
"Tidak usah sok baik di depanku! Biar bagaimanapun, kamu tetaplah orang jahat di mataku!" ujar ratu Lien.
"Baiklah jika itu maumu, maka aku akan menjadi orang jahat sesuai dengan yang kau katakan." ucap Xavier.
Ratu Lien tak gentar sama sekali, ia tetap berdiri di barisan paling depan dengan tangan kosongnya.
"Lihatlah ke arah kiri, aku yakin kamu pasti akan sangat terkejut melihatnya Lien!" pinta Xavier seraya menunjuk ke sebelah kirinya.
"Ratu, Ryu, tolong aku!" teriak Luan dari atas sana.
"Hah??" ratu Lien pun terkejut dibuatnya, mulutnya menganga lebar menyaksikan kejadian itu.
"Luan?" Ryu juga ikut terkejut sama seperti sang ratu, apalagi yang ada disana adalah istrinya.
"Hahaha, ya itulah yang akan kalian terima jika kamu tidak mau kembali bersamaku Lien. Luan akan dipenggal secara langsung di hadapan kalian semua saat ini juga, dan kepalanya akan kujadikan lemparan untuk olahraga bowling nanti." ujar Xavier sambil tertawa jahat.
"Kau benar-benar licik Xavier!" umpat ratu Lien.
"LUAANN!!!" teriak Ryu histeris.
"Xavier, cepat lepaskan Luan! Jangan kamu jadikan dia sebagai alat untuk memeras ku!" ucap ratu Lien.
"Tidak akan pernah Lien, aku hanya akan lepaskan dia kalau kamu mau ikut denganku. Maka dari itu, cepatlah kamu rubah keputusanmu dan mari ikut bersamaku ke istana!" ucap Xavier.
"Aku tidak sudi kembali bersamamu! Aku akan tetap disini sampai kau mundur dari tahta kerajaan Quangzi!" ucap ratu Lien.
"Kalau itu maumu, maaf aku tidak bisa menurutinya! Aku ini adalah penguasa Quangzi dan aku tak akan meninggalkan jabatanku begitu saja, sayangku." ucap Xavier sambil tersenyum.
Ryu masih menatap istrinya dengan penuh air mata, ia benar-benar tak tega melihat Luan berada dalam ancaman seperti itu.
"Ryu, kamu tak perlu khawatir! Aku pastikan istrimu akan selamat, kamu tenang saja!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Ryu.
"Hahaha, bagaimana kamu bisa selamatkan Luan, sayangku? Sedangkan dirimu sendiri saja belum tentu bisa selamat sekarang, karena aku akan segera memaksa mu untuk ikut bersamaku." ucap Xavier tertawa jahat.
"Kita lihat saja nanti, Xavier. Aku pastikan kata-kata mu barusan tidak akan terjadi!" ucap ratu Lien.
"Apa yang bisa kamu lakukan, ha? Sebentar lagi aku akan perintahkan prajurit ku untuk menebas leher Luan di hadapan kalian, tentu jika kamu tak mau menuruti kemauan ku Lien." ucap Xavier.
"Jangan coba-coba kamu lakukan itu ya Xavier! Atau aku akan habisi kamu dan seluruh pasukan kamu saat ini juga!" ancam ratu Lien.
"Silahkan saja jika kamu bisa!" tantang Xavier.
Ratu Lien semakin geram dibuatnya, kedua tangannya bahkan sudah terkepal erat dan bersiap untuk menyerang Xavier disana.
Namun, ia mengurungkan niatnya saat melihat Xavier melirik ke arah seorang prajurit yang tengah memegangi Luan disana.
"Apa yang ingin dilakukannya? Apa dia benar-benar akan menebas leher Luan?" batin ratu Lien.
Tampak prajurit itu mengangguk pelan, ia menempelkan pedangnya pada leher Luan dan membuat wanita itu makin ketakutan.
"Aaaaa aku tidak mau mati...!!" teriak Luan.
"Ryu, ratu, tolong aku!" Luan terus berteriak meminta bantuan dari sang ratu dan suaminya.
"Bagaimana ini ratu?" tanya Ryu bingung.
"Tunggu dulu Ryu! Aku yakin kita pasti bisa selamatkan Luan dari sana!" jawab ratu Lien.
"Tapi ratu, nyawa Luan dalam bahaya. Sampai kapan kita harus berdiam diri disini?" ujar Ryu.
"Sampai kita bisa menemukan celah untuk menyelamatkan Luan," jawab ratu Lien.
"Hahaha..." Xavier tertawa lepas, mengira dirinya sudah menang dan ratu Lien tak akan mampu berbuat apa-apa lagi.
"Kamu lihat itu kan, Lien? Luan disana membutuhkan bantuan kalian, jadi sebaiknya kamu segera ikut bersamaku!" ucap Xavier.
"Tidak akan!" tegas ratu Lien.
"Ohh, kamu benar-benar menantang ku rupanya Lien. Baiklah, prajurit cepat habisi dia!" ucap Xavier dengan kesal.
"Aaaaa..." Luan kembali berteriak panik.
Slaasshh....
Tiba-tiba anak panah melesat dan berhasil mengenai pedang prajurit itu hingga terpental ke bawah.
Semua orang disana terkejut, termasuk si prajurit yang memegang pedang tadi.
Luan pun memanfaatkan kelengahan si prajurit untuk melarikan diri, ia menginjak kaki prajurit itu kemudian berlari ke arah suaminya.
Bughh...
"Aduuhh!!" rintih si prajurit.
"Ryuuu!!" teriak Luan seraya berlari menghampiri suaminya.
__ADS_1
"Luan!" ucap Ryu sangat bahagia.
Mereka pun berpelukan disana dengan erat disertai rasa syukur karena Luan dapat bebas.
"Sial! Siapa yang melesakkan anak panah itu?!" geram Xavier.
"Aku!"
Sontak semuanya langsung menoleh ke asal suara, tampaklah sosok gadis cantik dengan busur panahnya tengah berdiri disana.
Dialah putri Xiu, pemanah sakti yang baru saja menunjukkan kemampuannya dengan berhasil membebaskan Luan dari tekanan Xavier.
"Kurang ajar! Ternyata itu ulah mu, mengapa kamu ikut campur anak kecil?" ujar Xavier.
"Aku bukan anak kecil, aku ini adalah seorang pendekar yang akan membunuhmu saat ini juga. Jadi, bersiaplah menerima kematian mu wahai raja Xavier!" ucap putri Xiu.
Xavier terlihat emosi dan tidak terima dengan perkataan Xiu barusan, sedangkan ratu Lien kini menghampiri putrinya dengan wajah cemas.
"Xiu, apa yang kamu lakukan disini?" tanya ratu Lien.
"Maaf mom! Tapi, aku juga ingin membantu kalian." jawab putri Xiu.
"Ini sangat bahaya Xiu! Sebaiknya kamu kembali saja ke dalam, biar mommy yang urus semuanya!" pinta ratu Lien.
"Gak bisa mom, aku mau disini!" ucap putri Xiu.
Lalu, tampak juga Wein Lao menyusul mereka kesana dengan nafas terengah-engah.
"Duh, maafkan saya ratu! Saya gagal menahan tuan putri untuk tetap di kamarnya," ucap Wein Lao.
"Tidak apa, tapi sekarang kamu bawa Xiu kembali ke dalam!" perintah ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Wein Lao menurut.
"Putri Xiu, mari ikut denganku ke dalam!" ucap Wein Lao pada Xiu.
"Gak mau, aku gak mau ikut kamu!" ujar Xiu.
"Xiu, jangan membantah! Ini perintah mommy, dan kamu harus kembali demi keselamatan kamu!" tegas ratu Lien.
"Gak mommy, aku gak akan pergi dari sini. Aku mau tetap disini bantu mommy sama yang lain, lagian aku sudah besar dan aku bisa melawan Xavier!" ucap Xiu.
"Hahaha.. hahaha..." Xavier tertawa puas seraya berjalan mendekati mereka.
"Sudahlah, hentikan omong kosong kalian! Cepat angkat senjata kalian dan lawan aku!" teriak Xavier.
"Kamu begitu yakin akan mengalahkan ku, tapi kamu tidak tahu seberapa hebatnya diriku. Silahkan saja Lien, ayo maju dan serang aku!" ucap Xavier merentangkan kedua tangannya.
"Baiklah, akan kuhabisi kau Xavier!" geram ratu Lien.
Ratu Lien langsung mengangkat pedangnya, bersiap menyerang Xavier dengan amarah yang sudah menggebu-gebu.
"Seraanggg...!!" teriak ratu Lien.
Ratu Lien dengan para pasukannya pun maju menyerang Xavier dan prajurit Quangzi.
Saat putri Xiu hendak ikut maju, Wein Lao justru menahan tangannya dari belakang.
"Tunggu tuan putri!" ucap Wein Lao.
"Ada apa sih?" tanya Xiu kesal.
"Tuan putri disini saja, jangan ikut menyerang!" jawab Wein Lao.
"Kenapa Lao? Aku kan cuma mau bantu mommy," ucap Xiu.
"Maaf putri! Tapi, aku hanya menjalankan perintah ratu untuk menahan mu disini." ucap Wein Lao.
"Ish, lepasin tangan aku!" pinta Xiu.
"Tidak bisa tuan putri, kamu harus tetap disini!" ucap Wein Lao.
Xiu pun terpaksa menuruti kemauan Wein Lao, ia berdiam diri disana bersama pria itu dan tidak jadi menyerang Xavier.
•
•
Sliingg sliingg sliingg...
Xavier dan ratu Lien saling beradu pedang, hingga Xavier mampu menekan ratu Lien dengan pedang miliknya.
"Lien, kamu menyerah saja dan ikut kembali bersamaku ke istana Quangzi! Aku janji tidak akan menyakiti kamu atau putrimu, asal kamu mau ikut denganku." ucap Xavier sambil tersenyum.
"Akkhh!!" pekik ratu Lien saat berusaha menahan pedang Xavier di atasnya.
"Kamu tidak akan bisa mengalahkan ku, menyerah lah dan ikut bersamaku!" ucap Xavier.
__ADS_1
"Aku gak akan mau ikut sama kamu!" ujar ratu Lien.
Xavier kembali tersenyum lalu menekan pedangnya hingga sang ratu tidak kuat lagi untuk menahan dirinya.
Akibatnya, ratu Lien pun terjatuh ke tanah dengan posisi terlentang. Pedangnya juga terpental ke samping dan Xavier langsung memanfaatkan itu untuk mengancam sang ratu.
Xavier menempelkan pedangnya di leher sang ratu sambil tersenyum tipis berharap ratu Lien mau menyerah padanya.
"Bagaimana ratu? Masih ingin melawanku?" tanya Xavier pada sang ratu.
"Sampai kapanpun, aku akan terus melawan kamu. Kecuali kalau kamu mau menuruti kemauan ku, yaitu mundur dari tahta mu sekarang juga dan pergi dari wilayah Quangzi." jawab ratu Lien.
"Aku gak mungkin mundur sayang, Quangzi butuh sosok raja yang kuat dan mampu mengembalikan masa kejayaannya. Hanya akulah orang yang pantas memimpin Quangzi, jadi aku akan tetap berada disana sayangku." ucap Xavier.
"Darimana ceritanya kamu pantas jadi pemimpin di Quangzi? Kamu itu seorang pengkhianat, dan kamu juga yang sudah membunuh suamiku. Kamu tidak pantas berada di istana apalagi sebagai pemimpin!" ucap ratu Lien.
"Aku melakukan itu semua, karena raja Feng sudah bertindak semena-mena. Dia memperlakukan rakyat kecil dengan seenaknya, dia udah rebut kamu dari aku sayang." geram Xavier.
"Kamu gak bisa sepenuhnya menyalahkan raja Feng, karena aku juga cinta sama dia. Justru dari awal aku emang udah tahu seperti aku kamu ini, makanya aku lebih memilih pinangan raja Feng dibanding kamu." ucap ratu Lien.
Xavier menggeleng sambil tersenyum lebar, ia pun berjongkok di samping tubuh sang ratu dan mengusap wajahnya secara perlahan.
"Kamu bilang kamu gak cinta sama aku, Lien? Apa kamu serius bilang begitu sayang? Terus, selama ini kamu anggap aku apa Lien? An Ming anak kita juga gak kamu anggap?" ucap Xavier.
"Jangan bawa-bawa An Ming, dia itu beda!" ucap ratu Lien.
"Lalu, kamu mau apa lagi sekarang? Kamu sudah gak bisa melawanku lagi, lebih baik kamu menyerah saja Lien!" ucap Xavier.
"Untuk apa aku nyerah? Aku masih bisa habisi kamu dan rebut kembali tahta Quangzi dari tanganmu!" ucap ratu Lien.
"Kamu ini kenapa tiba-tiba jadi begini sih? Perasaan dulu kamu baik-baik aja dan mau terima aku sebagai raja di Quangzi, bahkan kamu juga mau jadi permaisuri aku. Apa ini karena hasutan putri kamu itu, ha?" ujar Xavier.
"Apa maksudmu menyalahkan putriku? Aku begini, tentu saja karena dari awal aku memang hanya terpaksa mau menikah denganmu." ujar ratu Lien.
"Baiklah, kalau begitu kali ini aku akan memaksa kamu kembali sayangku." ucap Xavier.
"Kamu tak akan bisa memaksaku lagi, karena aku tidak ingin mengulangi kesalahan itu lagi." ucap ratu Lien.
"Itu bukan suatu kesalahan sayang, tapi justru itu keputusan yang bagus." ucap Xavier.
Slaasshh...
Tiba-tiba saja sebuah anak panah melesat ke arah wajah Xavier dan hampir mengenainya jika ia tidak menghindar dengan cepat.
"Hah? Apa itu?" ujar Xavier panik.
Ratu Lien pun bangkit dari posisinya, memanfaatkan kesempatan saat Xavier lengah.
"Kamu tidak bisa memaksa ibuku lagi untuk ikut denganmu, Xavier!" teriak Xiu dari belakang.
Sontak Xavier terkejut, ia mengarahkan pandangan ke asal suara dan menatap Xiu dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Hahaha, jadi itu ulahmu anak kecil? Kamu gak kapok-kapok juga ya, masih mau melawan saya? Apa kamu tidak lihat barusan? Ibu kamu aja kalah melawan saya, gimana kamu?" ujar Xavier dengan gaya sombongnya.
"Jangan sombong kamu Xavier! Kamu belum tahu bagaimana kekuatanku saat ini, aku yakin aku bisa mengalahkan kamu kali ini!" ucap Xiu.
"Baiklah, silahkan saja kamu coba jika memang kamu merasa kamu itu kuat!" tantang Xavier.
Xiu semakin emosi mendengar perkataan Xavier, ia maju mendekat ke arah Xavier dengan membawa busur panah miliknya.
Namun, ratu Lien tiba-tiba mencekal lengannya dari belakang dan menahan gadis itu untuk tetap disana bersamanya.
"Tahan Xiu, jangan kesana!" pinta ratu Lien.
"Ada apa mom? Aku bisa kok kalahin dia, aku ini pendekar sakti dan kemampuan memanahku tidak ada tandingannya!" ucap Xiu.
"Iya, mommy tahu. Tapi, apa kamu juga bisa mengendalikan pedang?" tanya ratu Lien pada putrinya.
Xiu menundukkan wajahnya dan terdiam sesaat mendengar pertanyaan sang ratu, jujur hingga saat ini Xiu memang belum mahir menguasai pedang dan selalu gagal saat mencobanya.
"Dengar sayang, dalam bertarung itu kita harus menggunakan senjata yang sama dengan lawan kita. Kalau dia memakai pedang, maka kita juga harus memakai pedang. Selain itu, panah ini juga tidak akan berguna jika lawan kamu berada di posisi yang dekat denganmu." jelas ratu Lien.
"Ta-tapi mom, aku ingin mengalahkan dia. Kalau aku gak bisa pake busur ini, yasudah aku juga akan pakai pedangku." ucap Xiu.
"Jawab dulu pertanyaan mommy! Kamu bisa menggunakan pedang sayang?" ujar ratu Lien.
Xiu menggeleng pelan, sedangkan Xavier reflek tersenyum tipis di depan sana dan menganggap bahwa Xiu tak akan mungkin dapat mengalahkannya untuk saat ini.
"Hahaha, memang kamu itu payah Xiu! Kamu tidak lebih dari seorang anak kecil, jadi sebaiknya kamu pergi saja dari sini!" ujar Xavier.
Xiu kembali emosi, tangannya terkepal hebat dan hendak maju menghampiri Xavier.
Akan tetapi, ratu Lien kembali menahannya dengan mencengkeram pundak gadis itu.
"Tahan sayang!" pinta ratu Lien.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...