
"Aku mau ikut bik, aku yakin aku bisa menang kok di sayembara itu!" ucap Xi Mei.
"Bukan itu masalahnya sayang, tapi kalau kamu pergi ke istana yang ada kamu bisa ketahuan sama raja Xavier. Kalau kamu ditangkap dan ditahan disana bagaimana?" ucap Luan.
"Benar Xi Mei, itu sangat bahaya buat kamu! Jadi, sebaiknya kamu tidak usah mengikuti sayembara itu kalau kamu masih ingin bertemu dengan ratu Lien nantinya!" sahut Ryu.
"Tapi paman, aku...." Xi Mei sengaja menggantung ucapannya karena tak mau melanjutkan perdebatan dengan paman dan bibinya itu.
"Yaudah deh paman, bibik, aku gak bakal datang ke istana Minggu nanti buat ikut sayembara." ucap Xi Mei dengan sedikit raut sedihnya.
"Huh syukurlah! Terimakasih ya Xi Mei, karena kamu sudah mau menurut dengan apa yang paman dan bibik katakan! Kamu itu memang anak yang baik!" ucap Ryu tersenyum.
"Iya paman, tapi boleh kan kalau aku tetap datang ke istana nantinya?" tanya Xi Mei penuh harap.
"Loh, kamu mau apa sayang? Bukannya tadi kamu bilang, kamu gak jadi ikut sayembara itu?" ujar Luan terkejut mendengarnya.
"Ya emang bukan buat sayembara, aku mau nonton aja sekalian lihat mommy disana. Boleh kan bik? Ayolah, aku sembunyi-sembunyi kok bik dan aku lihatnya dari jauh! Aku ini udah kangen banget sama mommy, aku pengen ketemu sama mommy sekarang!" rengek Xi Mei.
Luan dan Ryu pun tampak bingung, mereka saling pandang tak tahu harus bagaimana saat ini.
"Kalau sampai Xi Mei datang ke istana hari Minggu nanti, dan dia lihat mommy nya duduk bersama raja Xavier di singgasana. Pasti Xi Mei bakal berpikir kalau mommy nya itu sudah mengkhianati daddy nya, dan ini bisa gawat!" batin Luan.
Xi Mei terlihat bingung juga saat menyadari paman dan bibinya itu terdiam saja tak menjawab perkataannya tadi.
"Paman, bibik, ada apa sih sebenarnya? Kenapa aku gak boleh lihat mommy walau dari jauh? Padahal ini kan kesempatan buat aku tahu, aku udah kangen banget sama mommy!" ujar Xi Mei.
"Ah eee iya Xi Mei, bibik ngerti kalau kamu kangen sama mommy kamu. Tapi, istana itu sangat berbahaya untuk kamu dan bibik gak mau kamu sampai tertangkap nantinya!" ucap Luan.
"Tenang aja bik, aku gak bakal ketangkap kok! Aku ini kan pintar!" ucap Xi Mei tersenyum.
"Iya sayang, bibik tahu kamu anak yang pintar. Cuma kan nasib sial itu gak ada di kalender, jadi kamu bisa tertangkap kapanpun kalau lagi waktunya kamu sial sayang." kata Luan.
"Benar itu Xi Mei, ada baiknya kamu tetap disini dan jangan memaksa untuk pergi ke istana hari Minggu nanti!" sahut Ryu.
"Yah paman sama bibik mah gak asik!" Xi Mei kesal dan langsung beranjak dari kursinya, lalu pergi begitu saja menuju kamar.
"Xi Mei, tunggu sayang!" teriak Luan.
Luan berusaha mengejar Xi Mei ke kamarnya, tetapi dicegah oleh Ryu.
"Jangan dikejar!" ucap Ryu tegas.
"Kenapa Ryu? Aku harus kejar Xi Mei dan bujuk dia supaya gak marah sama kita, aku harus kasih pengertian ke dia sayang!" ucap Luan panik.
"Tenang dulu Luan! Biarkan saja Xi Mei berdiam diri dulu di kamarnya, kalau dia sedang emosi seperti sekarang ini pasti akan sangat sulit buat kita bisa bujuk dia." jelas Ryu.
"Iya Bu, benar kata ayah. Sebaiknya ibu biarin Xi Mei tenangin diri di kamarnya dulu," sahut Chen.
"Nah kan, Chen aja setuju sama aku." kata Ryu.
"Huh yaudah deh, aku juga setuju sama kamu Ryu." ucap Luan menghela nafas.
Akhirnya Luan tidak jadi mengejar Xi Mei dan lebih memilih kembali duduk disana.
•
•
An Ming masih berada di halaman istana bersama Xavier dan Lien alias kedua orangtuanya itu.
Tampak An Ming juga sudah melupakan apa yang dilihatnya tadi dan tidak membahas itu lagi.
"Mom, dad, kemarin aku sudah minta Xi Mei loh buat ikut sayembara ini. Aku yakin sekali dia pasti bisa memenangkan sayembara memanah ini dan menjadi bagian dari istana!" ucap An Ming.
"Apa maksudmu An Ming? Siapa itu Xi Mei?" tanya Xavier tak mengerti.
"Iya dad, Xi Mei itu gadis cantik yang kemarin aku temui di hutan saat sedang berburu bersama paman Li Fan. Dia bukan gadis biasa, karena dia itu seorang ahli memanah dan itu sebabnya aku minta dia mengikuti sayembara ini." jelas An Ming.
"Ya ampun sayang! Jadi, kamu masih aja bahas gadis itu lagi. Mommy kan sudah bilang sama kamu, sekarang belum waktunya kamu untuk meminang wanita. Nanti kalau sudah waktunya, kamu juga bisa kok putraku." ucap ratu Lien.
__ADS_1
"Aku kan lagi gak bahas soal meminang, mom. Aku itu pengen Xi Mei ikut sayembara ini dan menang, lalu dia bisa tinggal di istana tanpa harus menunggu aku tumbuh dewasa." kata An Ming.
"Kenapa kamu begitu yakin kalau Xi Mei itu akan memenangkan sayembara ini? Bukankah dia masih seusia mu juga? Dan lagi, Xi Mei kan seorang wanita. Mana mungkin dia bisa lebih hebat daripada peserta lainnya yang pria?" tanya Xavier.
"Aduh, Daddy itu salah duga! Xi Mei bukan anak kecil seperti aku, dia sudah dewasa dad. Dia juga bukan wanita biasa, karena ilmu memanahnya itu luar biasa!" jawab An Ming.
"Apa? Xi Mei sudah dewasa?" Xavier terkejut.
"Sayang, jadi kamu menaksir wanita yang usianya jauh di atas kamu?" sahut ratu Lien ikut kaget.
"Iya mom, dad, memangnya apa yang salah? Cinta itu kan tidak mengenal usia, jadi aku bisa mencintai siapapun yang aku mau." ucap An Ming.
"Itu memang benar An Ming, tapi ya setidaknya kamu itu harus sama wanita yang seumuran dengan kamu. Apa kata dunia kalau kamu menaksir wanita yang lebih tua daripada kamu?" ucap Xavier geleng-geleng kepala.
"Aku tidak perduli dad, Xi Mei itu cantik dan aku mau sama dia!" ucap An Ming.
An Ming pun beranjak dari kursinya, lalu pergi meninggalkan Xavier dan Lien begitu saja.
Terlihat Xavier cukup kebingungan dengan tingkah putranya yang seperti itu, usianya masih muda namun dia sudah bisa menaksir wanita yang bahkan jauh lebih tua dibanding dirinya.
"Aku benar-benar heran dengan An Ming, bagaimana bisa dia mencintai gadis yang lebih tua dibanding dia?" ujar Xavier.
"Kamu tidak perlu heran Xavier, sifat An Ming itu kan mewarisi sifat mu. Jadi, seharusnya kamu tidak usah heran dengannya!" ucap ratu Lien.
"Apa maksudmu? Aku tidak menaksir wanita yang lebih tua dariku. Dengar ya, usiamu itu lebih muda dariku Lien. Jadi, apa yang terjadi pada An Ming bukan karena aku dong." kata Xavier.
"Huh terserah kau saja!" ucap ratu Lien.
"Baiklah, aku akan selidiki mengenai Xi Mei ini. Aku penasaran, seperti apa rupanya hingga dapat membuat An Ming terpesona!" ujar Xavier.
Ratu Lien terdiam saja tak menyahuti ucapan Xavier barusan.
•
•
"Kau kenapa Xi Mei? Sepertinya kau terlihat sedang bersedih, ada masalah apa?" tanya Zheng pada Xi Mei yang tengah duduk sendirian di pinggir jalan.
"Ah enggak kok, aku gak ada masalah apa-apa Zheng, aku baik-baik aja. Kamu ngapain disini? Bukannya kamu harus bekerja ya?" ucap Xi Mei berpura-pura tak terjadi apapun.
Namun, Zheng tak percaya begitu saja dengan penuturan Xi Mei.
Zheng pun duduk di samping Xi Mei dan memandangi wajahnya sambil tersenyum.
"Kamu gausah bohong sama aku Xi Mei! Aku tahu kok kalau kamu lagi ada masalah, udah lah cerita aja sama aku sekarang! Aku janji pasti aku bakal dengerin curhatan kamu kok!" ucap Zheng.
"Eee kamu terlalu berlebihan Zheng, padahal aku emang benar baik-baik aja. Gak ada yang perlu aku ceritain ke kamu, karena emang gak ada apa-apa. Kamu bisa pergi sekarang!" ucap Xi Mei.
"Kok kamu usir aku sih?" ujar Zheng.
"Bukan maksud aku buat usir kamu, Zheng. Aku itu cuma bilang ke kamu kalau aku gak ada apa-apa, lagian kamu kan juga harus kerja." kata Xi Mei.
"Aku lagi libur sekarang, makanya aku mau sempetin buat temenin kamu disini. Jadi, kamu cerita aja ya kalau lagi ada masalah! Gak perlu sungkan sama aku!" ucap Zheng.
"Ya sebenarnya tuh aku cuma pengen ikut sayembara memanah di istana, tapi gak dibolehin sama paman dan bibik aku." kata Xi Mei.
"Hah? Seriusan kamu mau ikut sayembara itu juga?" tanya Zheng sedikit terkejut.
"Iya, emangnya kenapa? Kamu kok kayak kaget gitu dengernya?" ujar Xi Mei heran.
"Gapapa sih, soalnya aku mau ikut sayembara itu juga. Kebetulan ini aku mau ke istana sekarang buat daftarin diri," ucap Zheng.
"Oh ya? Serius?" tanya Xi Mei.
"Iya dong, kamu doain aku aja ya buat menang! Nanti kalau aku menang, hadiahnya aku bagi juga deh buat kamu karena kamu udah mau doain aku." jawab Zheng sambil tersenyum.
"Umm, boleh sih. Tapi, tetap aja aku kurang senang karena bukan aku sendiri yang menangin." kata Xi Mei kembali cemberut.
"Udah lah Xi Mei, kamu gak perlu sedih gitu! Menurut aku, mungkin paman dan bibik kamu itu punya alasan kenapa kamu gak dibolehin buat ikut sayembara di istana. Yang pertama mungkin aja mereka cemas sama kamu," ucap Zheng.
__ADS_1
"Ah itu mah mereka aja terlalu lebay! Padahal aku kan jago manahnya, malah lebih jago dari kamu!" ujar Xi Mei.
"Hahaha... iya deh iya yang paling jago, ajarin aku dong biar bisa jago kayak kamu!" ledek Zheng.
"Ish, kamu kok malah ketawain aku? Kamu gak percaya kalau aku jago manah?" ujar Xi Mei.
"Bukan gitu, aku cuma bercanda tau. Aku akui kok kamu emang jago Xi Mei, tapi untuk sekelas sayembara istana kayaknya kamu masih harus pikir-pikir dulu deh." kata Zheng.
"Gak perlu pikir-pikir, kan emang udah pasti gak bakal ikut karena gak dibolehin paman dan bibik." kata Xi Mei.
"Nah, yaudah mending kamu anterin aku aja yuk ke istana!" ucap Zheng.
Xi Mei terdiam sejenak memikirkan tawaran Zheng, ia sebenarnya ingin ikut dengan Zheng ke istana agar ia bisa sekalian bertemu dengan sang ratu.
Namun, tentunya Xi Mei juga khawatir jika nantinya ada yang mengenali dirinya dan menangkapnya.
•
•
Disisi lain, Alice melapor kepada Terizla mengenai sayembara yang diadakan oleh Xavier di istana Quangzi.
Saat ini memang Terizla tinggal di kerajaan Felik Xi yang merupakan hasil dari rampokannya sebelum ini bersama Alice.
"Terizla, aku ada info menarik mengenai istana Quangzi yang bisa membuatmu gembira." kata Alice.
"Apa itu?" tanya Terizla dingin.
"Xavier si pengkhianat itu rupanya tengah merencanakan sebuah sayembara memanah antar para pendekar di seluruh wilayah Quangzi, ini bisa jadi kesempatan bagimu untuk berada kembali di istana itu." jawab Alice.
"Bagaimana caranya sayembara itu bisa menguntungkan bagiku?" tanya Terizla bingung.
"Haish kau ini! Tentu saja itu sangat menguntungkan bagi kau Terizla, kalau kau bisa memanfaatkannya!" jawab Alice.
"Iya, lalu bagaimana caranya?" tanya Terizla.
"Masa kau tidak tahu? Inikah seorang penguasa kegelapan yang diagung-agungkan oleh seluruh bangsa jin itu? Aku merasa ragu, karena kau untuk menjadi raja di Quangzi saja tidak mampu!" ujar Alice menggelengkan kepalanya.
"Hey, jangan pernah menghinaku!" bentak Terizla sembari menggebrak meja.
"Baiklah, maafkan aku Terizla! Aku tadi hanya terbawa emosi, karena kau benar-benar tidak bisa berpikir jernih dan memanfaatkan kesempatan ini untuk kembali ke istana!" ucap Alice.
"Ya, aku akui memang otakku tidak pernah berjalan dan aku tak bisa berpikir. Jadi, sekarang kau katakan saja bagaimana caranya!" ujar Terizla.
"Itu cukup mudah Terizla, kau hanya perlu menyamar sebagai seorang pendekar sakti dan mengikuti sayembara itu. Kalau kau berhasil memenangkannya, maka kau bisa masuk ke dalam istana Quangzi dan merebutnya dari tangan Xavier!" jelas Alice.
"Menyamar? Oh itu bukan keahlian ku, aku tidak bisa menyamar. Aku tak yakin ada satu orang saja yang percaya padaku, karena aku ini buruk sekali dalam berakting. Sebaiknya kau saja yang melakukan itu, Alice!" titah Terizla.
"Mengapa jadi aku? Disini kau yang ingin berkuasa, jadi kau harus berjuang!" ujar Alice.
"Oh baiklah, aku terima saran mu. Tapi, kau harus bantu aku untuk melakukan penyamaran itu!" pinta Terizla.
"Tentu saja, aku akan membantumu!" ucap Alice.
Terizla tersenyum senang, Alice pun bangkit dari duduknya dan mengeluarkan tongkat sakti miliknya untuk digunakan pada tubuh Terizla.
"Apa yang ingin kau lakukan padaku, Alice?" tanya Terizla sedikit cemas.
"Tenanglah, ini tidak akan sakit! Aku hanya ingin merubah penampilan mu, agar orang-orang bisa percaya kalau kau adalah manusia biasa yang memiliki keahlian memanah." jawab Alice.
"Baiklah, aku siap untuk itu!" ucap Terizla.
Alice mengangguk, lalu mulai membaca mantra dan mengarahkan tongkatnya pada Terizla.
Dalam sekejap rupa Terizla berubah, tubuhnya tak lagi berwarna hijau dan wajahnya pun tampak tampan layaknya seorang pangeran istana.
"Ini, lihatlah dirimu yang sekarang!" ucap Alice menyodorkan cermin ke arah Terizla.
Sontak Terizla terkejut saat melihat kondisi tubuhnya saat ini, ia tak menyangka Alice dapat melakukan semua itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...