
"Oh ya? Aku tahu loh waktu itu ratu datang ke rumah Luan dan menanyakan kondisi putri Xiu, lalu Luan mengatakan jika putri Xiu masih ada di lembah parabuan dan sedang berlatih di perguruan elang putih." ucap Gusion.
"Dari informasi yang aku dapatkan juga, kau telah menugaskan Zheng untuk menjaga Xi Mei di lembah parabuan. Dari situ saja aku sudah memiliki kesimpulan bahwa Xi Mei memang benar putri Xiu yang hilang," sambungnya.
"Cukup Gusion! Jika memang Xi Mei adalah putriku, lalu apa masalahnya denganmu? Apa yang ingin kamu lakukan, ha?" ucap ratu Lien.
"Sabar ratu, jangan emosi! Aku kan sudah bilang, aku hanya ingin kamu mengakui semua itu. Setelahnya, aku tidak akan membahas ini lagi." kata Gusion sambil tersenyum renyah.
"Ya, memang benar yang kau katakan tadi. Xi Mei adalah putriku, putri Xiu yang telah lama hilang!" jawab ratu Lien dengan tegas.
"Apa??"
Ratu Lien dan Zheng kompak menoleh ke asal suara, mereka terkejut karena ternyata Xavier ada disana.
"Yang mulia? Kenapa kamu ada disini?" tanya ratu Lien dengan jantung yang berdebar kencang.
Xavier menatap tajam ke arah istrinya disertai dua tangan terkepal dan rahang yang bergetar.
Sementara ratu Lien tampak kebingungan, ia tak tahu harus apa saat ini.
"Tolong jelaskan padaku, apa maksud ucapan kamu barusan Lien?! Mengapa kamu bilang kalau Xi Mei adalah putri Xiu yang telah lama hilang? Apa itu benar sayang?" ucap Xavier dingin.
"Eee yang mulia, hamba mohon izin permisi! Masih ada yang harus hamba urus," ucap Gusion.
"Tidak Gusion, kamu tetap disini!" ucap Xavier.
"Baik yang mulia!" ucap Gusion menurut.
"Sekarang kamu jelaskan padaku Lien, apa benar Xi Mei adalah putri Xiu yang hilang?!" ujar Xavier kembali menghadap ke arah ratu Lien.
Ratu Lien hanya diam membisu, ia sangat bingung sekaligus cemas saat ini.
"Jawab Lien, jangan diam saja! Benar kan Xi Mei itu adalah putri Xiu?!" bentak Xavier.
"Iya, itu memang benar. Lantas kenapa? Kamu ingin memarahiku, karena selama ini aku sudah menyembunyikan putriku darimu?" jawab ratu Lien.
Xavier menggelengkan kepala karena terkejut dengan pengakuan istrinya.
"Bagaimana bisa kamu melakukan itu? Kenapa kamu harus sembunyikan putri Xiu dan merubah identitasnya menjadi Xi Mei? Apa kamu tidak mau kalau dia tinggal disini bersama kita?" tanya Xavier.
"Bukan begitu, aku justru takut jika kamu sampai menangkap putriku dan menjebloskan dia ke dalam penjara! Kamu itu bukan raja yang baik, kamu pembunuh!" jawab ratu Lien.
"Apa? Aku ini sudah bilang berkali-kali sama kamu, aku akan terima putri Xiu disini dan anggap dia seperti putriku sendiri. Kenapa kamu selalu aja gak percaya sama aku, Lien? Padahal aku gak mungkin jahatin kalian berdua," ucap Xavier.
"Dari dulu sampai sekarang, aku gak akan pernah percaya sama kata-kata kamu Xavier! Kamu itu tidak pantas untuk dipercaya!" ujar ratu Lien.
Ratu Lien yang emosi memutuskan untuk pergi meninggalkan Xavier serta Gusion disana.
"Hey, tunggu Lien!" teriak Xavier berusaha menahan ratu Lien tetapi gagal.
"Aaarrgghh!! Pantas aja Lien selalu bersikap aneh setiap kali dia dekat dengan Xi Mei, ternyata Xi Mei itulah putri Xiu. Harusnya dari awal aku sudah mengetahuinya!" geram Xavier.
"Maaf yang mulia! Hamba harus pergi sekarang, permisi!" ucap Gusion.
"Ya," jawab Xavier singkat tanpa menoleh.
Gusion pun pergi dari sana, ada sedikit raut kekecewaan di wajahnya karena rencananya untuk mengancam ratu Lien sudah gagal.
Sementara Xavier tetap diam merenung disana, ia masih tak percaya jika Xi Mei adalah putri Xiu yang sudah lama ia cari-cari.
"Sial! Jadi, selama ini gadis yang disukai An Ming adalah saudaranya sendiri. Mengapa kamu harus merahasiakan semua ini dariku, Lien? Segitu tidak percayanya kah kamu padaku?" batin Xavier.
•
•
Ratu Lien yang sedang panik masih terus berjalan menuju kamarnya dan memikirkan apa yang akan terjadi nanti setelah Xavier mengetahui semuanya.
Dua orang pelayan yang menyapanya bahkan diabaikan oleh sang ratu, tampaknya ratu Lien memang sangat cemas saat ini.
"Ratu, ratu mau kemana?" tanya pelayan itu.
Ratu Lien terus melangkah melewati kedua pelayannya begitu saja, membuat dua orang wanita itu terheran-heran dan kebingungan.
"Ada apa ya dengan ratu Lien?" ujar si pelayan pada pelayan lainnya.
"Entahlah, tapi kita coba ikuti saja ratu!" usul pelayan yang lain.
"Baik!"
Akhirnya mereka berdua mengikuti kemana ratu Lien pergi, mereka khawatir terjadi sesuatu pada sang ratu jika ratu Lien dibiarkan pergi sendiri.
__ADS_1
Sementara ratu Lien masih merasa cemas, ia khawatir jika Xavier akan berbuat yang tidak-tidak terhadap putrinya nanti.
"Aku harus bagaimana sekarang? Tidak mungkin Xavier akan diam saja setelah mengetahui bahwa putri Xiu masih hidup dan dia adalah Xi Mei, aku yakin Xavier pasti akan merencanakan sesuatu untuk menangkap putriku!" batin ratu Lien.
"Mommy!" tiba-tiba An Ming muncul di depan, mencegat langkah sang ratu dengan berdiri disana.
"An Ming? Ada apa sayang?" tanya ratu Lien masih dengan wajah paniknya.
"Mommy kenapa buru-buru gitu, ada masalah ya mom?" ujar An Ming penasaran.
"Ah enggak kok sayang, gak ada masalah apa-apa. Mommy cuma lagi kebelet, makanya mommy buru-buru mau ke kamar." ucap ratu Lien.
"Ohh, yah berarti aku gak bisa ngobrol dong sama mommy." kata An Ming.
"Ya bisa dong sayang, emangnya kamu mau ngobrol apa sama mommy?" tanya ratu Lien.
"Begini loh mom, aku mau tanya soal latihan aku sama Xi Mei di lembah parabuan itu. Aku boleh kan mom pergi kesana?" jawab An Ming.
"An Ming masih aja begini, apa sudah saatnya aku kasih tau dia kalau Xi Mei itu saudaranya?" gumam ratu Lien dalam hati.
Melihat ibunya hanya diam, An Ming pun tampak heran dan coba mengipas-ngipas tangannya di depan wajah sang ratu untuk menyadarkan ibunya itu.
"Mom, mommy kenapa diam?" tanya An Ming.
"Eh eee sebentar ya sayang, mommy udah gak tahan lagi nih! Kamu tanya aja langsung ke yang mulia, dia yang punya keputusannya!" ujar ratu Lien.
"Ta-tapi mom—"
"Maaf ya sayang, mommy harus pergi sekarang!" potong ratu Lien.
Ratu Lien pun lanjut melangkah menuju kamarnya, diikuti juga oleh kedua pelayannya dari belakang.
"Haish, mommy itu aneh deh!" umpat An Ming.
Akhirnya An Ming memutuskan pergi mencari Xavier dan menanyakan mengenai keinginannya untuk berlatih bersama Xi Mei di lembah parabuan.
Ratu Lien memang sengaja mengurungkan niatnya untuk memberitahu An Ming perihal putrinya, ia rasa ini belum saatnya An Ming mengetahui itu.
Saat ini sang ratu telah tiba di depan kamarnya, ia langsung masuk ke dalam dan menutup serta mengunci pintu rapat-rapat.
Dua pelayan yang sedari tadi mengikutinya pun kebingungan, mereka akhirnya memutuskan tetap berada disana menjaga ratu dari luar.
Ratu Lien kini terduduk di atas ranjangnya, melamun memikirkan putrinya dan cemas jika Xavier akan melukai putri Xiu suatu hari nanti.
•
•
Xi Mei baru saja menghabiskan minuman yang diberikan oleh Zheng, ia tampak sangat haus sampai-sampai satu gelas minuman itu dapat ia habiskan dengan sekali tenggak.
Zheng yang terduduk di sebelahnya pun reflek menggeleng pelan, ia juga bergerak untuk menyeka keringat di kening serta leher Xi Mei dan membuat gadis itu agak terkejut.
"Kamu ngapain?" tanya Xi Mei seraya menatap wajah Zheng penuh kebingungan.
"Maaf ya kalau aku lancang! Abisnya keringat kamu banyak banget, jadi aku reflek buat bersihin supaya kamu lebih nyaman." jawab Zheng.
"Iya, gapapa kok. Justru aku bilang makasih sama kamu Zheng," ucap Xi Mei tersenyum tipis.
"Sama-sama Xi Mei," ucap Zheng membalas senyuman Xi Mei sambil terus menyeka keringatnya.
"Ehem ehem..."
Keduanya terkejut mendengar deheman itu, mereka langsung kompak menoleh ke asal suara dan menemukan Ryu tengah berdiri disana menatap mereka sambil tersenyum.
"Waduh waduh, mesra banget sih kalian!" ucap Ryu menggoda mereka.
"Eee..." Xi Mei tampak panik, melirik Zheng dan memberi kode padanya untuk menjauh.
Zheng yang mengerti langsung melepas tangannya dari kening Xi Mei dan menggeser duduknya.
"Loh loh, kenapa dilepas coba? Udah lanjut aja juga gapapa kok! Kasihan itu Xi Mei masih keringetan begitu!" ucap Ryu terkekeh kecil.
Ryu pun ikut terduduk bersama Xi Mei dan Zheng sambil terus tersenyum tipis.
"Gausah paman, keringat mah udah wajar kok. Lagian abis ini aku juga masih mau lanjut latihan, jadi gapapa lah keringetan." ucap Xi Mei gugup.
"Kamu kenapa gugup gitu sayang?" goda Ryu.
"Hah? Enggak tuh, siapa yang gugup? Aku biasa aja kok." elak Xi Mei.
"Hahaha..." Ryu tertawa lebar.
__ADS_1
"Ih paman apa sih? Udah deh, paman jangan godain aku terus!" ujar Xi Mei cemberut.
"Gak ada yang godain kamu kok, paman itu godain kalian berdua." kata Ryu sambil tertawa.
"Ish, paman mah nyebelin!" cibir Xi Mei.
"Iya iya, yasudah kamu jangan ngambek gitu ah jelek tau!" ujar Ryu sambil mencolek pipi Xi Mei yang menggemaskan.
"Paman sih nyebelin! Aku sama Zheng itu cuma teman, jadi paman jangan gitu dong!" ujar Xi Mei.
"Iya cantik, paman tau kok. Lagian paman juga udah bicara sama Zheng, dan dia mau ngerti kalau kalian ini hanya bisa berteman tidak lebih." ucap Ryu seraya melirik ke arah Zheng.
"Apa? Paman bicara apa emangnya sama Zheng? Kok aku gak tahu apa-apa sih?" tanya Xi Mei terkejut.
"Eee ya begitulah," jawab Ryu.
"Begitulah apa? Paman jelasin yang bener dong!" ujar Xi Mei.
"Gak ada apa-apa, udah kamu gausah pusing mikirin itu ya!" ucap Ryu.
"Iya Xi Mei, kamu fokus aja sama latihannya nanti supaya kejadian tadi gak terulang lagi!" sahut Zheng.
"Hah? Memangnya ada kejadian apa tadi?" tanya Ryu penasaran.
"Itu loh paman, tadi Xi Mei terkena pukulan lawan tandingnya sewaktu latihan. Nah makanya Xi Mei diminta buat istirahat dulu disini," jelas Zheng.
"Oalah, duh kamu ini gimana sih Xi Mei? Masa baru hari pertama latihan kamu udah k.o begini? Gimana besok coba?" ledek Ryu.
"Ish, aku gak k.o tau paman! Tadi tuh aku kurang fokus aja," elak Xi Mei.
"Ah masa??" Ryu terus meledek Xi Mei hingga membuat gadis itu merasa jengkel.
•
•
Wein Lao tampak tengah mengamati Xi Mei dari jauh, entah mengapa ia merasa tidak senang saat melihat Xi Mei bersama Zheng dan terlihat cukup dekat.
Wein Lao pun mengepalkan kedua tangannya disertai rahang yang bergetar akibat menahan emosi, sungguh ia tidak bisa terus-terusan melihat semua itu dengan mata kepalanya.
"Cowok itu siapa sih? Kenapa dia bisa akrab sekali dengan putri Xiu? Padahal dia bilang dia hanya urusan istana, tapi kenapa dia terlihat sangat dekat dengan tuan putri? Atau jangan-jangan dia juga tidak tahu siapa Xi Mei sebenarnya?" batinnya.
Pukkk...
Tak lama kemudian, ada Rube yang menghampirinya dan menepuk pundaknya dari belakang hingga membuat pria itu kaget.
"Eh kamu? Kenapa sih kamu kagetin saya kayak gitu?" ujar Wein Lao mengelus dada.
"Ma-maaf tuan Lao! Saya cuma heran aja, ngapain tuan Lao berdiri disini terus daritadi? Kalau tuan mau bicara sama non Xi Mei, silahkan aja disamperin kesana!" ujar Rube.
"Enggak kok, saya cuma mau awasi Xi Mei dari sini. Saya harus pastikan dia baik-baik saja selama disini!" jawab Wein Lao.
"Ohh begitu.." ucap Rube manggut-manggut.
"Iya, sudahlah kamu pergi sana!" perintah Wein Lao.
"Ba-baik tuan!" ucap Rube patuh.
Setelahnya, Rube pun pergi dari sana walau ia masih merasa sedikit heran dengan sikap Wein Lao yang tiba-tiba menjadi mudah marah itu.
Sementara Wein Lao tetap berada disana, memantau dan mengawasi Xi Mei yang masih bersama Zheng serta Ryu di depan sana.
"Rasanya saya ingin maju mendekat dan ada di sebelah kamu Xi Mei, tapi saya tidak memiliki keberanian yang cukup untuk melakukan itu." gumam Wein Lao.
Rube kini menemui dua ninja yang lain dengan masih terus menatap ke arah Wein Lao.
"Heh! Jalan itu lihat ke depan, bukan ke belakang! Nanti nabrak malah nyalahin orang lain lagi!" ucap Ah Shin menegur Rube.
"Sssttt diem! Saya ini lagi lihatin tuan Lao tuh yang lagi berdiri disana, jadi kamu jangan berisik!" ucap Rube menaruh telunjuk di bibirnya.
"Hah? Ngapain sih kamu pake ngeliatin tuan Lao segala? Terpesona?" tanya Ah Shin heran.
"Hus! Sembarangan kalo ngomong! Bukan terpesona, saya ini penasaran aja kenapa tuan Lao terus-terusan berdiri disana. Apalagi kelihatannya tuan Lao juga kayak lagi kesel gitu, kira-kira kenapa ya?" jelas Rube.
"Ohh, ya mana saya tau? Kalau kamu mau tau, tanya aja langsung ke tuan Lao, jangan ke saya!" ujar Ah Shin.
"Halah kamu ini! Yasudah, sebaiknya kamu pergi sana jangan ganggu saya!" ucap Rube.
"Yeh siapa juga yang mau ganggu kamu? Saya ini kan tadi hampir ditabrak sama kamu, gimana sih?!" ujar Ah Shin.
"Hehe, iya iya sorry!" ujar Rube sambil nyengir.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...