
Hari demi hari berlalu, hingga kini Xi Mei alias putri Xiu telah berhasil menamatkan sekolahnya sampai tuntas dan membuat paman serta bibinya sangat bangga kepadanya.
Xi Mei sudah berusia 18 tahun, saat ini ia pun diperbolehkan ikut berlatih bersama pamannya dan juga beberapa murid yang lain termasuk Zhao.
Penampilan gadis remaja itu semakin menarik perhatian Zhao, terlebih paras Xi Mei memang sangat menunjukkan bahwa dia adalah seorang tuan putri kerajaan.
Setelah masuk ke dalam perguruan beladiri milik Ryu, Xi Mei pun memiliki tekad untuk bisa menguasai semua jurus dengan sempurna dan akan membalas perbuatan Xavier kepada kedua orangtuanya dulu.
Sudah cukup lama Xi Mei tak bertemu lagi dengan ibundanya, alias sang ratu.
Xi Mei sangat merindukan ibunya itu, ia memiliki mimpi untuk bisa masuk ke istana agar dapat terus berkumpul dengan ibunya.
Namun, mimpinya itu tentu sangat sulit terwujud lantaran ia khawatir jika pihak istana akan menyadari kalau dirinya adalah putri Xiu yang telah lama hilang.
"Xi Mei, kenapa kamu diam saja? Kita sedang latihan, kamu harus fokus kalau tidak ingin terluka!" ucap Ryu menegur Xi Mei.
"Ma-maaf paman! Aku sulit buat fokus!" ucap Xi Mei tampak grogi.
"Tenanglah! Paman yakin kamu bisa kuasai jurus dasar ini, gampang kok! Kamu hanya tinggal ikuti gerakan-gerakan paman, supaya kamu bisa menguasai jurusnya." kata Ryu.
"Iya paman, aku akan coba." ucap Xi Mei.
"Baiklah, jangan bengong lagi ya!" ujar Ryu.
Xi Mei mengangguk pelan, mengambil nafas panjang lalu membuangnya secara perlahan.
Mereka pun kembali memulai latihan, memang saat ini Ryu hanya melatih Xi Mei seorang karena jam pelatihan untuk murid-muridnya yang lain telah usai.
Xi Mei kembali fokus mengikuti gerakan-gerakan yang diperlihatkan oleh Ryu, akan tetapi bayangan wajah sang ratu selalu muncul di kepalanya dan membuat ia kesulitan.
Kreekkk...
"Awhh!!" Xi Mei memekik kesakitan saat kakinya terkilir akibat salah gerakan.
"Xi Mei!" Ryu berteriak panik, lalu dengan cepat menghampiri Xi Mei dan memeriksanya.
"Mei, kamu kenapa lagi sih? Paman kan sudah bilang sama kamu, jangan bengong! Memangnya kamu sedang melamun apa sih?" ujar Ryu.
"Maaf paman! Aku masih keinget mommy, aku kangen banget sama mommy!" ucap Xi Mei.
Mendengar suara Xi Mei yang sangat merindukan mommy nya, membuat amarah Ryu seketika mereda dan kini justru menggendong tubuh gadis itu untuk diperiksa lebih lanjut kondisinya.
Ryu membawa Xi Mei ke dalam pondok kayu miliknya, ia meletakkan tubuh gadis itu di atas sebuah kursi panjang yang terbuat dari anyaman bambu tetapi lembut.
"Kaki kamu sepertinya lumayan parah, paman harus bawa kamu pulang ke rumah supaya paman bisa obati kaki kamu ini!" ucap Ryu.
"Tapi paman, aku kan gak bisa jalan." kata Xi Mei.
"Paman akan gendong kamu seperti tadi, tapi sekarang paman harus beres-beres dulu. Kamu tunggu sebentar ya disini, jangan banyak bergerak!" pinta Ryu.
"Iya paman," jawab Xi Mei disertai anggukan pelan.
Ryu pun pergi meninggalkan Xi Mei sendirian, ia membereskan tempat pelatihan itu dengan bantuan beberapa pegawainya.
Sementara Xi Mei yang tengah terbaring, tiba-tiba merasakan keanehan saat kakinya tidak lagi terasa sakit seperti tadi.
Bahkan, Xi Mei sudah mampu menggerakkan kakinya dan berdiri dengan lancar seperti biasanya.
"Loh, ini kaki aku kenapa ya? Kok bisa tiba-tiba sembuh kayak gini? Atau sebenarnya paman punya kekuatan hebat yang bisa sembuhin luka dari jarak jauh? Tapi, paman sembunyiin itu dari orang-orang. Ah masa iya sih?" gumamnya kebingungan.
Akhirnya Xi Mei berjalan menghampiri pamannya masih dengan raut kebingungan di wajahnya, karena ia juga belum mengerti apa yang barusan terjadi padanya.
Tak hanya Xi Mei, Ryu pun merasa heran ketika melihat gadis itu dapat berjalan ke arahnya dengan lancar seperti tidak terjadi apa-apa padanya.
"Paman!" ucap Xi Mei memanggil pamannya.
"Loh Xi Mei, kamu kok bisa jalan sih? Bukannya tadi kaki kamu kekilir?" tanya Ryu heran.
"Halah paman gausah pura-pura gitu deh! Aku tahu kok ini semua ulah paman. Paman kan yang udah sembuhin kaki aku? Paman emang hebat deh, bisa sembuhin luka dari jarak jauh!" ujar Xi Mei.
"Kamu bicara apa sih Xi Mei? Gimana mungkin paman bisa lakuin itu? Paman ini cuma guru beladiri biasa, bukan orang-orang sakti seperti yang kamu bilang tadi!" ucap Ryu.
"Kalau bukan paman, terus siapa dong yang udah sembuhin aku? Soalnya tadi tiba-tiba tuh rasa sakit di kaki aku hilang gitu aja," ucap Xi Mei heran.
Ryu menyipitkan matanya yang sudah sipit itu, memandangi sekujur tubuh Xi Mei dari atas sampai bawah tanpa ada yang terlewati.
"Paman, paman ngapain sih?" tanya Xi Mei.
"Enggak Xi Mei, paman cuma mau pastiin aja kalau di tubuh kamu ini ada sesuatu yang luar biasa. Makanya kamu bisa sembuh dari sakit pada kaki kamu tadi," jawab Ryu.
"Hah? Sesuatu yang luar biasa itu apa paman?" tanya Xi Mei tak mengerti.
__ADS_1
"Entahlah, paman juga belum tahu pasti." jawab Ryu menggeleng.
"Paman mah ada-ada aja! Yaudah, kita pulang aja yuk paman! Kaki aku kan udah sembuh nih, jadi kita bisa lanjut latihan di rumah!" ujar Xi Mei.
"Enggak jangan! Paman gak mau kaki kamu terluka lagi nantinya, karena kamu belum bisa fokus sepenuhnya!" tegas Ryu.
"Tapi paman..."
"Ayolah Xi Mei, nurut aja sama paman ya!" pinta Ryu memotong ucapan Xi Mei.
"Iya deh, aku nurut." kata Xi Mei cemberut.
Ryu tersenyum, kemudian lanjut membersihkan tempat tersebut dengan dibantu oleh Xi Mei sebelum mereka sama-sama pulang ke rumah.
•
•
Saat di rumah, Xi Mei langsung menceritakan apa yang tadi ia alami itu kepada bibinya serta Chen di meja makan.
Xi Mei terlihat cukup antusias saat menceritakannya, bahkan gadis itu sampai hampir tersedak akibat terlalu bersemangat.
"Iya bik, beneran tau tadi kaki aku bisa tiba-tiba sembuh sendiri! Aku aja heran lihatnya, tadinya aku kira paman yang obatin, tapi ternyata bukan." kata Xi Mei.
"Kok bisa begitu sih Xi Mei? Apa jangan-jangan kamu punya kekuatan tersembunyi ya?" ujar Chen.
"Hah? Aku gak tahu deh kalo itu Chen, tapi masa iya sih aku punya kekuatan? Padahal dari dulu aku selalu lemah tuh," ucap Xi Mei.
"Iya, dulu kamu kan juga pernah tergores pisau dan nyatanya luka kamu gak langsung sembuh." sahut Ryu.
"Mungkin aja kekuatan Xi Mei baru muncul begitu dia udah dewasa seperti sekarang," ujar Chen.
"Bisa jadi. Xi Mei ini kan anak dari ratu Lien dan raja Feng Ying, mereka itu sama-sama pendekar yang hebat pada masanya. Jadi, gak menutup kemungkinan kalau Xi Mei memiliki kekuatan yang berasal dari mereka." ucap Luan.
"Kalau memang itu benar, berarti kamu tidak perlu berlatih Wushu lagi dengan paman, sayang!" ucap Ryu kepada Xi Mei.
"Lah kok gitu sih paman? Kekuatan aku juga kan belum pasti adanya, aku masih boleh dong latihan sama paman!" ujar Xi Mei.
"Hahaha... paman bercanda doang kok, gausah cemas gitu Xi Mei!" ucap Ryu terkekeh.
"Paman ih bercandanya gak seru!" cibir Xi Mei merasa jengkel.
Semua di meja makan kompak tertawa, terkecuali Xi Mei yang masih kesal sekaligus bingung memikirkan apa yang ada di dalam tubuhnya.
Ryu dan Luan sama-sama menatap ke arah Xi Mei dengan wajah keheranan.
"Xi Mei, kamu lagi mikirin apa? Kok daritadi diam terus? Masih kesel ya sama paman gara-gara bercandaan tadi?" tanya Luan penasaran.
"Ah enggak kok bik, aku masih bingung kenapa aku bisa sembuh sendiri ya bik!" jawab Xi Mei.
"Oalah tentang itu, kamu kenapa pake bingung sayang? Kamu kan udah tahu kalau kamu punya kekuatan, jadi mungkin itu sebabnya tubuh kamu bisa sembuhin diri kamu sendiri." kata Luan.
"Bik, tapi kan aku belum tahu aku punya kekuatan atau tadi cuma kebetulan aja. Makanya aku masih bingung tubuh aku itu kenapa," ucap Xi Mei.
"Gausah bingung Xi Mei! Kalau kamu pengen tahu, kamu coba aja lukain tubuh kamu sekarang! Pakai pisau atau benda tajam lainnya. Kalau misal bisa sembuh lagi, nah berarti tubuh kamu emang punya kekuatan luar biasa!" ucap Ryu memberi saran.
"Tapi paman, kalau misal tubuh aku gak punya kekuatan gimana? Yang ada lukanya malah berbekas di tubuh aku, aku gak mau ah paman!" ucap Xi Mei.
"Yaudah, terserah kamu aja baiknya gimana!" ucap Ryu sambil tersenyum.
Xi Mei mengangguk-angguk pelan, lalu berpikir apakah memang ia harus mencoba saran yang diberikan Ryu atau tidak.
"Bik, pisau ada dimana?" tanya Xi Mei pada Luan.
"Hah? Kamu mau ngapain sayang?" ujar Luan.
"Aku mau coba saran dari paman tadi, soalnya aku penasaran banget. Benar kata paman, kalau gak dicoba maka aku gak bakal tahu tubuh aku punya kekuatan atau enggak." kata Xi Mei.
"Tapi sayang, bukannya tadi kamu bilang kamu gak mau coba? Benar juga kata kamu, kalau kamu ternyata gak punya kekuatan luka itu bakal susah buat disembuhin," ucap Luan.
"Gapapa bik, aku mau coba dulu. Biar semuanya jadi jelas dan aku gak penasaran lagi, aku harus coba itu bik!" ucap Xi Mei.
"Yasudah, biar bibik ambilkan pisaunya dulu ya?" ucap Luan.
"Iya bik," ucap Xi Mei mengangguk singkat.
Luan pun mengambil pisau di dapur, lalu memberikan itu kepada Xi Mei yang sudah siap untuk melukai tubuhnya sendiri.
"Ini sayang, kamu mau lukain sendiri atau pakai jasa bantuan bibik?" tanya Luan sambil tersenyum.
"Aku sendiri aja bik, biar lukanya kecil gak terlalu besar." jawab Xi Mei.
__ADS_1
"Hahaha... yasudah, kamu pelan-pelan aja ya Xi Mei! Jadi kalau lukanya gak bisa sembuh, gampang buat sembuhinnya nanti!" ucap Luan.
"Iya bik," ucap Xi Mei setuju.
Xi Mei mengambil pisau dari tangan Luan, lalu menggoreskan tangannya dengan pisau tersebut sampai mengeluarkan darah.
"Awhh!" pekiknya kesakitan.
"Duh sayang, itu pasti sakit!" ujar Luan.
Luan, Ryu dan Chen sama-sama merasa ngilu melihat luka yang ada di tangan Xi Mei.
Mereka semua menunggu reaksi tubuh Xi Mei, namun sangat lama tak ada perubahan yang terjadi pada luka di tangan gadis itu.
"Gimana ini bik? Lukanya gak hilang, malah darahnya ngalir keluar terus." kata Xi Mei.
"Aduh Xi Mei! Kayaknya emang gak bakal terjadi apa-apa deh, dugaan Chen sama paman kamu mungkin salah. Sebentar ya, bibik ambilin obat dulu buat bersihin luka kamu." ucap Luan.
"Iya bik," ucap Xi Mei sambil meringis.
•
•
Xi Mei berada di hutan bersama Zhao, mereka seperti biasa akan melatih kemampuan memanah mereka sembari berburu disana.
Namun, Zhao cukup heran melihat perban di tangan Xi Mei. Pria itu pun menanyakan hal itu kepada Xi Mei karena sangat khawatir.
"Mei, itu tangan kamu kenapa? Kok sampai diperban begitu?" tanya Zhao bingung.
"Eee ini semalam gak sengaja kegores pisau, makanya harus diperban." jawab Xi Mei.
"Ohh ya ampun pasti sakit ya?! Lain kali kamu hati-hati dong Mei, jangan bengong kalo lagi pakai pisau!" ucap Zhao.
"I-i-iya Zhao.." ucap Xi Mei gugup.
"Kalo aku cerita yang sebenarnya ke Zhao, yang ada aku bisa diketawain sama dia!" batin Xi Mei.
Tak lama kemudian, muncul seekor kijang di depan mereka yang sedang memakan rumput.
"Mei, itu dia buruan kita!" ucap Zhao menunjuk ke depan.
Zhao pun segera mengarahkan busur panahnya ke arah kijang di depan sana, sedangkan Xi Mei terdiam saja berusaha mencari hewan lain.
Zhao melepaskan anak panah meluncur menuju badan kijang itu, tetapi meleset.
"Haish gak kena lagi!" geram Zhao.
"Hahaha... udah kamu kejar sana kijang nya! Aku mau cari hewan lain kesana," ucap Xi Mei.
"Oke deh! Tapi, jangan jauh-jauh ya!" ucap Zhao.
Xi Mei mengangguk setuju, lalu mereka pun berpencar disana untuk mencari hewan buruan mereka.
Sreeettt...
"Aakkkhhh!!" pekik Xi Mei saat lengannya tak sengaja tergores ranting pohon yang tajam.
"Awhh sakit!" rintihnya sembari memegangi bagian lengan yang mengeluarkan darah.
Gadis itu terlihat panik, ia coba mengambil sebuah daun disana untuk mengobati lukanya dan menghentikan darah yang mengalir.
Namun, secara tiba-tiba luka di lengannya itu menghilang dan membuat Xi Mei menganga keheranan.
"Hah? Kok bisa tiba-tiba ngilang kayak sakit di kaki aku kemarin?" ujarnya terkejut.
Xi Mei sangat heran bagaimana bisa luka di lengannya itu menghilang, tapi tidak dengan luka pada tangannya semalam.
"Apa benar ya tubuh gue punya kekuatan? Tapi, kenapa pas semalam gue coba lukain tangan gue pakai pisau lukanya gak sembuh juga?" gumam Xi Mei kebingungan.
"Xi Mei!" Zhao berteriak keras dan menghampiri Xi Mei disana.
"Zhao? Kamu..."
"Iya, aku tadi dengar teriakan kamu. Kamu kenapa Xi Mei? Ada yang kamu alami barusan?" potong Zhao bertanya pada Xi Mei.
"Eee a-aku gapapa kok, tadi aku gak sengaja pegang ulat makanya aku kaget. Tapi, aku baik-baik aja kok!" jawab Xi Mei berbohong.
"Oh gitu, syukur deh!" ucap Zhao tersenyum.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...