
"Baik tuan putri! Apa yang mau tuan putri tanyakan?" ucap Mungyi.
"Apa mommy dalam keadaan baik-baik saja? Mommy tidak sedang terkena masalah kan paman?" tanya Xi Mei penasaran.
Sontak Mungyi terkejut dengan pertanyaan Xi Mei, ia terbelalak dan bingung harus menjawab apa.
"Kenapa paman diam? Cepat kasih tahu aku paman, mommy baik-baik saja kan?!" ucap Xi Mei makin penasaran.
"Eee ratu..." Mungyi terlihat bingung menjawabnya.
"Mommy kenapa, paman? Cepat beritahu aku! Paman kasih tahu aja yang sebenarnya, tidak usah ditutup-tutupi!" ucap Xi Mei terus cemas.
"Tidak ada yang paman tutupi, putri. Paman hanya khawatir jika nantinya tuan putri akan merasa sedih. Untuk itu, paman ragu mengatakan yang sejujurnya kepada tuan putri." ucap Mungyi.
"Memangnya apa yang terjadi dengan mommy, paman? Mommy kenapa?" tanya Xi Mei.
"Mungyi, ayolah jujur saja! Kita tidak bisa berlama-lama disini, aku khawatir jika ada prajurit yang melihat keberadaan kami disini dan menangkap putri Xiu!" pinta Ryu juga penasaran.
"I-i-iya, saya akan bicara sekarang." kata Mungyi.
"Cepatlah paman, jangan bikin aku bertambah cemas! Beritahu saja semua tentang mommy, tanpa ada yang ditutup-tutupi!" ucap Xi Mei.
"Baiklah putri, jadi semalam itu ratu Lien pergi dari istana dan beliau tidak kembali lagi. Seisi istana panik lalu mencari keberadaannya, kini kita semua mendapat kabar bahwa ratu Lien tengah dijadikan tawanan oleh pihak kerajaan Rofusha. Itulah yang terjadi dengan ratu Lien, putri Xiu." jelas Mungyi.
"Apa? Mommy dijadikan tawanan Rofusha? Bagaimana bisa??" ujar Xi Mei terkejut.
"Benar tuan putri, paman sendiri tidak tahu bagaimana caranya mereka bisa mendapatkan ratu Lien. Tetapi, mungkin saja mereka sudah memantau sang ratu dari jauh hari." jawab Mungyi.
"Kurang ajar! Kalau begitu, aku tidak bisa diam saja paman. Aku harus menolong mommy dan membebaskan mommy!" ucap Xi Mei.
"Tunggu Xi Mei, jangan gegabah!" ucap Ryu.
"Kenapa lagi paman? Aku harus bebaskan mommy sekarang! Aku gak mau mommy berlama-lama di Rofusha, mommy pasti sedih dan kesepian!" ucap Xi Mei.
"Iya, paman tahu. Tapi, kamu tidak bisa datang ke Rofusha dan menyelamatkan ratu Lien begitu saja. Kita harus pikirkan rencana yang terbaik dulu, ingat itu Xi Mei!" ucap Ryu.
"Benar tuan putri, lagipun saat ini raja Xavier juga sedang mencoba untuk bernegosiasi dengan pihak kerajaan Rofusha. Kita doakan saja semoga negosiasi itu berjalan lancar, dan sang ratu dapat diselamatkan!" ucap Mungyi.
"Aku tidak bisa percaya pada raja Xavier, dia itu seorang pengkhianat dan dia juga yang sudah membunuh ayahku!" ucap Xi Mei.
"Iya putri Xiu, itu semua memang benar adanya. Namun, paman yakin raja Xavier akan melakukan apapun demi bisa menyelamatkan ratu Lien dari istana Rofusha!" ucap Mungyi.
"Kenapa paman begitu yakin?" tanya Xi Mei.
"Karena paman tahu, raja Xavier sangat mencintai sang ratu. Jadi, tidak mungkin jika raja Xavier membiarkan ratu terus-menerus menjadi tawanan di Rofusha. Tuan putri tidak perlu khawatir, semua pasti akan baik-baik saja!" jawab Mungyi.
"Tetap saja aku tidak tenang paman, aku ingin menolong mommy!" ucap Xi Mei kekeuh.
"Baiklah Xi Mei, biar paman yang mengantar kamu ke Rofusha sekarang. Tidak mungkin paman membiarkan kamu pergi sendiri," ucap Ryu.
"Iya paman," ucap Xi Mei mengangguk pelan.
"Mungyi, kami pamit ya! Terimakasih atas informasinya!" ucap Ryu pada Mungyi.
"Sama-sama, kalian berhati-hatilah di jalan! Rofusha itu wilayah yang berbahaya, mereka selalu menjaga ketat seluruh wilayahnya. Jadi, jangan sampai kalian lengah!" ucap Mungyi.
"Ya, kami akan selalu berhati-hati. Mari Xi Mei, kita segera pergi sekarang saja!" ucap Ryu.
"Iya paman. Paman Mungyi, aku dan paman Ryu permisi dulu ya?!" ucap Xi Mei.
"Baiklah tuan putri, semoga kalian dapat membantu menyelamatkan ratu Lien dari tangan raja Rofusha!" ucap Mungyi.
"Semoga!" ucap Xi Mei tersenyum.
Setelahnya, Xi Mei bersama Ryu beralih pergi menuju istana Rofusha dengan terburu-buru.
•
•
Xavier masih berunding dengan Yong Kromo beserta putranya, Fredison di dalam istana Rofusha itu.
Mereka membahas mengenai keinginan Yong Kromo yang ingin menguasai setengah dari wilayah Quangzi.
Tentu saja Xavier tidak setuju dengan apa yang diinginkan Yong Kromo, ia tak mungkin memberikan separuh dari Quangzi kepada Rofusha.
"Kau sudah gila Kromo! Aku tidak akan menuruti kemauan mu itu, jangan mimpi kau!" ucap Xavier.
"Hahaha, mengapa kau begitu emosi Xavier? Aku hanya meminta separuh dari Quangzi, bukan seluruhnya. Lagipun, kau juga tidak berhak memimpin disana karena kau bukan darah keturunan keluarga Quangzi. Jadi, biarkan aku dan putraku yang memimpin nya!" ucap Yong Kromo.
"Itu tak akan pernah terjadi Kromo! Milikku tidak mungkin menjadi milikmu, kau memang memancing pertempuran!" bentak Xavier.
"Aku sudah berusaha bersikap baik padamu Xavier, tetapi kau malah menantang kamu untuk berperang. Baiklah, aku tidak pernah takut dengan pasukan Quangzi sekalipun!" ucap Yong Kromo.
__ADS_1
"Cih! Akan ku pastikan seluruh wilayah Rofusha rata di tanganku!" ucap Xavier angkuh.
"Silahkan saja jika kau bisa Xavier! Tapi, sekarang saja kau tak mungkin dapat keluar dari sini. Aku akan menahan mu disini sampai kau mau menuruti semua kemauan ku," ucap Yong Kromo.
Mendengar ucapan dari Kromo, membuat Xavier terkejut sekaligus cemas.
Xavier melihat ke sekeliling, para prajurit Rofusha sudah berjaga seperti hendak menangkapnya.
"Sial! Mereka telah menyiapkan semuanya, aku sepertinya sudah dijebak dan masuk ke dalam perangkap mereka. Aku tidak boleh pasrah begitu saja, Lien harus segera aku selamatkan dan aku bawa pergi dari sini!" batin Xavier.
Xavier hendak bangkit dan pergi, namun langsung ditodong oleh pedang-pedang para prajurit disana yang mengarah ke lehernya.
"JANGAN BERGERAK!" Xavier tak dapat bergerak sedikitpun, ya pedang itu ada dimana-mana.
"Hahaha, kau tidak bisa kabur dariku Xavier. Kau akan terus berada disini, sampai kau mau menuruti semua kemauan ku tadi." ucap Yong Kromo.
"Rasakan itu raja Xavier! Sebelum ini kau sudah menghabisi raja Feng dan merebut Quangzi darinya, jadi anggap saja ini sebagai karma untukmu!" sahut Fredison.
"Kalian tidak berhak memberi hukuman bagiku, karena kalian juga tak sebaik yang orang-orang kira! Kalian itu penjahat!" ucap Xavier.
"Kami tidak pernah mengatakan jika kami ini suci atau baik, tetapi setidaknya kamu tak seperti kau yang berlagak baik di hadapan raja Feng dan lalu menusuknya dari belakang." kata Yong Kromo.
"Kurang ajar! Jangan bawa-bawa masa lalu ku dalam masalah ini!" bentak Xavier.
"Kenapa? Kau sudah menutupi berita itu dari para warga Quangzi, aku yakin jika mereka tahu yang sebenarnya tentu saja mereka akan melengserkan mu dari kursi Quangzi!" ucap Yong Kromo.
"Apa mau mu sebenarnya? Kau ingin berkuasa di Quangzi sepenuhnya, ha?" tanya Xavier.
"Yeah, itu yang aku inginkan. Bagaimana jika kau berikan saja seluruh Quangzi kepadaku? Maka dengan gantinya, kau bisa bebas." ucap Kromo.
"Hahaha, jangan mimpi kau Kromo! Akulah raja Quangzi dan hanya aku yang pantas memimpin Quangzi!" ucap Xavier.
"Kau memang pemimpin sekarang, tetapi itu tidak lama lagi. Aku akan segera menyingkirkan mu dan mengambil alih istana itu dari tanganmu!" ucap Yong Kromo.
Xavier menggeleng pelan, bersiap memakai ilmunya untuk melawan para prajurit disana.
Tanpa diketahui oleh seluruh orang itu, Xavier tengah mengatur tempo keilmuan dirinya.
"Akan kuhabisi kalian semua!" batin Xavier.
"Sudahlah, prajurit ayo cepat bawa dia dan jebloskan dia ke penjara!" titah Yong Kromo.
"Baik yang mulia!" ucap prajurit menurut.
Duaarr...
Seketika mereka terpental mendapatkan serangan tiba-tiba dari Xavier.
Yong Kromo dan Fredison terbelalak melihat itu, mereka tak menyangka jika Xavier bisa melakukannya.
"Sial! Apa kau seorang penyihir?" ucap Yong Kromo merasa panik.
"Kenapa Kromo? Kau takut? Bersiaplah, aku akan menghabisi mu!" ucap Xavier angkuh.
"Hahaha, jangan menantang ku xavier!" geram Yong Kromo yang langsung mengambil senjatanya bersiap melawan Xavier.
•
•
Dari luar istana, Gusion bersama Zheng masih terus memantau dari jauh sesuai perintah Xavier sebelumnya.
Namun, lambat laun mereka heran lantaran tak kunjung ada kabar dari Xavier hingga saat ini.
"Panglima, kira-kira kenapa ya belum juga ada kabar dari raja Xavier? Ini sudah cukup lama loh, saya khawatir!" tanya Zheng cemas.
"Iya ya, saya pun juga bingung. Apa sebaiknya kita langsung masuk saja ke dalam dan serbu istana Rofusha ini? Saya punya firasat tidak enak pada raja Xavier, jangan-jangan mereka sudah berhasil menangkap raja Xavier!" jawab Gusion.
"Waduh, gawat dong panglima! Kalau begitu, kita memang harus segera masuk ke dalam! Apa kita bawa seluruh pasukan saja, panglima dan mulai serang istana ini sekarang?" ucap Zheng.
"Ya, ini sudah lewat dari batas waktu yang ditentukan. Ayo kita maju sekarang!" ucap Gusion.
"Baik panglima!" ucap Zheng menurut.
Mereka mulai keluar dari persembunyian, Gusion memberi kode pada seluruh prajuritnya untuk mengikuti mereka dari belakang.
"SERAANGGG!!!" perintah Gusion.
Seluruh pasukan Quangzi pun maju menyerang wilayah Rofusha dengan membabi buta.
Gusion serta Zheng terus menyusup masuk ke dalam istana untuk mencari Xavier.
"Ayo Zheng, kita masuk ke dalam!" ucap Gusion.
__ADS_1
"Siap!" ucap Zheng menurut.
Bughh..
Bughh..
Keduanya berhasil menghajar prajurit-prajurit yang berjaga disana, lalu masuk ke dalam istana dan meninggalkan peperangan di depan sana.
✨
Slaasshh...
Xavier mengeluarkan cahaya putih hingga menyilaukan mata Yong Kromo serta Fredison, keduanya berteriak dan berusaha menutup mata menghindari serangan cahaya itu.
"Aaarrgghh!! Kau curang Xavier, kau bertarung menggunakan ilmu sihir!" ucap Yong Kromo.
"Hahaha, dalam sebuah pertarungan itu tak ada larangan tertulis yang menyebutkan bahwa kita tidak boleh menggunakan sihir. Jika kau takut dengan sihir, jangan pernah bermain-main denganku Kromo!" geram Xavier.
"Ah sial! Kurang ajar kau Xavier!" umpat Yong Kromo masih terus berusaha menghindari cahaya yang dikeluarkan Xavier.
Xavier terus tertawa puas, tangan satunya kini juga mulai bergerak membuat gerakan mantra yang sepertinya akan menyelesaikan pertarungan itu dengan cepat.
"Rasakan ini Kromo...!!" teriak Xavier.
"Hah??" Kromo terkejut dan melongok lebar.
Slaasshh.. duaarr...
Xavier melayangkan serangan akhirnya ke arah Yong Kromo dan juga Fredison, hingga membuat mereka terpental.
"Hahaha, matilah kau Kromo!" geram Xavier.
"Yang mulia!" tiba-tiba saja suara Gusion muncul, membuat Xavier menahan langkah kakinya.
"Tahan yang mulia!" pinta Gusion pada Xavier.
"Kenapa kalian masuk tanpa perintah dariku? Apa kalian tidak mengerti perkataan ku tadi?" tanya Xavier geram.
"Maafkan kami yang mulia! Tapi, tadi kami cemas dan mengira kalau yang mulia sedang ditahan oleh raja Kromo." jawab Gusion.
"Haish, kau meremehkan ku Gusion? Asal kau tahu, aku ini raja dan aku memiliki kesaktian yang sepuluh kali lipat di atas mu serta seluruh raja-raja di muka bumi ini!" ucap Xavier angkuh.
"Maaf yang mulia! Kami hanya tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada yang mulia," ucap Gusion.
"Tak apa, kalau begitu kalian jaga mereka disini dan jangan sampai terlepas! Aku akan mencari ratu Lien ke seluruh penjuru istana," ucap Xavier.
"Baik yang mulia!" ucap Gusion menurut.
Lalu, Gusion serta Zheng pun melakukan apa yang diperintahkan Xavier. Mereka menjaga Yong Kromo serta Fredison disana agar kedua orang itu tidak bisa pergi kemana-mana.
Sementara Xavier pergi mencari ratu Lien, istri tercintanya itu di sekitar istana. Ia yakin sekali bahwa ratu Lien ada disana, dan ia harus bisa menemukan sang ratu saat ini juga.
"Aku akan temukan kamu Lien, kamu tidak perlu khawatir sayang!" batin Xavier.
•
•
Xi Mei dan Ryu tiba di depan istana Rofusha, mereka terkejut karena disana sudah terjadi peperangan cukup besar antara pihak Rofusha dengan prajurit Quangzi.
"Paman, itu prajurit Quangzi. Sepertinya mereka diperintahkan raja Xavier untuk menyerang Rofusha," ucap Xi Mei.
"Iya Xiu, lalu apa yang kau inginkan sekarang? Ikut masuk ke dalam dan menyerang mereka, atau kita hanya menyelinap memasuki istana itu dan mencari ibumu? Semua terserah padamu, aku mengikuti saja." tanya Ryu pada Xi Mei.
"Paman, kenapa paman bicara begitu sih? Paman itu kan guruku, seharusnya paman yang menyusun rencana, bukan aku. Paman kan tahu sendiri, ilmu yang aku miliki tidak seberapa dengan ilmu paman." jawab Xi Mei merasa tidak enak.
"Tidak perlu merendah begitu, putri. Paman yakin kamu bisa menyusun rencana!" ucap Ryu.
"Tapi paman, aku takut apa yang aku pikirkan salah. Lebih baik paman saja yang membuat rencana, aku ikut dengan paman ya?" ucap Xi Mei memegang tangan pamannya.
"Hahaha, kamu kenapa menggemaskan sekali sih Xiu? Baiklah, karena paman tidak tega melihat raut wajahmu yang menggemaskan itu, jadi paman akan menyusun rencananya." ucap Ryu sembari mencubit pipi Xi Mei.
"Nah gitu dong paman! Ayo paman, apa yang harus kita lakukan sekarang?!" ucap Xi Mei antusias.
"Kita serang mereka! Hancurkan seluruh pasukan Rofusha dengan panahmu sayang, cepatlah!" ucap Ryu menyusun rencana.
"Hah? Apa bisa paman?" tanya Xi Mei ragu.
"Tentu saja, paman yakin kamu bisa! Coba saja dulu sayang!" jawab Ryu tersenyum.
"Eee..." Xi Mei tampak bingung, ia khawatir jika panahnya akan gagal lagi.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...