
"Terimakasih Xavier!" ucap ratu Lien tersenyum tipis lalu memeluk suaminya dengan erat, belum pernah ia melakukan ini sebelumnya kepada Xavier.
"Sama-sama, sudah ya kamu jangan sedih lagi istriku yang cantik!" pinta Xavier sembari mengusap punggung ratu Lien dengan lembut.
"Iya yang mulia.." ucap ratu Lien menurut.
"Oh ya, kalau gitu aku mau tanya satu hal deh ke kamu. Tadi kenapa sih kamu bisa khawatir banget sama pendekar Xi Mei? Terus, kenapa juga kalian harus pelukan sambil nangis-nangis begitu? Apa kalian sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Xavier menaruh curiga pada ratu Lien.
Deg!
Sontak ratu Lien terkejut mendengar pertanyaan yang dilontarkan Xavier kepadanya.
Ratu Lien pun reflek melepas pelukannya, lalu menatap wajah Xavier.
"Mengapa kamu bertanya begitu?" ucap ratu Lien.
"Loh, kenapa Lien? Apa aku salah bicara? Aku penasaran aja gitu, soalnya gak biasanya kamu bisa pelukan sama orang lain sampai menangis kayak gitu." ucap Xavier.
"Aku begitu karena pendekar Xi Mei sudah membantu menolongku, lagipun dia yang lebih dulu menangis. Aku hanya terbawa suasana dan ikut menangis, awalnya aku tidak ingin menangis kok." kata ratu Lien.
"Oh gitu, aku kira kamu sudah lama mengenal pendekar Xi Mei. Baiklah, aku minta maaf karena sudah curiga sama kamu!" ucap Xavier.
"Tak apa, wajar jika kamu curiga. Tapi, aku mohon kamu jangan begitu lagi!" ucap ratu Lien.
"Iya, yasudah ya sekarang kamu istirahat dulu! Aku akan temui kepala pelayan disini, supaya kamu bisa mendapat pelayanan terbaik. Tunggu sebentar ya Lien!" ucap Xavier.
"Iya Xavier, terimakasih kamu sudah perduli sekali denganku! Aku jadi merasa tidak enak padamu, karena aku sudah pergi secara diam-diam dari istana. Aku menyesal, seharusnya aku tak melakukan itu semalam!" ucap ratu Lien.
"Tenanglah Lien! Ini semua bukan salahmu, memang pangeran bodoh itu yang biadab! Kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu ya, aku akan tetap mencintai kamu apapun yang terjadi!" ucap Xavier memegang dua bahu istrinya.
Ratu Lien mengangguk pelan sembari menundukkan wajahnya, Xavier menarik dagunya dan menyeka air mata dari wajah ratu Lien.
"Cukup, jangan menangis lagi! Aku tidak bisa melihat kamu bersedih begini!" ucap Xavier.
"Aku gak sedih lagi kok, ini semua berkat kamu Xavier! Andai kamu tidak datang tadi, mungkin saja aku selamanya akan menjadi pelayan bagi pangeran Fredison." kata ratu Lien.
"Itu sudah tugasku, kamu istriku dan aku harus lakukan segala cara untuk menyelamatkan kamu!" ucap Xavier tegas.
"Terimakasih Xavier!" ucap ratu Lien singkat.
Xavier kembali mendekap tubuh istrinya dan mengusap punggungnya lembut, lalu mengecup kening ratu Lien sebagai tanda kasih sayangnya.
"Aku akan selalu menjaga kamu, Lien! Biarpun kamu sudah dilecehkan oleh pangeran bodoh itu, tetap saja kamu adalah istriku! Maafkan aku, karena aku gagal jaga kamu semalam!" batin Xavier.
•
•
Zheng tengah melamun sendirian di kebun istana, ia bersandar pada tiang penyangga bendera sembari mengusap dahinya yang mulus tanpa noda sedikitpun.
Kesedihan Zheng itu diketahui oleh Gusion, si panglima istana yang kebetulan lewat di dekat sana dan tidak sengaja melihat Zheng.
Sontak Gusion pun langsung menghampiri Zheng, karena penasaran apa yang membuat pria itu bersedih. Tak seperti biasanya memang Zheng melamun seorang diri disana.
"Zheng," Gusion menyapa Zheng dengan pelan, lalu berdiri tepat di samping pria itu.
"Ah iya, ada apa panglima? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Zheng sedikit kaget.
"Tidak ada. Saya kebetulan lewat sini, dan saya lihat kamu sedang melamun sendirian. Apa yang kau pikirkan, Zheng?" ucap Gusion.
"Eee aku tidak sedang memikirkan apa-apa, panglima." jawab Zheng berbohong.
"Sudahlah, kau tidak perlu menyembunyikan itu dariku. Aku bisa tahu kalau kau sedang ada masalah dari raut wajahmu itu, ayo cerita saja padaku! Siapa tahu dengan begitu, kamu tidak akan sedih lagi." ucap Gusion.
"Sebenarnya, aku hanya sedih karena aku harus berjauhan dengan teman masa kecilku, Zhao Xi Mei. Sekarang ini aku berada di istana, dan aku tak bisa bertemu dengannya setiap hari." ucap Zheng.
"Ohh, kau merindukannya?" tanya Gusion.
"Ya, benar. Aku sangat rindu dengannya," jawab Zheng sambil tersenyum tipis.
"Bukannya kau baru bertemu dia tadi? Mengapa kau sudah rindu padanya?" tanya Gusion heran.
"Iya panglima, tapi aku ingin selalu berada di dekatnya. Aku ingin tahu bagaimana kondisinya, apakah dia baik-baik saja dan apakah dia bahagia tanpa diriku." jawab Zheng.
__ADS_1
"Wah wah wah, ini sepertinya kau dan dia bukan hanya sekedar teman masa kecil. Pasti diantara kalian terjalin hubungan bukan?" ujar Gusion.
"Tidak panglima, aku dan Xi Mei hanya bersahabat. Kami sudah bersahabat sejak kami masih kecil, bahkan kami berguru pada guru yang sama." kata Zheng gugup.
"Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri, aku tau kau memiliki rasa pada gadis itu. Mengapa kau tak mengungkapkannya?" ucap Gusion.
"Entahlah, aku khawatir itu akan merusak pertemanan ku dengan Xi Mei. Aku tidak mau membuatnya kecewa padaku," ucap Zheng.
"Kalau tidak dicoba, kau tidak akan pernah tau bagaimana perasaan dia padamu. Setidaknya kau coba dulu ungkapkan rasa cintamu ke dia, siapa tahu saja Xi Mei juga memiliki rasa yang sama padamu." usul Gusion.
"Tapi panglima, bagaimana kalau dia tidak mencintaiku dan malah membenciku?" tanya Zheng.
"Kau terlalu overthinking, Zheng. Jangan seperti itu! Kau harus berani mencobanya, apapun resikonya itu urusan belakangan! Kalaupun dia tak mencintaimu, tidak mungkin dia juga akan membencimu." jawab Gusion.
"Benarkah begitu panglima?" tanya Zheng.
"Ya itu hanya dugaan ku, tapi aku rasa dia tak mungkin benci padamu. Kalian sudah berteman cukup lama, aku yakin dia pasti juga tidak mau hubungan kalian rusak!" jawab Gusion.
Zheng terdiam memikirkan perkataan Gusion, ia bertambah bingung saat ini.
•
•
Hari sudah malam, Ryu dan Xi Mei memutuskan istirahat sejenak mengingat kegelapan yang telah melanda.
Ryu pun membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka sekaligus menikmati santap malam bersama.
Setelah selesai, tanpa disadari oleh Ryu rupanya Xi Mei sudah lebih dulu terlelap dengan posisi bersandar pada pohon besar.
Ryu tampak tersenyum memandangi wajah gadis itu, ia merasa kasihan pada Xi Mei karena nampaknya Xi Mei begitu lelah kali ini.
"Xi Mei, kamu pasti lelah ya?" ucap Ryu pelan.
Ryu akhirnya membereskan bekas makan mereka dan membantu membenarkan posisi tubuh Xi Mei agar tertidur dengan baik, ia tak mau gadis itu merasa sakit jika tertidur seperti itu.
Ryu mengangkat tubuh Xi Mei secara perlahan, lalu membaringkannya di atas daun pisang yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Ryu juga merapihkan rambut yang menutupi wajah Xi Mei dan menatapnya cukup lama.
"Cantik sekali, aku harus berusaha keras untuk jaga tuan putri! Aku tidak mau ada penjahat yang ingin melukainya!" ucap Ryu.
Akibat terlalu cemas, Ryu terpaksa tidak tidur malam ini demi menjaga Xi Mei.
Namun, lama-kelamaan Ryu juga merasakan kantuk hebat yang menyerangnya. Ia menguap lebar sembari mengucek-ngucek matanya dan tanpa sadar mulai memejamkan mata.
Ctaaashh...
Tiba-tiba saja rombongan batu muncul dan tepat mengenai api unggun yang berada di tengah hingga padam.
Suasana kini gelap gulita, tiga orang bertopeng hitam datang kesana mendekati Ryu serta Xi Mei yang sama-sama tertidur.
Mereka bertiga saling memberi kode, lalu bergerak cepat layaknya ninja untuk membawa tubuh Xi Mei kabur dari sana.
Mereka berhasil lolos membawa tubuh Xi Mei tanpa sepengetahuan Ryu, bahkan Xi Mei sendiri juga tidak menyadari semua itu.
Keesokan paginya, barulah Ryu sadar bahwa Xi Mei sudah tidak ada di sampingnya. Ia langsung panik dan mencari kesana-kemari.
"Loh, Xi Mei? Kamu dimana Xi Mei?" Ryu sangat panik setelah mengetahui Xi Mei menghilang.
"Xi Mei ayo muncul! Jangan sembunyi seperti ini, tidak lucu tau sayang! Ayolah, paman tidak bisa dikerjai begini! Kamu kan tahu paman sangat khawatir sama kamu, muncullah sayang!" teriaknya sambil mengecek ke sekelilingnya.
Ryu tak menemukan keberadaan Xi Mei, ia baru sadar bahwa ada kejanggalan di sekitar sana. Cukup banyak batu kerikil yang menimpa api unggun yang semalam ia nyalakan.
"Ada apa ini? Apa mungkin Xi Mei dibawa oleh seseorang?" ujarnya.
"Ah sial! Kenapa aku malah ketiduran semalam? Aku harus cari dan temukan putri Xiu!" ucapnya.
Ryu yang panik, langsung bergerak cepat mencari Xi Mei di sekitar sana. Ia sangat menyesal karena telah gagal melindungi Xi Mei.
•
•
Sementara itu, Xi Mei juga baru tersadar dari tidurnya. Ia membuka mata dan syok saat menyadari bahwa ia berada di sebuah gubuk.
__ADS_1
Xi Mei bangkit dengan cepat, ia menoleh ke kanan dan kiri berusaha mengenali tempat tersebut. Ia juga mencari pamannya, tapi tidak berhasil karena disana hanya ada dirinya seorang.
"Aku dimana? Paman? Paman Ryu?" ucapnya lemas.
Tak lama kemudian, tiga orang berkostum ninja yang semalam membawanya pergi pun muncul disana menemuinya sambil tertawa keras, membuat Xi Mei terkejut dan ketakutan.
"Hahaha, kau sudah bangun cantik?" ujar salah satu dari si ninja itu.
"Hah? Kalian siapa?" tanya Xi Mei heran.
"Kamu tidak perlu tahu siapa kita! Yang penting itu, sekarang kamu ada bersama kami dan kamu tidak bisa pergi kemana-mana!" ucap ninja itu.
"Mengapa begitu?" Xi Mei masih keheranan, ia juga berusaha mencari busur panahnya namun tidak berhasil menemukannya.
"Dimana busurku? Apa kalian yang mengambilnya?" tanya Xi Mei pada mereka.
"Hahaha, ya benar cantik. Kami sudah menyimpan busur panah mu itu, agar kamu tidak bisa berbuat apa-apa saat ini. Kami sangat tahu, bahwa senjata mu adalah busur itu. Dan sekarang tanpa itu, kamu tidak akan bisa melawan kami!" jawab orang itu.
"Sebenarnya apa mau kalian? Kenapa kalian bawa aku kesini? Aku gak punya apa-apa, aku juga gak kenal sama kalian. Aku cuma mau pergi mencari ilmu," ucap Xi Mei.
"Kami tidak perduli apa alasan kamu ada di hutan itu! Kamu sudah memasuki kawasan kami, dan itu artinya kamu harus menerima resikonya!" ucap si ninja sambil menunjuk ke arah Xi Mei.
"Apa yang mau kalian lakuin ke aku?" tanya Xi Mei mendongak dengan mata berkaca-kaca.
Mereka bertiga perlahan mendekat, tertawa keras dan semakin membuat Xi Mei ketakutan. Xi Mei berusaha memeluk tubuhnya sendiri dan menjauh dari mereka bertiga, walau tentunya hal itu sama sekali tidak merubah niat mereka.
"Hahaha, bisa-bisanya gadis cantik seperti kamu masuk ke hutan ini.. sungguh suatu kebahagiaan bagi kami bertiga! Hahaha..." ujarnya.
"Jangan mendekat! Atau kalian akan menyesal nantinya!" teriak Xi Mei gemetar.
"Sudahlah cantik, tidak usah melawan begitu! kami tidak akan kasar padamu, jika kau mau menurut pada kami!" ucap ninja itu.
"Aku gak akan pernah nurut sama kalian!" ucap Xi Mei keras dan menggeleng cepat.
"Baiklah, kau yang meminta sendiri untuk dikasari. Jangan salahkan kami ya cantik!" ucap ninja itu.
Mereka bertiga langsung bergerak cepat dan hendak menangkap tubuh Xi Mei, namun gadis itu berhasil menghindar dan justru berdiri melewati ketiga pria liar tersebut.
"Ah sial!" ujar si ninja.
"Sudah kubilang, tidak semudah itu kalian bisa menyentuhku. Apa kalian tidak tahu aku ini siapa, ha?" ucap Xi Mei.
"Hahaha, sekarang kau jadi berani ya cantik? Okay, kita semakin senang untuk bisa menangkap kamu kali ini!" ucap ninja itu.
"Coba saja kalo bisa!" tantang Xi Mei.
Xi Mei berlari ke arah luar gubuk, tiga ninja itu pun berteriak dan mengejarnya dengan cepat.
"WOI BERHENTI!!" teriak mereka bersamaan.
•
•
Di suatu kerajaan yang cukup besar, seorang pangeran baru diangkat menjadi raja untuk menggantikan posisi ayahnya yang tewas dalam peperangan sebelumnya.
"Selamat pangeran Ling! Sekarang engkau telah resmi menjadi pemimpin istana Sidhagat, kami semua tidak sabar menantikan bagaimana kinerja pangeran! Kami sangat berharap, pangeran dapat meneruskan apa yang dilakukan oleh yang mulia Li Qin sebelumnya!" ucap penasehat istana.
"Terimakasih! Kalian semua tidak perlu cemas, aku berjanji akan memimpin Sidhagat dengan sebaik mungkin seperti yang dilakukan ayahandaku sebelumnya! Aku juga bersumpah, akan membalas kematian ayahku kepada istana Quangzi!" ucap pangeran Ling dengan tegas.
"Benar itu raja Ling! Kita pasti akan membantu raja, untuk membalas dendam kepada Quangzi!" ucap penasehat istana.
"Saya juga setuju! Quangzi sudah benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya mereka mengirim utusan untuk membunuh raja kita. Mereka harus menerima balasan atas apa yang sudah mereka lakukan!" sahut sang panglima.
"Ya, kita akan susun rencana untuk melakukan penyerangan kesana." ucap raja Ling.
Raja Ling melirik sekilas ke arah kirinya, ia mengambil sebuah lencana milik wanita bertopeng yang sebelumnya menusuk ayahnya dengan sengaja hingga tewas.
"Siapapun kamu, saya tidak akan membiarkan kamu lolos begitu saja! Kamu harus membayar semuanya, putri Xiu!" batin raja Ling.
Seketika raja Ling teringat pada momen terakhir saat ayahnya dibunuh oleh wanita bercadar itu, ia benar-benar sedih dan selalu meneteskan air mata tiap kali mengingat kejadian tersebut.
Walau tentunya disisi lain, raja Ling juga senang karena dapat menjadi pemimpin disana.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...