dia dan kenapa dia bisa terluka seperti itu?" tanya Xiu kebingungan.


"Mana aku tahu sayang?! Kamu coba aja turun dan tanya ke dia langsung!" ujar Wein Lao.


"Ish kok aku?! Kamu lah sayang, kan kamu itu suami aku!" tegas Xiu.


"Kenapa gak kita berdua aja? Jadi, kita bisa tahu segalanya bersama." ucap Wein Lao.


"Kamu aja ah, aku takut!" ucap Xiu.


"Hah? Aku baru tahu, ternyata tuan putri Xiu Jia Li yang hebat ini penakut! Cemen banget sih kamu!" ledek Wein Lao.


"Ish, aku bukan cemen atau penakut!" elak Xiu.


"Terus apa dong sayangku?" tanya Wein Lao.


"Ya aku cuma gak berani aja lihat orang yang luka kayak gitu, apalagi darahnya banyak." jawab Xiu.


"Yaudah, kamu tunggu aja disini ya!" ujar Wein Lao.


"Iya iya, tapi awas loh kamu jangan modus sama dia!" ucap Xiu memperingati.


"Modus apa sih? Orang dia lagi luka masa dimodusin?" ujar Wein Lao.


"Ya siapa tau aja kan??" ucap Xiu.


"Enggak sayang, udah ya aku samperin dia dulu! Takutnya dia keburu meninggal!" ucap Wein Lao.


"Iya iya," ucap Xiu mengangguk cepat.


Wein Lao pun turun dari kudanya dan menghampiri sosok wanita yang tergeletak lemas di tanah itu.


Perlahan ia mendekati wanita itu, tampak si wanita memang masih membuka matanya.


"Hey! Kamu siapa?" tanya Wein Lao.


"Uhuk uhuk, to-tolong aku!" ucap wanita itu.


"Iya, saya akan tolong kamu. Tapi, kamu bisa cerita dulu kan ke saya apa yang terjadi sama kamu?!" ucap Wein Lao.


"Aku abis diserang sama orang yang gak aku kenal," jawab wanita itu susah payah.


"Okelah, saya bantu kamu berdiri ya?" ucap Wein Lao.


Wanita itu mengangguk cepat, Wein Lao pun membantunya berdiri dengan hati-hati karena tubuh wanita itu penuh luka.




"Jadi, bagaimana ayah? Apa aku bisa melamar putrimu ini?" tanya An Ming.


"Eee apa ini tidak terlalu cepat pangeran? Kalian kan baru kenal, nanti pangeran nyesel loh kalau langsung menikah dengan putri saya. Sebaiknya pangeran pikir-pikir dulu deh!" ucap Shi Yuqi.


"Aku tidak akan menyesal ayah, justru aku takut jika terlalu lama, maka aku bisa kehilangan anak gadismu ini. Aku tahu kalau Lian ini diincar oleh banyak pria disini, aku gak mau dong kalau sampai dia dimiliki orang lain." ujar An Ming.


"Tenang saja pangeran! Memang benar banyak pria yang ingin melamar putriku, tapi jika pangeran bersungguh-sungguh ingin menikahi dia, pasti saya akan jaga dia untuk pangeran." ucap Shi Yuqi.


"Iya pangeran, aku juga gak mungkin kecewain pangeran dan beralih ke lain hati." sahut Feng Lian.


"Tapi, aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan kamu Lian!" ucap An Ming.


"Sabar pangeran! Pernikahan itu tidak bisa dilakukan secara mendadak," ucap Feng Lian.


"Kenapa tidak bisa? Aku akan bawa bunda ratu kemari untuk membahas ini besok," ucap An Ming.


"Hah? Pangeran serius?" tanya Feng Lian.


"Iya Lian, aku tidak pernah seserius ini sebelumnya! Aku mencintaimu dan aku ingin kita menikah!" jawab An Ming tegas.


Feng Lian terlihat kebingungan, ia menatap wajah sang ayah seakan meminta bantuan.

__ADS_1


"Baiklah pangeran, saya menurut saja dengan apa yang ingin pangeran lakukan. Jika memang pangeran mau menikahi putri saya, silahkan saja!" ucap Shi Yuqi.


"Ayah, tapi aku—"


"Sudahlah Lian, ini nasib baik loh untuk kamu!" potong Shi Yuqi.


"Itu benar Lian!" sahut An Ming.


Akhirnya mau tidak mau, Feng Lian pun terpaksa mengangguk dan menuruti kemauan An Ming.


"Baiklah pangeran, aku bersedia!" ucap Feng Lian.


"Itu bagus gadisku!" ucap An Ming.


Disaat An Ming hendak bangkit dan mendekati Feng Lian, tiba-tiba saja Zheng muncul mengagetkan mereka semua.


"Pangeran, gawat pangeran!" teriak Zheng.


"Hah? Paman Zheng??" An Ming terkejut dan spontan menoleh ke arah Zheng.


"Ada apa paman?" tanya An Ming penasaran.


"Ini gawat pangeran! Barusan ada info dari seseorang, katanya sekumpulan remaja pria ingin datang kesini dalam jumlah banyak." jawab Zheng.


"Maksud paman? Mau apa mereka datang kesini?" tanya An Ming terheran-heran.


"Entahlah, tapi dari info yang paman dapat, katanya mereka kecewa karena pangeran mau melamar Feng Lian sekarang." jawab Zheng.


"Hah??" An Ming terkejut mendengarnya, begitu juga dengan Feng Lian dan ayahnya.


"Sudah kubilang, inilah yang terjadi jika pangeran memaksa ingin menikahi putriku." ujar Shi Yuqi.


An Ming terdiam memikirkan sesuatu.




Ratu Lien yang hendak keluar mengecek kondisi istana, tak sengaja bertemu dengan Gusion serta Ryu di depan pintu istana.


Sontak sang ratu langsung bergerak menghampiri mereka dengan wajah bingung, pasalnya ia sudah menyuruh Gusion untuk mencari pengirim surat ancaman tadi.


"Gusion!" ratu Lien memanggil sang panglima dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan pria itu.


"Ya ratu, salam hormat hamba!" ucap Gusion memberi hormat pada ratu Lien.


"Mengapa kamu masih ada disini? Apa kamu lupa dengan tugasmu?" tanya ratu Lien.


"Maaf ratu! Tapi, hamba baru saja memeriksa anak panah yang digunakan pengirim surat itu. Dan ternyata, panah ini tidak memiliki petunjuk apapun. Jadi, saya sulit menemukan pengirimnya ratu." jelas Gusion.


"Benar ratu! Menurut pemahaman saya, ini adalah perbuatan warga biasa. Si pengirim itu bukan berasal dari keluarga kerajaan," sahut Ryu.


"Baik ratu!" ucap Ryu menurut.


Sementara Gusion tampak kebingungan sendiri seraya melirik ke arah Ryu dan sang ratu karena tak mengerti harus apa.


"Kenapa Gusion? Kamu keberatan?" tanya ratu Lien.


"Eee ti-tidak ratu, hamba hanya bingung bagaimana caranya mencari si pengirim dari ribuan masyarakat Quangzi?" jawab Gusion.


"Kamu tanyakan saja pada Ryu, dia tadi menjawab baik ketika ku perintahkan!" usul ratu Lien.


Gusion pun melirik ke arah Ryu yang berdiri di sebelahnya, sedangkan ratu Lien berbalik dan pergi begitu saja setelah mengatakan itu.


"Paman, bagaimana ini? Paman punya caranya?" tanya Gusion pada Ryu.


"Eee tentu saja tidak, tadi saya bilang begitu biar ratu percaya sama saya." jawab Ryu.


"Aduh paman! Terus sekarang kita harus gimana? Ratu pasti marah kalau kita belum bisa dapetin pengirim surat ancaman itu!" ujar Gusion panik.


"Kenapa kamu harus panik? Kita coba saja dulu segala caranya, kalau gagal pasti ratu bisa memahaminya." usul Ryu.


"Tapi paman, apa paman tahu caranya gimana?" tanya Gusion lagi.


"Aku kan sudah bilang tidak, kamu sebagai panglima harusnya bisa cari tahu dong caranya!" jawab Ryu.


"Huft, kenapa jadi aku lagi yang kena? Aku udah pusing banget loh paman!" keluh Gusion.


"Oh kamu mau ngeluh? Yasudah, nanti biar saya sampaikan keluhan kamu ke ratu ya." ujar Ryu.


"Eh jangan dong paman! Masa paman tega sekali sama saya?" ucap Gusion.


"Hahaha, yaudah ayo kita berangkat sekarang dan laksanakan perintah ratu!" ajak Ryu.


"I-i-iya paman, tapi kita ke desa mana dulu nih?" tanya Gusion.


"Mana saja yang dekat," jawab Ryu asal.




Felix yang melihat rombongan para lelaki tengah menuju rumah Feng Lian dengan keadaan emosi, merasa cemas dan khawatir.


Sontak Felix pun langsung bergerak cepat menahan rombongan tersebut karena ia tidak ingin sesuatu terjadi pada pangeran kecil Quangzi.


"Hey tunggu! Ada apa ini? Kenapa kalian terlihat sangat marah?" tanya Felix dengan lantang.


"Siapa kamu? Kamu sepertinya bukan warga sini," ujar salah seorang pria.


"Ya, saya memang bukan warga sini. Tapi, saya hanya ingin mencegah kalian melakukan tindakan anarkis yang bisa melukai seseorang nantinya!" ucap Felix.

__ADS_1


"Ah kamu tidak usah ikut campur! Kamu tidak berhak melarang kami!" tegas seorang pria.


"Jelas saya harus menahan kalian, karena ini menyangkut nyawa pangeran Quangzi!" ujar Felix.


"Ohh, jadi kamu ada hubungannya sama si pangeran kecil itu?" tanya pria tersebut.


"Tentu saja, aku Felix dan aku pasukan istana Quangzi yang diberi tugas menjaga sang pangeran. Jika kalian ingin melukainya, maka kalian harus langkahi dulu mayatku!" jelas Felix.


"Baiklah, sesuai permintaan mu paman Felix!" ucap pria itu dengan senyum smirk nya.


Felix mengambil ancang-ancang bersiap untuk menghadapi mereka semua, walau ia sempat ragu karena kalah jumlah.


"Seraaaangg!!" teriak pria itu.


"Tunggu!" tiba-tiba seorang pria datang dan menahan rombongan yang ingin menyerang Felix itu.


Sontak mereka menoleh secara bersamaan ke asal suara tersebut.


"Paman Lee? Mengapa paman menghalangi kami untuk menyerang dia? Bukankah dia ini pasukan Quangzi, dan kami sangat membenci orang-orang istana!" ucap si pemuda bernama Tachi.


"Tachi, aku tahu kamu sangat mencintai Lian dan ingin memilikinya. Tapi, kamu tidak bisa memaksakan kehendak kamu seperti ini! Apalagi sampai kamu mengajak pemuda yang lainnya untuk berdemo seperti ini," ucap Lee Wei.


"Ah paman tidak usah menasehati kami! Disini kami hanya ingin menuntut keadilan pada Lian, tidak lebih!" ucap Tachi.


"Keadilan apa yang kamu inginkan Tachi?" tanya Lee Wei.


"Tentu saja soal pilihan Lian, dia itu menolak kami dengan alasan belum siap menikah, tapi dia malah menerima cinta pangeran An Ming. Kami tidak terima dengan itu, kami ingin menuntut penjelasan dari Feng Lian!" jelas Tachi.


"Cukup Tachi! Kamu tidak bisa lakukan itu, ini masalah hati dan cinta tidak bisa dipaksakan!" ucap Lee Wei tegas.


"Setidaknya Lian jangan menggantung kami! Kalau dia memang mau tolak kami, ya tolak aja! Gausah pake alasan belum siap segala! Giliran dilamar pangeran aja mau," kesal Tachi.


Lee Wei menggeleng kebingungan, sedangkan Felix tampak berpikir keras menemukan solusi.


"Bagaimana caranya aku bisa hentikan mereka ya? Mereka terlihat sangat emosi," batin Felix.




Xiu dan Wein Lao tiba di istana membawa seorang gadis yang terluka tadi.


"Akh awhh sshh!!" rintih wanita tersebut.


"Kamu sabar ya! Kita sudah sampai di istana, aku bakal bawa kamu ke ruang pengobatan untuk diobati!" ucap Wein Lao menenangkan wanita itu.


"I-i-iya.." jawab wanita itu lirih.


Wein Lao langsung membopong tubuh wanita itu dengan hati-hati dan membawanya masuk.


Sementara Xiu masih terdiam disana memegangi kuda yang tadi mereka tumpangi.


"Lao perhatian banget sama itu cewek," batin Xiu.


Mungyi yang menyaksikan momen itu pun coba menghampiri Xiu untuk mengambil kuda miliknya.


"Tuan putri!" ucap Mungyi.


"Iya paman," ucap Xiu sedikit kaget.


"Sini kudanya biar paman aja yang bawa ke kandang," ucap Mungyi.


"Iya paman, makasih ya!" ucap Xiu tersenyum dan memberikan kuda itu kepada Mungyi.


"Oh ya, wanita tadi yang dibawa pangeran Lao itu siapa ya putri?" tanya Mungyi.


"Aku juga gak tahu, tapi dia tadi tiba-tiba muncul di depan aku sama Lao dalam keadaan terluka kayak gitu." jawab Xiu.


"Duh, kasihan banget ya itu cewek! Kira-kira dia diserang siapa ya?" ujar Mungyi.


"Mana aku tahu! Yaudah, aku mau masuk dulu ya paman?" ucap Xiu.


"I-i-iya tuan putri.." ucap Mungyi gugup.


Xiu pun pergi ke dalam istana dengan wajah kesal, sepertinya wanita itu cemburu karena Lao lebih perhatian dengan wanita yang terluka tadi.


Saat di dalam, Xiu justru tak sengaja berpapasan dengan ratu Lien alias sang ibu yang sedang panik memikirkan surat ancaman.


"Xiu, kamu sudah pulang sayang?" tanya ratu Lien.


"Iya mom, mommy kenapa gelisah gitu? Ada yang lagi mommy pikirin?" ucap Xiu balik bertanya.


"Begitulah sayang, mommy lagi mikir soal orang yang kirim surat ancaman kesini." jelas ratu Lien.


"Surat ancaman? Maksudnya?" tanya Xiu terkejut.


"Tadi itu ada seseorang yang mengirim surat melalui anak panah, isi surat itu adalah ancaman untuk kita semua agar segera mengosongkan istana." jawab ratu Lien.


"Apa? Terus, mommy udah tahu siapa yang kirim surat ancaman itu?" tanya Xiu.


"Belum sayang, tapi mommy sudah tugaskan Gusion dan Ryu untuk mencarinya." jawab ratu Lien.


"Duh, semoga aja mereka bisa temuin pelakunya deh mom!" ucap Xiu.


"Iya sayang, mommy juga berharap begitu. Oh ya, kamu sendiri kenapa tadi masuk kesini sambil murung begitu?" tanya ratu Lien.


"Eee aku..."


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2