Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 43. Mati kau Fredison!


__ADS_3

"Hahaha, kamu kenapa menggemaskan sekali sih Xiu? Baiklah, karena paman tidak tega melihat raut wajahmu yang menggemaskan itu, jadi paman akan menyusun rencananya." ucap Ryu sembari mencubit pipi Xi Mei.


"Nah gitu dong paman! Ayo paman, apa yang harus kita lakukan sekarang?!" ucap Xi Mei antusias.


"Kita serang mereka! Hancurkan seluruh pasukan Rofusha dengan panahmu sayang, cepatlah!" ucap Ryu menyusun rencana.


"Hah? Apa bisa paman?" tanya Xi Mei ragu.


"Tentu saja, paman yakin kamu bisa! Coba saja dulu sayang!" jawab Ryu tersenyum.


"Eee..." Xi Mei tampak bingung, ia khawatir jika panahnya akan gagal lagi.


"Ayo Xi Mei, cepat lakukan!" perintah Ryu.


"Ba-baik paman!" ucap Xi Mei gugup.


Xi Mei langsung bangkit, menarik busurnya dan memunculkan anak panah ghaib yang bersiap untuk diluncurkan ke arah prajurit Rofusha.


"Paman, bagaimana kalau panahku justru mengenai prajurit Quangzi?" tanya Xi Mei ragu.


"Kamu tidak perlu ragu! Yakinkan saja pada dirimu, kalau panah mu tidak akan meleset!" jawab Ryu.


"Baik paman!" ucap Xi Mei menurut dan mulai menutup matanya.


Gadis itu mengambil nafas dalam-dalam, kemudian melesakkan anak panahnya ke arah yang dituju dengan cepat.


Seketika anak panah itu berubah menjadi banyak dan langsung menancap ke seluruh tubuh prajurit Rofusha tanpa ada yang terlewat.


"Akkhh!" pekik prajurit-prajurit itu.


"Yes paman! Lihatlah, aku berhasil melesakkan panah ke arah prajurit-prajurit itu!" ucap Xi Mei.


"Iya Xiu, kamu telah berhasil melakukannya! Benar kan apa kata paman? Kalau kamu yakin, pasti kamu akan berhasil!" ucap Ryu.


"Iya paman, lalu kita harus apa?" tanya Xi Mei.


"Kita datangi mereka," jawab Ryu.


Xi Mei mengangguk pelan, lalu berjalan ke dekat istana bersama Ryu di sampingnya.


Tampak seluruh prajurit Rofusha sudah terbaring disana sambil terus merintih kesakitan.


Prajurit-prajurit Quangzi yang keheranan masih terus mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.


"Ada apa ini? Darimana asal panah-panah tadi?" gumam salah satu prajurit.


"Aku yang melesakkan panah itu."


Sontak mereka langsung menoleh secara bersamaan ke asal suara, mereka syok melihat Xi Mei berada disana.


"Kau? Bukankah kau..."


"Iya paman prajurit, aku Zhao Xi Mei. Aku pemanah sakti dari Fuxiu yang telah memenangkan sayembara Quangzi, panah-panah tadi berasal dari busurku." potong Xi Mei.


"Wah pantas saja kami terkejut saat tiba-tiba banyak panah datang dari langit!" ujar prajurit.


"Paman, dimana raja Xavier dan ratu Lien? Aku dan pamanku ini ingin membantu mereka." tanya Xi Mei dengan wajah serius.


"Raja Xavier berada di dalam istana, begitu pula dengan panglima dan kepala pemanah Zheng. Namun, untuk keberadaan sang ratu, kami pun belum mengetahuinya." jawab prajurit itu.


"Bagaimana ini paman?" tanya Xi Mei pada Ryu.


"Kita masuk saja ke dalam sayang, kita bantu raja Xavier dan yang lainnya menghadapi pasukan Rofusha disana!" jawab Ryu.


"Baik paman! Oh ya paman prajurit, kalian semua disini saja dan jaga orang-orang yang kesakitan ini! Jangan sampai mereka lepas!" ucap Xi Mei.


"Baik pendekar Xi Mei!" ucap prajurit itu menurut.


"Ayo paman kita masuk!" ucap Xi Mei menarik tangan pamannya.


Xi Mei dan Ryu pun masuk ke dalam istana itu dengan tergesa-gesa.


Xi Mei tampak cemas sekali dan ingin segera bertemu dengan ratu Lien.




Xavier masih terus mengelilingi istana Rofusha, ia belum berhasil mendapatkan ratu Lien karena seluruh bagian istana itu cukup sepi dan tak terlihat adanya sang ratu.


Namun, disaat melewati sebuah kamar yang sepi di sebelahnya, Xavier merasa seperti ada suara isak tangis dari dalam sana yang membuatnya curiga dan berpikir bahwa itu adalah ratu Lien.


Xavier pun menempelkan telinganya di pintu, ia semakin mendengar suara tangisan tersebut dan berupaya untuk membuka pintunya memastikan siapakah di dalam sana.


"Suara tangisan perempuan, apa mungkin itu kamu Lien? Aku coba saja buka pintu ini, semoga itu benar kamu sayang!" ucapnya pelan.


Ceklek...


Xavier berhasil membuka pintu tersebut, awalnya memang ia kesulitan karena pintu dikunci oleh Fredison. Tetapi, ilmu sihirnya dapat ia gunakan untuk membuka pintu itu.

__ADS_1


"Lien, benar itu kamu sayang?" ucap Xavier saat melihat sesosok wanita tengah menangis.


"Hiks hiks.."


Xavier mendekati wanita itu, pakaianku memang mirip dengan yang dikenakan ratu Lien terakhir kali, sehingga Xavier cukup yakin itu adalah sang ratu.


"Lien sayang, ini aku Xavier. Kamu tidak perlu menangis lagi sayangku! Ada aku disini!" ujarnya.


Perlahan wanita itu mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang mendekat, ia menatap Xavier dengan mata sembab akibat air mata yang tak kunjung berhenti.


Xavier sangat senang karena dugaannya benar, ya itu adalah ratu Lien! Tentu saja Xavier langsung menghampirinya dan memeluk tubuh ratu Lien yang masih terduduk di ranjang.


"Lien, oh sayang aku benar-benar merindukanmu! Kamu baik-baik saja kan sayang? Sudahlah, tidak usah menangis sayangku!" ucap Xavier gembira.


Namun, ratu Lien justru mendorong tubuh Xavier menjauh darinya.


"Lien, kenapa?" tanya Xavier heran.


"Kamu jangan sentuh aku lagi!" pinta ratu Lien.


"Ada apa sih Lien? Kenapa aku gak boleh sentuh kamu?" tanya Xavier kebingungan.


"Kamu jauh-jauh aja dari aku, Xavier! Jangan dekati aku! Aku yang sekarang udah bukan Lien yang dulu lagi, aku ini wanita kotor! Kamu pasti gak akan mau sama aku lagi!" ucap ratu Lien.


"Maksudnya gimana? Wanita kotor apa? Kamu bicara yang jelas dong sayang, jangan kayak gini!" ucap Xavier terheran-heran.


"Udah lah, kamu pergi aja sana!" pinta ratu Lien.


"Enggak, aku gak akan pergi kalau gak sama kamu! Ayo kita kembali ke istana sama-sama, istana butuh kamu sayang!" ucap Xavier.


"Aku gak bisa balik kesana, aku harus tetap disini bersama pangeran Fredison!" ucap ratu Lien.


"Kenapa begitu? Apa yang pangeran busuk itu sudah lakukan ke kamu, sampai kamu jadi seperti ini ha?" tanya Xavier.


"Di-dia udah kotorin aku..." jawab ratu Lien gugup.


"Apa? Maksud kamu??" Xavier terkejut sekaligus kebingungan mendengarnya.


"Iya Xavier, dia udah ngelakuin itu ke aku semalam. Aku sekarang bukan wanita suci lagi, aku gak pantas jadi ratu di Quangzi! Sebaiknya kamu pergi sekarang, tinggalkan aku disini!" jelas ratu Lien.


Xavier terdiam sesaat, tangannya terkepal disertai rahang yang bergetar akibat menahan emosi.


"Gak, aku gak akan biarin kamu tetap disini! Kamu harus ikut sama aku ke istana! Soal Fredison, biar aku beri dia pelajaran! Aku gak terima istriku yang aku cintai ini dilecehkan olehnya, aku pasti akan habisi dia sayang!" geram Xavier.


"Jangan Xavier! Kamu gak boleh lakuin itu! Kalau sampai itu terjadi, akan terjadi peperangan besar antara Rofusha dengan Quangzi." kata ratu Lien.


"Aku gak perduli sayang! Siapapun yang berani membuat kamu menangis seperti ini, pasti akan aku habisi! Ayo ikut denganku, dan saksikan sendiri kematian pangeran biadab itu!" ujar Xavier.


"Enggak Xavier, aku gak mau!" ratu Lien menolak.


"Kamu harus ikut sama aku!" paksa Xavier.


Akhirnya mau tidak mau, ratu Lien terpaksa ikut dengan Xavier pergi dari sana.




"Zheng!" Xi Mei dan Ryu telah tiba di dalam istana Rofusha, mereka melihat Zheng serta Gusion disana tengah menjaga sang raja dan juga pangeran dari Rofusha itu.


Sontak Zheng menoleh begitu ada yang menyebut namanya, ia syok melihat Xi Mei ada disana karena ini sangat jauh dari tempat gadis itu tinggal.


"Xi Mei? Apa yang kau—"


"Dimana raja Xavier dan ratu Lien? Mereka baik-baik aja kan?" potong Xi Mei langsung menanyakan keadaan mommy nya.


"Eee sekarang raja Xavier sedang mencari ratu Lien di seluruh wilayah istana, semoga saja beliau bisa menemukan ratu Lien disini!" kawan Zheng.


Lalu, Gusion pun ikut serta menghampiri Xi Mei dan Ryu disana dengan wajah bingung.


"Pendekar Xi Mei, bagaimana kamu bisa tahu kabar kalau ratu Lien dibawa oleh pihak Rofusha dan raja Xavier berusaha menyelamatkannya? Siapa yang memberitahu mu?" tanya Gusion heran.


"Eee aku..." Xi Mei tampak gugup saat hendak menjawab pertanyaan Gusion.


"Kami tadi kebetulan melintasi wilayah Rofusha, lalu kami bertemu salah satu prajurit Quangzi disana. Karena penasaran, kami bertanya pada prajurit itu apa yang terjadi disini. Dan mereka pun memberitahu kami semuanya, itu sebabnya kami bisa datang kesini." jelas Ryu.


"Nah iya, begitulah ceritanya.." sahut Xi Mei.


Ryu terkekeh geli sembari menatap wajah Xi Mei yang sudah keringat dingin akibat pertanyaan Gusion tadi.


"Paman ih!" ucap Xi Mei tersipu.


Melihat ekspresi menggemaskan Xi Mei, membuat Zheng seakan terpesona dan tak mampu beralih dari wajah cantik gadis lugu itu.


"Kamu memang cantik sekali Xi Mei, aku sadar itu!" batin Zheng.


"FREDISON...!!" tiba-tiba saja terdengar suara keras dari belakang mereka yang membuat orang-orang itu terkejut lalu menoleh.


Tampak Xavier bersama ratu Lien muncul disana, mereka pun tersenyum bahagia melihat ratu Lien telah dapat ditemukan.

__ADS_1


Namun, ada raut keheranan juga di wajah mereka karena Xavier nampak begitu emosi dan terus berjalan ke arah Fredison.


"Mommy? Aku senang mommy baik-baik aja! Tapi, ada apa ya ini? Kenapa raja Xavier semarah ini?" gumam Xi Mei dalam hati.


Bukan hanya Xi Mei yang merasa senang, ratu Lien juga merasakan hal yang sama saat melihat putrinya ada disana.


"Melihat kamu ada disini saja sudah membuat mommy senang sayang, apalagi jika kamu nantinya bisa kembali ke istana dan tinggal bersama mommy disana!" batin ratu Lien.


Rasa haru itu mendadak sirna, lantaran Xavier semakin emosi dan mengangkat tubuh Fredison menggunakan ilmu sihirnya.


"Kurang ajar kau Fredison! Beraninya kau menyentuh istriku, sudah bosan hidup kau ha?!" geram Xavier terus mencekik leher Xavier tanpa menyentuhnya.


"Aakkkhhh sakithh!" Fredison meringis sembari memegangi lehernya yang tercekik.


"Aku tidak akan pernah mengampuni mu, akan kubunuh kau sekarang juga Fredison! Tindakan mu kali ini sudah tidak dapat dimaafkan lagi, kau telah mengotori ratu dari Quangzi dengan tangan-tangan jahat mu itu!" bentak Xavier.


"Ja-jangan, kumohon ampuni putraku! Kau bisa membawa pergi istrimu dari sini, kami tidak akan meminta apapun!" ucap Yong Kromo memelas.


"Apa? Ampuni pangeran brengsek ini? Itu tidak akan pernah terjadi Kromo, dia harus mati saat ini juga di tanganku!" ujar Xavier yang sudah tersulut emosinya.


Xavier mengencangkan cekikan di leher Fredison hingga pria itu merintih keras.


"Aaaakkkhh!!"


Xi Mei menutup mulutnya, ia tak menyangka dapat melihat langsung kekejaman Xavier si depan matanya. Mungkin begitulah yang dilakukan Xavier kepada ayahandanya dahulu.


"Xiu, tutup juga matamu! Ini seharusnya tidak kamu lihat saat ini, kamu masih kecil dan belum pantas melihatnya!" pinta Ryu.


"Ih aku sudah besar paman!" protes Xi Mei.


Ryu terkekeh kecil, sedangkan Xi Mei memanyunkan bibirnya lalu menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


"Hahaha, memang lucu kamu Xiu.." ujar Ryu.


Ratu Lien yang ada di belakangnya, berupaya menghentikan tindakan Xavier karena tak ingin ada korban disana.


"Tahan suamiku! Kau bisa membunuhnya jika kau terus mencekiknya seperti itu!" ujar ratu Lien.


"Kenapa? Memang itu yang aku inginkan, Lien. Aku tidak akan membiarkan manusia seperti dia hidup di dunia ini! Dia sudah melecehkan mu, jadi ini adalah balasan yang pantas untuknya!" ujar Xavier.


"Tidak Xavier, hentikanlah!" pinta ratu Lien.


"Aku tak akan berhenti, dia harus mati di tanganku!" geram Xavier.


"Aakhhh!!" pekik Fredison semakin keras.


"Fredison...!!" Yong Kromo berteriak dan berusaha bangkit, tetapi gagal.


Sementara Gusion, Zheng, Xi Mei serta Ryu sama-sama terkejut saat mendengar Xavier mengatakan jika ratu Lien telah dilecehkan oleh Fredison.


"Paman, melecehkan itu maksudnya bagaimana ya?" tanya Xi Mei dengan wajah polosnya.


"Xiu, bisakah kau berhenti menunjukkan sikap polos mu itu disini? Suasana sedang genting, kita bahas itu lain kali saja ya!" ucap Ryu.


"Ma-maaf paman!" ucap Xi Mei menunduk.


"MATILAH KAU FREDISON...!!" Xavier berteriak dan bersiap menghabisi Fredison dengan ilmu sihirnya.


Slaasshh...


Akan tetapi, sebuah serangan tiba-tiba muncul dari belakang dan mengenai punggung Xavier hingga pria itu terdorong ke depan.


Bruuukkk...


Fredison terjatuh ke bawah saat cekikan itu lepas dari lehernya.


"Uhuk uhuk.. sakitnya!" rintih Fredison.


"Kurang ajar! Siapa yang berani menyerang ku dari belakang seperti itu?!" geram Xavier.


"Hahaha... hahaha..." mereka semua kompak mencari asal suara tertawa itu di sekeliling istana.


"Paman, itu dia disana!" ucap Xi Mei menunjuk ke pojok atas langit-langit istana yang mana terdapat sosok makhluk besar terduduk santai disana.


Lalu, makhluk itu pun turun ke bawah menghampiri mereka semua sambil terus tertawa.


"Hahaha... hahaha... aku yang sudah menyerang mu Xavier, dan aku datang kesini untuk membela Kromo serta Fredison. Kau tidak bisa membunuh mereka saat ini!" ucapnya.


"Terizla? Kau benar-benar sialan!" umpat Xavier.


"Hahaha, apa kabar Xavier? Kau pasti merindukan ku bukan?" ucap Terizla dengan sombongnya.


Xi Mei seketika teringat pada sosok makhluk yang pernah menawarkan diri untuk membantunya ketika sedang berlatih di hutan.


"I-itu kan.." ucap Xi Mei tertahan.


"Kenapa Xi Mei? Kau kenal dia?" tanya Ryu.


"Eee dia..." Xi Mei menggantung ucapannya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2