
Sreekkk...
Akhirnya ratu Lien mengeluarkan pedangnya, membuat tiga prajurit itu tersentak kaget dan reflek menjauh dari sang ratu.
"Kalian masih ingin menghalangi jalanku?" tanya ratu Lien sembari menodongkan pedangnya.
"Ratu, tolong jangan seperti ini! Kami tidak mungkin melawan ratu!" ucap prajurit itu.
"Kalian yang memaksaku melakukan ini, jadi tanggung lah resikonya!" ucap ratu Lien.
"Hiyaaa..."
Ratu Lien bergerak maju dan mulai menyerang tiga prajurit itu.
Bruuukkk...
Dengan mudahnya ratu Lien berhasil mengalahkan tiga orang prajurit itu hingga mereka semua terkapar di tanah.
Setelah semuanya tidak berdaya lagi, sang ratu pun melangkah pergi meninggalkan tiga prajurit itu dengan cepat.
"Maafkan aku prajurit! Kalian yang memaksaku melakukan semua ini," ucap ratu Lien.
Ratu Lien pergi keluar dari istana, niatnya adalah menemui putri Xiu dan menyelamatkan putrinya itu dari kejaran Xavier serta pasukannya.
"Mommy akan selamatkan kamu sayang!" batin sang ratu.
Namun, tiba-tiba saja seseorang mencegatnya dari depan dengan kuda yang dia tumpangi hingga membuat ratu Lien cukup terkejut.
Rupanya itu adalah Mungyi, kusir kerajaan yang memang setia kepada sang ratu dan bertekad untuk terus mengabdi padanya.
"Mungyi?" ucap ratu Lien terkejut.
"Ayo ratu, naiklah!" ujar Mungyi.
"Baik, terimakasih Mungyi!" ucap ratu Lien.
"Sama-sama, ini sudah tugasku untuk terus membantu ratu." ucap Mungyi.
"Sekarang ayo kita pergi!" pinta ratu Lien.
"Baik ratu!" ucap Mungyi.
Mungyi langsung memacu kudanya pergi dengan cepat dari sana, sesekali ratu Lien menoleh ke belakang menatap istananya yang kali ini ia tinggalkan.
"Maaf raja Feng! Ini semua aku lakukan demi putri kita, dia dalam bahaya." batin ratu Lien.
Di tengah perjalanan, Mungyi amat bingung harus mengarahkan kudanya kemana. Ia pun menghentikan kudanya sejenak untuk bertanya pada ratu Lien.
"Loh, kenapa berhenti Mungyi? Cepat lanjutkan perjalanan kita!" ujar ratu Lien.
"Maaf ratu! Tapi, hamba tidak tahu hendak kemana ratu sekarang." kata Mungyi.
"Oh ya ampun! Baiklah, sekarang kamu pacu kudanya ke arah lembah parabuan! Aku ingin menemui putriku disana," perintah ratu Lien.
"Eee ratu yakin ingin kesana? Bukankah disana sudah ada Zheng dan pasukannya?" tanya Mungyi.
"Iya, memangnya kenapa?" ucap ratu keheranan.
"Jika ratu kesana, itu akan menimbulkan kecurigaan bagi Zheng dan yang lainnya. Mereka pasti akan curiga karena ratu mau jauh-jauh datang kesana hanya untuk menemui pendekar Xi Mei," ucap Mungyi.
"Biar saja, mungkin ini sudah waktunya mereka tahu mengenai identitas asli pendekar Xi Mei. Sudahlah, cepat bawa aku kesana!" ujar ratu Lien.
"Ba-baik ratu! Maaf jika hamba lancang karena sudah menentang ratu tadi!" ucap Mungyi.
"Tidak apa, wajar jika kamu begitu. Aku pun sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tetapi keadaan yang memaksaku melakukannya karena aku tidak ingin Xavier menangkap putriku." ucap ratu Lien.
"Iya ratu, hamba pun tidak mau itu terjadi. Apalagi hamba juga mendengar bahwa Terizla sudah mengerahkan pasukannya untuk menangkap putri Xiu," ucap Mungyi.
"Ya itu dia, oleh karena itu kamu cepatlah jalankan kuda ini!" perintah sang ratu.
"Baik ratu!" ucap Mungyi menurut.
Mungyi kembali memacu kudanya dengan cepat, walau suasana sudah malam tapi ratu Lien tidak perduli dan ingin segera menemui putrinya.
•
•
Xi Mei diantar oleh Wein Lao dan pasukan serigala kembali ke perguruan elang putih, tempat Felix mengajar murid-muridnya.
Sementara Zheng dan Rai masih terus pingsan, mereka dibawa pula oleh pasukan serigala itu untuk mendapat perawatan.
"Terimakasih ya Lao! Aku benar-benar beruntung memiliki teman sepertimu!" ucap Xi Mei.
"Te-teman...??" Lao terkejut dan terbata-bata saat mengucapkan itu.
"Iya, kenapa? Kamu tidak mau berteman denganku?" tanya Xi Mei.
"Bukan begitu putri, tapi aku tidak menyangka saja kalau tuan putri mau berteman denganku. Padahal aku ini hanya serigala, tentu berbeda denganmu yang merupakan putri kerajaan." ucap Wein Lao.
"Apanya yang beda? Aku ini cuma gadis biasa kok, lagipun kamu juga kan pangeran serigala. Jadi, kalau kita temenan ya gak masalah dong." kata Xi Mei sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya sih, tapi aku gak nyangka aja bisa temenan sama anak dari raja Feng. Beneran nih kamu mau jadi teman aku?" ucap Wein Lao.
"Kamu itu kenapa sih? Daritadi kok nanyanya begitu terus? Oh, jangan-jangan kamu gak mau ya temenan sama aku?" ujar Xi Mei.
"Bu-bukan gitu..." ucap Wein Lao terbata-bata.
"Yaudah, kita masuk aja yuk! Kasihan Zheng sama Rai harus butuh perawatan, kamu jangan pulang dulu ya!" ucap Xi Mei.
"I-i-iya Xi Mei," ucap Wein Lao menurut.
Disaat mereka hendak masuk ke dalam, Rube dan kedua ninja lainnya muncul disana.
"Loh loh, ini ada apa non Xi Mei? Kok Zheng sama tuh cowok satu lagi pada tepar begitu?" tanya Rube terheran-heran.
"Eee mereka tadi kena serangan orang-orang sewaktu kami pulang dari tempat festival," jawab Xi Mei.
"Hah? Diserang non? Terus, non Xi Mei gak kenapa-napa kan? Ada yang luka gak?" ujar Rube.
"Tenang aja! Aku gak kenapa-napa kok, kan paman bisa lihat sendiri kondisi aku sekarang." kata Xi Mei sambil tersenyum.
"Iya sih, bagus deh kalo gitu!" ucap Rube.
"Umm, tapi paman bertiga bisa bantu kita kan buat bawa Zheng sama Rai masuk ke dalam? Mereka butuh perawatan paman," ucap Xi Mei.
"Oh, jelas bisa dong non. Yaudah, ayo kita sama-sama masuk aja ke dalam!" ucap Rube.
"Iya paman. Ayo Lao kita masuk!" ucap Xi Mei sembari menatap ke arah Wein Lao.
"Ah iya Xi Mei," ucap Wein Lao singkat.
Mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam tempat itu, tanpa sadar Xi Mei menggandeng lengan Wein Lao dari samping hingga membuat pria itu salah tingkah.
"Duh, Xi Mei kenapa pake gandeng tangan saya sih?" batin Wein Lao.
Begitu tiba di dalam, mereka berpapasan dengan Ryu yang kebetulan masih berjaga disana.
Ryu pun tampak bingung melihat Xi Mei pulang bersama pasukan serigala, apalagi Zheng dan Rai juga terkapar tak sadarkan diri.
"Xi Mei, ini ada apa? Kenapa sama Zheng dan Rai?" tanya Ryu cemas.
"Paman jangan cemas dulu! Zheng sama Rai ini tadi kena serangan dari orang-orang yang gak dikenal pas kita mau pulang, aku juga gak tahu mereka itu siapa. Tapi, mereka sih bilangnya mau bawa aku." jelas Xi Mei.
"Hah? Ada yang serang kalian dan mau bawa kamu? Tapi, kamu gak kenapa-napa kan sayang? Ada yang luka apa enggak?" tanya Ryu panik.
"Tenang aja paman! Aku baik-baik aja kok, seperti yang paman bisa lihat. Ya tapi, mereka ini tadi kena serangan karena mau lindungin aku Jadi, mereka harus cepat diobati." jawab Xi Mei.
"Yasudah, bawa saja mereka ke ruang pengobatan!" perintah Ryu.
Ketiga ninja dan beberapa pasukan serigala pun bergerak menuju ruang pengobatan membawa Rai dan Zheng untuk diobati.
Sementara Ryu tetap disana bersama Xi Mei dan Wein Lao, Ryu masih cemas memikirkan siapa orang yang menyerang Xi Mei itu.
•
•
Setelah mengetahui ratu Lien kabur dari istana, Xavier pun tampak sangat geram dan tidak percaya jika istrinya bisa kabur dari sana.
"Aaarrgghh!! Kenapa ini semua bisa terjadi?!" teriak Xavier cukup keras.
Dua orang pelayan ratu yang baru saja melaporkan kejadian itu pun terkejut mendengar teriakan Xavier, mereka sampai tidak berani menatap mata sang raja dan terus menunduk takut.
Xavier beranjak dari duduknya, ia menoleh ke arah Gusion dan juga para penasehat istana yang turut berada disana.
"Gusion, cepat kamu kerahkan seluruh prajurit istana untuk mencari ratu!" titah Xavier.
"Baik yang mulia! Kalau begitu, hamba mohon izin permisi ke depan dulu!" ucap Gusion.
"Ya, kamu tidak boleh kembali sebelum kamu berhasil menemukan keberadaan ratu Lien!" ucap Xavier cukup tegas.
"Siap yang mulia!" ucap Gusion patuh.
Gusion pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian pergi keluar menemui para prajurit disana untuk menyampaikan perintah sang raja.
Xavier beralih menatap Ji Xuan dan Wang Huang selaku penasehat disana, dua tangannya masih terkepal menahan emosi.
"Xuan, Wang, bagaimana menurut kalian? Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Xavier.
"Umm, kita harus cari tahu dulu apa alasan ratu pergi dari istana. Barulah setelah itu, kita bisa memikirkan rencana selanjutnya." jawab Ji Xuan.
"Benar yang mulia," sahut Wang Huang.
"Aaarrgghh!! Ini pasti karena ratu Lien mau menemui putrinya, putri Xiu yang telah lama hilang itu. Kita harus bisa susul ratu sekarang, sebelum dia pergi jauh dari sini!" ujar Xavier.
"Mohon maaf yang mulia! Tapi, memangnya ratu sudah tahu dimana keberadaan putri Xiu?" tanya Wang Huang.
"Ya, dia sudah tahu." jawab Xavier.
"Lalu, apa yang mulia sendiri tahu dimana putri Xiu saat ini berada?" tanya Wang Huang.
Xavier terdiam, ia baru terpikirkan kalau ratu Lien mungkin saja pergi menuju lembah parabuan untuk menyusul putri Xiu disana.
__ADS_1
"Ya, saya juga tahu." jawab Xavier tersenyum smirk.
Xavier langsung melangkah pergi begitu saja tanpa perduli dengan ucapan dari kedua penasehat tersebut.
Sementara Gusion tampak syok melihat tiga prajurit penjaga yang terkapar di depan gerbang istana dengan luka cukup parah.
"Hah? Kenapa ini bisa terjadi? Siapa yang menyerang mereka?" tanya Gusion.
"Maaf panglima! Kami pun tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi, tapi sepertinya mereka terluka akibat serangan dari sang ratu." jawab salah seorang prajurit yang bersamanya.
"Apa? Itu artinya ratu benar-benar sudah memiliki rencana untuk pergi dari istana ini, maka dari itu dia tidak segan-segan menghabisi nyawa ketiga prajurit ini." ujar Gusion.
"Baiklah, bawa tubuh mereka ke dalam dan urus dengan layak! Setelah itu, kalian kembali kesini!" perintah Gusion.
"Baik panglima!" ucap prajurit itu menurut.
Prajurit-prajurit itu pun membawa tubuh ketiga penjaga yang sudah tak bernyawa ke dalam istana untuk diurus.
Gusion tetap berada disana, ia tak habis pikir mengapa bisa ratu Lien tega membunuh nyawa tiga orang prajurit itu.
Tak lama kemudian, seorang prajurit lainnya juga melapor kepada Gusion mengenai hilangnya Mungyi dari tempat dia berada.
"Ampun panglima! Hamba baru saja mengecek tempat Mungyi, dan beliau tidak ada disana. Salah satu kuda milik istana juga hilang, kemungkinan dibawa oleh Mungyi." ucap prajurit itu.
"Sial!" umpat Gusion.
•
•
Xi Mei masih bersama Wein Lao di bawah pancaran sinar rembulan yang menerangi area tempat mereka berada saat ini.
Wein Lao tampak meminum air yang sudah dibuatkan Xi Mei sambil pandangan matanya terus tertuju pada sosok gadis itu.
"Kamu kenapa sih? Minum tuh minum aja, gausah pake ngeliatin aku segala!" ujar Xi Mei.
"Gapapa, biar minuman ini tambah manis rasanya." ucap Wein Lao.
"Ohh, merayu nih ceritanya?" ujar Xi Mei.
"Tidak, tapi kalau kamu merasa begitu ya silahkan saja!" ucap Wein Lao.
"Ah kamu ini ada-ada aja!" ucap Xi Mei tersipu.
"Eee tuan putri," ucap Wein Lao.
"Ya?" balas Xi Mei sambil menatap ke arahnya.
"Apa kamu tidak punya rencana untuk kembali ke istana Quangzi? Bukankah disana masih ada ibumu?" tanya Wein Lao penasaran.
"Tentu saja aku memiliki rencana seperti itu, karena istana Quangzi adalah milikku dan warisan dari ayahku. Tidak mungkin aku membiarkan orang lain berkuasa disana!" jawab Xi Mei.
"Lalu, kapan sekiranya itu akan terjadi tuan putri?" tanya Wein Lao.
"Belum tahu, aku masih tidak yakin untuk melakukan itu. Aku rasa kekuatanku ini belum cukup untuk bisa menaklukkan Xavier dan para pasukannya. Maka dari itu, aku datang kemari dan menambah ilmu beladiri ku." jawab Xi Mei.
"Oh begitu, jika kamu butuh bantuan ku kamu bilang saja ya! Aku akan selalu siap membantu kamu, kapanpun kamu butuh aku." kata Wein Lao.
"Makasih Lao! Tapi, kayaknya untuk saat ini aku mau fokus belajar beladiri dulu deh. Aku belum ada pikiran buat nyerang ke istana Quangzi, karena aku sadar sama kemampuan aku." ucap Xi Mei.
"Iya, aku juga gak minta kamu lakukan itu sekarang. Benar kata kamu, kamu harus persiapkan semuanya dulu dengan matang! Menyerang istana Quangzi itu bukan suatu hal yang mudah, karena mereka punya kekuatan yang cukup hebat." kata Wein Lao.
"Yaudah, kalo gitu aku mau cek kondisi Zheng sama Rai dulu ya?" ucap Xi Mei.
"Eee..." ucap Wein Lao tertahan.
"Kenapa? Kamu mau ikut?" tanya Xi Mei.
"Sebenarnya aku bukan mau ikut, tapi aku mau kamu tetap disini sama aku." jawab Wein Lao.
"Hah? Kenapa gitu?" tanya Xi Mei bingung.
"Iya Xi Mei, aku masih pengen ngobrol sama kamu disini. Gak tahu kenapa, rasanya itu nyaman banget tiap kali aku dekat sama kamu." jawab Wein Lao.
Xi Mei pun memalingkan wajahnya sambil menunduk, sedangkan Wein Lao menggeser posisi duduknya lebih dekat ke arah Xi Mei dan memberanikan diri menarik wajah gadis itu.
"Kamu kok buang muka sih? Gak suka ya lihat wajah saya?" tanya Wein Lao.
"Ah eee gak gitu kok, aku tadi cuma bingung aja harus bicara apa." elak Xi Mei.
"Ohh, kalo gitu aku boleh tanya satu hal gak sama kamu?" ucap Wein Lao.
"Apa?" Xi Mei nampak heran dan penasaran.
"Kamu sama Zheng itu ada hubungan apa sih?" tanya Wein Lao menatap Xi Mei dengan serius.
Gadis itu tersentak kaget mendengar pertanyaan Wein Lao, ia terdiam beberapa saat dengan mulut yang terbuka sedikit.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1