
"Dasar pengecut!" umpat Gusion.
Disaat Gusion hendak menyerang Fey Chu, tiba-tiba saja raja Ling muncul dan menghentikan pertarungan itu.
"Berhenti!!" teriak raja Ling dari jauh.
"Hah??" Gusion dan Fey Chu sama-sama terkejut, mereka menoleh ke arah raja Ling dengan mata terbelalak.
Sementara Reiner yang masih tergeletak di tanah juga ikut terkejut melihat rajanya sudah kembali.
Kini raja Ling sudah berhenti di dekat mereka, menatap ketiganya dengan penuh keheranan.
"Ada apa ini? Siapa kamu wanita muda? Kenapa kamu berkelahi dengan pasukan Quangzi?" tanya raja Ling pada Fey Chu.
"Ah kamu pasti raja Sidhagat kan?" ujar Fey Chu.
"Ya, aku Ling. Kamu siapa?" ucap raja Ling.
"Aku Fey Chu, aku pastikan sebentar lagi kamu akan lengser dari jabatan mu raja!" ucap Fey Chu.
"Apa maksudmu?" tanya raja Ling tak mengerti.
Wanita itu tersenyum saja, lalu melesat pergi meninggalkan raja Ling serta yang lainnya.
"Siapa dia sebenarnya??" gumam raja Ling.
"Hey! Aku yakin kamu pasti tau dimana putri Xiu, cepat katakan padaku atau aku akan menyerang kamu!" ucap Gusion.
"Hah? Tenanglah panglima Gusion, aku bisa beritahu dimana putri Xiu dan pangeran Lao padamu, jangan gunakan kekerasan ya!" ucap raja Ling.
"Baguslah, dimana mereka sekarang? Beritahu aku!" ujar Gusion.
"Nanti akan aku beritahu, tapi sebelumnya aku ada urusan sebentar dengan panglima ku." ucap raja Ling.
"Sialan! Kamu ingin mempermainkan aku?" geram Gusion.
"Ah tidak, aku hanya—" ucapan raja Ling terpotong saat Gusion mengangkat pedangnya dan maju menyerang ke arahnya.
"Jangan banyak bicara kau! Rasakan ini!" Gusion langsung maju dan menyerang raja Ling.
"Gusion hentikan!!" suara teriakan itu membuyarkan pertarungan mereka.
"Hah? Tuan putri Xiu??" Gusion terkejut melihat keberadaan putri Xiu dan Wein Lao disana.
"Apa-apaan kamu Gusion? Kenapa kamu serang raja Ling?" tanya putri Xiu.
"Maaf tuan putri! Hamba khawatir dengan tuan putri, hamba takut kalau dia sudah mencelakakan tuan putri!" jawab Gusion.
"Tenang saja! Aku tidak apa-apa kok! Raja Ling memang tadi ingin menghabisi ku, tapi sekarang dia sudah sadar dan tidak akan melakukan itu lagi." ucap Xiu.
"Ya benar! Aku sudah mengetahui semuanya, dan sekarang aku tidak lagi bermusuhan dengan putri Xiu." sahut raja Ling.
"Oh begitu, syukurlah! Kalau begitu hamba minta maaf raja Ling atas tindakan hamba tadi!" ucap Gusion pada raja Ling.
"Tidak apa-apa," ucap raja Ling singkat.
Disaat mereka sedang berbicara, Reiner tak sengaja mendengar percakapan mereka dan langsung terkejut hebat.
"Sial! Bagaimana caranya raja Ling bisa tahu kalau putri Xiu bukan pembunuh ayahnya? Apa dia juga tahu yang sebenarnya bahwa Emy yang sudah melakukan itu?" batin Reiner.
Reiner langsung berusaha bangkit walau dengan kondisi terluka dan berniat pergi dari sana.
Namun, raja Ling mengetahui itu dan langsung bergerak ke arahnya.
"Sebentar ya!" ucap raja Ling.
"Eee kamu mau apa raja Ling?" tanya Xiu.
Raja Ling tak menjawab apapun, dia sudah diselimuti emosi dan tak bisa lagi menahan apa yang ada di dalam dirinya.
"Hey, berhenti kamu Reiner! Jangan lari!" teriak raja Ling penuh emosi.
"Hah??" langkah Reiner terhenti saat mendengar teriakan itu, ia menoleh dan terkejut hebat.
"Yang mulia? Ada apa? Kenapa yang mulia terlihat emosi?" tanya Reiner berpura-pura polos.
"Kamu tidak usah pura-pura lagi Reiner! Aku sudah mengetahui semuanya, kamu itu bekerjasama dengan istrimu untuk membunuh ayahku! Sekarang rasakan balasan dariku!" geram raja Ling.
"Apa? Kenapa yang mulia bicara seperti itu? Bukan hamba pelakunya, tapi putri Xiu. Bukankah yang mulia juga sudah mengetahuinya?" ucap Reiner.
"Itu memang betul! Tapi, semua itu adalah siasat kau dengan istrimu bukan? Kalian memfitnah orang yang tidak bersalah untuk membersihkan nama kalian, memang biadab!" ucap raja Ling.
"Ti-tidak yang mulia, itu tidak benar! Yang mulia sudah terhasut dengan perkataan mereka, sadarlah yang mulia!" ucap Reiner.
"Kamu benar-benar kurang ajar! Masih saja kamu tidak mau mengakui perbuatan mu itu, baiklah akan ku habisi kamu Reiner!" geram raja Ling.
"Ja-jangan yang mulia, saya mohon!" ujar Reiner.
Perlahan raja Ling maju mendekati panglimanya itu, membuat Reiner makin ketakutan dan bingung.
"Aku tidak akan memaafkan kamu, karena kamu sudah membunuh ayahku! Kamu harus mendapat balasan yang pantas!" ucap raja Ling.
"Bukan hamba pelakunya yang mulia, tolong percaya dengan hamba!" ucap Reiner memohon.
__ADS_1
"Mempercayai kamu itu suatu hal yang salah Reiner!" ujar raja Ling.
"Bertahun-tahun saya percaya dengan kamu dan mengandalkan kamu, tapi ternyata kamu adalah seorang pengkhianat besar Reiner! Kamu pembunuh!!" raja Ling semakin geram dan tak bisa menahan emosinya.
Kini raja Ling sudah mengangkat tubuh Reiner dengan ujung pedang yang juga sudah menempel di pinggang Reiner.
"Sekarang kamu cepat bawa aku ke tempat istrimu berada! Atau pedangku ini akan mengirim kamu ke neraka dalam waktu singkat, Reiner!" ucap raja Ling mengancam panglimanya itu.
Reiner tampak gemetar ketakutan saat merasakan sentuhan pedang itu di tubuhnya.
"Ja-jangan yang mulia, saya mohon!" rengek Reiner.
"Kalau begitu, cepat kamu katakan dimana istrimu itu dan bawa aku kesana!" pinta raja Ling.
"I-i-iya yang mulia, istriku ada di pondok emas dekat danau mutiara. Aku akan membawamu kesana, tapi hanya kita berdua." ucap Reiner.
"Baiklah, sekarang cepat jalan!" ujar raja Ling.
Raja Ling pun melepaskan tubuh Reiner, namun ia masih menempelkan ujung pedangnya di punggung Reiner agar pria itu tidak bisa kabur.
"Tunggu raja Ling!" teriakan seorang wanita menghentikan pergerakan mereka.
"Ada apa putri Xiu?" tanya raja Ling pada wanita yang menahannya itu.
"Bolehkah aku dan Lao menemanimu?" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Tidak usah tuan putri, aku akan pergi sendiri dan selesaikan semuanya!" ucap raja Ling.
"Tapi yang mulia, bukankah cukup bahaya jika yang mulia hanya pergi bersama Reiner? Bagaimana jika dia punya rencana licik nantinya?" ujar Xiu.
"Iya yang mulia, biarkan kami berdua ikut dalam perjalanan kamu kali ini!" sahut Wein Lao.
"Terimakasih atas kebaikan kalian berdua! Tapi, aku tidak mau merepotkan siapapun lagi kali ini. Aku pasti bisa menyelesaikan semua masalahku sendiri, kalian kembali saja ke istana Quangzi karena ratu pasti mencari kalian!" ucap raja Ling.
"Ta-tapi yang mulia—" ucapan Xiu terhenti saat Wein Lao menekan bahunya.
"Baiklah, kami tidak akan memaksa. Berhati-hatilah yang mulia!" ucap Wein Lao.
"Ya, sekali lagi maafkan aku yang sudah sempat menuduh kamu putri Xiu!" ucap raja Ling.
"Tidak masalah," ucap Xiu tersenyum singkat.
"Aku permisi dulu! Ayo pengkhianat sialan!" ujar raja Ling.
Xiu dan Wein Lao mengangguk saja membiarkan raja Ling pergi bersama Reiner.
Namun, siapa sangka jika mereka berdua tetap mengikuti langkah raja Ling dari jauh.
"Ayo kita ikuti mereka!" ujar Wein Lao.
•
•
An Ming dan Feng Lian masih terus asyik berbincang di pinggir sungai itu sembari sesekali bermain dengan air.
An Ming secara sengaja menyipratkan air sungai itu ke wajah Feng Lian berkali-kali hingga membuat wajah gadis itu basah.
"Ih pangeran iseng banget deh!" cibir Feng Lian.
"Ahaha, gapapa dong Lian. Daripada gabut cuma ngobrol ya kan?" ujar An Ming.
"Feng Lian!" tiba-tiba suara teriakan seorang pria membuyarkan momen romantis mereka.
"Hah? Ayah??" Feng Lian terkejut dan reflek berdiri menghadap ke arah pria itu.
An Ming yang berada di dekatnya juga ikut berdiri, ia menatap heran ke arah pria tua yang tampak jengah dengan sebuah karung di punggungnya.
"Lian, kenapa kamu tak kunjung kembali? Ayah mencarimu kemana-mana, ternyata kamu masih ada disini!" ujar pria tua itu.
"Maaf ayah! Aku tadi hendak kembali, tapi aku bertemu dengan pangeran Quangzi." ucap Feng Lian lirih.
"Pangeran Quangzi? Siapa?" tanya sang ayah yang tak mengerti.
"Ini ayah, beliau adalah pangeran An Ming dari kerajaan Quangzi." jawab Feng Lian sembari mengenalkan An Ming pada ayahnya.
"Apa??" sang ayah tampak terkejut.
Lalu, tiba-tiba saja pria tua itu menaruh karung tersebut ke tanah dan merendahkan posisinya di hadapan An Ming.
"Salam hormat hamba, pangeran! Maaf atas kelancangan hamba tadi!" ucap pria tua itu.
"Tidak apa paman, aku yang minta maaf karena sudah membuat putrimu menetap disini cukup lama! Sekarang berdirilah, aku tidak suka diberi hormat seperti itu!" ucap An Ming.
Pria tua itu akhirnya bangkit dan berdiri tegak menghadap ke arah An Ming.
"Pangeran tidak perlu meminta maaf, justru hamba senang jika pangeran senang berteman dengan putri saya." ucapnya.
"Bukan hanya berteman paman, mungkin aku juga sangat senang jika Feng Lian mau jadi pendamping ku di istana," ucap An Ming seraya merangkul gadis itu tanpa malu sedikitpun.
Feng Lian melongok saja mendengar ucapan An Ming, sedangkan sang ayah juga merasakan hal yang sama.
"Benarkah begitu pangeran?" tanya pria tua itu.
__ADS_1
"Iya paman, jika boleh maka aku akan membawa putrimu ini ke istana sebagai pendamping ku." jawab An Ming.
"Dibawa ke istana?" pria tua itu terkejut bukan main.
"Ma-maaf pangeran! Bukan maksud aku untuk lancang padamu, tapi aku tidak bisa pergi jauh dari ayahku. Aku harus membantunya bekerja dan juga melindunginya, aku khawatir ayah akan sakit!" ucap Feng Lian.
"Kamu jangan khawatir! Ayahmu akan baik-baik saja selama kamu di istana, nanti aku juga akan perintahkan prajurit untuk menjaganya dan memastikan dia tidak kenapa-napa." ucap An Ming.
"Tapi pangeran, itu sangat merepotkan. Baiknya biar aku saja yang menjaga ayah," ucap Feng Lian.
"Lalu, kamu tidak mau ikut bersamaku ke istana dan menjadi pendamping ku?" tanya An Ming.
"Eee bukan aku tidak mau, tapi aku merasa tidak pantas saja berada di istana. Apalagi statusnya kita baru mengenal pangeran," jawab Feng Lian.
"Ah iya pangeran, betul yang dikatakan Lian itu! Saya juga tidak enak lah kalau putri saya tiba-tiba dibawa ke istana sama pangeran," sahut sang ayah.
"Baiklah, aku mewajarkan alasan kalian. Tapi, beritahu aku dimana alamat rumahmu supaya aku bisa sering berkunjung kesana!" pinta An Ming.
"Baik pangeran!" ucap Feng Lian menurut.
"Yasudah, boleh kan aku mengantar kalian pulang saat ini?" tanya An Ming.
"Eee.." Feng Lian terlihat bingung dan melirik ke ayahnya.
"Boleh pangeran, justru saya merasa sangat tersanjung kalau pangeran mau datang ke rumah kami." potong sang ayah.
"Syukurlah! Kalau begitu ayo kita pulang sekarang! Biar aku yang bawa karung itu," ucap An Ming.
"Ah tidak usah pangeran, saya bisa sendiri kok! Saya tidak mau merepotkan pangeran!" ucap pria tua itu menghalangi niat An Ming.
"Gapapa paman, aku sendiri kok yang mau bantu." ucap An Ming memaksa.
"Ta-tapi pangeran.."
"Tenang saja paman, aku bisa kok!" potong An Ming.
An Ming langsung bergerak mendekati pria tua itu dan berniat mengangkat karung tersebut.
Akan tetapi, Zheng dan guru Yao tiba-tiba muncul dan menahan tindakan An Ming itu.
"Pangeran!" teriak Zheng.
"Hah?" An Ming menoleh dan tersenyum lebar begitu melihat kedua pria itu.
"Pangeran mau kemana?" tanya Zheng.
"Eee aku mau antar Lian dan ayahnya pulang, paman." jawab An Ming.
"Tapi, buat apa pangeran lakuin itu? Emang pangeran gak mau pulang ke istana? Ini sudah mau sore loh pangeran, apa gak sebaiknya kita pulang ke istana aja?" tanya Zheng.
"Sebentar dulu paman, aku mau tau dimana rumah Lian. Kalau paman sama guru mau pulang, yaudah pulang aja duluan sana!" ucap An Ming.
"Eh enggak pangeran, kita bakal tetap temenin pangeran kok! Nanti kalau terjadi apa-apa sama pangeran, pasti kita berdua bisa disalahin sama ratu Lien!" ucap Zheng.
"Yaudah, sekarang paman bantu aku bawa karung ini ya!" pinta An Ming.
"Ah iya pangeran, siap!" ucap Zheng patuh.
Akhirnya Zheng yang membawa karung tersebut, sedangkan An Ming menggandeng tangan Feng Lian untuk melangkah ke rumahnya.
"Ayo Lian kita pergi sekarang!" ucap An Ming.
"Iya pangeran," ucap Feng Lian singkat.
Mereka pun mulai melangkah bersama-sama dengan sang ayah dari wanita itu berada di depan.
•
Kini mereka telah tiba di depan rumah Feng Lian, An Ming tampak terkejut karena ternyata rumah gadis itu cukup sederhana dan sangat jauh jika dibandingkan istananya.
"Pangeran, semuanya, ini rumah aku. Kondisinya emang udah parah, makanya tadi aku ragu buat ajak pangeran kesini." ucap Feng Lian.
"Kamu gak perlu berkecil hati begitu Lian, walau kamu bukan dari keluarga istana seperti aku, tapi kamu itu cantik loh!" ujar An Ming.
"Ma-maksud pangeran??" tanya Feng Lian bingung.
"Iya Lian, kamu cantik alami dan aku suka itu!" jawab An Ming seraya membelai rambut gadis itu.
"Terimakasih pangeran!" ucap Feng Lian.
"Eee pangeran, kapan kita mau pulang?" tanya Zheng.
"Sebentar dulu paman! Aku masih mau ngobrol sama Lian disini, paman jangan ganggu aku deh!" ucap An Ming.
"Ma-maaf pangeran!" ucap Zheng menunduk.
"Pangeran, kalau pangeran mau kembali ke istana silahkan aja! Nanti pangeran dicariin loh sama keluarga istana," ucap Feng Lian.
"Enggak kok, aku gak bakal dicariin. Aku mau masuk ke rumah kamu, boleh kan?" ucap An Ming sembari mengusap wajah wanita itu.
"Hah??" Feng Lian terkejut mendengar permintaan An Ming, ia benar-benar tak mengerti mengapa pangeran itu meminta demikian.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...