
"Lalu, apa mau mu?" tanya Lien sekali lagi.
"Bercintalah denganku malam ini!" jawab Fredison.
Ingatan-ingatan itu terus muncul di kepala ratu Lien saat ia membuka matanya, entah mengapa dirinya sulit sekali menerima dengan apa yang sudah ia lakukan semalam bersama Fredison.
Ratu Lien merasa kotor akibat Fredison berhasil menjamah tubuhnya semalam, ia terus menangis sembari memeluk tubuhnya sendiri yang sudah mengenakan pakaian kerajaan itu.
Ratu Lien sangat-sangat menyesal sudah kabur dari istana tanpa memberitahu siapapun, hingga akhirnya ia mendapat karma sendiri dan malah menjadi tawanan kerajaan musuhnya.
"Hiks hiks... pangeran biadab itu sudah menyentuh tubuhku, dia sudah membuat aku merasa seperti seorang wanita penghibur!" ucapnya.
"Aku ini benar-benar kotor, apa kata Xavier dan An Ming nanti saat tahu bahwa ratu mereka yang diagung-agungkan ini sudah melayani seorang pangeran semalaman?" sambungnya.
Ceklek...
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka, ia pun reflek menoleh ke arah pintu dengan mata berkaca-kaca.
Itu adalah pangeran Fredison, pria itu masuk ke dalam dan mendekati ratu Lien sambil terus memasang senyum liciknya.
"Selamat pagi, ratu Lien yang cantik jelita!" ucap Fredison yang kini sudah terduduk di dekat Lien.
Pria itu hendak mencolek dagu sang ratu, namun dengan cepat ditepis oleh tangan ratu Lien yang tidak sudi wajahnya disentuh lagi oleh lelaki tersebut.
"Jangan pernah sentuh aku lagi!" tegas ratu Lien.
"Kamu kenapa ratu Lien? Apa kau lupa dengan kegiatan panas kita semalam? Aku melihat kau sangat menikmati itu, jadi seharusnya kau tidak perlu bersikap seperti ini sekarang! Aku sangat yakin, kau ingin mendapatkan itu semua lagi kan?!" goda Fredison membuat ratu Lien emosi.
"Jangan sembarangan ya kamu! Aku tidak pernah mau bercinta dengan laki-laki yang bukan suamiku! Kau sudah mengotori ku pangeran, jadi jangan harap kau bisa selamat begitu saja! Aku akan membuatmu menyesal telah melakukan hal itu kepadaku!" geram ratu Lien.
"Oh silahkan saja, ratu Lien! Aku juga tidak sabar menanti perbuatan mu itu, memangnya apa sih yang kamu bisa lakukan ha?!" ujar Fredison.
"Kau benar-benar biadab, pangeran Fredison! Aku kira kamu adalah orang yang baik, tapi ternyata aku salah karena kamu justru lebih menjijikkan daripada laki-laki semalam!" ucap ratu Lien.
"Jadi, kamu lebih ingin melayani kelima pria itu dibanding aku, ratu?" ucap Fredison.
"Jaga bicaramu Fredison! Atau akan kusumpal mulutmu itu dengan pedangku!" geram ratu Lien.
"Tidak usah terlalu banyak bicara ratu, kau diam saja disini dan nikmati hidup barumu sebagai seorang pemuas!" ucap Fredison.
"Apa maksudmu?" tanya ratu Lien cemas.
"Iya ratu, kau harus tetap disini selamanya! Jadi, kapanpun aku mau bercinta denganmu, aku tidak perlu bingung lagi. Kamu paham kan sekarang sayangku?" jawab Fredison.
"Kurang ajar! Aku bukan wanita seperti itu! Dengar pangeran, kau itu masih muda dan kau bisa mendapat wanita incaranmu tanpa harus berbuat seperti ini padaku!" ucap ratu Lien.
"Untuk apa aku mendapat wanita lain, kalau aku bisa mendapatkan dirimu? Dengar Lien, seribu wanita desa itu tidak ada apa-apanya dibanding dirimu sayangku!" ucap Fredison.
"Asal kau tahu Fredison, aku benar-benar menyesal telah menerima bantuan mu!" umpat ratu Lien.
"Tidak masalah, yang penting aku tak menyesal telah membantumu ratu. Aku juga senang sekali karena bisa menemukanmu di jalanan seorang diri, sehingga aku dapat membawamu kemari. Sungguh sesuatu hal yang sangat membahagiakan untukku!" ucap Fredison.
"Apa kau tidak puas sudah membuat tubuhku menjadi kotor, pangeran? Kenapa kau masih ingin aku ada disini?" tanya ratu Lien.
"Aku kan sudah bilang, aku tidak akan melepaskan kamu sampai kapanpun. Jika memang kamu ingin pergi dari sini, berikan aku separuh wilayah Quangzi yang luas itu!" jawab Fredison.
Ratu Lien terdiam dengan nafas memburu, ingin rasanya ia mencabik Fredison saat ini juga.
•
•
Xi Mei sudah menyiapkan seluruh barang bawaannya karena hari ini ia akan pergi bersama Ryu menuju tempat sahabat pamannya itu.
Akan tetapi, entah mengapa perasaan Xi Mei jadi tidak karuan dan mendadak ia teringat pada ibundanya.
"Kenapa Xi Mei? Kok berhenti?" tanya Ryu heran.
"Paman, aku juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja aku merasa khawatir dengan mommy. Perasaan aku tidak tenang paman, aku takut mommy sedang kenapa-napa!" jawab Xi Mei.
"Hah? Mengapa kamu bisa merasa seperti itu, Xi Mei?" tanya Ryu kebingungan.
"Entahlah paman, tapi aku takut banget!" jawab Xi Mei menggelengkan kepalanya.
"Sssttt sssttt gak perlu takut sayang! Paman yakin kok kalau ratu Lien pasti akan baik-baik saja! Kamu tidak perlu cemas ya Xi Mei!" ucap Ryu langsung memeluk Xi Mei dari samping.
"Tapi paman, aku—"
"Sudahlah, mungkin itu cuma perasaan kamu aja! Gak ada hal buruk kok yang terjadi sama ratu, tenang ya!" potong Ryu.
Xi Mei mengangguk pelan, namun disertai air mata yang menetes keluar.
Ryu yang melihat itu pun reflek menyeka air mata di wajah Xi Mei dengan tangannya.
__ADS_1
"Hey, sudah ya jangan nangis begitu! Kamu percaya aja sama paman, mommy kamu pasti baik-baik aja kok!" ucap Ryu.
"Bagaimana aku bisa percaya, paman? Aku saja tidak bisa melihat mommy sekarang." kata Xi Mei.
"Memang benar, tetapi kamu kan tahu sendiri saat ini di istana sudah ada cukup banyak pengawal yang menjaga mommy kamu. Termasuk salah satunya itu Zheng teman kamu, jadi harusnya kamu tidak perlu cemas lagi cantik!" ucap Ryu.
"Iya paman, aku ngerti. Tapi, boleh kan kalau kita ke istana sekarang? Aku ingin mengetahui kondisi mommy, karena aku gak pernah secemas ini sebelumnya paman." pinta Xi Mei.
"Eee..." Ryu tampak kebingungan dan ragu untuk menjawab pertanyaan Xi Mei.
"Kenapa paman? Sebentar doang kok, aku cuma mau pastiin aja mommy beneran baik-baik atau ada yang terjadi sama mommy." kata Xi Mei.
"Tapi sayang, kita kan harus pergi sekarang. Katanya kamu mau menambah ilmu kamu, jarak dari sini kesana jauh loh." ujar Ryu.
"Gapapa paman, masih ada banyak waktu kok buat kita pergi ke istana sebentar." bujuk Xi Mei.
"Ayolah paman, aku janji cuma sebentar dan aku gak akan maksa buat masuk istana!" sambungnya.
Melihat raut memelas di wajah Xi Mei, membuat Ryu sedikit tidak tega dan akhirnya memutuskan untuk memberi izin bagi Xi Mei pergi ke istana dan melihat kondisi mommy nya.
"Baiklah, paman kasih izin kamu pergi ke istana. Tapi, paman akan temani kamu kesana." kata Ryu.
"Iya paman, makasih banyak ya paman!" ucap Xi Mei memperdalam pelukannya.
"Sama-sama," ucap Ryu singkat.
Luan yang baru selesai menyiapkan bekal untuk mereka berdua, agak terkejut melihat Ryu tengah memeluk Xi Mei disana.
Apalagi terlihat kalau Xi Mei dalam kondisi sedih seperti habis menangis, itu membuat Luan cemas dan langsung menghampiri mereka.
"Loh loh, ada apa ini? Kenapa kamu menangis Xi Mei?" tanya Luan panik.
"Bibik? Eee enggak kok, aku gak nangis. Aku cuma khawatir sama mommy!" jawab Xi Mei gugup dan spontan melepas pelukannya.
"Ohh.."
•
•
Singkat cerita, Xi Mei dan pamannya telah tiba di istana untuk memastikan apakah sang ratu baik-baik saja atau tidak.
Mereka tampak bersembunyi dibalik tembok istana, Ryu melihat ke dalam diikuti oleh Xi Mei di sampingnya yang juga sudah tidak sabar.
"Xi Mei, kamu nunduk dulu jangan ikut-ikutan ngintip! Biar paman aja yang cek kondisinya, apa kita bisa masuk atau tidak. Kalau kamu ikutan, nanti malah ketahuan." ucap Ryu.
"Ya gapapa, yang penting kamu diam dulu sekarang ya!" ucap Ryu.
"Oke paman!" ucap Xi Mei mengangguk pelan.
Ryu pun kembali mengintip ke dalam istana, ia memastikan apakah ada prajurit atau penjaga yang berjaga di depan sana.
Dan benar saja, ternyata ada dua orang prajurit muncul dan membuat Ryu terkejut lalu reflek menundukkan wajahnya agar tak terlihat oleh prajurit itu.
"Duh gawat! Ada prajurit yang hampir melihat kita tadi," ucap Ryu panik.
"Hah? Terus gimana paman?" tanya Xi Mei.
"Tenang aja Xi Mei! Kita kan bisa lewat belakang, kita cari paman Mungyi dan tanyakan sama dia tentang kondisi ratu!" saran Ryu.
"Gausah paman! Aku tahu kok jalan rahasia buat masuk ke istana, dulu Daddy pernah bawa aku lewat sana." ucap Xi Mei.
"Serius? Kamu masih ingat?" tanya Ryu.
"Eee kayaknya sih ingat paman, tapi belum tentu juga sih." jawab Xi Mei.
"Loh, kamu ini gimana?" ujar Ryu heran.
"Hehe, kita coba dulu aja paman!" ucap Xi Mei sambil nyengir dan menggaruk kepalanya.
"Yaudah, kamu jalan duluan! Paman kan gak tahu lokasinya dimana," titah Ryu.
"Iya paman, ayo ikutin aku!" ucap Xi Mei.
Mereka pun melangkah menuju jalan rahasia yang terletak di samping istana itu, Ryu tampak terus mengawasi sekitar untuk memastikan apakah ada yang lewat disana atau tidak.
"Ini benar jalannya, Xi Mei?" tanya Ryu.
"Iya paman, seingat ku sih disini. Tapi, kalau udah berubah jangan salahin aku ya paman!" jawab Xi Mei.
"Hahaha, ada-ada aja kamu Xi Mei! Yasudah, kamu lanjutkan saja jalannya! Biar paman pantau dari belakang sini," ucap Ryu.
Xi Mei mengangguk pelan, kemudian lanjut melangkah untuk membuka pintu rahasia itu.
__ADS_1
Akan tetapi, Xi Mei terkejut lantaran seseorang sudah lebih dulu muncul dari dalam sana.
Kriieett...
"Hah? Ada orang paman!" ucap Xi Mei panik.
Saat pintu terbuka, rupanya yang muncul adalah Mungyi. Tentu Xi Mei merasa lega karena ia bukan bertemu dengan prajurit istana.
"Paman Mungyi? Kenapa paman bisa ada disini?" tanya Xi Mei masih kaget.
"Eh ada tuan putri ternyata, salam hormat tuan putri!" ucap Mungyi.
"Sudahlah paman, tidak perlu seperti itu! Sekarang aku mau tanya paman, tolong paman jawab dengan jujur ya!" ucap Xi Mei.
"Baik tuan putri! Apa yang mau tuan putri tanyakan?" ucap Mungyi.
"Apa mommy dalam keadaan baik-baik saja? Mommy tidak sedang terkena masalah kan paman?" tanya Xi Mei penasaran.
Sontak Mungyi terkejut dengan pertanyaan Xi Mei, ia terbelalak dan bingung harus menjawab apa.
"Kenapa paman diam? Cepat kasih tahu aku paman, mommy baik-baik saja kan?!" ucap Xi Mei makin penasaran.
"Eee ratu..."
•
•
Raja Yong Kromo dari istana Rofusha tengah menunggu kehadiran Xavier, ia sudah tidak sabar ingin segera berbincang dengan Xavier dan membahas mengenai pembagian wilayah mereka.
Disela-sela ketidaksabaran dirinya, tiba-tiba pangeran Fredison muncul dan langsung duduk di dekat ayahnya, membuat Yong Kromo merasa heran dengan kelakuan putranya itu.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu, Fredison? Apa yang baru kau lakukan dengan tahanan kita?" tanya Yong Kromo bingung.
"Tidak ada ayah, aku hanya sekedar bersenang-senang dengannya." jawab Fredison.
"Apa yang kau maksud dengan bersenang-senang itu, Fredison? Ingatlah, kau seharusnya tidak boleh menyentuh ratu Lien!" ucap Yong Kromo.
"Ayah tenang saja, aku tidak akan menyentuh ratu Lien! Semuanya akan berjalan dengan mulus ayah, kita pasti bisa memeras Quangzi." ucap Fredison.
"Itu yang kuharap kan, tetapi semuanya akan gagal jika kau melakukan sesuatu terhadap ratu Lien. Oleh karena itu, tahanlah dirimu!" ujar Yong Kromo.
"Baik ayahanda!" ucap Fredison.
Tampak senyum seringai terpampang di wajah Fredison, ia senang karena ayahnya tidak curiga jika ia sudah menyentuh tubuh ratu Lien.
Tak lama kemudian, seorang prajurit datang kesana dan memberi hormat kepada raja Yong Kromo serta Fredison.
"Salam hormat hamba, yang mulia!" ucap prajurit itu.
"Ya, ada apa prajurit?" tanya Yong Kromo.
"Ada raja Xavier dari Quangzi yang datang ke istana ini, yang mulia. Beliau meminta untuk masuk dan menemui yang mulia," jawab prajurit itu.
"Baguslah, suruh dia masuk sekarang juga! Bilang kalau dia sudah ditunggu oleh saya!" titah Kromo.
"Baik yang mulia!" ucap prajurit itu.
Prajurit itu bangkit, dan kembali keluar menemui Xavier untuk meminta Xavier masuk kesana.
Fredison kini menatap ayahnya, merasa bingung mengapa Xavier bisa datang kesana.
"Ayah, kenapa—"
"Ini semua sudah ayah perhitungkan, ayah hanya ingin membuat perjanjian dengan Xavier. Jika dia menolaknya, maka ratu Lien akan selamanya berada disini." potong Yong Kromo.
"Hahaha, dan akan selamanya juga ratu Lien ada bersamaku.." batin Fredison.
Xavier pun datang seorang diri bersama prajurit Rofusha yang tadi melapor, terlihat Xavier sangat geram dan seperti ingin menghajar Kromo.
"Selamat datang di istanaku, yang mulia raja Xavier! Raja dari Quangzi yang dihormati dan disegani oleh seluruh wilayah Quangzi, sungguh suatu kehormatan bagiku dapat menerima mu di tempat ini." ucap Yong Kromo.
"Tidak usah banyak basa-basi, Kromo! Aku datang kesini sesuai undangan yang kau berikan padaku itu, cepat katakan apa mau mu dan bebaskan ratu Lien sekarang juga!" tegas Xavier.
"Tenanglah raja Xavier! Silahkan kau duduk dulu dan minum agar kau lebih tenang!" ujar Kromo.
Xavier menuruti perintah Yong Kromo, ia melangkah menuju tempat duduk dan duduk disana sembari terus menatap Yong Kromo.
"Dimana kau sembunyikan istriku?" tanya Xavier.
"Hahaha, ratu Lien aman bersamaku. Tentu saja jika kau mau menuruti semua kemauan ku, tapi kalau tidak maka jangan salahkan aku jika aku menghabisi ratu Lien!" jawab Yong Kromo.
"Kurang ajar!" geram Xavier mengepalkan tangannya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...