
Ryu yang masih kelimpungan mencari dimana Xi Mei, akhirnya berhasil menemukan keberadaan gadis tersebut di tengah jalan desa.
Ryu cukup heran saat melihat Xi Mei jalan bersama seorang pria yang belum ia kenali, ya karena selama ini Ryu selalu tahu siapa-siapa saja yang dekat dengan Xi Mei.
Namun, untuk pria kali ini Ryu belum sempat menyelidikinya.
Tanpa menunggu lama, Ryu segera menghampiri Xi Mei dan menyapanya dengan tatapan sinis yang ia berikan pada pria di samping gadis itu.
"Xi Mei, kemana saja kamu? Siapa dia?" tanya Ryu ketus.
"Eh ada paman disini, kenalin paman ini temanku namanya Jason. Dia itu pindahan dari Eropa, dan aku baru aja ajak Jason keliling desa Fuxiu. Supaya Jason bisa tahu lebih dalam tentang desa kita, paman." jawab Xi Mei sambil tersenyum.
"Jason, ini pamanku yang aku ceritain daritadi. Kamu kenalan gih sama dia, gausah takut dia baik kok!" bisik Xi Mei pada Jason.
Jason mengangguk pelan, kemudian melangkah mendekati Ryu dengan rasa gugupnya.
"Halo paman! Namaku Jason dan aku teman satu sekolahnya Xi Mei," ucap Jason mengenalkan diri dengan bahasanya.
"Apa??" ujar Ryu tak mengerti.
"Eee maksud Jason tuh, dia lagi kenalin dirinya ke paman. Dia bilang kalau dia namanya Jason dan dia teman sekolahku, gitu loh paman." jelas Xi Mei.
"Ohh, iya salam kenal ya! Saya Ryu, pamannya Xi Mei yang paling tampan." kata Ryu lalu bersalaman dengan Jason.
"Ah paman sukanya muji diri sendiri!" cibir Xi Mei.
Ryu terkekeh kecil, kemudian mengingatkan Xi Mei untuk segera pulang.
"Xi Mei, kita pulang yuk! Bibik kamu udah nungguin tuh di rumah, dia sampai panik banget karena ngira kamu kenapa-napa!" ucap Ryu.
"Iya paman, ini aku juga mau kesana kok. Sekalian aku mau kenalin Jason ke bibik juga," ucap Xi Mei.
"Eee kayaknya jangan deh Xi Mei! Kamu kan tahu, kita gak bisa terima tamu asing dari sembarang tempat. Sebaiknya kamu suruh aja teman kamu ini pulang, mungkin lain waktu dia bisa kembali dan bertemu dengan bibik kamu." kata Ryu.
"Tapi paman, aku gak enak lah sama Jason! Aku soalnya udah bilang ke dia kalau aku mau ajak dia ke rumah paman dan bibik," ucap Xi Mei.
"Eee kamu ingat kan Xi Mei, kita gak bisa terima tamu siapapun itu yang belum terlalu kita kenal. Jadi, tolong kamu paham ya Xi Mei karena ini demi kebaikan kamu!" ucap Ryu.
"Iya deh paman, aku coba bicara dulu sama Jason." kata Xi Mei sedikit cemberut.
Ryu mengangguk tersenyum, mempersilahkan Xi Mei untuk bicara pada Jason disana.
Xi Mei pun beralih menatap Jason, mengatakan pada pria itu kalau dia tidak boleh ikut bersamanya ke rumah bibinya.
"Jason, maafin aku ya!" ucap Xi Mei pelan.
"Loh, minta maaf untuk apa? Memangnya ada apa Xi Mei?" tanya Jason heran.
"Iya Jason, aku gak bisa ajak kamu ke rumah bibik aku sekarang. Paman bilang kalau di rumah itu ada tamu penting, jadi kayaknya kamu gak bisa kesana sekarang. Maaf banget ya Jason, kamu gapapa kan pulang sekarang?!" ucap Xi Mei.
"Oh begitu, iya aku gapapa kok. Aku bakal minta jemput sama supir aku, kamu gausah ngerasa bersalah gitu!" ucap Jason.
"Iya, sekali lagi maaf ya Jason! Mungkin lain waktu baru kamu bisa kesini dan ketemu bibik aku," ucap Xi Mei.
"Gapapa, kan masih ada hari lain buat aku kenalan sama bibik kamu. Untuk sekarang kamu ikutin aja kata-kata paman kamu, aku juga gak masalah kok!" ucap Jason tersenyum.
Xi Mei membalas senyuman Jason disertai anggukan pelan di wajahnya.
Lalu, gadis itu pun pergi bersama pamannya menuju rumah, sedangkan Jason tetap disana menunggu jemputan nya datang.
•
•
Pasukan Terizla dan Alice kini telah tiba di daerah istana, mereka terlihat cukup ramai karena Terizla sudah berhasil menaklukkan beberapa daerah lain di sekitarnya untuk menambah pasukan.
Kini keduanya terus melaju dengan kuda yang mereka tumpangi itu menuju istana Quangzi, Terizla sudah tidak sabar ingin segera kembali kesana dan menduduki singgasananya.
"Hahaha... aku yakin, setelah ini pasti banyak warga yang akan segan padaku! Mereka tidak mungkin berani melawan ku lagi!" ucap Terizla.
"Benar Terizla! Warga-warga pastinya akan menghormati kau, mereka juga bisa saja memberikan upeti kepada istana dalam jumlah yang besar!" ucap Alice.
__ADS_1
"Tentu saja, mereka harus melakukan itu jika tidak ingin aku hancurkan seluruh wilayah Quangzi ini! Dan kau Alice, kau harus membantuku untuk mendapatkan semua yang kuinginkan termasuk mencari para selir-selir muda untukku!" ucap Terizla.
"Kau benar-benar tak pernah puas Terizla! Untuk urusan putri Xiu saja aku belum bisa menyelesaikannya, sekarang kau sudah ingin aku mencarikan selir untukmu. Sungguh terlalu kau Terizla!" ucap Alice.
"Hahaha... semua itu harus kau lakukan secara bersamaan Alice, dan aku minta kau bisa membereskannya dengan cepat!" ucap Terizla.
"Baiklah, aku akan lakukan semua yang kau minta! Hanya saja aku butuh waktu," ucap Alice.
"Aku akan berikan kau waktu, Alice. Yang terpenting sekarang kita bisa kembali ke istana dan berkuasa lagi di tanah Quangzi ini!" ucap Terizla.
Tiba-tiba saja pasukan mereka terhenti di tengah jalan dan membuat Terizla serta Alice keheranan.
"Hey! Ada apa ini? Kenapa berhenti?" teriak Terizla bertanya pada prajuritnya.
"Ampun yang mulia! Ada pasukan dari istana Quangzi yang mencegat kita di depan, kita tidak bisa melanjutkan perjalanan ini." jawab prajurit itu.
"Apa??" ujar Terizla terkejut.
Sontak Terizla mengarahkan pandangan ke depan untuk memastikan apakah benar yang dikatakan oleh prajurit tadi.
"Yang mulia, benar itu adalah pasukan Quangzi!" ucap Alice melapor pada Terizla.
"Sialan! Apa yang mereka ingin lakukan sebenarnya? Atau ini hanya bentuk penyambutan terhadap kita berdua?" ucap Terizla kebingungan.
"Tapi, mereka sepertinya sengaja mencegah kita yang mulia. Tidak mungkin kalau ini hanyalah sebuah penyambutan, pasti mereka tak ingin kita kembali ke istana yang mulia!" ucap Alice.
"Apa? Kenapa begitu? Bukankah mereka sudah tahu kalau kita ini adalah penguasa Quangzi yang sekarang? Mengapa mereka harus melakukan itu?" tanya Terizla keheranan.
"Aku tidak tahu, tapi kalau dilihat dari ekspresi mereka memang betul mereka hendak mencegah kita masuk ke area istana." kata Alice.
"Kurang ajar! Berani sekali mereka melakukan itu terhadap raja mereka sendiri! Dimana Wingki dan Xavier? Kenapa mereka tak menghalau para prajurit-prajurit tersebut?" ujar Terizla.
"Entahlah, bisa saja mereka melakukan ini semua tanpa sepengetahuan Wingki dan Xavier. Namun, tak menutup kemungkinan kalau ini adalah perintah dari Xavier!" ucap Alice.
"Apa maksudmu? Untuk apa mereka melakukan itu, ha?" tanya Terizla kaget.
Alice menggelengkan kepala tanda tak mengerti.
"Aku benar-benar kecewa jikalau semua yang kau katakan tadi itu benar adanya, aku pastikan Xavier akan mendapat balasan karena sudah berkhianat dariku!" geram Terizla.
Sontak Terizla langsung beralih menatap ke depan, matanya melotot melihat kehadiran Xavier disana yang mengenakan mahkota di kepalanya.
•
•
Xi Mei tiba di rumah bibinya, gadis itu langsung disambut oleh Luan serta Chen yang sudah menunggu sedari tadi.
"Ya ampun Xi Mei! Akhirnya kamu pulang juga nak, bibik khawatir sekali sama kamu sayang!" ucap Luan penuh kecemasan dan langsung mendekap erat tubuh Xi Mei.
"Bik, bibik gak perlu khawatir! Tadi aku tuh lagi jalan keliling desa sama teman aku," ucap Xi Mei.
"Iya sayang, bibik sekarang sudah lega kok karena kamu udah kembali. Lain kali kalau kamu mau kemana-mana, jangan lupa kasih kabar ke bibik dulu ya sayang! Supaya bibik gak khawatir lagi seperti tadi," ucap Luan.
"Iya bik, maafin aku ya udah bikin bibik khawatir! Aku janji deh gak akan ulangi kejadian tadi!" ucap Xi Mei merasa bersalah.
"Gapapa sayang, bibik maklumin kok. Sekarang kamu masuk dulu yuk! Oh ya, kamu udah makan apa belum sayang?" ucap Luan melepas pelukannya.
"Belum bik, tadi abis pulang sekolah kan aku langsung keliling-keliling desa." jawab Xi Mei.
"Nah pas banget, kalo gitu kita masuk yuk dan makan sama-sama bareng Chen sama paman Ryu juga!" ucap Luan mengajak Xiu Mei masuk ke dalam.
"Iya bik," ucap Xi Mei mengangguk setuju.
Lalu, mereka berempat pun masuk secara bersamaan ke dalam rumah untuk segera melakukan makan siang bersama.
"Bik, sebenarnya tadi aku mau ajak teman sekolah aku kesini tahu. Tapi, paman malah ngelarang aku buat bawa teman aku itu kesini." kata Xi Mei kepada bibinya.
"Loh kok gitu? Pak, kenapa bapak larang Xi Mei bawa temannya?" tanya Luan heran.
"Eee bukan maksud bapak melarang Xi Mei buat bawa temannya kesini, tapi bapak cuma jaga-jaga aja khawatir kalau Xi Mei ajak orang asik ke rumah ini. Gak menutup kemungkinan kan kalau orang itu ternyata antek-antek kerajaan," ucap Ryu.
__ADS_1
"Paman lebay deh! Aku kan udah bilang tadi, teman aku itu pindahan dari Eropa. Mana mungkin dia orang suruhan istana?" ucap Xi Mei.
"Iya Xi Mei, paman minta maaf ya! Lain kali kalau kamu mau bawa teman kamu itu kesini, boleh kok. Tapi, izin dulu sama paman dan bibik sebelumnya ya!" ucap Ryu.
"Iya paman, gapapa kok." kata Xi Mei singkat.
"Xi Mei, kamu jangan ngambek gitu dong sama paman kamu! Maksud paman kamu itu kan baik, dia cuma gak mau kamu salah pilih teman!" ucap Luan menghibur Xi Mei.
"Iya bik, aku ngerti kok. Aku juga gak ngambek sama paman Ryu," ucap Xi Mei tersenyum.
"Nah gitu dong sayang! Kalau kamu senyum kan jadi kelihatan makin cantik!" ucap Luan.
"Iya Xi Mei, makin banyak juga deh yang naksir sama kamu nantinya. Sekarang aja udah banyak tuh, apalagi kalau kamu senyum." ujar Chen.
"Maksud kamu apa sih Chen? Emang siapa yang naksir sama aku?" tanya Xi Mei bingung.
"Ya masa kamu gak tahu? Aku aja tahu kok kalau sekarang ada laki-laki yang lagi naksir kamu, malah bukan cuma satu atau dua, tapi banyak." jawab Chen sambil tersenyum.
"Hah? Siapa??" ujar Xi Mei terkejut.
Chen senyum-senyum saja dan membuat Xi Mei makin penasaran siapakah yang dimaksud oleh Chen barusan.
•
•
"Hey Xavier! Apa-apaan ini ha? Kenapa kau mencegat ku dan menghalangiku untuk masuk ke area istanaku? Apa mau kau sebenarnya dasar pengkhianat!" geram Terizla.
Xavier yang menunggangi kudanya hanya tersenyum smirk tanpa rasa takut sedikitpun.
"Jangan diam saja kau! Cepat minggir atau ku libas kalian semua dengan senjata andalanku!" ancam Terizla makin emosi.
"Hey makhluk bodoh! Kau pikir kami takut dengan ancaman omong kosong mu itu? Tentu saja tidak, Terizla. Disini aku mewakili para rakyatku, dengan tegas menolak kehadiranmu kembali di daerah Quangzi. Kau tidak diperbolehkan masuk lagi ke dalam istana ini!" ucap Xavier lantang.
"Kurang ajar! Kau memang tidak bisa dipercaya Xavier! Akan kuhabisi kau saat ini juga dan aku akan penggal kepala mu itu sampai putus!" ujar Terizla emosi.
"Hahaha... mari kita buktikan saja Terizla, siapa diantara kita yang pantas memimpin Quangzi! Kalau aku berhasil mengalahkan mu, maka kau harus pergi dari sini dan jangan pernah kembali! Sebaliknya, jika kau mampu mengalahkan ku, kau boleh mengambil kembali mahkota ini dan duduki singgasana Quangzi." ucap Xavier menantang Terizla.
"Kau menantang ku? Hahaha, kau sudah lupa Xavier siapa aku ini? Aku adalah Terizla, si penguasa kegelapan! Kau tidak akan bisa menandingi kehebatan ku, sekeras apapun kau berusaha!" ujar Terizla menyombongkan diri.
"Baiklah, kalau begitu kau tidak perlu takut untuk bertarung denganku dalam sebuah pertarungan yang jujur dan adil!" ucap Xavier.
"Tentu saja aku terima tantangan mu itu, aku tak pernah takut denganmu Xavier! Justru aku juga sudah tidak sabar ingin segera menghabisi mu saat ini juga!" geram Terizla.
"Yasudah, turunlah dari kendaraan mu itu dan lawan aku!" ucap Xavier.
"Cih!" Terizla berdecih dan hendak turun dari kudanya.
Akan tetapi, Alice menahannya lebih dulu.
"Tunggu!" ucap Alice sembari mencengkram tangan Terizla.
"Ada apa Alice? Jangan menghalangi ku! Aku ingin habisi pengkhianat itu!" ujar Terizla.
"Kau tidak mungkin bisa mengalahkan dia, selama mahkota Quangzi itu masih terletak di kepalanya!" ucap Alice memperingatkan Terizla.
"Kenapa begitu? Apa pengaruhnya mahkota itu dengan aku tak bisa mengalahkannya?" tanya Terizla tak mengerti.
"Dari yang aku tahu, mahkota tersebut memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dan siapapun yang mengenakannya maka tidak akan bisa dikalahkan oleh siapapun. Sekeras apapun kau berusaha, tetap saja kau tak akan dapat mengalahkan Xavier! Kecuali, kau bisa melepaskan mahkota itu dari kepalanya!" jelas Alice.
"Pantas saja waktu itu aku bisa mengalahkan Feng Ying dengan mudah, tak seperti saat pertama kali aku melakukan serangan ke istana Quangzi. Ternyata ada efek dari mahkota itu, kenapa kau baru menceritakan itu padaku sekarang Alice?" ujar Terizla.
"Maafkan aku Terizla! Aku lupa untuk memberitahukan itu padamu," ucap Alice.
"Jadi, sekarang aku harus bagaimana?" tanya Terizla kebingungan.
"Serang dia dan cari cara untuk bisa menjatuhkan mahkota itu dari kepalanya! Dengan begitu, kesempatan mu untuk mengalahkannya terbuka lebar!" jawab Alice.
"Baiklah, akan kulakukan saran mu itu!" ucap Terizla penuh percaya diri.
Alice memberi anggukan dan melepaskan tangannya dari lengan Terizla, pria itu turun dari kudanya dan bersiap melawan Xavier disana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...