Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 54. Bertemu Felix


__ADS_3

"Eee aku masih heran, kenapa kamu bisa tau kalau aku adalah putri Xiu?" tanya Xi Mei.


"Itu mudah putri, hamba dapat menggunakan indra penciuman hamba untuk mengendus siapa dirimu. Lagipun, di mata kami para werewolf dirimu sangat berbeda tuan putri." jawab Wein Lao.


"Apa maksudmu berbeda?" tanya Xi Mei heran.


"Ya, aku melihatmu bukan sebagai gadis biasa seperti ini. Namun, seorang putri kerajaan dengan pakaian istana dan kecantikan yang luar biasa. Bahkan, saat pertama kali melihatmu aku merasa terpesona." jelas Wein Lao.


"Kau terlalu berlebihan, aku tidak seperti yang kamu bicarakan itu." ucap Xi Mei tersipu.


"Memang benar itu yang terjadi putri, semua serigala juga melihatnya." kata Wein Lao.


"Berarti penyamaran ku ini sia-sia dong?" ucap Xi Mei cemberut.


"Benar putri, tapi hanya di depan kami para serigala." ucap Wein Lao tersenyum.


"Oh ya, aku juga bingung. Kenapa kalian bersikap baik pada kami hanya karena kalian tahu bahwa aku adalah putri Xiu?" tanya Xi Mei heran.


"Karena kami sangat menghormati yang mulia raja Feng Ying, beliau adalah raja yang baik dan kami benar-benar berhutang budi padanya. Kala itu, raja Feng bersama pasukannya dengan baik hati mau membantu kami untuk mendapatkan wilayah sendiri di tempat ini." jawab Wein Lao.


"Ternyata ayahku orang yang baik ya, aku sungguh bangga padanya!" ucap Xi Mei.


"Benar putri, ayahmu itu sangat baik. Kami sudah berjanji untuk terus menghormatinya dan juga seluruh keluarga kerajaan Quangzi, termasuk kamu putri Xiu!" ucap Wein Lao.


"Syukurlah!" ucap Xi Mei tersenyum.


Xi Mei pun menunduk dan kembali fokus berjalan di samping Wein Lao, namun tanpa sengaja tangannya justru menyentuh lengan Wein Lao dan membuat pria itu sedikit terkejut seraya melirik ke arahnya.


"Eh, maaf maaf aku gak sengaja sentuh tangan kamu!" ucap Xi Mei cemas.


"Gapapa putri, aku justru senang tanganku disentuh oleh tuan putri Xiu." ucap Wein Lao.


"Kenapa begitu?" tanya Xi Mei heran.


"Tanganmu begitu halus putri, saat menyentuh kulitku rasanya sangat lembut. Belum pernah aku merasakan tangan yang seperti itu," jawab Wein Lao.


"Iyakah? Kalau begitu, tanganmu justru terasa sangat kasar dan keras seperti batu. Aku sentuh sedikit saja sudah membuatku kesakitan sendiri," ucap Xi Mei.


"Ahaha, maafkan aku tuan putri! Memang seperti itulah tangan dari manusia serigala, berbeda dengan tangan milikmu itu." ucap Wein Lao.


"Ya, tidak apa-apa. Boleh gak aku sentuh lagi tangan kamu?" ucap Xi Mei.


"Hah? Tuan putri tidak kapok menyentuh tangan aku lagi?" tanya Wein Lao sedikit kaget.


"Tentu tidak, aku justru senang merasakan lengan seseorang yang kekar seperti ini. Boleh kan aku pegang lagi tanganmu itu?" ucap Xi Mei.


"Kalau memang tuan putri mau, silahkan saja! Hamba tidak mungkin melarang keinginan tuan putri," ucap Wein Lao tersenyum.


Xi Mei mendongakkan wajahnya menatap Wein Lao sambil tersenyum renyah, tampaknya gadis itu mulai terpesona pada ketampanan dari si manusia serigala tersebut.


Tanpa berpikir panjang, Xi Mei pun langsung menyentuh tangan Wein Lao dan menggenggamnya sembari menunjukkan wajah menggemaskan miliknya.


Sementara Ryu dan ketiga ninja itu tampak terus mengamati kebersamaan Xi Mei serta Wein Lao dari belakangan, Ryu senyum-senyum saja melihat kedekatan gadis itu dengan Wein Lao.


"Tuan, sepertinya putri Xiu tertarik dengan manusia serigala itu." bisik Rulli.


"Iya tuan, saya juga merasa demikian. Terlihat kalau putri Xiu memang tertarik dengannya," sahut Rube.


"Diamlah kalian! Biarkan saja tuan putri melakukan apa yang dia ingin lakukan, kita tidak bisa melarang atau menahannya!" ucap Ryu.


"Baik tuan!" ucap Rube menunduk.


Mereka pun berhenti berbicara dan fokus menatap Xi Mei yang berada di depan mereka, Ryu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu.


"Benar kata mereka, sepertinya putri Xiu sedang merasakan jatuh cinta." batin Ryu.




Ratu Lien kembali menemui Zheng di istana untuk meminta bantuan pada pria itu.


Mereka pun duduk berdampingan disana dan ratu Lien mulai menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan kepada Zheng.


"Ratu, apa yang ingin ratu bicarakan dengan saya kali ini?" tanya Zheng penasaran.


"Ini masih tentang pendekar Xi Mei, aku ingin kamu susul dia kesana!" jawab ratu Lien.


"Hah? Menyusul Xi Mei? Untuk apa ratu?" ujar Zheng terkejut terheran-heran.


"Ya, aku ingin kau awasi dia. Jaga dia dan jangan sampai dia terluka!" jelas ratu Lien.


"Mengapa ratu begitu perduli dengan Xi Mei? Memangnya apa hubungan Xi Mei dengan ratu atau istana ini?" tanya Zheng bingung.


"Eee tidak ada, aku hanya khawatir terjadi sesuatu padanya. Aku juga ingin tau perkembangan dari anak itu," jawab ratu Lien.


"Baiklah ratu, aku akan mengirim pasukan istana untuk mengawasi Xi Mei disana." kata Zheng.

__ADS_1


"Jangan Zheng! Aku mau kamu saja yang langsung pergi kesana dan awasi dia, bawalah beberapa prajurit untuk menemanimu dalam misi ini!" pinta ratu Lien.


"Baik ratu!" ucap Zheng menurut.


"Yasudah, itu saja yang ingin aku sampaikan padamu. Kamu bisa pergi dengan segera mungkin, karena aku khawatir pada Xi Mei!" ujar ratu Lien.


"Siap ratu! Aku akan berangkat sebentar lagi, ratu tidak perlu khawatir!" ucap Zheng.


"Baguslah, kalau begitu aku permisi dulu! Semoga perjalananmu lancar dan tidak ada hambatan!" ucap ratu Lien beranjak dari kursinya.


"Iya ratu," ucap Zheng singkat.


Setelahnya, ratu Lien pun melangkah pergi meninggalkan Zheng disana.


Sementara Zheng masih berdiri dan berpikir keras mengapa ratu Lien begitu mengkhawatirkan kondisi Xi Mei.


"Kira-kira kenapa ya ratu cemas banget sama Xi Mei? Malahan sampai minta saya buat susul Xi Mei ke lembah parabuan, ada hubungan apa sebenarnya antara ratu dan Xi Mei?" gumam Zheng.


"Huft, biar nanti saya tanyakan saja langsung kepada Xi Mei setelah saya berhasil menemuinya. Sebenarnya saya senang juga dapat perintah ini dari ratu, karena saya bisa menemui Xi Mei lagi dan melepas rindu saya padanya." ucap Zheng.


Zheng pun tersenyum senang, lalu mulai menyiapkan barang-barang untuk dibawa dalam perjalanannya nanti.


"Gimana ya perasaan Xi Mei nanti begitu bertemu saya?" batin Zheng senyum-senyum sendiri.


Ratu Lien yang sudah menjauh dari Zheng, kini justru merasa cemas jika Zheng mencurigai dirinya setelah ia meminta Zheng untuk menyusul Xi Mei di lembah parabuan.


"Aduh! Ini gimana ya? Kalau Zheng sampai curiga, bisa-bisa identitas aku dan Xi Mei ketahuan lagi." gumam ratu Lien dalam hati.


"Ratu!" sang ratu terkejut saat ada seseorang yang menyebut namanya.


Rupanya itu adalah sang pelayan yang hendak menemui ratu Lien disana, sontak ratu Lien segera menoleh ke samping dan tersenyum ke arah dua pelayan tersebut.


"Kalian, ada apa?" tanya ratu Lien santai.


"Kami sudah menyiapkan makanan untukmu ratu, mari ratu ikut kami ke ruang makan! Kebetulan disana juga sudah ada yang mulia," ucap pelayan.


"Aku belum lapar, nanti saja ya. Sekarang aku masih ada urusan penting," ucap ratu Lien.


"Tapi ratu, yang mulia sudah meminta ratu untuk makan." ucap pelayan itu.


Ratu Lien memutar bola matanya, lalu terpaksa mengikuti kemauan para pelayan tersebut.




Mereka semua pun merasa lega sekaligus senang karena dapat menyelesaikan perjalanan kali ini dengan selamat.


"Paman, benar ini tempat guru Felix?" tanya Xi Mei.


"Iya sayang, inilah tempatnya. Kamu lihat kan orang-orang yang sedang berlatih di dalam sana? Mereka lah murid-murid teman paman, mereka adalah ahli beladiri yang cukup hebat." jawab Ryu.


"Waw keren! Kalo gitu ayo paman kita masuk ke dalam dan temui teman paman!" ujar Xi Mei.


"Sabar sayang! Kita tidak bisa masuk ramai-ramai seperti ini, nanti yang ada guru Felix bisa salah sangka. Sebaiknya kita berdua saja yang masuk kesana, biar yang lainnya tetap menunggu disini." ucap Ryu.


"Baik paman! Kalau begitu, kalian semua tetap disini ya! Termasuk kamu Wein Lao, tunggu sebentar ya!" ucap Xi Mei.


"Siap tuan putri!" ucap Wein Lao menurut.


"Iya putri, kami semua akan menunggu disini sampai tuan putri dan tuan Ryu kembali." kata Rube sedikit membungkukkan badannya.


"Yasudah, ayo Xi Mei kita langsung saja masuk ke dalam!" ucap Ryu menggandeng tangan gadis itu.


"Iya paman," ucap Xi Mei tersenyum tipis.


Setelahnya, Xi Mei dan pamannya itu pun mulai melangkah menuju tempat pelatihan guru Felix.


Sementara Wein Lao bersama ninja-ninja tersebut tetap menunggu disana.


Kini Xi Mei tiba di dalam perguruan milik teman pamannya, yakni guru Felix.


Gadis itu nampak terkagum-kagum dengan metode pelatihan yang diberikan disana.


"Wah keren banget!" ucap Xi Mei terpukau.


"Iya Xi Mei, memang begitulah latihan di tempat ini nantinya. Kamu pasti akan merasakan sesuatu yang berbeda dan sangat luar biasa!" ucap Ryu.


"Betul paman! Baru melihatnya saja aku sudah terpukau, bagaimana nanti jika aku benar-benar dapat berlatih disini?" ucap Xi Mei.


"Tentu saja kamu bisa sayang, itulah sebabnya paman mengajak kamu kemari." kata Ryu.


Xi Mei mengangguk pelan, kemudian fokus menatap ke sekeliling sambil tersenyum lebar.


Ryu tampak celingak-celinguk mencari sosok Felix agar ia dapat berbicara dengannya.


"Xi Mei, ayo kita kesana!" ucap Ryu menunjuk ke arah seseorang pria yang tengah mengawasi murid-muridnya dari pinggir.

__ADS_1


"Paman, apa itu guru Felix?" tanya Xi Mei.


"Benar sayang, dialah sahabat paman yang selalu paman ceritakan padamu. Nantinya kamu akan dilatih olehnya," jawab Ryu.


"Waw keren!" ucap Xi Mei.


"Hahaha, dia memang begitu sayang." kata Ryu.


Mereka pun kembali melangkah menghampiri pria yang berdiri di hadapannya tersebut.


"Permisi Felix! Apa kabar?" ucap Ryu tersenyum.


"Hah? Kau? Ryu kan?" Felix terkejut saat didatangi oleh kedua manusia itu, ia menunjuk ke arah Ryu dengan mulut menganga disertai bola mata yang melongok lebar.


"Benar, aku Ryu. Aku sahabatmu yang sudah lama tidak bertemu denganmu, Felix." jawab Ryu.


"Hahaha, ya ampun Ryu! Akhirnya kita bisa ketemu juga, saya rindu sama kamu Ryu!" ucap Felix tampak gembira dan langsung memeluk Ryu.


"Saya pun juga merindukan kamu Felix!" balas Ryu.


Mereka melepas pelukan, lalu lanjut mengobrol disana untuk menikmati momen berdua setelah sekian lama tidak saling bertemu.




Saat ini Felix dan Ryu sudah terduduk di kursi yang tersedia, tentunya Xi Mei juga ada bersama mereka walau sedari tadi gadis itu merasa dikacangi.


"Jadi, siapa dia Ryu? Istri mudamu atau baru calon?" tanya Felix bergurau.


"Hah? Yang benar saja kamu Felix, mana mungkin saya seperti itu?" elak Ryu.


"Hahaha, kalaupun benar juga tidak apa-apa Ryu. Kamu kan pendekar, jadi istrimu gak harus cuma satu!" sarkas Felix.


"Ah bisa saja! Dia bukan istri muda atau calonku, dia ini keponakan ku namanya Xi Mei." ucap Ryu mengenalkan Xi Mei pada temannya.


"Ayo Xi Mei, kenalan dengan paman Felix!" pinta Ryu pada Xi Mei.


"Iya paman," Xi Mei agak terkejut saat tiba-tiba Ryu mengajaknya berbicara dan memintanya untuk berkenalan dengan Felix.


"Eee halo paman Felix! Aku Xi Mei, dan aku suka memanah. Aku datang kesini untuk menjadi muridmu, paman." ucap Xi Mei sembari menatap ke arah Felix dan mengulurkan tangannya.


"Waw kamu hobi memanah? Menarik sekali, aku jadi ingin melihat bagaimana kamu memanah dengan panahmu itu." ucap Felix bersalaman dengan Xi Mei.


"Kamu pasti akan terpukau Felix! Xi Mei ini sangat ahli dalam memanah, dia bisa melakukan apa yang dia mau dengan panah ini." ujar Ryu.


"Benarkah?" tanya Felix agak ragu.


"Tentu saja, ayo Xi Mei kamu tunjukkan pada Felix bagaimana kemampuan mu itu!" ucap Ryu.


"Ta-tapi paman..."


"Kenapa sayang? Kamu gausah malu gitu, ayo tunjukkan saja kemampuan kamu kepada paman Felix!" potong Ryu.


"Iya Xi Mei, paman mau lihat seberapa ahli kamu dalam memanah." sahut Felix.


"Haruskah paman? Bukannya perguruan ini hanya mengajarkan ilmu beladiri fisik? Untuk apa aku harus menunjukkan kemampuan memanahku kepadamu?" tanya Xi Mei.


"Sudahlah Xi Mei, tunjukkan saja!" pinta Ryu.


"Ah eee i-i-iya paman.." ucap Xi Mei takut.


Xi Mei pun beranjak dari tempat duduknya, menarik busur di tangannya sesuai kemauan pamannya.


Terlihat Ryu tersenyum lebar, ia tak sabar ingin melihat reaksi Felix nantinya.


Slaasshh...


Xi Mei melesakkan anak panahnya lurus ke depan, dan tepat mengenai buah apel yang menggantung di atas pohon tersebut.


Prok prok prok...


Ryu dan Felix langsung berdiri dan kompak bertepuk tangan setelah Xi Mei menyelesaikan aksinya.


"Waw keren! Sepertinya matamu sangat bersih ya, sampai kamu bisa mengarahkan anak panah itu ke apel di depan sana. Padahal aku saja tidak bisa melihat apel itu dengan jelas," ujar Felix.


"Ya itulah Felix, keponakan ku ini memang sudah terampil dalam memanah. Jadi, apapun yang dia ingin kenai pasti terkena." ucap Ryu.


"Paman terlalu berlebihan, aku masih belum terlalu ahli kok." ucap Xi Mei merendah.


"Baiklah, kamu memang luar biasa Xi Mei! Paman sungguh terpukau dengan kemampuan kamu itu! Lain kali mungkin kamu bisa menunjukkan yang lainnya kepada paman," ucap Felix.


"Tentu paman," ucap Xi Mei tersenyum.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2