
Xi Mei duduk di kursi kayu yang tersedia, ia tersenyum menatap langit gelap yang dipenuhi bintang-bintang kecil.
Wein Lao tetap berdiri di dekat Xi Mei, menjaga gadis itu agar tak terjadi sesuatu padanya.
Xi Mei merasa bingung lantaran Wein Lao tak ada di sampingnya, ia pun menoleh dan menyadari bahwa pria itu masih berdiri.
"Lao, kamu ngapain disitu?" tanya Xi Mei heran.
"Eee maaf tuan putri! Bukannya tadi tuan putri yang minta aku buat ikut sama tuan putri?" ucap Wein Lao.
"Iya kalau itu aku tahu, tapi maksudnya kamu ngapain berdiri aja kayak gitu? Sini dong duduk di samping aku, jangan berdiri terus!" ucap Xi Mei.
"Ta-tapi putri, aku khawatir orang-orang menyangka aku tidak sopan jika duduk di samping tuan putri." ucap Wein Lao.
"Halah, udah gapapa. Sebelumnya juga kamu duduk berdua sama aku kan? Gak ada masalah tuh, jadi kamu tenang aja lah!" ujar Xi Mei.
"Iya putri, itu kan sebelum orang-orang tahu kalau kamu ini tuan putri Xiu. Nah, sekarang kan mereka semua termasuk Zheng udah tahu siapa kamu sebenarnya." ucap Wein Lao.
"Yaudah, kalo kamu gak mau duduk biar aku aja yang ikut berdiri." kata Xi Mei.
"Hah??" Wein Lao terkejut.
Xi Mei pun beranjak dari kursinya, berdiri di sebelah Wein Lao sambil tersenyum menatapnya.
"Eee kenapa tuan putri ikut berdiri?" tanya Wein Lao.
"Suruh siapa kamu juga gak mau duduk tadi, jadinya aku berdiri aja deh." jawab Xi Mei.
"Jangan begitu dong putri!" ucap Wein Lao.
"Kenapa?" tanya Xi Mei.
"Ya aku jadi gak enak nantinya, mending tuan putri duduk lagi ya! Tuan putri nanti capek loh kalo berdiri terus," ucap Wein Lao.
"Enggak ah, aku gak mau duduk sendiri. Kecuali kamu mau ikut duduk juga," ujar Xi Mei.
"Kok harus gitu? Emangnya kamu gak bisa duduk sendiri aja gitu? Lagipun, aku kan ada disini dan kita bisa tetap ngobrol walau gak duduk berdua." kata Wein Lao.
"Ya tetap aja rasanya beda Lao, aku maunya kamu ikut duduk di sebelah aku." ucap Xi Mei.
"Eee yaudah deh, aku ikut duduk sama kamu. Tapi, ayo tuan putri duduk duluan ya!" ucap Wein Lao.
Xi Mei mengangguk sambil tersenyum, kemudian duduk di kursi seperti sebelumnya dengan tatapan terus mengarah ke Wein Lao.
"Udah ayo duduk sini!" pinta Xi Mei.
"I-i-iya tuan putri.." ucap Wein Lao gugup.
Akhirnya dengan perlahan Wein Lao pun ikut duduk di sebelah Xi Mei, namun tentu saja ia masih merasa gugup dan gemetar hebat.
"Kamu kok gak mau lihat ke arah aku sih? Gak sopan tau kalo ngomong tapi gak ngeliat wajah orang yang ajak ngobrol," ujar Xi Mei.
"Umm, aku gugup aja putri. Tuan putri kan tahu di sekitar kita ini ramai orang, mereka pasti ngira yang enggak-enggak nanti kalau kita bicara berdua disini." ucap Wein Lao.
"Ohh berarti kalo gak ada orang kamu baru mau ya? Yaudah, kita cari tempat sepi yuk!" ujar Xi Mei.
Xi Mei langsung menggenggam lengan Wein Lao dan berniat mengajak pria itu pergi mencari tempat sepi.
"Eh eh, tunggu dulu tuan putri! Bukan begitu maksud aku, jangan ke tempat sepi juga! Itu malah bahaya tau, gimana kalau ada orang jahat nanti disana dan bisa bikin kamu terluka?" ujar Wein Lao.
"Ya gapapa, kan ada kamu." ucap Xi Mei.
Wein Lao terdiam membisu, jantungnya sudah berdetak lebih kencang dari biasanya saat Xi Mei berkata seperti itu padanya.
"Eee tapi aku..." ucap Wein Lao gugup.
"Kenapa? Kamu gak mau ya lindungin aku?" tanya Xi Mei cemberut.
"Bukan gitu putri, ya tapi kan—"
"Ah udah lah, aku bete!" potong Xi Mei seraya melepas tangan Wein Lao dan membuang muka.
Wein Lao mengusap wajahnya melihat Xi Mei ngambek di sebelahnya.
•
•
Keesokan harinya, Ryu dan Felix dikejutkan dengan sebuah tiupan terompet yang cukup keras dari arah luar perguruan itu.
Mereka yang tengah tertidur, lantas terbangun dan melihat ke asal suara untuk memastikan apakah yang terjadi sebenarnya.
"Felix, suara apa itu?" tanya Ryu panik.
"Entahlah, tapi sepertinya itu bunyi terompet." jawab Felix.
"Hah? Siapa yang membunyikan terompet itu?" tanya Ryu penasaran.
"Aku juga tidak tahu, mari kita cek ke depan!" ucap Felix.
"Ya, kau benar." ucap Ryu setuju.
__ADS_1
Akhirnya Ryu serta Felix pun mengecek ke depan untuk memastikan siapa yang datang dan meniup terompet di tempat itu.
•
"Heh! Kalian cepat menyingkir sekarang, jangan halangi jalan kami! Apa kalian tidak lihat? Kami ini pasukan istana Quangzi, dan kami ingin masuk ke dalam!" teriak sang prajurit dengan lantang.
Rube, Rulli dan Ah Shin yang berjaga di depan perguruan pun tampak bingung. Mereka saling menatap satu sama lain seolah-olah bertanya.
"Kenapa kalian diam saja? Cepat menyingkir dari jalan itu! Apa kalian tidak mendengar? Ini adalah perintah dari pasukan kerajaan Quangzi, apa kalian mau dihukum?!" geram si prajurit.
"Maaf yang mulia! Tapi, kami tidak akan menyingkir apapun alasannya." ucap Rube.
"Ya, itu benar." sahut Rulli.
"Dan kalian juga tidak bisa memaksa kami, karena kami tidak takut dengan ancaman apapun itu!" ucap Ah Shin.
"Benar-benar kurang ajar! Apa kalian mau dihabisi, ha?" ucap prajurit itu.
"Tahan prajurit!" ucap Xavier menghalangi prajuritnya yang ingin menyerang tiga ninja itu.
"Biar aku yang hadapi mereka, sepertinya para kroco-kroco ini ingin bermain-main denganku." sambungnya seraya turun dari kudanya.
"Baik yang mulia!" ucap prajurit itu.
Gusion pun tersenyum smirk, ia mengikuti apa yang dilakukan Xavier yakni turun ke bawah.
"Hey kalian bertiga!" ujar Xavier.
Ketiga ninja itu tetap berdiri tegak disana, mereka terus menatap ke arah Xavier dengan tajam dan tak ada rasa takut sedikitpun di wajahnya.
"Kalau kalian masih tidak mau menyingkir, maka jangan salahkan aku jika nantinya aku akan meratakan seluruh perguruan ini! Kalian paham?" ucap Xavier sambil tersenyum.
"Kami paham!" ucap Rube.
"Bagus!" ucap Xavier merasa senang.
"Tapi, kami akan tetap disini. Biar bagaimanapun, kami harus menjaga perguruan ini agar tidak dimasuki oleh orang-orang jahat seperti kalian!" ucap Rube.
"Hey, jangan kurang ajar pada yang mulia!" teriak Gusion penuh emosi.
"Maaf yang mulia! Kami bukan kurang ajar, tapi kami hanya menjalankan tugas dan perintah dari sang ratu. Beliaulah yang pantas kami hormati, bukan kamu. Karena pemimpin Quangzi yang sesungguhnya, adalah ratu Lien." ucap Rulli.
"Ohh, jadi benar kalau ratu Lien bersembunyi disini? Baiklah, itu artinya dugaanku tidak salah." ucap Xavier.
Rube langsung melirik tajam ke arah Rulli, sedangkan Rulli sendiri reflek menutup mulutnya.
"Ayo pasukan, kita masuk ke dalam!" perintah Xavier.
Disaat mereka hendak melangkah, tiba-tiba suara teriakan muncul dari dalam sana.
"Tunggu!"
Sontak Xavier dan yang lainnya reflek menoleh ke asal suara, terlihatlah sosok Ryu serta Felix disana.
"Yang mulia tidak boleh masuk!" ucap Ryu tegas.
•
•
Ratu Lien dan putri Xiu keluar bersamaan dari dalam kamar, mereka juga ikut terkejut dengan suara terompet yang dibunyikan tadi.
Ditambah saat ini cukup ramai orang-orang berlarian melewati depan kamar mereka dengan kondisi panik.
"Mom, ini ada apa ya?" tanya Xiu penasaran.
"Mommy juga gak tahu, tapi kayaknya ada sesuatu yang gawat deh di depan." jawab ratu Lien.
"Hah??" putri Xiu terkejut dengan itu.
Ratu Lien pun menghentikan salah seorang pria yang sedang berlari di hadapannya, ia langsung menanyakan apa yang terjadi kepada pria itu.
"Hey, maaf! Ini ada apa, kenapa kalian semua terlihat panik seperti ini?" tanya ratu Lien.
"Eee kami juga tidak tahu ratu, tapi yang pasti kami diminta oleh guru Felix untuk bergegas ke depan pintu masuk. Sepertinya memang terjadi masalah disana, tapi sebaiknya ratu dan putri Xiu tetap disini saja ya!" jelas pria itu.
"Iya iya, yasudah terimakasih atas infonya kamu boleh lanjut pergi!" ucap ratu Lien.
"Baik ratu, permisi!" ucap pria itu.
Pria itu pun kembali melanjutkan langkahnya menyusul teman-temannya yang lain menuju pintu gerbang perguruan elang putih.
"Xiu, kamu disini aja ya!" pinta ratu Lien.
"Emangnya mommy mau kemana?" tanya Xiu.
"Mommy mau cek ke depan, siapa tahu memang ada yang gawat disana." jawab ratu Lien.
"Tapi mom, kalau benar-benar ada bahaya gimana? Aku takut mommy kenapa-napa!" ucap Xiu.
"Tidak apa-apa sayang, mommy akan baik-baik aja kok. Kamu disini ya, jangan ikuti mommy!" ucap ratu Lien.
__ADS_1
"Iya deh mom, tapi mommy hati-hati ya!" ucap Xiu dengan wajah cemas.
"Iya sayang, mommy pasti selalu hati-hati. Yasudah, mommy mau ke depan dulu ya?" ucap ratu Lien sembari mengusap pundak putrinya.
"I-i-iya mom.." ucap Xiu pasrah.
Akhirnya Xiu terpaksa membiarkan ratu Lien pergi ke depan, walau sebenarnya ia masih merasa cemas jika ibunya pergi dari sana.
Xiu pun tampak kebingungan saat ini, ia terus menggigit jarinya dan jalan mondar-mandir di sekitar sana memikirkan itu.
"Duh, aku harus apa ya sekarang? Aku khawatir mommy kenapa-napa! Tapi, aku juga takut kalau di depan itu ternyata ada raja Xavier dan dia mau tangkap aku." gumam Xiu.
Tak lama kemudian, Wein Lao muncul disana dan menghampiri Xiu yang sedang kebingungan disana.
"Tuan putri!" panggil Wein Lao.
"Eh Lao?" ucap Xiu tersenyum tipis.
"Tuan putri sedang apa? Mengapa daritadi bolak-balik begitu?" tanya Wein Lao heran.
"Eee aku sedang berpikir, aku mencemaskan mommy yang sekarang pergi ke depan untuk mengecek keadaan. Aku khawatir terjadi sesuatu pada mommy, tapi aku juga tidak berani menyusulnya kesana." jelas Xiu.
"Umm, bagaimana jika aku saja yang susul ratu ke depan? Tuan putri tetap diam disini, aku akan pastikan ratu baik-baik saja!" usul Wein Lao.
"Baiklah, aku percaya padamu Lao! Tolong kamu jaga dan lindungi mommy ku ya! Aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk padanya, aku ingin dia baik-baik saja!" ucap Xiu.
"Tenang saja putri! Kalau begitu aku mohon izin permisi, tuan putri!" ucap Wein Lao.
"Iya Lao, tolong jaga ratu ya!" pinta Xiu.
Wein Lao mengangguk pelan, kemudian pergi menyusul sang ratu.
•
•
"Tunggu!"
Sontak Xavier dan yang lainnya reflek menoleh ke asal suara, terlihatlah sosok Ryu serta Felix disana.
"Yang mulia tidak boleh masuk!" ucap Ryu tegas.
"Hahaha, berani sekali kamu mengatakan itu. Apa kamu tidak takut jika pasukanku ini meratakan perguruan milik temanmu?" ucap Xavier.
"Kami tidak akan biarkan itu terjadi, perguruan ini tak mungkin dapat dihancurkan karena kita sudah bersatu teguh!" ujar Ryu.
"Sekuat apapun kalian, mana mungkin kalian bisa mengalahkan pasukan Quangzi? Kami ini sudah terlatih, dan kami bisa mengalahkan kalian semua hanya dalam hitungan detik!" ucap Gusion.
"Ya, cepat kalian serahkan ratu Lien padaku atau aku akan perintahkan pasukanku untuk menyerang kalian!" pinta Xavier.
"Tidak akan! Kami berdiri disini untuk melindungi sang ratu, termasuk perguruan kami. Yang mulia sebaiknya mundur dan kembali ke Quangzi, karena yang mulia tak mungkin bisa mendapatkan ratu Lien kembali!" ucap Felix.
"Kalian benar-benar memancing amarahku, rasakan lah akibat dari kelakuan kalian sendiri. Aku akan hancurkan tempat ini, bersama kalian semua!" ucap Xavier emosi.
Xavier menarik pedangnya keluar, bersiap melakukan penyerangan.
Ryu dan Felix kompak mengambil kuda-kuda untuk menyambut serangan Xavier.
"Seraanggg!!" teriak Xavier.
"Tunggu!" sebuah teriakan dari sang ratu membuyarkan serangan yang hendak dilakukan oleh pasukan Quangzi itu.
Semua mata kini tertuju pada ratu Lien, yang sudah berada di tengah-tengah mereka semua dengan keanggunannya.
"Lien? Sayang, syukurlah kamu mau keluar! Mari kembali bersamaku sayang, kita pimpin Quangzi bersama-sama!" ucap Xavier tersenyum.
"Singkirkan angan-angan mu itu Xavier! Aku tak akan kembali ke Quangzi bersamamu, aku hanya akan berada disana jika kau sudah dilengserkan dari jabatan mu!" ucap ratu Lien.
"Mengapa kamu bicara seperti itu, Lien? Aku ini cinta padamu, tapi kenapa kamu justru ingin melengserkan ku?" ucap Xavier.
"Tidak usah sok baik di depanku! Biar bagaimanapun, kamu tetaplah orang jahat di mataku!" ujar ratu Lien.
"Baiklah jika itu maumu, maka aku akan menjadi orang jahat sesuai dengan yang kau katakan." ucap Xavier.
Ratu Lien tak gentar sama sekali, ia tetap berdiri di barisan paling depan dengan tangan kosongnya.
"Lihatlah ke arah kiri, aku yakin kamu pasti akan sangat terkejut melihatnya Lien!" pinta Xavier seraya menunjuk ke sebelah kirinya.
"Ratu, Ryu, tolong aku!" teriak Luan dari atas sana.
"Hah??" ratu Lien pun terkejut dibuatnya, mulutnya menganga lebar menyaksikan kejadian itu.
"Luan?" Ryu juga ikut terkejut sama seperti sang ratu, apalagi yang ada disana adalah istrinya.
"Hahaha, ya itulah yang akan kalian terima jika kamu tidak mau kembali bersamaku Lien. Luan akan dipenggal secara langsung di hadapan kalian semua saat ini juga, dan kepalanya akan kujadikan lemparan untuk olahraga bowling nanti." ujar Xavier sambil tertawa jahat.
"Kau benar-benar licik Xavier!" umpat ratu Lien.
"LUAANN!!!" teriak Ryu histeris.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...