Xiu Jia Li

Xiu Jia Li
Episode 22. Melihat dari jauh


__ADS_3

Ratu Lien akhirnya menuruti kemauan Xavier, ia membuka kain penutup pada kereta kuda yang mereka tumpangi itu dan menatap keluar.


Tampak cukup ramai para warga yang turut hadir disana, Lien pun melirik ke arah Luan dengan tatapan mata bersedih seakan mengisyaratkan bahwa ia merindukan sosok Xiu.


Sementara Xavier sudah turun dari kuda, menghampiri rakyatnya yang ada disana ditemani oleh para prajurit pengawalnya.


Semua orang yang hadir disana membungkuk, memberi hormat bagi Xavier yang merupakan raja mereka.


"Selamat datang di kampung kami, yang mulia!" ucap Ryu mewakili seluruh warga disana.


"Terimakasih atas sambutannya! Kalian semua memang rakyatku yang luar biasa, saya suka dengan antusiasme kalian dalam menyambut kehadiran saya disini. Baguslah, karena itu artinya kalian tak melupakan saya sebagai seorang pemimpin di negeri ini." ucap Xavier tersenyum.


"Tentu saja yang mulia, mana mungkin kami lupa bahwa kau adalah raja di wilayah ini? Justru kami sangat beruntung karena yang mulia sudi berkunjung ke kampung kami yang kecil ini," ucap Ryu ikut tersenyum.


"Benar yang mulia! Maafkan kami, karena kami hanya bisa memberikan sambutan kecil seperti ini. Selain karena kedatangan baginda yang mendadak, kami juga memang hanya memiliki semua ini." sahut Luan.


"Tidak apa, aku tak mengharapkan apapun dari kalian semua. Aku datang kesini hanya untuk berkunjung, sebagai seorang raja tentunya aku harus memperhatikan kesejahteraan rakyatku bukan?" ucap Xavier.


"Betul itu, yang mulia raja Xavier adalah raja paling adil di seluruh alam semesta. Kalian patut bersyukur memiliki raja seperti dirinya!" ucap Wingki.


"Tidak usah berlebihan Wingki!" ucap Xavier.


"Ucapannya memang benar, kami sungguh beruntung bisa dipimpin oleh raja seperti dirimu yang mulia! Maka dari itu, terimalah persembahan kami ini. Memang tidak seberapa, tapi kami rasa ini cukup untuk membayar pajak bulanan di istana." ucap Ryu menyerahkan barang miliknya.


"Sudahlah, kalian jangan terlalu memujiku! Baiklah, aku terima semua pemberian kalian ini demi kebaikan istana tercinta kita. Terimakasih ya untuk kalian semua!" ucap Xavier tersenyum.


"Sama-sama, yang mulia." ucap mereka serentak.


Xavier pun memerintahkan prajuritnya membawa barang-barang yang diberikan oleh para warga itu dan mengangkutnya menuju istana.


Lalu, Xavier kembali menatap Ryu serta Luan dan tersenyum tipis seperti hendak menanyakan sesuatu kepada pasangan suami-istri itu.


***


Sementara ratu Lien tetap berada di dalam kereta kuda istana, namun dia selalu melihat keluar mencari keberadaan putrinya yang tak kunjung terlihat disana.


Mungyi sang kusir pun menoleh ke arah sang ratu, ia memberanikan diri berbicara kepada ratu Lien karena tidak tega melihat wanita itu terus bersedih menanti kehadiran putri tercintanya.


"Mohon maaf ratu! Tapi, hamba akan membantu ratu untuk dapat melihat tuan putri sekarang!" ucap Mungyi kepada ratunya.


"Betulkan Mungyi? Kau tau dimana putriku saat ini?" tanya ratu Lien penuh harap.

__ADS_1


"Tentu saja ratu, hamba tahu. Akan tetapi, sebaiknya ratu tetap disini saja dan saya akan pertemukan ratu dengan tuan putri agar ratu bisa melihat tuan putri." jawab Mungyi.


"Iya Mungyi, apapun untuk aku bisa melihat putriku lagi. Aku sungguh merindukan dia!" ucap ratu Lien.


"Baiklah ratu, mohon tunggu sebentar! Saya akan menemui tuan putri sejenak," ucap Mungyi.


Ratu Lien mengangguk pelan, Mungyi pun turun dari kuda yang ia tumpangi mengendap pergi dari sana untuk menemui putri Xiu.


Ratu Lien terus memperhatikan kemana Mungyi pergi, ia tidak sabar ingin segera melihat Xiu yang sudah lama tak ia jumpai.


"Xiu, bagaimana kondisi kamu sekarang sayang?" gumam ratu Lien bersedih.


***


Xi Mei tengah berada di dalam rumah Luan, ia mengintip melalui jendela agar dapat melihat ibundanya dari sana.


Akan tetapi, ia tidak bisa melihat sang ratu karena memang ratu Lien tak ikut turun bersama sang raja.


Xi Mei pun tampak bersedih, keinginannya untuk melihat ibundanya ternyata belum bisa terwujudkan.


"Tuan putri!" Xi Mei terkejut saat ada yang memanggilnya seperti itu.


Gadis remaja itu pun bergegas menoleh mencari tahu siapa yang memanggilnya.


"Paman? Bagaimana paman bisa ada disini? Apa paman datang bersama rombongan istana?" tanya Xi Mei keheranan.


"Betul tuan putri, saya yang mengantar sang raja kemari. Bahkan, ada sang ratu juga di dalam kereta kuda tersebut tuan putri. Beliau ingin melihat tuan putri, sepertinya beliau sangat merindukan tuan putri." jawab Mungyi.


"Tapi paman, aku tidak bisa keluar menemui mommy. Bagaimana kalau ada pihak istana yang sadar bahwa aku adalah putri Xiu yang mereka cari?" ucap Xi Mei bingung.


"Tenang saja tuan putri! Serahkan saja semuanya kepada paman!" ucap Mungyi tersenyum.


"Baiklah paman, aku ikut denganmu. Aku pun tak sabar ingin melihat mommy. Tapi, apa mommy tahu seperti apa rupa ku sekarang?" ucap Xi Mei.


"Paman akan atur semuanya. Sekarang tuan putri ikut dengan paman!" ucap Mungyi.


Xi Mei mengangguk setuju, ia pun mengikuti kemana Mungyi pergi karena ia juga sangat merindukan ibundanya itu.


***


Mungyi membawa Xi Mei keluar dari rumah Luan, memposisikan gadis itu agak jauh dari tempat Xavier berada.

__ADS_1


"Paman, apa disini aman?" tanya Xi Mei.


"Tenang saja tuan putri! Saya pastikan tidak akan ada yang sadar kalau tuan putri ada disini, karena pastinya para prajurit itu fokus menjaga yang mulia raja Xavier." jawab Mungyi.


"Baiklah paman, lalu bagaimana selanjutnya?" tanya Xi Mei.


"Lihat itu tuan putri!" ucap Mungyi menunjuk ke arah kereta kuda di depannya.


"Disitu ratu Lien berada, jadi tuan putri arahkan selalu pandangan kesana agar bisa melihat sang ratu!" sambungnya.


"Baik paman!" ucap Xi Mei tersenyum.


"Yasudah, paman kembali kesana dulu ya? Kamu tetap disini sampai bisa melihat sang ratu!" ucap Mungyi.


"Iya paman," ucap Xi Mei mengangguk cepat.


Mungyi pun melangkah pergi, kembali menuju kereta kuda dan menemui sang ratu.


"Maaf ratu! Tapi, sekarang tuan putri sudah ada di belakang ratu." kata Mungyi pada ratu Lien.


"Apa? Kamu serius Mungyi?" tanya ratu Lien.


"Tentu saja ratu, silahkan saja ratu lihat sendiri melalui jendela kereta ini!" jawab Mungyi.


"Baiklah," ratu Lien bergegas membuka penutup jendela disana untuk melihat keberadaan putrinya.


"Dimana Mungyi?" tanya ratu Lien bingung.


"Itu dia ratu, tuan putri mengenakan seragam sekolahnya dan tengah berdiri menatap kemari." jawab Mungyi sembari menunjukkan tempat Xi Mei berada.


Ratu Lien segera mengarahkan pandangan ke arah putrinya, ia tersenyum lalu meneteskan air mata saat melihat bagaimana putrinya tumbuh saat ini.


"Xiu, ini mommy nak. Mommy rindu sekali dengan kamu, mommy rasanya ingin peluk kamu sayang! Maafkan mommy, karena mommy belum bisa temui kamu secara langsung sekarang!" batin ratu Lien bersedih.


Tak hanya sang ratu, Xi Mei juga ikut merasa senang sekaligus sedih secara bersamaan begitu melihat ibundanya dari tempat ia berdiri saat ini.


"Mommy, ternyata mommy tetap cantik seperti dulu, bahkan lebih cantik. Aku rindu sama mommy! Aku ingin sekali peluk mommy saat ini, semoga mommy selalu baik-baik aja disana!" batin Xi Mei.


Akhirnya Xi Mei melambaikan tangan ke arah sang ratu, tentu saja ratu Lien membalasnya.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2