Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 111. Keluhan Gusion


__ADS_3

"Yaudah, yuk kita keliling desa dan bagiin makanan ini!" ajak Chen.


"Yuk!" ucap Fey tampak bersemangat.


Kedua gadis muda nan cantik itu pun berjalan keluar rumah membawa makanan yang cukup banyak.


Mereka mulai membagikan makanan tersebut secara gratis kepada warga yang tinggal di dekat rumah Chen.


"Bu, ini kami ada sedikit makanan buat ibu. Mohon diterima ya!" ucap Chen ramah.


"Eh nak Chen, ternyata kamu datang lagi buat bawain makanan. Terimakasih ya nak!" ucap wanita tua itu.


"Iya Bu, sama-sama. Aku gak mau aja kalau ada warga sini yang gak bisa makan," ucap Chen.


"Duh, kamu baik sekali nak Chen! Ibu dan ayahmu pasti bangga padamu!" puji wanita tua itu.


"Ah ibu bisa aja, makasih pujiannya!" ucap Chen malu-malu.


"Oh ya, dia ini siapa nak Chen?" tanya wanita tua itu sembari menunjuk ke arah Fey.


"Ohh, dia temanku Bu. Namanya Fey, dia sekarang tinggal sama aku," jawab Chen.


"Halo ibu! Kenalkan nama saya Fey Chu, salam kenal ya Bu!" ucap Fey mengenalkan diri dengan ramah.


"Iya anak cantik, ibu senang bisa kenal sama kamu!" ucap wanita tua itu.


"Ahaha.." mereka tertawa bersamaan.


Setelah selesai membagi makanan ke seluruh warga yang membutuhkan, kini Chen serta Fey pulang ke rumah dengan tangan kosong.


Mereka tampak sangat lelah, Fey bahkan langsung duduk di kursi depan untuk beristirahat karena sangking lelahnya.


"Huft capek banget!" keluh Fey.


"Hahaha, tadi aja maksa ikut!" cibir Chen.


"Ya emang, aku gak nyesel kok ikut kamu. Aku jadi punya banyak kenalan disini," ucap Fey.


"Bagus deh!" ucap Chen.


"Chen!" mereka berdua menoleh ke asal suara.


Chen terkejut saat mendapati putri Xiu sudah berada di halaman rumahnya.


Reaksi sama ditunjukkan oleh Fey Chu, gadis itu bahkan langsung berdiri dan menatap ke arah putri Xiu dengan tajam.


"Tuan putri? Apa yang tuan putri lakukan disini?" tanya Chen dengan heran.


"Aku ingin curhat denganmu, kamu bisa kan dengarkan keluhan aku?" jawab Xiu.


"Tentu saja, silahkan duduk tuan putri! Aku akan sediakan minuman untuk tuan putri, supaya saat bercerita tuan putri tidak kehausan," ucap Chen.


"Baiklah," ucap Xiu singkat.


"Sebentar ya tuan putri! Oh ya, kenalkan ini temanku namanya Fey Chu! Aku bertemu dengannya di hutan kemarin," ucap Chen.


Xiu langsung beralih menatap Fey dengan heran, ia ingat betul siapa wanita yang berdiri di sebelah Chen itu. Ya dialah yang sudah mengancam Xiu dan juga Wein Lao kala itu.


"Kau? Bukannya kamu yang waktu itu pernah menemui ku dan Lao di hutan?" ujar Xiu.


"Eee..." Fey Chu langsung menunduk bingung.


"Maaf tuan putri! Tapi, apa tuan putri sebelumnya sudah pernah bertemu dengan Fey?" potong Chen.


"Ya Chen, aku tahu betul siapa wanita ini. Dia yang sudah mengancam ku dan suamiku waktu itu, bagaimana bisa kamu malah berteman dengan dia?!" jelas Xiu.


"Mengancam?" Chen tampak kaget dan tak percaya jika Fey melakukan itu pada Xiu.


"Benar Chen! Kamu tanyakan saja pada dia jika kamu tidak percaya!" jawab Xiu.


"Apa benar begitu Fey?" tanya Chen pada Fey.


"Eee iya Chen.." jawab Fey.




"Pangeran, bagaimana ini?" bisik Zheng.


"Ya kita terpaksa harus lawan mereka paman! Jangan jadi pengecut!" jawab An Ming.


"Bukan begitu pangeran, aku hanya khawatir jika kita dianggap biang masalah," ujar Zheng.


"Tenanglah paman! Semua warga juga sudah tau, siapa yang biang masalah disini," ucap An Ming.


"Hiyaaa...!!" Tachi bergerak menyerang pangeran kecil itu dengan emosi membara.


Perkelahian diantara keduanya terlihat sengit, kemampuan Tachi memang tak boleh diremehkan karena dia ahli beladiri.


Namun, yang menjadi lawannya saat ini adalah An Ming, anak dari pasangan ratu Lien juga raja Xavier yang tak kalah jago.


Pukulan, tendangan, jepitan berkali-kali dilakukan oleh Tachi untuk mengalahkan An Ming. Akan tetapi, tak semudah itu melakukannya.


Justru kini An Ming mendapat kesempatan dan berhasil memukul dada Tachi dengan keras hingga pria itu merasa sesak.


Disaat Tachi sedang lengah, An Ming kembali melancarkan serangan dengan menendang punggung pemuda itu.


Bruuukkk...

__ADS_1


Tachi terkapar di tanah, tangannya terletak di atas dada dan nafasnya tampak sesak akibat pukulan keras An Ming tadi.


"Segitu saja, ha? Ini yang kau katakan ingin mengalahkan ku?" cibir An Ming.


"Dasar lemah!" pangeran itu mengumpat dan berniat menginjak tubuh lemah Tachi.


"Pangeran hentikan!" suara teriakan sang wanita membuat An Ming terkejut dan mengurungkan niatnya.


"Lian?" ucap An Ming begitu melihat gadisnya ada di hadapannya kini.


"Pangeran, tolong jangan teruskan ini! Aku tidak mau Tachi terbunuh," pinta Feng Lian.


"Ya, aku akan menurut denganmu. Tapi, kamu ikutlah denganku sekarang!" ujar An Ming.


"Kemana pangeran?" tanya Feng Lian bingung.


"Kita akan ke istana, aku ingin mengenalkan mu pada ibuku, ratu Lien." Feng Lian terkejut mendengar penjelasan An Ming itu.


"Apa??" ucap Feng Lian disertai mulut menganga.


"Iya Lian, kenapa kamu terdengar kaget begitu? Apa kamu tidak mau menemui ibuku di istana?" tanya An Ming.


"Bukan begitu pangeran, aku hanya belum siap jika harus bertemu ratu sekarang," jawab Feng Lian.


"Kamu tidak perlu khawatir! Aku janji akan membantumu untuk siap bertemu ibuku nanti!" ucap An Ming meyakinkan gadisnya.


"Tapi pangeran, aku—"


"Ayolah Lian! Kalau kamu emang cinta sama aku, kamu harusnya mau aku ajak ke istana sekarang menemui ibuku!" potong An Ming.


"Aku mengerti maksudmu pangeran, baiklah aku akan menuruti kemauan kamu! Tapi, tolong biarkan aku pulang dulu dan bersiap-siap sebelum berangkat ke istana!" pinta Feng Lian.


"Tentu saja, mari aku temani kamu pulang!" ucap An Ming menggandeng tangan Feng Lian.


Gadis itu mengangguk kecil, lalu mereka pun melangkah bersamaan menuju rumah Feng Lian.


"Tunggu!"




"Baguslah, sebaiknya sekarang kamu biarkan saya pergi dan jangan halangi saya!" pinta raja Ling.


"Tetap tidak bisa yang mulia, biarkan hamba dan para pasukan Sidhagat yang mencarinya, kami pasti bisa menemukan mereka!" ucap Akai.


"Aku tidak percaya padamu! Aku akan cari mereka sendiri, itu keinginan ku!" bantah raja Ling.


Akai menunduk diam, rajanya itu benar-benar keras kepala dan sulit sekali diberitahu.


Akhirnya raja Ling bangkit, dia berdiri tegak seolah memberitahu Akai bahwa dirinya sudah kuat untuk pergi dari sana.


"Lihat kan? Aku sudah sehat," ucap raja Ling.


Disaat raja Ling hendak menuruni singgasananya, tiba-tiba saja sebuah letupan keras terdengar dari luar istana.


Duaarrr...


"Apa itu?!" ujar raja Ling terkejut bukan main.


"Sepertinya terjadi sesuatu di depan sana yang mulia, biar hamba cek kesana!" ucap Akai.


"Ya cepatlah!" suruh raja Ling.


Akai bergegas pergi ke halaman istana untuk mengetahui apa yang terjadi, sedangkan raja Ling mengikuti dari belakang dengan langkah pelan.


Sesampainya disana, Akai langsung tercengang melihat seluruh prajurit yang berjaga sudah tergeletak dengan penuh luka.


Ia pun menghampiri salah satu dari mereka yang masih sadar untuk menanyakan mengapa mereka semua bisa terluka seperti itu.


"Prajurit, ini ada apa?" tanya Akai dengan panik.


"Uhh tadi ada serangan mendadak dari luar yang bikin kita semua kaget dan terluka begini, tapi kita gak tahu siapa orang yang melakukan serangan itu, semuanya terjadi begitu saja," jelas prajurit itu.


"Apa? Kurang ajar! Berani sekali orang itu menyerang Sidhagat diam-diam!" umpat Akai.


Tak lama kemudian, raja Ling tiba menyusul Akai dan ikut bertanya pada pria itu.


"Bagaimana Akai?" tanya raja Ling.


"Eee menurut penjelasan prajurit, tadi ada serangan dadakan dari luar. Tapi, mereka juga gak tahu siapa yang menyerang," jelas Akai.


"Sial! Ini menandakan pertahanan kita mulai lemah, kamu harus perketat penjagaan dan ini tidak boleh terjadi lagi!" geram raja Ling.


"Baik yang mulia! Hamba akan lakukan itu semua sesuai perintah anda!" ucap Akai patuh.


"Sejak Reiner tidak ada, Sidhagat jadi kacau dan mudah ditembus musuh. Tidak seperti dahulu, mana ada yang berani begini," ucap raja Ling.


"Benar yang mulia! Sepertinya kita memang butuh sosok panglima seperti Reiner, tapi tentu orangnya harus setia dan bertanggung jawab," ucap Akai.


"Ya, aku percayakan padamu Akai untuk mencari siapa yang pantas menjadi panglima di istana kita!" ucap raja Ling.


"Siap yang mulia!" ucap Akai lantang.


Slaasshh...


Tiba-tiba saja, sebuah anak panah melesat ke dekat mereka dan hampir mengenai raja Ling.


"Siapa itu?!"

__ADS_1




Wein Lao tampak kelimpungan mencari dimana keberadaan putri Xiu saat ini, dia memang tidak tahu jika istrinya sedang pergi ke luar istana menemui Chen.


Ya Wein Lao terlalu sibuk menemani Xiao Tien untuk belajar berjalan, sehingga ia tak mengetahui kemana putri Xiu saat ini.


"Duh, Xiu kemana sih ya? Kebiasaan deh, dia kalo pergi gak pernah izin dulu sama saya. Awas aja kalau ketemu nanti, saya gak akan kasih ampun dia!" gumam Wein Lao.


"Lao!" pria itu terkejut saat tiba-tiba ayahnya muncul dan menepuknya dari belakang.


"Eh ayah?" ucap Wein Lao kaget.


"Kamu lagi cari siapa?" tanya In Lao pada putranya.


"Eee cari Xiu, ayah. Aku udah cek kesana-kemari, tapi Xiu gak ada juga. Apa ayah tau dia dimana?" jelas Wein Lao.


"Kamu sih terlalu sibuk ngurusin perempuan itu, sampai kamu gak mikirin istri kamu sendiri!" ujar In Lao sambil geleng kepala.


"Maaf ayah! Aku cuma mau bantu Xiao aja supaya dia bisa cepat sembuh, aku gak ada niatan buat bikin Xiu sakit hati atau kecewa," ujar Wein Lao.


"Yasudah, kamu susulin saja istri kamu ke desa Fuxiu sana! Minta maaf langsung sama dia, supaya dia gak marah lagi ke kamu!" usul In Lao.


"Ohh, jadi Xiu lagi di desa Fuxiu ayah? Berarti tadi dia izin ke ayah dong?" tanya Wein Lao.


"Ya iyalah, dia juga izin sama ibunya tadi. Kebetulan aja ayah ada disana, makanya ayah tau kemana Xiu pergi. Gak mungkin lah dia pergi tanpa izin dari ibunya," jelas In Lao.


"Loh, terus kenapa dia gak izin sama aku ya? Aku ini kan suaminya," ujar Wein Lao.


"Kamu gausah bingung, dia kan lagi kesel sama kamu! Wajar aja kalau dia gak mau bicara sama kamu dulu, lagian kamu juga sih!" ucap In Lao.


"Iya sih ya," Wein Lao terlihat pasrah.


"Udah, gak ada gunanya kamu sedih-sedih begitu terus! Mending cepat kamu susulin istri kamu itu!" ucap In Lao.


"Iya ayah, tapi aku gak tahu dia ke rumah siapa. Xiu ada bilang gak sama ayah atau ratu tadi?" tanya Wein Lao.


"Dia bilangnya mau ke rumah Chen, anaknya Ryu. Kamu coba tanya aja sama Ryu, dimana rumah dia!" jawab In Lao.


"Oh gitu, iya deh aku temuin paman Ryu dulu. Terimakasih ya ayah!" ucap Wein Lao tersenyum.


"Sama-sama," ucap In Lao singkat.


Bruuukkk...


"Akh awhh sshh!!" kedua pria itu terkejut bukan main mendengar rintihan seorang wanita dari arah tak jauh.


"Hah? Itu suara siapa ya?" ujar Wein Lao.




Gusion dan Ryu bertemu dengan ratu Lien untuk melaporkan bahwa mereka belum berhasil menemukan siapa pelaku yang sudah mengirim surat ancaman ke istana.


"Gusion, bagaimana dengan tugas kalian? Berhasil?" tanya ratu Lien.


"Itu dia yang ingin kami sampaikan ratu, kami belum bisa menemukannya," jawab Gusion.


"Kenapa? Kalian tidak bisa menemukan pelaku itu? Gimana sih kerja kalian?!" geram ratu Lien.


"Maaf ratu! Tapi, petunjuk yang kami dapatkan cukup sedikit. Kami tidak bisa mencari tahu siapa dia dan dimana dia tinggal," ucap Gusion.


"Ya ratu, kami sudah keliling mencarinya, tapi kami tidak menemukan apa-apa," sahut Ryu.


"Kalau begitu kalian harus teruskan pencarian ini, jangan berhenti sampai kalian berhasil dapatkan pelakunya!" tegas ratu Lien.


"Baik ratu! Kami berjanji akan terus mencari siapa pelaku itu, beri kami waktu ratu!" ucap Ryu.


Ratu Lien mengangguk singkat, sedangkan Gusion menatap Ryu dengan tajam merasa heran karena Ryu selalu mengiyakan saja ucapan ratu.


"Yasudah, kalian pergi sekarang! Temukan pelaku pengirim surat itu dan bawa dia ke hadapanku hidup-hidup!" titah ratu Lien.


"Siap ratu!" ucap Ryu dan Gusion bersamaan.


Kedua lelaki itu pun berbalik, lalu pergi meninggalkan ratu Lien.


"Paman, kenapa paman lagi-lagi mengiyakan ucapan ratu? Kita harus cari kemana lagi paman? Aku sudah capek loh, tugas ini benar-benar berat untuk kita!" ujar Gusion.


"Kamu terlalu payah panglima! Sampai kapan kamu mau terus mengeluh begitu?" ucap Ryu.


"Bukan mengeluh paman, aku hanya capek. Aku bisa pingsan kalau harus terus cari pelaku pengirim surat itu," ucap Gusion.


Mereka menghentikan langkahnya, Gusion terduduk seraya memijat pelipisnya.


"Kalau memang kamu gak sanggup, biar aku saja yang jalankan tugas ratu. Kamu jaga istana dengan baik!" ucap Ryu.


"Apa? Mana bisa begitu paman? Yang ada ratu bakal marah besar sama aku dan hukum aku," ucap Gusion.


"Lalu, kamu maunya gimana?" tanya Ryu.


"Eee..."


"Ada apa ini?" Gusion dan Ryu amat terkejut mendengarnya, mereka menoleh bersamaan ke asal suara.


Gusion sampai harus bangkit dari posisinya saat melihat sang ratu datang menghampirinya.


"Ratu Lien??" ucap Gusion dengan mulut menganga lebar.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2