Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 89. Marah atau tidak?


__ADS_3

"Kamu kenapa paman? Apa kamu takut melihat senjata ini, ha?" tanya Xiu pada Xavier.


"Aku tidak pernah takut dengan senjata apapun! Sabit kembar itu juga memiliki kelemahan, aku pasti bisa mengalahkannya!" jawab Xavier lantang.


"Semangat yang bagus paman! Setidaknya kamu meninggal dengan penuh semangat dan bukan sebagai orang yang pengecut!" ucap Xiu.


"Sialan kau! Hiyaaa..." Xavier langsung maju menyerang Xiu dengan pedang miliknya.


Namun, langkah Xavier terhenti hanya karena Xiu menebaskan kedua sabit itu ke arahnya secara bersamaan.


Slaasshh...


Xavier pun terpental cukup jauh hingga terpentok sebuah pohon besar dan tergeletak disana.


Bruuukkk...


"Ughh!!" rintih Xavier kesakitan.


Pria itu memuntahkan darah cukup banyak, ia memegangi dadanya dan masih sempat melirik ke arah Xiu dengan wajah sayu.


"Ka-kau benar-benar kurang ajar!" ucapnya lirih.


Xiu terdiam saja menatap ke arah Xavier, ia pun juga tak menyangka bahwa sabit kembar itu memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.


Hanya dengan sekali tebas saja Xavier sudah berhasil ia kalahkan, bahkan kini pria itu tak lagi mampu membuka matanya.


Wein Lao yang sebelumnya hanya memperhatikan, kini coba menghampiri istrinya untuk segera menghentikan pertarungan itu.


"Sayang, ayo sudahi pertarungan ini! Aku tidak mau keadaannya semakin buruk!" pinta Wein Lao.


"Iya Lao, sepertinya Xavier sudah mati. Apa itu artinya aku menang?" ucap Xiu.


"Tentu saja istriku, kamu memang selalu jadi pemenang!" jawab Wein Lao sambil tersenyum.


"Ah kamu ini! Tapi, aku tak yakin kalau Xavier memang sudah mati. Bisa saja dia hanya pingsan, kan baru terkena sekali tebasan sabit ini." ucap Xiu tampak ragu.


"Tenang saja Xiu! Xavier pasti sudah mati saat ini, karena sabit kembar itu memang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dan dia dapat membunuh lawannya walau hanya dengan sekali tebasan saja." ucap In Lao yang mendekati mereka.


Xiu masih terus mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin saat dirinya menghabisi nyawa Xavier menggunakan sabit kembar milik ayahnya itu.


Entah mengapa Xiu sangat merasa bersalah setelah melakukan itu, ia tidak ingin kematian Xavier membuat hubungannya dengan An Ming menjadi rusak.


"Duh, gimana ya kalau sampai An Ming jadi benci sama aku nantinya?" gumam Xiu bersedih.


Tiba-tiba saja, Wein Lao muncul dan duduk di sebelahnya. Pria itu langsung merangkul Xiu begitu saja hingga membuat Xiu sedikit terkejut.


"Hah? Lao??" ucap Xiu merasa kaget.


"Kamu lagi apa sendirian disini? Bukannya masuk ke dalam buat makan siang, ini udah waktunya tau." tanya Wein Lao pada istrinya.


"Aku masih cemas Lao," jawab Xiu tampak sedih.


"Cemas soal apa?" tanya Wein Lao penasaran.


"Soal An Ming," jawab Xiu pelan.


"Memangnya kenapa sama An Ming? Kamu punya masalah sama dia?" tanya Wein Lao lagi.


"Iya Lao, sekarang An Ming lagi sedih dan gak mau keluar kamar walau sebentar. Aku takut dia jadi benci aku Lao, gara-gara aku udah bunuh ayahnya!" jelas Xiu.


"Kamu jangan mikir begitu lah! Aku yakin kok An Ming gak mungkin begitu! Dia pasti bisa ngertiin kamu sayang!" ucap Wein Lao.


"Tapi Lao, mana ada seorang anak yang rela ayahnya mati terbunuh oleh orang lain? Pasti An Ming kecewa banget sama aku!" ucap Xiu.


"Itu kan baru dugaan kamu, semuanya belum tentu benar. Kamu sekarang tenang dulu ya, jangan terlalu cemas sayangku!" pinta Wein Lao.


"Gimana caranya aku bisa tenang? Emang kamu bisa mastiin kalau An Ming gak akan benci aku?" tanya Xiu menatap wajah suaminya.


"Enggak sih," jawab Wein Lao bingung.


"Tuh kan, kamu aja gak bisa mastiin. Berarti kamu gak boleh larang aku buat gak panik!" ujar Xiu.


Wein Lao tersenyum tipis, ia mengeratkan pelukannya sembari mengusap wajah Xiu untuk menenangkannya.


"Yasudah, kamu bersandar di bahu aku aja ya sekarang sampai tenang!" ucap Wein Lao.


Xiu terdiam saja diperlakukan seperti itu, ia juga merasa nyaman saat berada di dalam pelukan suaminya.


"Kalau kamu udah tenang, kita makan siang bareng-bareng ya!" ucap Wein Lao.


Xiu mengangguk pelan tanpa ekspresi, sedangkan Wein Lao terus membelai rambut istrinya dan juga mengecup seluruh wajah wanita itu tanpa ada yang tertinggal.




Sementara itu, An Ming berusaha menghilangkan kesedihan di dalam hatinya dan mengusap air mata yang membasahi pipinya itu.


An Ming memang sangat sedih atas meninggalnya Xavier, namun ia tak bisa berbuat apa-apa lagi karena itu adalah takdir untuk ayahnya.


"Aku harus kuat!" ucap An Ming.

__ADS_1


TOK TOK TOK...


Tiba-tiba saja pintu kamarnya diketuk dari luar oleh seseorang, An Ming pun menoleh ke arah pintu dan nampak kebingungan.


"An Ming, ini mommy nak. Mommy boleh masuk ya sayang?" ucap ratu Lien dari luar.


"Mommy mau ngapain?" tanya An Ming dengan suara keras.


"Syukurlah kamu jawab ucapan mommy! Ini sayang, mommy cuma mau masuk dan bicara sama kamu. Mommy tau kamu lagi sedih sekarang, kamu pasti butuh mommy untuk hibur kamu saat ini!" ucap ratu Lien.


"Enggak mom, aku gak sedih kok. Aku ini kan anak laki-laki yang kuat, masa aku sedih?!" elak An Ming.


"Baguslah kalau kamu memang kuat dan gak sedih! Tapi, mommy boleh masuk ya nak?" pinta ratu Lien sambil terus mengetuk pintu.


"Iya deh mom, masuk aja!" jawab An Ming.


"Makasih sayang!" ucap ratu Lien.


Ceklek...


Akhirnya ratu Lien membuka pintu, ia langsung bergerak menghampiri An Ming dan duduk di samping putranya itu.


"Sayang, kamu kenapa gak mau keluar kamar dari kemarin?" tanya ratu Lien sembari memeluk putranya.


"Aku kepikiran sama Daddy, mom. Aku masih gak nyangka kalau aku bakal kehilangan Daddy secepat ini! Ya walau aku tahu pasti ini semua akan terjadi pada Daddy, karena Daddy itu jahat!" ujar An Ming.


"Kamu gak boleh bilang begitu sayang! Daddy kamu itu baik kok," ucap ratu Lien.


"Baik gimana mom? Daddy kan jahat tau, Daddy udah bunuh Daddy nya kak Xiu." ucap An Ming.


"Iya, mommy tahu. Tapi, kamu gak boleh bilang Daddy jahat!" ucap ratu Lien.


"Terus, aku harus bilang Daddy apa dong mom?" tanya An Ming bingung.


"Gausah bilang apa-apa ya! Kamu doakan saja yang baik-baik buat Daddy kamu! Kesedihan kamu cukup sampai disini aja, jangan berlarut-larut!" ucap ratu Lien mengingatkan putranya.


"Iya mom, aku kan udah bilang tadi kalau aku ini kuat dan aku gak sedih." ucap An Ming.


"Iya iya, anak mommy emang kuat deh.. eh ya, kamu udah ketemu sama kak Xiu belum sayang? Dia tadi nyariin kamu loh," ujar ratu Lien.


"Oh ya? Yang bener mom?" tanya An Ming.


"Bener dong sayang! Kamu mau temuin kak Xiu apa enggak nih?" ucap ratu Lien.


"Mau dong mom! Tapi, emang kak Xiu mau ketemu sama aku? Aku ini kan anaknya Daddy, kalau kak Xiu marah juga sama aku gimana?" tanya An Ming.


Ratu Lien justru tersenyum mendengar ucapan putranya, kini ia tahu bahwa An Ming tidak marah ataupun benci pada Xiu.


"Gak mungkin sayang, kak Xiu kan orangnya baik!" jawab ratu Lien.


"Yuk mama antar aja kamu ke meja makan! Disana kamu bisa ketemu sama kak Xiu, sekaligus makan siang bareng-bareng." ujar ratu Lien.


"Oke mom!" ucap An Ming menurut.


"Pintar anak mommy!" ucap ratu Lien seraya mencolek hidung putranya.


"Hehe, iya dong mom.." ujar An Ming.


An Ming pun turun dari ranjangnya dengan ratu Lien yang terus memegangi tangannya.


Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar itu, lalu pergi menuju meja makan.


Namun, sesampainya disana mereka tak menemukan keberadaan Xiu ataupun Wein Lao.


"Yah kok kak Xiu gak ada, mom?" tanya An Ming.


"Eee mommy juga gak tahu sayang, mungkin kak Xiu belum datang. Sebentar ya, mommy tanya dulu sama pelayan!" ucap ratu Lien.


"Iya mom," ucap An Ming mengangguk pelan.


Ratu Lien pun menghampiri salah seorang pelayan disana untuk bertanya tentang putrinya.


Sementara An Ming terdiam di tempatnya menunggu ibunya kembali.




Disisi lain, rupanya Xiu dan Wein Lao tengah menjenguk Zheng di ruang pengobatan.


Mereka tampak kasihan melihat kondisi Zheng saat ini yang begitu mengkhawatirkan.


"Zheng, bagaimana kondisi mu saat ini? Sudah membaik?" tanya Xiu.


"Akh! Tuan putri? Terimakasih sudah mau datang kemari untuk menjenguk saya! Kondisi hamba sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, tuan putri. Hanya saja hamba masih belum bisa bergerak banyak," jawab Zheng.


"Baguslah! Aku harap kamu bisa cepat pulih ya Zheng! Istana sangat membutuhkan kamu!" ucap Xiu mendoakan Zheng.


"Baik tuan putri! Hamba juga selalu berusaha agar hamba bisa cepat pulih dan mampu membantu melindungi istana seperti sebelumnya!" ucap Zheng.


"Yasudah, kamu lanjut saja istirahatnya! Jangan terlalu banyak bergerak ya!" pinta Xiu.

__ADS_1


"Baik tuan putri! Tapi, apa hamba boleh bertanya sesuatu?" ucap Zheng.


"Tentu saja, apa yang mau kamu tanyakan?" ucap Xiu penasaran.


"Hamba penasaran dengan hasil perang kemarin, apa yang terjadi pada Xavier dan para penjahat lainnya, tuan putri?" tanya Zheng.


"Ohh, mereka semua berhasil kami kalahkan. Teruntuk Xavier dan Terizla, keduanya terbunuh di tanganku juga raja Lao." jawab Xiu.


"Syukurlah! Hamba sangat senang mendengarnya! Semoga setelah ini, tidak ada lagi orang jahat yang memiliki niat buruk bagi kerajaan Quangzi!" ucap Zheng.


"Ya, aku juga berharap seperti itu! Tapi, kita harus tetap waspada karena kejahatan akan selalu ada dimanapun!" ucap Xiu.


"Baik tuan putri!" ucap Zheng menurut.


Wein Lao yang sedari tadi terdiam, kini mendekat ke arah Xiu dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya itu.


"Xiu, ayo kita lihat kondisi yang lain juga! Disini bukan hanya Zheng yang dirawat!" bisik Wein Lao.


"Iya Lao, aku tahu. Kamu itu kenapa sih? Kok kayak gak suka gitu aku lama-lama disini?" tanya Xiu.


"Sudahlah, tidak usah dipertanyakan hal yang tidak penting begitu!" ujar Wein Lao.


"Haish, kamu ini selalu saja!" cibir Xiu.


Xiu pun pamit pada Zheng, karena ia harus menjenguk pasukan Quangzi lainnya yang juga dirawat disana.


Kini Xiu dan Wein Lao tampak menemui Ryu serta Chen yang terlihat lumayan parah, Xiu benar-benar tak menyangka melihat pamannya terluka begitu.


"Paman, apa paman baik-baik saja? Tidak ada luka parah kan paman?" tanya Xiu panik.


"Uhuk uhuk, tenanglah tuan putri! Hamba baik-baik saja dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan! Kondisi hamba mungkin akan segera pulih dalam beberapa hari ke depan," jawab Ryu.


"Syukurlah paman! Aku selalu berharap yang terbaik untuk paman!" ucap Xiu sambil tersenyum.


"Terimakasih tuan putri!" balas Ryu.


"Oh ya, kamu sendiri bagaimana Chen? Lukamu juga tidak parah kan?" tanya Xiu pada Chen.


"Aku baik tuan putri, luka seperti ini tidak ada artinya bagiku. Aku justru merasa bersalah padamu tuan putri, karena aku kemarin gagal mengalahkan Xavier!" jawab Chen.


"Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu! Xavier kan sekarang sudah dikalahkan, Quangzi juga sudah menang." ucap Xiu.


"Iya tuan putri, tapi tetap saja aku merasa tidak becus dalam melindungi istana dan juga ayahku." ucap Chen.


"Kamu itu pendekar yang hebat Chen! Kamu sangat luar biasa dan pemberani!" ucap Xiu.


"Ah tuan putri bisa aja!" ujar Chen malu-malu.


"Hahaha..." mereka tertawa bersama-sama disana.


Tak lama kemudian, seorang pelayan muncul mendekati Xiu serta Wein Lao disana.


"Permisi tuan putri! Maaf mengganggu!" ucapnya.


"Ah iya, ada apa?" tanya Xiu penasaran.


"Anu tuan putri, tuan putri dan pangeran Lao sudah ditunggu di meja makan oleh ratu serta pangeran An Ming." jelas pelayan itu.


"Hah? An Ming?" Xiu terkejut mendengarnya.




Xiu dan Wein Lao langsung bergerak menuju meja makan untuk menemui ratu Lien juga An Ming.


Namun, Xiu masih heran pada sikap Wein Lao yang tiba-tiba berubah menjadi dingin itu.


"Lao, kamu itu kenapa sih?" tanya Xiu padanya.


"Kenapa apa?" ucap Wein Lao bingung.


"Daritadi aku perhatiin, sikap kamu ke aku kayak beda gitu. Kamu itu sebenarnya kenapa sih Lao? Kalau ada masalah atau aku punya salah sama kamu, kamu bilang aja dong!" ujar Xiu.


"Gak ada kok, aku perasaan biasa-biasa aja. Itu cuma perkiraan kamu aja kali sayang!" elak Wein Lao.


"Haish, kamu gak bisa ngeles dari aku! Kamu mending jujur deh sama aku, kenapa kamu jadi kayak gini ha?!" ucap Xiu.


"Ya kamu coba pikir aja sendiri!" ujar Wein Lao.


Pria itu melanjutkan langkahnya begitu saja meninggalkan putri Xiu.


"Ih tunggu!" Xiu berteriak kesal dan mencekal lengan Wein Lao dari belakang.


"Apa lagi sayangku, cantikku?!" tanya Wein Lao.


"Kamu kenapa main pergi aja? Terus sikap kamu juga jadi jutek gitu sama aku, aku salah apa sih sama kamu sayang?" ucap Xiu heran.


"Kamu masih tanya sama aku salah kamu apa? Masa kamu gak mikir sih sayang? Aku itu gak suka lihat kamu lama-lama ngobrol sama Zheng di ruang pengobatan tadi, mikir dong!" ujar Wein Lao.


"Hah??" Xiu terkejut bukan main mendengar jawaban Wein Lao.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2