
Luan menghampiri Xi Mei yang sedang memberi makan kudanya di belakang rumah.
Luan masih tak mengerti apa maksud Xi Mei berkata kalau dia ingin memperjuangkan yang menjadi haknya.
"Xi Mei.." Luan memanggil Xi Mei dengan lembut dan berhenti di dekatnya.
Sontak gadis itu menoleh ke arah Luan, menaruh sejenak rumput di tangannya lalu tersenyum menatap Luan dengan wajah herannya.
"Eh bibik, ada apa?" tanya Xi Mei bingung.
"Xi Mei, bibik mau tanya satu hal dong sama kamu." kata Luan.
"Soal apa bik?" tanya Xi Mei penasaran.
"Maksud perkataan kamu sebelumnya itu apa? Yang kamu bilang kalau kamu akan merebut kembali yang menjadi hak kamu, apa kamu masih ingin kembali ke istana?" ucap Luan.
"Oh soal itu, jelaslah bik pasti setiap putri raja yang terusir dari istananya, bakalan bersikap sama seperti aku. Karena aku gak bisa biarin istana dikuasai oleh orang yang tidak ada hubungannya dengan darah sang raja," ucap Xi Mei.
"Tapi Xi Mei, memangnya apa yang akan kamu lakukan untuk bisa merebut kembali istana Quangzi dari tangan raja Xavier?" tanya Luan.
"Aku akan lakukan segala cara bik, termasuk melakukan peperangan!" jawab Xi Mei mantap.
"Apa? Peperangan? Yang benar saja Xi Mei, bibik tidak setuju dengan rencana kamu itu!" ucap Luan menolak dengan jelas.
"Itu sih terserah bibik, tapi aku tetap pada keputusan aku buat nyerang ke istana setelah aku siap nanti!" ucap Xi Mei.
"Tapi Xi Mei, itu sangat berbahaya untuk kamu! Kamu gak bisa melakukan itu!" ucap Luan.
"Kenapa gak bisa bik? Aku ini putri raja, dan aku yang berhak tinggal di istana bukan Xavier atau yang lainnya! Justru mereka seharusnya pergi dari sana sejak awal!" ucap Xi Mei.
"Xi Mei, kamu bisa pikirkan cara lain selain peperangan kan sayang. Bibik gak mungkin siap lihat kamu terluka nantinya," ucap Luan cemas.
"Bibik gak perlu cemas! Aku gak akan terluka kok, aku ini putri Xiu yang sakti dan aku pasti bisa mengalahkan Xavier serta para antek-anteknya itu!" tegas Xi Mei.
Luan terdiam bingung, nampaknya ia sudah kehabisan cara untuk bisa mencegah Xi Mei agar tidak menyerang ke istana Quangzi.
"Yasudah bik, aku mau mandi dulu." kata Xi Mei.
"Iya Xi Mei, biar bibik yang kasih makan kuda-kuda ini. Kamu mandi saja habis itu terserah kamu mau kemana ya sayang!" ucap Luan.
"Iya bik, aku sih pengennya ke hutan buat latihan panah lagi." kata Xi Mei.
"Yaudah, bibik bolehin kok. Tapi, kamu kesana gak sendirian kan sayang?" tanya Luan.
"Entahlah bik, kayaknya sih sendiri. Soalnya aku gak bisa bareng Zheng terus-terusan, karena dia juga punya urusan lain." jawab Xi Mei.
"Baiklah, yang penting kamu harus bisa jaga diri ya Xi Mei!" ucap Luan.
"Iya bik, tenang aja!" ucap Xi Mei tersenyum.
Setelahnya, Xi Mei pun pergi dari sana dan masuk ke dalam rumah untuk mandi sesuai perkataannya tadi kepada Luan.
Sementara Luan tetap disana, melanjutkan aktivitas Xi Mei untuk memberi makan para kuda yang kelaparan itu.
Namun, Luan masih terus berpikir keras apa jadinya jika Xi Mei menyerang ke istana Quangzi nanti.
"Gimana ini ya? Sepertinya putri Xiu sangat dendam pada raja Xavier, dia bisa saja menyerang istana kapanpun tanpa sepengetahuan aku ataupun Ryu!" gumam Luan kebingungan.
•
•
Slaasshh...
Satu anak panah dilesakkan oleh Xi Mei dan berhasil tepat mengenai tubuh seekor rusa yang ia temui di hutan.
Wanita itu pun amat gembira, ia melangkah maju untuk mengambil hasil buruannya itu.
"Yes kena! Emang kayaknya aku udah makin jago deh pake panah, mungkin aku emang terlahir dengan kekuatan menguasai busur panah yang hebat!" ucap Xi Mei memuji dirinya sendiri.
Disaat Xi Mei hendak mengambil buruannya, tiba-tiba saja ada anak panah yang melesat ke depannya dan menancap ke tanah.
Slaasshh...
Xi Mei pun terkejut, mengelus dadanya akibat anak panah yang datang secara mengejutkan itu.
"Haish, siapa yang lakuin ini?" teriak Xi Mei.
"Aku!" Xi Mei terkejut mendengarnya, ia mencari asal suara dan menemukan sosok lelaki muda yang tengah melangkah ke arahnya.
__ADS_1
"Ka-kamu siapa?" tanya Xi Mei kepada lelaki itu.
"Aku An Ming, pangeran istana. Aku tadi dengar bahwa kau mengatakan kau ini menguasai busur panah dengan hebat, aku kesini hanya ingin memastikan itu!" jawabnya sambil tersenyum.
"Pangeran? Tunggu deh, sepertinya aku mengenal siapa kamu. Kamu ini kan.."
"Iya benar, aku yang pernah kau tolong dulu sewaktu tersesat di hutan ini. Benar begitu kan, Xi Mei?" potong An Ming.
"Ah iya, kamu tahu namaku?" tanya Xi Mei heran.
"Tentu saja, waktu itu kan kau pernah perkenalkan diri di hadapan paman Wingki. Dan sampai sekarang aku masih ingat betul tentang kamu, karena kamu sudah menolongku." jawab An Ming.
"Waw ingatanmu benar-benar luar biasa pangeran! Oh ya, untuk apa pangeran istana sepertimu datang ke hutan sendirian? Apa kamu tidak takut jika sesuatu terjadi padamu?" ucap Xi Mei.
"Untuk apa aku takut? Dari kecil aku sudah terbiasa dengan hutan ini, lagipun aku dan alam itu seperti sudah menyatu satu sama lain. Jadi, aku gak mungkin kenapa-napa disini." ucap An Ming dengan pede.
"Baiklah, lalu tadi kamu mau buktikan kalau aku benar-benar jago memanah kan?" tanya Xi Mei.
"Iya, aku mau tantang kamu untuk ikut sayembara memanah di istana Minggu nanti. Tapi, tentunya setelah aku mengetes kamu disini. Kamu harus bisa lolos untuk ikut sayembara itu," jawab An Ming.
"Memangnya apa hadiah dari sayembara itu? Kalau tidak menarik, untuk apa aku harus susah payah mengikutinya?" tanya Xi Mei penasaran.
"Hadiahnya sangat besar dan wah, untuk ukuran warga desa seperti kamu tentunya hadiah dari istana sudah lebih dari cukup dong untuk memenuhi kebutuhan hidup kamu!" jawab An Ming.
"Tidak bisakah kamu memberitahuku apa hadiahnya tanpa harus membawa statusku?" tanya Xi Mei mulai terpancing emosi.
"Oh, maaf kak! Baiklah, hadiahnya itu sekarung emas dan juga kesempatan untuk mengunjungi istana secara gratis. Selain itu, kamu juga bisa bekerja di istana ku." jawab An Ming.
"Hanya itu?" tanya Xi Mei.
"Ya, kenapa? Apa kamu tidak tertarik dengan hadiah itu?" ujar An Ming keheranan.
"Tidak sama sekali, karena aku bisa memiliki yang lebih dari itu." ucap Xi Mei tersenyum smirk.
"Tapi, karena aku suka memanah dan aku rasa kemampuan ku ini lumayan hebat. Jadi, aku putuskan untuk ikut dalam sayembara itu dan aku mau menerima tantangan mu pangeran!" sambungnya.
"Baiklah, aku rasa itu keputusan yang bagus! Mari kita mulai saja bertarung dan lihat siapa yang lebih hebat diantara kita!" ucap An Ming.
Xi Mei mengangguk saja, lalu mereka sama-sama mengangkat busur dan melesakkan anak panah ke arah yang sama dengan cepat.
•
•
Sontak saja sang ratu bergegas menghampiri mereka untuk mengetahui masalahnya lebih lanjut.
"Gusion!" teriak ratu Lien cukup keras sampai membuat Gusion dan para prajurit yang berada disana terkejut, bahkan begitu juga dengan Mungyi.
Mereka kompak menoleh, lalu memberi salam hormat kepada sang ratu.
"Salam hormat hamba, ratu!" ucap Gusion.
"Ada apa ini? Kenapa kamu terlihat sedang memarahi Mungyi? Apa alasannya?" tanya ratu Lien langsung pada intinya.
"Eee hamba tidak marah ratu, hamba hanya menegur Mungyi dan memperingati dia untuk tidak mengulangi kesalahannya." jawab Gusion.
"Memangnya kesalahan apa yang dilakukan Mungyi sampai kau harus menegurnya seperti ini?" tanya ratu Lien penasaran.
"Begini ratu, sebelumnya Mungyi mengambil makanan secara diam-diam dari dapur istana dalam jumlah banyak. Jelas itu sangat merugikan istana ratu, karena para prajurit jadi kekurangan makanan atau bahkan ada yang tidak kebagian makanan itu." jawab Gusion menjelaskan.
Ratu Lien terkejut dan spontan menoleh ke arah Mungyi dengan tatapan herannya.
"Benar begitu Mungyi?" tanya ratu Lien pada Mungyi.
"Be-benar ratu! Tapi, hamba memiliki alasan mengapa hamba melakukan itu ratu." jawab Mungyi gemetar.
"Apa itu?" tanya ratu Lien sekali lagi.
"Hamba mengambil makanan untuk diberikan kepada anak-anak hamba, ratu. Mereka sangat menyukai makanan istana dan hamba tidak tega melihat mereka ratu," jawab Mungyi.
"Baiklah, aku tak mempermasalahkan itu. Jadi, sudahi semuanya dan jangan diperpanjang!" ucap ratu Lien.
"Tapi ratu, dia ini tidak hanya melakukan itu sekali. Kemarin Mungyi juga melakukan hal yang sama ratu, kita seharusnya tak bisa menolerir perbuatan Mungyi, ratu!" protes Gusion.
"Disini aku ratunya, jadi kamu gak berhak mengatur aku seperti itu!" tegas ratu Lien.
"Maaf ratu! Bukan maksud hamba ingin mengatur ratu, tapi hamba hanya ingin ada keadilan di istana ini karena yang salah itu tetap harus ditegur agar dia tidak mengulangi kesalahannya!" ucap Gusion.
"Kau memang benar, tapi kan kau tadi sudah menegurnya. Aku rasa sekarang semuanya sudah selesai, jadi kau bisa pergi sekarang!" ucap ratu Lien.
__ADS_1
"Baik ratu!" ucap Gusion menurut.
Gusion pun pergi dari sana sesuai perintah sang ratu, walau dalam hatinya ia masih ingin memberi teguran sekaligus hukuman kepada Mungyi.
Lalu, kini ratu Lien terlihat menghampiri Mungyi dan tersenyum ke arahnya.
Seakan tahu dengan kode dari ratu Lien, Mungyi pun menceritakan yang sebenarnya terjadi kepada sang ratu.
"Iya ratu, hamba memberikan makanan itu untuk tuan putri Xiu. Beliau mengatakan bahwa dia rindu sekali dengan makanan istana, maka dari itu hamba terpaksa mengambil makanan dari dapur istana secara diam-diam." jelas Mungyi.
"Huh sudah aku duga, Xiu pasti juga rindu dengan suasana istana. Aku jadi kasihan sekali sama dia, rasanya ingin sekali aku ajak Xiu pulang ke istana dan tinggal denganku. Namun, entah mengapa aku masih ragu melakukannya." ucap ratu Lien.
"Kalau ratu masih ragu, sebaiknya jangan dulu ratu mengajak tuan putri Xiu untuk tinggal disini! Karena biasanya, firasat seorang ibu itu sangat tepat terhadap putrinya." kata Mungyi.
"Iya Mungyi, aku akan menahan diri. Tapi, tolong kau terus beri kabar padaku ya mengenai kondisi Xiu disana! Aku sangat khawatir dia kenapa-napa!" ucap ratu Lien.
"Tenang saja ratu! Hamba berjanji akan mengabari ratu tentang kondisi putri Xiu, tapi ratu tidak perlu khawatir! Karena disana putri Xiu terawat cukup baik," ucap Mungyi.
"Syukurlah!" ucap ratu Lien tersenyum.
•
•
Slaasshh...
Ratu Lien kembali melesakkan anak panah terakhirnya dan berhasil menembus bagian tengah anak panah milik An Ming yang menancap di pohon itu.
Sontak An Ming menganga lebar, ia tak menyangka dengan kemampuan yang dimiliki oleh Xi Mei karena gadis itu benar-benar luar biasa dalam memanah.
"Waw sungguh luar biasa! Kemampuan mu itu sangat keren untuk ukuran wanita!" ucap An Ming memuji kemampuan Xi Mei.
"Biasa saja, aku memang hobi memanah. Jadi, kau tidak perlu heran kalau kemampuan memanah ku ini luar biasa!" ucap Xi Mei sedikit sombong.
"Baiklah, aku akui itu. Jadi, apa kamu mau ikut serta dalam sayembara memanah di istana Minggu ini?" tanya An Ming.
"Eee biar aku pikir-pikir dulu, aku akan berikan jawabannya nanti." jawab Xi Mei.
"Oke! Kamu bisa langsung datang ke istana kalau kamu mau ikut, atau mungkin kamu bisa temui aku saja disini. Karena aku selalu datang untuk melatih kemampuan memanah ku disini," ucap An Ming.
"Baik, kalau begitu sekarang aku pergi dulu. Kamu bisa melanjutkan aktivitas kamu, terimakasih atas tantangannya tadi pangeran!" ucap Xi Mei.
"Iya Xi Mei," ucap An Ming tersenyum.
Xi Mei membalas senyuman An Ming, kemudian melangkah pergi dari sana meninggalkan sang pangeran yang masih terus memandangi punggung gadis itu sambil tersenyum.
Li Fan alias sang jenderal istana yang menemani An Ming ke hutan pun menghampirinya.
"Pangeran, mari kita lanjut!" ucapnya.
"Paman, dia cantik sekali ya?" ujar An Ming.
"Eee benar pangeran! Tapi, usianya sepertinya jauh di atas pangeran." kata Li Fan.
"Usia tidak bermasalah paman, yang penting dia cantik dan aku suka itu." ucap An Ming.
Li Fan terkekeh kecil sembari menundukkan kepalanya, ia tak menyangka sang pangeran bisa berkata seperti itu diusianya yang masih sebelas tahun.
"Kenapa paman ketawa?" ujar An Ming.
"Eee tidak pangeran, paman hanya merasa lucu. Jadi, pangeran ingin melakukan apa selanjutnya dengan gadis itu?" ucap Li Fan menahan tawanya.
"Aku ingin mengenal dia lebih jauh, bukan tidak mungkin jika nantinya aku akan mempersunting dia paman. Karena gadis seperti dia itu langka sekali di wilayah ini," ucap An Ming.
"Apa? Serius pangeran ingin melakukan itu? Usia pangeran masih terlalu muda loh," ujar Li Fan.
"Sudah aku bilang kan paman, usia itu tidak berpengaruh." ucap An Ming.
"Baiklah pangeran, nanti biar pangeran coba saja bicarakan tentang ini kepada raja dan ratu di istana!" ucap Li Fan.
"Iya paman," ucap An Ming tersenyum.
Setelahnya, An Ming dan Li Fan pun pergi untuk melanjutkan kegiatan mereka di hutan itu.
Namun, entah mengapa An Ming terus memikirkan Xi Mei karena wajahnya yang cantik.
"Andai aku bisa memilikinya, pasti aku akan sangat bahagia!" batin An Ming.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...