
"Zheng, sebenarnya kamu kenapa?" tanya Xiu.
"Aku cuma mau bicara sesuatu sama kamu, ini tentang perasaan aku. Jujur aja putri, aku ini cinta sama kamu. Sejak kita bertemu pertama kali dulu, aku sudah langsung merasakan cinta itu." jawab Zheng tampak serius.
"Apa? Cinta? Serius?" Xiu sangat terkejut mendengar itu, pasalnya selama ini ia hanya menganggap Zheng sebagai sahabatnya tidak lebih.
"Iya putri, aku cinta banget sama kamu. Bahkan, sewaktu aku belum tahu identitas kamu yang sebenarnya. Aku sulit untuk mengikhlaskan kamu menikah dengan Wein Lao, karena cuma kamu yang bisa bikin aku begini." ucap Zheng.
"Maaf Zheng! Tapi, aku gak ada maksud buat menyakiti kamu. Aku emang gak cinta sama kamu," ucap Xiu.
"Ya, i know that. Aku juga sadar kalau kita berbeda, kamu seorang putri kerajaan dan aku ini cuma anak seorang penggembala yang gak bisa apa-apa." ucap Zheng.
"Aku emang salah karena aku berharap dapat memiliki kamu, tapi jujur sangat sulit buat aku melupakan kamu." sambungnya.
Xiu hanya terdiam dan matanya sudah mulai berkaca-kaca, ia bingung saat ini, ia tidak mau menyakiti hati sahabat setianya itu yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri.
"Tapi, aku gak bisa berbuat apa-apa lagi. Kamu akan menikah dengan pangeran Lao, mungkin aku harus mencoba untuk ikhlas." ucap Zheng.
"Zheng.." ucap Xiu lirih.
"Ya tuan putri?" ucap Zheng.
"Kamu jangan sedih ya! Meskipun aku akan menikah dengan Lao, tapi aku gak mungkin lupain kamu kok. Aku ini udah anggap kamu seperti kakak kandung aku sendiri, kita ini bersaudara. Sekali lagi aku minta maaf ya, karena aku gak bisa balas rasa cinta kamu!" ucap Xiu.
"Gapapa putri, aku tahu itu kok. Salah aku karena aku jatuh cinta sama kamu," ucap Zheng.
"Gak gitu Zheng, kamu gak salah kalau kamu cinta sama aku. Itu kan hak kamu mau mencintai siapapun, tapi terkadang cinta itu memang menyakitkan Zheng." ucap Xiu.
Xiu coba menenangkan pria di sebelahnya dengan menggenggam telapak tangannya dan mengusapnya lembut.
"Kamu jangan sedih lagi ya!" ucap Xiu.
Zheng mengangguk pelan, membuat Xiu tersenyum lebar sembari menatapnya.
"Maaf tuan putri! Tapi, sebaiknya kita tidak berpegangan tangan seperti ini. Bukannya apa-apa, aku gak mau aja nanti ada yang lihat dan salah paham sama kita." ucap Zheng.
"Ah iya, aku minta maaf sama kamu karena aku lancang!" ucap Xiu.
"Enggak kok tuan putri, justru sebenarnya aku suka digenggam sama kamu." ucap Zheng.
Xiu menunduk sambil tersenyum, Zheng pun semakin merasa sakit hati karena ia gagal untuk memiliki gadis yang ia cintai.
"Kalau kamu butuh sesuatu, kamu bilang aja sama aku! Apapun itu, pasti bakal aku berikan untuk kamu. Anggap aja sebagai permintaan maaf aku, karena aku udah bikin kamu sedih saat ini." ucap putri Xiu.
"Tidak putri, tuan putri gak perlu melakukan itu. Aku juga gak pengen apa-apa kok, melihat tuan putri bahagia saja itu sudah cukup buatku." ucap Zheng sambil tersenyum.
"Terimakasih Zheng!" ucap Xiu.
Zheng mengangguk pelan, di luar dugaan Xiu justru memeluknya dari samping sambil mengusapnya.
•
•
Ratu Lien tampak kebingungan mencari-cari sosok putrinya yang tidak ada di kamarnya saat ini.
Ia tak mengerti kemana perginya putri Xiu sekarang, padahal sebentar lagi lamaran antara Xiu dan Wein Lao akan dimulai.
Akhirnya ratu Lien pergi keluar kamar, berusaha menemukan putri Xiu di sekitar istana dengan bantuan dari para pelayan.
"Luan, apa kamu lihat putriku?" tanya ratu Lien.
"Eee tidak ratu, memangnya tuan putri tidak ada di kamarnya?" jawab Luan.
"Gak ada, makanya aku cemas sekarang. Aku takut terjadi sesuatu pada putriku!" ucap ratu Lien.
"Sabar ratu! Ratu tolong tenang dulu! Biar saya minta prajurit dan para pelayan yang lain buat cari keberadaan putri Xiu, ratu tetap disini aja ya!" ucap Luan menenangkan sang ratu.
"Tidak bisa Luan, aku gak bisa diam aja disini sedangkan putriku belum tahu ada dimana. Aku harus ikut cari dimana dia, aku cemas sekali sama dia! Aku baru bisa tenang, kalau aku sudah ketemu sama putriku." ucap ratu Lien.
Tak lama kemudian, Ryu muncul disana dan penasaran saat melihat istrinya tengah berbincang dengan sang ratu.
"Eee maaf ratu! Ini ada apa ya? Kenapa ratu kelihatan panik begini?" tanya Ryu.
"Ah kebetulan kamu disini, ayo cepat kamu perintahkan prajurit buat cari tuan putri di sekeliling istana! Tuan putri tidak ada di kamarnya, padahal sebentar lagi acara lamaran dimulai." ucap Luan.
"Apa? Bagaimana bisa?" ujar Ryu terkejut.
"Aku juga tidak tahu, Ryu. Tapi, sewaktu tadi aku masuk ke kamarnya tiba-tiba putriku sudah tidak ada disana." jelas ratu Lien.
"Sudahlah Ryu, cepat kamu cari putri Xiu di sekitar istana!" perintah Luan.
"Ya ya, aku akan perintahkan semua prajurit untuk segera mencari keberadaan putri Xiu. Lalu, bagaimana dengan ratu?" ucap Ryu.
__ADS_1
"Aku akan jaga ratu Lien, kamu cepat cari dan temukan putri Xiu! Acara lamaran akan segera dimulai, dan pasukan pangeran Lao sebentar lagi juga akan tiba disini." ucap Luan.
"Iya Ryu, aku percayakan semuanya padamu! Tolong kamu temukan putriku!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Ryu menurut.
Setelahnya, Ryu pun bergegas pergi menemui para prajurit istana untuk mencari keberadaan putri Xiu di sekitar sana.
Sementara ratu Lien dan Luan hendak pergi ke pelataran istana untuk mengecek bagaimana kelanjutan persiapan acara lamaran tadi.
Namun, mereka justru bertemu dengan An Ming yang berdiri tepat di hadapan sang ratu.
"Mom, mommy mau kemana? Kenapa mommy terlihat panik begitu?" tanya An Ming bingung.
"Mommy mau cari kakak kamu, sayang. Dia gak ada di kamarnya," jawab ratu Lien.
"Hah??"
•
•
Saat sedang berkeliling di sekitar kebun, An Ming tak sengaja berjumpa dengan kakaknya yang tengah bersama Zheng disana.
Sontak An Ming langsung menghampiri putri Xiu dan Zheng dengan cepat, ia tak mau kehilangan jejak keberadaan kakaknya.
"Kak Xiu! Tunggu!" teriak An Ming.
Xiu dan Zheng pun kompak menghentikan langkah, mereka menoleh ke asal suara dan tersenyum saat melihat An Ming berada disana.
"An Ming? Ada apa?" ucap putri Xiu heran.
"Hey! Kamu kenapa ngos-ngosan begini?" tanya putri Xiu pada adiknya.
"Aku abis cari kakak, seisi istana panik tau karena kakak gak ada di kamar. Kita mikirnya terjadi sesuatu sama kakak, tapi ternyata kakak lagi disini sama paman Zheng." jelas An Ming.
"Hah? Seisi istana nyariin aku? Ya ampun, padahal aku kan gak kenapa-napa!" ucap putri Xiu.
"Iya kak, makanya ayo kakak ikut sama aku temuin mommy! Acara lamaran udah mau dimulai, kak Lao juga sebentar lagi bakalan datang. Kakak pasti udah gak sabar kan pengen ketemu sama kak Lao?" ucap An Ming.
"Ah kamu bisa aja! Tapi iya sih, aku emang gak sabar mau ketemu sama Lao. Yaudah, kamu anterin aku ke depan ya!" ucap Xiu pada adiknya.
"Siap kak!" ucap An Ming sambil tersenyum.
"Zheng, aku pergi dulu ya?" ucap Xiu.
"Baik tuan putri! Mari aku kawal tuan putri dan pangeran An Ming ke depan, supaya lebih aman!" ucap Zheng.
"Umm, boleh. Yasudah, ayo kita pergi sekarang! Aku harus bersiap-siap menyambut kedatangan pangeran Lao!" ucap Xiu.
Zheng dan An Ming mengangguk bersamaan sambil saling tersenyum.
Lalu, ketiganya langsung bergerak menuju halaman istana untuk menyambut kedatangan Wein Lao.
"Kak, apa kakak akan pergi dari istana setelah kakak menikah dengan kak Lao nanti?" tanya An Ming pada putri Xiu.
"Kamu bicara apa sih? Aku gak akan tinggalin istana ini dong, aku bakal tetap stay disini karena cuma ini satu-satunya kenangan aku dan Daddy. Kalau aku pergi dari sini, berarti sama aja dong aku lupain Daddy dari pikiran aku." jawab Xiu.
"Baguslah, tadinya aku udah sempat khawatir kalau kakak bakal pergi. Tapi, sekarang aku senang banget karena kakak akan tetap tinggal disini walau kakak nikah nanti." ucap An Ming.
"Tentu saja An Ming, kamu gak perlu khawatir lagi!" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Iya kak," ucap An Ming mengangguk kecil.
Zheng terdiam saja menyaksikan Xiu dan An Ming yang tengah bicara di dekatnya, walau sebenarnya ia sedang menyembunyikan rasa bahagianya.
•
•
"XIU!!" ratu Lien langsung berteriak cukup keras begitu melihat putrinya muncul disana.
Putri Xiu dan An Ming pun tampak mempercepat langkah mereka mendekati sang ratu yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Xiu, ya ampun kamu kemana aja sayang?! Mommy cemas tau nyariin kamu kesana-kemari, kenapa kamu pergi gak bilang-bilang dulu sama mommy?! Apa kamu lupa kalau hari ini acara lamaran kamu dan Lao?" ujar ratu Lien sembari memeluk tubuh putrinya.
"Tenang mom! Aku juga gak kenapa-napa kok, tadi aku pergi sama Zheng ke kebun. Aku cuma pengen cari udara segar dan tenangin diri sebelum ketemu Lao nanti," jelas putri Xiu.
"Tetap aja sayang, apapun itu kamu harus bilang sama mommy dulu kalau kamu mau pergi! Biar mommy gak cemas dan panik kayak gini, jadinya kan satu istana pada ikut cemas nyariin kamu kemana-mana." ujar ratu Lien.
"Iya mom, aku minta maaf ya!" ucap Xiu.
"Yaudah, gapapa. Kamu mending sekarang ke kamar ya! Kamu siap-siap buat ganti baju dan dandan yang cantik, sebentar lagi Lao akan tiba disini!" ucap ratu Lien.
__ADS_1
"Iya mom, aku ke kamar sekarang." ucap Xiu.
Ratu Lien mengangguk sambil tersenyum, lalu mempersilahkan putrinya untuk pergi ke kamar.
Tak berselang lama, Xiu kembali ke ruang tempat lamaran akan diselenggarakan.
Xiu sudah tampil cantik dengan baju yang diberikan oleh Wein Lao sebelumnya.
Ia juga sudah didandani oleh para pelayan, sehingga kecantikannya semakin bertambah.
"Mommy.." ucap Xiu sambil tersenyum.
"Eh Xiu?" ucap ratu Lien terkejut saat menyadari putrinya sudah ada di belakangnya.
"Kamu sudah selesai sayang? Wah, kamu cantik sekali! Mommy sampai pangling lihat kamu yang sekarang," ucap ratu Lien sembari menatap tubuh Xiu dari atas sampai bawah.
"Ah mommy bisa aja! Aku jadi malu tau, jangan berlebihan gitu lah!" ucap Xiu tersipu.
"Kakak gak perlu malu, kakak itu emang cantik banget kok! Benar yang dibilang mommy tadi, aku yakin kak Lao juga pasti bakal terpesona nanti sama kecantikan kakak!" ucap An Ming.
"Tuh kan, An Ming aja setuju sama mommy. Orang kamu gak dandan aja udah cantik, apalagi didandani seperti sekarang." sahut ratu Lien.
"Iya iya, makasih ya pujiannya mommy dan An Ming!" ucap Xiu sambil tersenyum.
"Sama-sama, sayang. Yaudah, yuk kita ke depan! Kabarnya Lao sudah dekat dan hampir sampai, ayo kita sambut mereka!" ucap ratu Lien.
"Oke mom!" ucap Xiu mengangguk setuju.
"Cie cie, semangat banget nih yang mau ketemu calon suami!" goda An Ming.
"Apa sih kamu?!" ujar Xiu tersipu.
•
•
Xiu bersama ratu Lien dan adiknya telah tiba di depan istana, mereka bersiap untuk menyambut kedatangan Wein Lao disana.
Tampak para prajurit dan juga seluruh masyarakat Quangzi turut hadir disana, mereka sudah tidak sabar ingin menyaksikan acara lamaran tersebut.
"Mom, kok aku jadi deg-degan gini ya?" tanya Xiu pada ibunya.
"Wajar sayang, namanya juga mau dilamar. Dulu sewaktu mommy dilamar sama Daddy kamu, mommy juga ngerasa gugup kok. Apalagi disaksiin banyak orang kayak gini," jawab ratu Lien.
"Iya mom, rasanya aku grogi deh. Aku gak siap buat ketemu Lao sekarang," ucap Xiu.
"Sayang, udah kamu gausah grogi gitu! Siap gak siap, kamu kan harus ketemu juga sama Lao. Semuanya udah dipersiapkan loh," ucap ratu Lien.
"I-i-iya mom.." ucap Xiu gugup.
Tak lama kemudian, pasukan Wein Lao mulai terlihat di depan mata ratu Lien dan yang lainnya. Membuat putri Xiu semakin grogi saja.
"Itu dia pangeran Lao datang!" teriak prajurit.
Berbagai penyambutan yang telah disiapkan pun mulai dilakukan oleh mereka semua, namun putri Xiu justru bersembunyi dibalik tubuh ibunya.
"Hey sayang! Kamu ini kenapa? Jangan sembunyi gitu dong sayang!" ujar ratu Lien.
"Gapapa mom, aku gak mau dilihat sama Lao. Aku malu mom! Gimana kalau dia gak suka sama dandanan aku yang sekarang? Aku takut banget mom! Aku takut bikin Lao kecewa!" ucap Xiu.
"Kamu gak perlu takut! Lao pasti suka sama kamu! Udah ah, gausah pake sembunyi segala kayak gini! Kamu itu cantik kok sayang, jangan takut ya!" ucap ratu Lien.
"Iya kak, kakak cantik banget loh!" ujar An Ming.
"Eee tapi..." ucapan Xiu terjeda saat ia melihat sebuah kereta kuda telah berhenti di depannya.
Glekk..
Xiu meneguk ludahnya, menatap ke arah kereta kuda tersebut dengan serius.
"Selamat datang, yang mulia raja In Lao dan pangeran Wein Lao yang terhormat!" ucap Gusion memberi penghormatan.
Muncullah dua orang pria tampan dari dalam kereta tersebut, mereka adalah In Lao dan juga Wein Lao.
Xiu pun tertegun begitu melihat calon suaminya itu, ia tak menyangka bahwa Wein Lao bisa semakin tampan.
Wein Lao langsung mengedarkan pandangannya, mencari sosok putri Xiu yang memang sudah ia rindukan sedari tadi.
Pria itu tersenyum lebar begitu menemukan sosok gadisnya, ia semakin tidak sabar untuk segera melamar gadis itu.
"Cantik sekali dia!"
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...