Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 57. Ikut latihan


__ADS_3

"Xi Mei, aku permisi dulu ya!" ucap Wein Lao.


"Loh, kamu mau kemana?" tanya Xi Mei.


"Keluar sebentar, ada yang mau aku omongin sama pasukan aku disana." jawab Wein Lao.


"Oh gitu, yaudah gapapa." ucap Xi Mei.


Wein Lao mengangguk kecil, lalu pergi begitu saja meninggalkan Xi Mei dan Zheng berduaan.


"Mei, dia siapa?" tanya Zheng penasaran.


"Itu Wein Lao, raja werewolf yang aku temui di hutan kemarin. Dia juga yang sudah menemaniku sampai kesini," jawab Xi Mei.


"Ohh, kamu suka ya sama dia?" tanya Zheng.


"Hah? Maksud kamu?" ujar Xi Mei terkejut.


"Abaikan aja, itu gak penting. Sekarang boleh kan aku peluk kamu? Jujur loh, aku kangen banget sama kamu!" ucap Zheng meminta izin.


"Umm gimana ya...??" ujar Xi Mei berpikir.


Hugg...


Tanpa menunggu jawaban dari Xi Mei, Zheng langsung saja memeluk gadis itu dengan erat dan mengusap punggungnya di hadapan ketiga ninja yang masih tercengang disana.


Xi Mei pun dibuat melongok dengan tindakan Zheng yang sangat frontal itu, namun ia sama sekali tak memberontak dan membiarkan saja Zheng terus memeluknya.


"Aku sungguh merindukanmu, Xi Mei! Tolong biarkan aku peluk kamu!" ucap Zheng.


"Eee iya Zheng, aku juga rindu padamu. Tapi, jangan begini Zheng gak enak dilihatnya!" ucap Xi Mei merasa tak nyaman.


Akhirnya Zheng melepas pelukannya, menatap wajah Xi Mei dengan heran sekaligus penasaran.


"Kenapa? Kamu gak suka ya kalau dipeluk sama aku?" tanya Zheng.


"Bukan gitu, tapi disini kan banyak orang. Aku gak mau aja mereka mikir yang enggak-enggak, apalagi ada guru aku juga." jawab Xi Mei.


"Yaudah, maafin aku ya Xi Mei!" ucap Zheng.


"Gapapa Zheng, nanti kalau kamu mau peluk boleh aja kok." kata Xi Mei sambil tersenyum.


"Iya Mei, aku nantikan saat itu." ujar Zheng.


"Ahaha, kalo gitu kita ketemu sama paman dan guru aku yuk!" ucap Xi Mei.


"Eee boleh, dimana mereka?" tanya Zheng.


"Itu disana," jawab Xi Mei menunjuk ke arah Ryu serta Felix yang sedang melatih disana.


"Oh oke," ucap Zheng singkat.


"Paman Rube, paman Rulli, paman Ah Shin, kalian boleh kembali ke depan kok! Biar Zheng sama aku aja," ucap Xi Mei.


"Baik non!" ucap tiga ninja itu bersamaan.


Setelahnya, Xi Mei pun mengajak Zheng menemui paman serta gurunya disana.


Sementara ketiga ninja itu kembali ke depan pintu perguruan untuk berjaga-jaga lagi.


"Disini indah ya, muridnya juga jago semua. Aku jadi kepengen latihan disini juga," ujar Zheng.


"Oh ya? Kalau begitu kamu bisa ikut mendaftar ke guru Felix, jadinya kita bisa latihan bareng deh nanti." kata Xi Mei.


"Umm, tapi aku masih bingung sih. Aku kan ditugasi sama ratu untuk jaga kamu, masa aku ikut latihan juga?" ucap Zheng.


"Emangnya kenapa? Gak ada salahnya kan?" ujar Xi Mei sambil tersenyum.


"Ya gak ada sih, oke deh aku mau latihan disini bareng sama kamu." kata Zheng.


"Nah gitu dong! Yaudah, ayo kita bicara sama guru Felix!" ucap Xi Mei.


Zheng mengangguk setuju, lalu menghampiri Felix serta Ryu disana sembari menggandeng tangan Xi Mei dengan erat.


"Paman, guru!" ucap Xi Mei memanggil mereka.


Sontak Felix serta Ryu menoleh secara bersamaan, mereka tersenyum sembari melangkah lebih dekat ke arah Xi Mei dan Zheng disana.


"Iya sayang, ada apa? Kamu sudah gak sabar ya mau latihan?" tanya Ryu.


"Bukan paman, tapi ini ada Zheng yang datang. Dia diminta ratu buat jaga aku disini," jawab Xi Mei.


"Hah? Zheng? Kamu diperintahkan ratu Lien datang kesini?" ujar Ryu terkejut bukan main.


"Ah iya paman guru, itulah kenyataannya." ucap Ryu seraya mencium tangan Ryu dan Felix.


Ryu tampak heran dengan itu, ia tak mengerti mengapa ratu Lien justru memerintahkan Zheng untuk menjaga Xi Mei disana.



__ADS_1


Singkat cerita, Zheng telah mengungkapkan keinginannya untuk ikut berlatih disana bersama Xi Mei sembari menjaga gadis itu.


Felix pun setuju karena memang ia terbuka bagi siapapun yang ingin berlatih dengannya, bahkan termasuk pasukan istana sekalipun.


"Jadi, kamu bersungguh-sungguh ingin berlatih di perguruan ini?" tanya Felix.


"Iya tuan Felix, aku benar-benar ingin menimba ilmu disini denganmu!" jawab Zheng mantap.


"Hmm," Felix terlihat berpikir sejenak sembari mengusap dagunya perlahan.


"Guru, izinkan saja Zheng ikut berlatih disini. Kalau ada Zheng juga, pasti aku bakal makin semangat deh latihannya dan gak akan kesiangan lagi kayak tadi!" ucap Xi Mei.


"Hahaha, kamu senang ya pacar kamu ini datang dan mau berlatih disini?" goda Felix.


"Hah? Bu-bukan guru, Zheng bukan pacarku. Dia ini sahabatku dari kecil," elak Xi Mei.


"Oh gitu, tapi aku lihat-lihat kalian berdua cukup dekat dan bukan seperti sepasang sahabat. Pasti kalian punya rasa lain kan?!" ujar Felix.


"Apaan sih guru?!" ucap Xi Mei.


"Hahaha.." Felix tertawa puas diikuti oleh Ryu.


Xi Mei menggeser posisinya menjauh dari Zheng karena tak ingin terus-terusan digoda oleh gurunya, ia juga berpura-pura membuang muka.


"Tenang aja Xi Mei! Aku setuju kok kalau Zheng ingin ikut berlatih disini, sudahlah kamu tidak perlu sedih begitu! Mulai besok, kalian sudah bisa berlatih bersama!" ucap Felix.


"Benarkah itu tuan? Aku diizinkan ikut berlatih disini?" tanya Zheng.


"Tentu saja, kenapa tidak? Aku ini senang jika ada orang yang ingin berlatih disini, apalagi orang itu adalah utusan istana sepertimu." jawab Felix.


"Terimakasih tuan, terimakasih!" ucap Zheng.


"Kamu jangan panggil saya tuan begitu! Panggil saya guru, guru Felix!" ujar Felix.


"I-i-iya guru, terimakasih!" ucap Zheng.


"Yasudah, kamu sekarang perhatikan saja dulu saat saya melatih Xi Mei dan yang lainnya! Besok baru kamu bisa mulai berlatih, karena saya tahu kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh." ucap Felix.


"Siap guru!" ucap Zheng menurut.


"Nah Zheng, besok kalau lagi latihan kamu jangan fokus ke Xi Mei terus ya! Fokusnya ke guru Felix!" ujar Ryu sambil terkekeh kecil.


"Eee iya paman guru, mana mungkin aku seperti itu?" ucap Zheng gugup.


"Hahaha..." lagi-lagi Ryu serta Felix tertawa disana dan membuat Xi Mei merasa malu.


"Udah lah guru, jangan ketawa terus! Kapan nih aku bisa mulai latihan? Aku udah gak sabar tau pengen dapat ilmu baru!" ucap Xi Mei.


"Iya guru, kapan kita latihan?" tanya Xi Mei.


"Sabar Xi Mei! Sekarang kamu tembak bunga yang ada di atas pohon itu dulu, harus benar-benar kena pada bagian tengahnya dan bunga itu juga harus lepas dari pohonnya!" perintah Felix.


"Apa? Guru ini ngada-ngada aja deh, itu bunganya kecil banget loh. Mana bisa aku pakai panah aku buat lepasin bunga itu? Gak ada syarat yang lain apa, guru?" ujar Xi Mei terkejut.


"Tidak ada, hanya itu. Kalau kamu gagal, kamu belum bisa latihan hari ini!" ucap Felix.


"Ta-tapi guru..."


"Sudahlah Xi Mei, ingat kata paman! Kamu harus yakin jika kamu bisa!" potong Ryu.


"Nah, benar itu!" sahut Felix.


Xi Mei pun menatap bunga kecil di depan sana, entah mengapa ia ragu bahwa panahnya bisa melesak tepat di tengah-tengah bunga itu.


Namun, demi keinginannya untuk berlatih dengan guru Felix membuat Xi Mei langsung mengangkat busurnya dan bersiap melesakkan anak panahnya.


"Ayolah panah, kamu pasti bisa!" batin Xi Mei.


Slaasshh...


Anak panah itu pun melesat cepat ke arah pohon besar di depan sana, perlahan-lahan panah itu berubah ukuran menjadi lebih kecil dan menyesuaikan diri dengan ukuran si bunga.


Semua orang disana terkejut, termasuk guru Felix yang seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.




An Ming tampak berjalan-jalan mencari sosok ibunya sembari menoleh ke kanan serta kiri untuk dapat menemukan sang ratu.


Akhirnya An Ming berhasil menemukan keberadaan ratu Lien, ia pun langsung saja berteriak dan berlari ke arah ibunya disana.


"Mommy!" teriak An Ming cukup keras.


Sontak ratu Lien yang tengah bersama dua orang pelayannya terkejut mendengar suara teriakan tersebut.


Ratu Lien pun menoleh ke asal suara, tersenyum begitu melihat putranya disana dan tidak sabar menanti An Ming mendekat.


"Ada apa sayang?" tanya ratu Lien sambil tersenyum.


"Begini mom, aku mau ikut latihan di lembah parabuan dong. Aku dengar-dengar Xi Mei ada disana, jadi aku pengen juga satu tempat perguruan bareng dia!" jawab An Ming.

__ADS_1


"Hah? Kamu tahu darimana sayang soal itu?" tanya ratu Lien terkejut.


"Aku dengar dari paman Gusion tadi, mom. Katanya paman Zheng lagi susul Xi Mei kesana, boleh ya mom aku ikut latihan disana?" ujar An Ming.


"Eee gak bisa sayang," ucap ratu Lien.


"Loh, kenapa mom? Aku cuma mau latihan bareng Xi Mei tau, masa gak boleh?" tanya An Ming dengan wajah cemberut.


"Kamu kan udah punya guru sendiri disini, apa itu kurang sayang?" ucap ratu Lien.


"Enggak sih mom, tapi aku pengen latihannya bareng Xi Mei." kata An Ming.


"Kalau gitu, kamu coba aja bilang sama yang mulia! Siapa tahu beliau kasih izin kamu, tapi kamu jangan sampai memaksa ya sayang!" ucap ratu Lien.


"Aduh mom! Emangnya gak bisa apa kalo mom aja yang kasih izin ke aku? Kan aku cuma mau latihan bareng Xi Mei, bukan macam-macam." kata An Ming makin cemberut.


"Tetap aja An Ming, mommy gak bisa ambil keputusan sendiri. Sebaiknya kamu temui yang mulia dan minta izin ya!" ucap ratu Lien.


"Kalo gitu mommy temenin ya?" pinta An Ming.


"Eee emangnya kamu gak bisa pergi sendiri sayang? Yang mulia ada di ruangannya kok, kamu tinggal datang aja kesana!" ucap ratu Lien.


"Ayolah, mommy temenin aku dong! Aku gak berani bicara sama Daddy sendirian, kalau sama mommy kan ada yang bisa ngomong nanti." kata An Ming.


"Memangnya kenapa sih kamu kepengen latihan bareng Xi Mei? Apa alasannya sayang?" tanya ratu Lien penasaran.


"Ah mommy kayak gak tau aja, kan aku udah pernah bilang waktu itu." ucap An Ming malu-malu.


"Kamu masih punya perasaan sama Xi Mei?" tanya ratu Lien yang dibalas dengan anggukan oleh An Ming.


"Duh sayang, mommy kan udah bilang kamu gak boleh main suka-sukaan dulu sama cewek! Kamu itu masih belum cukup umur loh sayang," ucap ratu Lien geleng-geleng kepala.


"Gapapa dong mom, aku kan cuma sekedar suka. Lagian apa salahnya kalau aku suka sama Xi Mei? Dia itu kan cantik, manis, jago manah lagi!" ujar An Ming tersenyum lebar.


"Kamu ini benar-benar ya sayang! Yasudah, ayo mommy temani kamu ketemu sama yang mulia!" ucap ratu Lien.


"Yeay makasih mommy!" ucap An Ming.


An Ming langsung menarik tangan ibundanya dan memaksa sang ratu untuk segera pergi menemui raja Xavier.


"Ayo mommy kita pergi!" pinta An Ming.


"I-i-iya sayang, sabar dong!" ucap ratu Lien gugup.


Akhirnya ratu Lien terpaksa mengikuti kemauan An Ming untuk pergi menemui Xavier.


Dua orang pelayan yang tadi bersamanya pun turut pergi mengikuti mereka berdua.




Baru saja ratu Lien dan An Ming hendak masuk ke dalam ruangan raja, namun Xavier sudah keluar lebih dulu menemui mereka disana.


Tentu saja An Ming langsung menghampiri papanya itu dengan riang gembira, ia sudah tidak sabar ingin menyampaikan keinginannya pada sang ayah.


"Daddy! Kebetulan Daddy kesini, aku lagi cari Daddy nih!" ucap An Ming.


"Eee ada apa ya An Ming? Kamu mau ngapain cari Daddy?" tanya Xavier bingung.


"Ada yang mau aku bicarain sama Daddy, ya kan mom?" jawab An Ming.


"Ah iya iya," sahut ratu Lien.


"Bicara? Bicara apa?" tanya Xavier penasaran.


An Ming menatap ke arah ibundanya, seakan meminta bantuan pada sang ratu untuk berbicara pada ayahnya disana.


"Jadi begini yang mulia, anak kita yang tampan dan pintar ini mau ikut berlatih di lembah parabuan sana. Katanya dia pengen menambah ilmunya, yang mulia." jelas ratu Lien.


"Hah? Kenapa harus jauh-jauh kesana sayang? Emang gak bisa disini aja?" tanya Xavier.


"Gak bisa dad, tempat itu sudah yang paling bagus dari yang paling bagus!" jawab An Ming.


"Iya yang mulia, selain itu disana juga ada Xi Mei. Nah, putra kita ini ingin berlatih bersama Xi Mei disana." sahut ratu Lien.


"Apa?" Xavier terkejut bukan main mendengarnya.


"Kenapa dad? Memangnya salah ya kalau aku mau latihan bareng sama calon istri aku?" ujar An Ming sambil cengengesan.


"Calon istri? Kamu bilang apa sih, An Ming? Kamu itu masih kecil, jangan ngomong kayak gitu dulu! Xi Mei juga umurnya jauh dari kamu loh, masa kamu mau nikah sama dia?" ujar Xavier.


"Gapapa dong dad, usia bukanlah halangan untuk aku nikah sama Xi Mei. Kalau udah cinta, pasti aku bakal bisa nikahin Xi Mei." kata An Ming.


Xavier menggeleng pelan, menatap wajah istrinya dengan raut kebingungan.


"Dad, jadi gimana? Daddy bolehin aku kan buat ikut latihan bareng Xi Mei di lembah parabuan?" tanya An Ming penuh harap.


"Eee..." Xavier tampak bingung menjawabnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2